
Seketika suasana menjadi sangat hening. Semua peserta dan panitia lainnya sudah berjalan cukup jauh di atas, Alia masih berdiri menatap anak tangga yang berada di depannya itu.
"Al! mau sampai kapan kamu berdiri di situ? ayo jalan!" teriak Fahmi.
"Eh iya iya..."
Perlahan-lahan Alia mulai melangkahkan kaki menaiki anak tangga itu dengan keringat yang masih menetes di tubuhnya. Begitu kedua kakinya menginjak salah satu anak tangga, tiba-tiba seluruh tubuh berubah menjadi dingin seolah-olah ia telah pergi dari tempat tadi dan masuk ke sebuah gua yang gelap.
Alia mencoba untuk terus melangkah naik, dia melihat ke arah kiri dan kanan, terlihat jelas ada begitu banyak mahluk tak kasat mata yang memandang ke arahnya seperti sedang mengawasi.
"Astaghfirullah ini benar-benar hutan! banyak sekali di sini, sudah seperti gudangnya!"
Alia berucap dalam hati sembari terus melangkah dan berusaha untuk tetap melihat ke depan. Cukup lama Alia melangkah, tanpa sadar kakinya mulai mati rasa dan berhenti melangkah, ia jatuh terduduk dan hanya terdiam, entah kenapa kakinya terasa kaku dan sulit digerakkan.
"Aduh kenapa dengan kakiku! rasanya berat sekali, seperti ada yang sedang menahannya"
Alia berucap pelan sambil memegangi kedua kakinya yang tidak bisa di gerakkan sama sekali, dia menengok ke atas dan sudah tidak ada siapapun yang terlihat karena semuanya sudah berada jauh di atas, bahkan ada yang sudah sampai di pos ke empat.
"Oh Tuhan... apa aku harus terus berdiam di sini? bagaimana ini, aku sudah tertinggal jauh! kalau ada apa-apa siapa yang akan menolong?"
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berasal dari atas. Alia langsung menengok ke atas dan ternyata itu adalah Fahmi, dia kembali untuk melihat Alia karena tak kunjung menyusul yang lain.
"Astaga Alia! kamu ngapain malah duduk di sini! ayo jalan yang lain udah jauh!"
"Tolongin aku kaki aku nggak bisa di gerakkan, eh... kok?"
Tiba-tiba saja kaki Alia kembali terasa ringan dan ia bisa berdiri dengan sangat mudah.
"Nggak lucu deh Al! udah ayo cepat?"
"Eh tapi tadi beneran nggak bisa! eh tunggu aku lah!"
__ADS_1
Alia bergegas untuk menyusul Fahmi dan tidak ingin tertinggal sendirian lagi. Mereka sampai di pos ke empat dan beristirahat sejenak untuk melepaskan lelahnya.
Puncak gunung itu sudah dekat dari pos ke empat. Akses jalan menuju ke puncak sudah tidak semulus ribuan anak tangga tadi, namun untungnya jalan itu sudah lebih banyak bagian datarnya, meskipun masih ada bagian yang menanjak sedikit.
Jalan di dekat menuju ke puncak sungguh tidaklah mudah, meskipun banyak bagian datar namun jalanan itu terdiri dari banyak batuan yang sangat terjal,. sedikit saja tidak hati-hati maka bisa terpeleset dan jatuh ke jurang.
Alia masih berjalan di bagian paling belakang, dia berjalan dengan pelan sambil terus melihat ke sekelilingnya. Tanpa sengaja ia kembali terjatuh dan duduk di atas sebuah batu besar.
"Eh aneh sekali, batu ini besar, tapi bagian atasnya kenapa bisa sangat datar begini? dan yang lebih aneh lagi bagian atasnya datar, tapi kenapa aku bisa terjatuh?"
Alia duduk di atas batu besar itu dan mengamati. Entah kenapa tubuhnya jadi merasa sangat lelah dan lemas seakan tak bisa lagi berjalan, tubuhnya terasa sangat berat seperti telah di bebani sejak ia berjalan melewati anak tangga tadi.
Tak lama kemudian Fahmi kembali menghampiri Alia yang masih duduk di atas batu besar itu.
"Kamu kenapa lagi?"
"Aku, aku capek banget sumpah!"
"Ayo lah sebentar lagi sampai!"
"Nggak bisa gitu dong, masa kamu mau nunggu di sini sendirian?"
"Aku beneran nggak papa, kamu pergi aja!"
Setelah beberapa lama berdebat, dengan sangat berat hati akhirnya Fahmi meninggalkan Alia sendirian di atas batu itu, dia menyusul peserta yang lain ke puncaknya.
"Kenapa si? kenapa sepertinya ada yang menghalangi aku untuk sampai ke sana?"
Alia menggerutu sambil memukulkan tangannya ke batu yang sedang ia duduki itu. Tiba-tiba muncul sesosok yang terlihat sangat besar.
Sosok itu berjubah hitam dengan postur tubuh yang besar dan tinggi, wajahnya samar dan Alia tidak bisa melihatnya, dia berdiri tepat di depan Alia, di belakangnya juga ada beberapa yang mengikuti, mereka berpenampilan sama namun yang terlihat paling mengerikan adalah yang berdiri paling depan. Dia memegang sebuah tongkat hitam besar ditangan kirinya.
__ADS_1
"Apa ini? siapa kalian? mau apa?"
Mereka hanya diam dan melihat ke arah Alia, diapun berpikir bahwa sosok itu tidak ada niat jahat karena dia bisa merasakan hawa dan aura yang sangat berbeda dari biasanya. Aura itu sangatlah kuat, pekat namun tidak berbahaya. Meskipun tidak ada satupun yang berkata-kata, namun pandangan itu seperti mengatakan bahwa Alia tidak usah melihat ke belakang dan harus mencapai puncak untuk melakukan sesuatu.
Alia teringat sesuatu, dia masih memegang botol mineral yang berisikan sedikit sisa air. Perlahan Alia menuangkan sisa air dalam botol itu dan membacakan beberapa doa.
Alia bersikeras untuk bangkit dan kembali berjalan, kali ini tubuhnya menjadi lebih ringan, ia bukan hanya bisa berjalan dengan cepat lagi, ia bahkan bisa berlari agar cepat sampai ke puncak.
Akhirnya Alia sampai di puncak, semua peserta dan panitia sedang beristirahat dan ada yang masih melakukan sholat Dzuhur. Di puncak itu terdapat bagian datar yang cukup luas dan terdapat sebuah bangunan mushola yang cukup besar, di sana juga ada toilet umum dengan air yang tanpa henti mengalir dari mata air di pegunungan.
"Wah iya, udah masuk waktu Dzuhur dari 20 menit yang lalu, berarti perjalanan dari bawah sampai ke sini memakan waktu tiga jam lebih?"
"Alia, kamu sampai juga, kamu sholat dulu sana, tuh di sana ada toilet umum"
Alia langsung menuju ke toilet umum, dia mencuci wajahnya dan meminum beberapa teguk air. Air itu aman untuk di minum karena berasal dari mata air langsung.
"Hah segar sekali! airnya sangat dingin, ini benar-benar berguna untuk menghilangkan lelah selama perjalanan."
Alia bergegas untuk melaksanakan sholat Dzuhur, setelah selesai ia keluar dari mushola dan mendapati semua orang sudah tidak ada, kecuali Dista.
"Kok kamu sendirian, yang lain mana?"
"Di atas kak lagi berdoa di petilasan"
"Kamu nggak ikut?"
"Aku lagi berhalangan"
Alia terdiam, dia sama sekali tidak ingin menyusul yang lain ke atas. Melihat tangganya yang begitu menanjak dan tinggi saja sudah membuat keinginannya menghilang. Tapi entah kenapa hati Alia mengatakan bahwa dia harus naik ke atas dan melihat petilasan itu. Tanpa berpikir lagi akhirnya Alia pun berjalan menuju ke atas. Untuk sampai di petilasan itu ia harus melewati sekitar seratus anak tangga yang hampir berbentuk vertikal.
Pada bagian anak tangga terakhir terdapat sebuah pintu gerbang yang terbuka. Alia melihat sekeliling, tempat itu ternyata di pagar keliling dan terlihat dikunci jika tidak ada pengunjung.
__ADS_1
Tepat di depan Alia terdapat sebuah bangunan kayu dengan dinding anyaman bambu yang terlihat sangat terawat, warna kayu tersebut bahkan masih mengkilat seperti baru di bangun.
Semua orang sudah berada di dalam untuk berdoa, dan ternyata kakek tua itu yang sedang memimpin doa, tapi anehnya ia berdoa menggunakan bahasa jawa halus dan beberapa kata yang tidak bisa di mengerti oleh Alia dan semua orang.