
Alia terdiam dan menatap ke arah kakaknya, dia merasa sangat iba karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tua itu.
"Ah..." Alia memegangi bagian tengkuknya yang terasa sakit lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Azam.
"Ah nggak papa, ini cuma rasa sakit biasa aja kok"
Sudah cukup lama Alia selalu merasa sakit di kepala bagian belakang sampai ke tengkuknya, rasa sakit itu biasanya datang ketika menjelang waktu Maghrib dan tak lama setelah lewat waktu isya, namun ia selalu mengira bahwa itu hanya karena kelelahan saja, karena rasa sakit itu tidak akan bertahan lama, namun dia juga tidak menyangka akan merasakan sakit itu lagi bahkan setelah ia tersadar dari koma.
"Apa boleh aku memegang kepala kamu?" tanya Azam dengan pelan.
Alia kembali menengok ke arah kakaknya seolah bertanya bagaimana pendapatnya. Sosok kakak Alia mengangguk sembari tersenyum pada Alia, lalu Alia pun mengangguk pada Azam.
Dengan pelan Azam mulai meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Alia yang masih terbalut perban. Dia membacakan beberapa surat-surat Al-Qur'an dalam hati.
Setelah selesai Azam menarik kembali tangannya, namun dia terlihat agak lemah dan berpamitan pada Alia untuk keluar. Sementara itu Alia hanya terdiam, dia mencoba untuk berbicara pada kakaknya.
"Kak... kepalaku terasa lebih ringan! seperti telah di ambil sesuatu yang membuatku merasa terbebani" ujar Alia dalam hati.
"Kamu beruntung Alia..."
Untuk pertama kalinya Alia mendengar suara kakak perempuannya, sebelumnya dia bahkan tidak pernah bisa melihat sosok kakaknya dalam waktu lama, namun sekarang dia merasa lebih leluasa.
Sejak keluar, Azam sudah tidak terlihat lagi sampai Alia tertidur. Bu Mia masuk dan tertidur di kursi sembari meletakkan kepalanya di samping Alia, lalu Pak Aji tidur di lantai beralaskan tikar yang ia bawa dari rumah.
*****
Keesokan harinya sekitar jam 8 pagi semua teman-teman Alia yang menjalani KKN bersama datang untuk menjenguknya kecuali Azam dan Nafisah. Mereka sudah berjanji untuk bertemu di depan rumah sakit menuju ke ruang rawat Alia bersama-sama.
Alia yang sejak subuh hanya melamun sembari memikirkan sesuatu sampai membuat kepalanya terasa sakit, kini merasa terhibur karena ada begitu banyak orang yang datang dan melihatnya.
__ADS_1
"Alia... maaf yah kita baru datang sekarang, soalnya kemarin kita semua habis dari rumahnya almarhum Bu Murniati" jelas Sandra.
"Iya nggak papa kok" jawab Alia singkat dengan senyuman di wajahnya.
"Kondisi kamu gimana? udah baikan?" tanya Afi.
"Kaki aku... nggak bisa bergerak, nggak tahu sampai kapan" ucap Alia sambil menunduk.
"Yang sabar yah, kita semua dukung kamu kok" ujar Afi
Mereka semua mengobrol dan bercanda untuk menghilangkan rasa bosan Alia yang hanya berada di ruangan itu sepanjang hari. Sementara itu kedua orang tua Alia berada di luar untuk memberikan waktu Alia berkumpul bersama teman-temannya.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Tiba-tiba saja Nafisah muncul dari balik pintu ruangan dengan wajah datar dan seperti biasa, tatapannya sangat dingin dan tajam.
"Em aku... aku punya sesuatu untuk dibicarakan dengan Alia" ucapannya.
"Oh mau ngomong apa? tinggal ngomong aja" ucap Alia.
"Ini cukup penting, dan untuk kita berdua saja" ujar Nafisah.
Alia melihat ke arah temannya yang lain, dia tidak enak jika harus mengusir mereka semua hanya untuk bicara dengan Nafisah.
"Ah nggak papa kita ngerti kok, ya udah kita ke luar dulu aja yah, ayo teman-teman!" ucap Anton yang sangat mengerti dengan maksud Nafisah.
Semuanya pun segera berjalan ke luar ruangan, hanya tersisa Nafisah dan Alia saja sekarang. Nafisah melirik ke arah sosok perempuan berbaju putih yang berdiri di samping kiri Alia.
"Dia kakakku... nggak papa, kamu ngomong aja" ujar Alia.
__ADS_1
Nafisah menghela nafas lalu mengeluarkan sebuah botol kaca yang sangat kecil dari tasnya. Botol kaca itu seperti botol minyak wangi non alkohol yang pernah Alia lihat di toko-toko, namun di dalam botol itu terdapat sehelai bulu berwarna hitam yang terendam minyak di dalamnya.
"Apa itu?" tanya Alia heran.
"Namanya bulu perindu..." ucap Nafisah pelan.
"Ah aku pernah dengar sebelumnya, tapi aku belum pernah melihatnya secara langsung, ternyata bentuknya seperti itu. Apa itu punya kamu?" ucap Alia dengan sangat polosnya.
"Kamu tahu kegunaannya?"
"Yah, mba Zizi pernah bercerita tentang itu ke aku"
"Dia juga cerita kalau Irfan punya benda ini?"
Alia terdiam, dia menjadi bingung sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Nafisah dengan melontarkan berbagai pertanyaan semacam itu.
"Langsung ke intinya saja, aku nggak paham"
"Tadi aku melihat Irfan, dia berbicara dengan Azam. Dia sangat khawatir dengan keadaan kamu, dia menceritakan semuanya pada Azam, dan tanpa sengaja aku mendengarnya"
"Irfan, sampai kemarin aku bahkan masih terus memikirkan dia, tapi sejak tadi pagi sudah tidak lagi" ujar Alia.
"Dia memakai minyak ini, untuk memikat kamu!"
"Apa!?"
"Awalnya dia hanya iseng, dia ingin mencoba seberapa besar kemampuan kamu, sekali mencoba, itu gagal, lalu dia mencoba untuk ke dua kalinya dan sampai ketiga kali baru bisa mendapatkan perhatian kamu itupun hanya sedikit. Lama kelamaan dia mulai benar-benar menyukai kamu, lalu dia juga menyanyikan tembang pemikat dan mantra pengacau pikiran supaya bisa lebih dekat sama kamu, jadi pacar kamu, dan satu-satunya orang yang ada di hati dan pikiranmu. Jika orang awam, sekali saja menggunakan minyak ini maka dia akan langsung tergila-gila pada orang yang memakainya, tapi pada kamu, dia agak kesulitan karena pembatas di tubuh kamu cukup kuat. Seharusnya ilmu dan mantra seperti itu juga tidak bisa mempan untuk kamu, tapi karena sejak awal kamu tidak bisa sepenuhnya menerima kelebihan itu, selalu menolak untuk mempelajari bagaimana cara mengendalikannya, dan terus menutupi kemampuanmu supaya bisa hidup seperti orang normal pada umumnya, itu membuat Irfan bisa dengan mudah menembus dan memikat Sukma kamu. Jika itu orang awam, dia mungkin sudah akan gila karena menerima itu selama setahun saja, namun kamu bisa bertahan selama hampir 3 tahun, aku sangat kagum padamu. Selama ini, Irfan sengaja menimbulkan salah paham supaya kamu membenci Azam, dan itu juga membuat aku salah paham sehingga terus membenci kamu. Aku selalu berfikir kamu terlalu bodoh dan keras hati karena tidak bisa melihat kebaikan Azam sedikitpun, tapi ternyata... mata hati kamu memang sudah tertutup akibat efek dari perbuatan Irfan. Irfan selalu menyembunyikan hal itu karena sudah terlanjur benar-benar menyayangimu, namun... keisengannya kembali ia lakukan saat melihat Meisya hingga sekarang dia terjebak karena perbuatannya sendiri."
"Pantas saja, selama ini aku selalu merasakan sakit di tengkuk setiap hari menjelang waktu Maghrib, dan setiap malam aku selalu memikirkan Irfan meskipun hanya sebentar" gumam Alia.
"Satu lagi... orang yang dulu meneror kamu, sehingga kamu harus membuang ranjang mu, itu juga Irfan"
__ADS_1