Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Sungguh mengagetkan


__ADS_3

Keesokan harinya Alia berangkat kuliah seperti biasa, ia berangkat jam setengah tujuh dari rumah. Mulai hari itu jadwal kuliah sudah mulai padat dan juga kegiatan organisasi mulai mencari anggota baru mereka.


Pagi itu Alia berangkat bersama dengan Afi, namun karena mereka berbeda fakultas jadi mereka berdua berpisah di parkiran. Alia berjalan menuju ke kelasnya, begitu juga dengan Afi.


Saat Afi sedang berjalan sendirian, tanpa sengaja ia melihat Azam yang juga sedang berjalan sendirian. Tanpa pikir panjang Afi pun langsung menghampirinya karena sangat penasaran dengan kebenaran tentang hal yang di bicarakan Alia kemarin.


"Hey Azam!"


Azam menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menghadap ke arah Afi sambil mengingat-ingat.


"Kamu... teman satu kelompok aku pas ospek kan? kalau nggak salah namanya Afi ya?"


Afi mengangguk membenarkan ucapan Azam.


"Oh ya kenapa?"


Azam penasaran karena tiba-tiba Afi menghampirinya, padahal mereka tidak terlalu kenal dan hanya pernah menjadi satu teman kelompok saja.


"Aku mau tanya sama kamu!"


"Oh mau tanya apa?"


"Soal Alia"


Azam terkejut saat mendengar nama Alia, ekspresinya langsung berubah menjadi agak gugup dan bingung, kenapa Afi tiba-tiba ingin bertanya soal Alia.


"Alia... ragasy?"


Azam mencoba menyakinkan kalau-kalau Alia yang Afi maksud adalah Alia yang lain. Afi mengangguk, wajahnya sangat serius dan agak menakutkan karena terlihat kesal juga.


"Kamu kenal dia?"


"Aku sahabatnya, sejak masih di Mts"


"Oh begitu, mau tanya apa?"


"Apa sebenarnya tujuan kamu?"


Azam terdiam, dia bingung harus menjawab apa karena Alia saja sekarang mungkin sudah sangat membencinya, jadi percuma saja jika dia mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Tujuan apa maksudnya?"


"Azam, ngga usah pura-pura lagi lah, aku tau kamu pasti punya tujuan, dan aku rasa apa yang di bilang sama Alia itu agak keliru"


Azam tetap saja bersilat lidah dan tidak ingin memberikan alasan yang sebenarnya, namun Afi memanglah orang yang sangat pandai dalam menggali informasi sampai akhirnya Azam mau menceritakan yang sebenarnya.


"Aku cuma mau melindungi dia, dan menutupi identitasnya"


"Tapi bukannya itu emang bikin Alia kelihatan pura-pura sakit aja dan dia bisa aja mati di cekik tanpa ada orang yang tau kan?"


"Itu... sebenarnya aku diam-diam sudah menekan aura mahluk yang mengganggunya, dan itu akan mengurangi rasa sakitnya"


Afi masih fokus mendengar penjelasan dari Azam. Azam juga bilang bahwa ia hanya bisa menekan aura mahluk itu setengahnya saja, jadi mahluk itu memang masih bisa menyakiti Alia terutama saat Alia berada dekat pada sarangnya yaitu pohon Cherry tua. Dia juga bilang bahwa akan percuma saja jika semua orang mengetahui tentang kemampuan Alia, karena bahkan dosen yang katanya mempunyai ilmu kebatinan tidak akan bisa membantu apapun, jadi Azam sengaja menutupinya supaya tidak ada yang berniat jahat ataupun mengganggunya.


"Tapi kenapa kamu ngga sekalian usir mahluk itu supaya ngga ganggu Alia lagi?"


"Nggak semudah itu, usianya sudah cukup tua, dan auranya sangat kuat"


"Jadi hari itu kamu kesakitan karena melawan mahluk yang sedang mengganggu Alia?"


Azam hanya mengangguk.


"Aku juga masih mencari tahu soal itu, untuk sementara kamu jangan cerita pada Alia dulu"


"Tapi kan..."


"Sudahlah biar dia membenciku, nanti saat waktunya tiba aku akan menjelaskannya sendiri."


Azam lalu pergi dan meninggalkan Afi, Afi masih berdiri di tempat itu sambil menggerutu kenapa Azam tidak menceritakan langsung saja.


**********


Sekitar jam 4 sore Alia baru selesai kuliah, dia teringat bahwa kemarin mendapatkan undangan dari Nafisah untuk menghadiri organisasi keagamaan.


Alia menelpon Afi dan berkata bahwa dirinya tidak bisa pulang bersama karena masih ada kegiatan, jadi Alia menyuruh Afi agar pulang sendiri dulu.


Alia berjalan menuju ke ruang organisasi keagamaan yang berada di gedung fakultas keagamaan.


Dalam hatinya masih terpikir bagaimana cara menyikapi Azam, karena kemarin ia sudah marah-marah padanya. Hal itu membuat Alia menjadi berat hati untuk datang ke dalam kegiatan tersebut.

__ADS_1


"Hey Alia"


"Eh kak Irfan"


"Kamu baru datang? ayo cepat masuk, semuanya sudah datang"


Alia berjalan pelan dan memasuki ruangan, benar saja, semua orang yang diundang memang sudah datang ke dalam ruangan itu, termasuk Azam dan juga Nafisah.


Sekitar jam setengah lima kegiatan di mulai, semuanya berjalan cukup lancar, karena mereka semua berasal dari MA yang sama jadi sudah tidak merasa asing lagi.


Tanpa terasa adzan Maghrib mulai berkumandang, kegiatan di hentikan dan semua anggota pergi menuju ke mushola untuk melaksanakan sholat Maghrib.


Setelah selesai sholat Maghrib semua anggota kembali menuju ke ruangan, namun Alia memilih untuk duduk sebentar di depan mushola karena masih ada sedikit waktu sebelum kegiatan di lanjutkan.


Alia mengambil ponselnya, dia menelpon Mama nya untuk memberitahu bahwa ia akan pulang terlambat. Setelah itu ia bangun dari duduknya dan mulai berjalan menuju ke ruang kegiatan. Dijalan perhatian Alia teralihkan pada sebuah ruangan yang tertutup rapat dan terlihat sangat sunyi.


Karena penasaran maka Alia berusaha untuk mendekati, dia mulai menyentuh gagang pintunya, mencoba untuk membuka dan melihat sedikit ke dalam ruangan itu namun tiba-tiba "Cetaakkk".


Gelang kayu yang melingkar di tangan kiri Alia putus dan butiran kayunya berserakan di lantai. Alia berusaha untuk memungutnya satu persatu, ada satu butir yang menggelinding ke dalam ruangan itu, dan Alia mencoba untuk mengambilnya.


"Astaghfirullah!!! apa itu?"


Alia melihat sesuatu di samping butiran kayu itu, seperti sebuah kepala seseorang yang tergeletak di lantai, Alia mencoba untuk membuka pintu itu lebih lebar agar bisa melihat kalau-kalau ada orang yang pingsan di sana, namun saat pintunya terbuka lebar ia kembali terkejut karena kepala itu tidak memiliki badan, tak lama setelah Alia melihatnya dengan jelas, kepala itu memutar dan memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan darah pada Alia.


"Masyaallah! apa itu!"


Tanpa pikir panjang Alia langsung menutup kembali pintu dan segera menjauh dari tempat itu. Dia berjalan cepat dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetaran.


"Gedung fakultas keagamaan, semuanya belajar tentang agama, tapi kenapa itu..."


Alia bicara sendiri, dia masih sangat kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Begitu sampai di ruang kegiatan, Alia langsung duduk dan tidak berkata apapun.


Kegiatan itu selesai sekitar jam 8 malam. Alia bergegas untuk segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke parkiran, namun dalam pikirannya masih dipenuhi oleh wajah dari kepala yang tergeletak tadi.


"Duuuhhh ini otak kenapa si!! malam-malam gini malah ngga mau berhenti ingat yang tadi"


Perasaan Alia menjadi tidak Karuan, seketika dia merasa takut untuk pulang sendirian karena pikirannya masih tidak stabil.


Alia melihat Irfan sedang berjalan menuju ke parkiran, dan tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung meminta Irfan untuk mengantarnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2