
Bell istirahat pertama berbunyi, kali itu ia memutuskan untuk tetap di kelas. Kebetulan Alia juga sedang berniat puasa sunnah hari Kamis bersama dengan Nida. Mayra dan teman yang lain pergi ke kantin, sementara itu di kelas hanya tersisa Alia dan Nida saja.
"Al kamu masih belum mau main ke kamarku lagi?"
Nida bertanya karena sudah lama Alia tidak main ke kamarnya di Pesantren.
"Ngga dulu deh, masih agak gimana gitu"
"Heran deh! akhir\-akhir ini suasana pesantren agak panas, ngga tau kenapa, udah dua kali ini Azam tangannya kaya kebakar, eh tadi malam aku lihat mba Nafis juga sama! kayaknya di koprasi ngga jualan korek deh"
Alia terdiam, dia mengingat Nafisah ketika Nida menyinggung nya. Dia juga teringat bahwa luka yang dialami oleh Azam dan Nafis di sebabkan oleh Alia.
"Da kamu percaya kalau luka mereka itu gara\-gara aku?" tanya Alia sambil berbisik, berharap tidak ada orang lain yang mendengar.
"Maksud kamu apa?"
"Lah pokoknya ceritanya panjang, oh ya gimana keadaan Nafisah?"
Nida tidak tahu apa yang di maksud oleh Alia, dia menceritakan bahwa semalam Nafisah merasa kesakitan karena luka ditangannya itu. Mendengar hal itu, Alia jadi merasa bersalah karena telah melukai orang.
"Oh iya aku lupa! aku ke kantor sebentar yah"
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba dia teringat akan tugasnya sebagai bendahara acara besok. Hari ini adalah waktunya untuk mencairkan dana yang akan di gunakan untuk membeli keperluan acara. Alia pun berjalan dengan cepat menuju ke kantor untuk menemui bagian keuangan sekolah.
"Alia! habis ini ngga usah ke kelas lagi, aku sudah izinkan kamu sama Mayra dan juga ketua OSIS kita"
Amar tiba-tiba datang dan menyapa Alia yang baru saja keluar dari ruangan bagian keuangan.
Alia hanya mengangguk dan mengikuti Amar menuju keruang rapat.
Amar dan Alia sampai lebih dulu di ruangan, dan anggota yang lain mulai berdatangan.
Setelah semua anggota panitia berkumpul, Amar memulai rapatnya dan mengecek tugas-tugas yang sudah di bagikan.
Mereka mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari waktu itu juga, seperti ruang panitia, ruang untuk snack konsumsi dan juga ruangan khusus untuk para tamu undangan.
Semua persiapan dari acara di sekolah benar-benar di atur sepenuhnya oleh siswa yang menjadi panitia dan tanpa ada campur tangan dari guru sedikitpun. Para guru hanya mengawasi dan mengijinkan hal-hal yang sekiranya membutuhkan ijin dari pihak guru seperti membuka sekolah sampai malam saat para panitia sedang mempersiapkan acara untuk esok paginya.
Para panitia sibuk dengan tugas masing-masing sampai tak terasa adzan dhuhur sudah berkumandang. Semuanya bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.
Setelah selesai sholat dhuhur berjamaah, Alia dan Mayra kembali keruang panitia, sementara yang lain berada di luar untuk memantau tugasnya.
"Al aku keluar dulu ya"
Mayra keluar sambil membawa catatan persiapan dan mengeceknya secara langsung, sementara Alia masih sibuk dia ruangan untuk menghitung uang dan jumlah pengeluaran yang sudah terpakai.
Nafisah yang mengetahui kalau Alia sendirian di ruang panitia mencoba untuk menghampirinya. Dia berjalan dengan cepat menaiki tangga dan saat tiba di depan ruang panitia....
Braaaakkkkk!!!!!
Tiba-tiba sebuah kursi terjatuh dengan sangat keras tepat di depan Nafisah yang berada di depan pintu ruangan.
"Astaghfirullahaladzim!"
__ADS_1
Nafisah sangat terkejut melihat hal itu sementara Alia masih duduk dengan santai dan melirik kearah Nafisah sambil tersenyum kecil.
"Heh bahkan kursi saja tidak suka kamu menemuiku!"
Alia bicara sambil terus fokus pada pekerjaannya dan tidak melihat Nafisah sama sekali. Nafisah pun merasa sangat kesal, dia menyingkirkan kursi itu dan masuk untuk mendekati Alia.
"Kamu ini memang penyihir jahat yah!"
"Jaga ucapanmu!"
"Lalu apa!? kamu bahkan melukai orang yang sama sekali tidak bersalah! pikiran mu itu memang sangat buruk!"
" Buruk? apa kamu tidak punya kaca? atau paling tidak ingatlah semua kelakuanmu di masa lalu!"
Alia bicara dengan nada pelan, namun begitu menusuk dan membuat Nafisah sangat marah, karena dia merasa Alia sedang menghinanya.
"Kau!!"
Nafisah mengangkat tangannya dan ingin menampar Alia, namun tiba-tiba dia melihat bayangan putih yang mengelilingi Alia dan wajah Alia pun terlihat seperti bukan wajahnya.
Nafisah melihat wajah itu tersenyum kepadanya dengan sangat ramah dan sopan sehingga dia menghentikan tangannya yang sangat ingin menampar Alia. Setelah tersenyum pada Nafisah, Alia pun pergi meninggalkan ruangan dan turun ke lapangan.
Sementara itu Nafisah masih berdiri terdiam dengan tangannya yang masih terangkat, tubuhnya seolah terhenti, menjadi kaku dan pikirannya entah kemana.
Ia mencoba menurunkan tangannya dan duduk sejenak untuk berpikir.
"Dia yang akan mendapat pertolongan Allah"
Tiba-tiba Azam datang dan menghampiri Nafisah yang sedang duduk sendiri dan masih merasa heran.
Nafisah hanya terdiam mendengar ucapan Azam, dia melihat kearah Azam seolah bertanya apa maksud dari perkataannya tadi.
"Itu aura cahaya putih yang mengelilinginya" ucap Azam.
"Apa maksudnya? jelas\-jelas dia memiliki aura yang sangat hitam!"
"Mba Nafis, apa kamu tidak bisa melihatnya tadi, saat itu muncul, derajatnya bahkan lebih tinggi dari kita" jelas Azam.
"Jadi maksudmu?"
"Berhenti mengganggunya, pandanganku tidak akan pernah salah, dia itu sangat istimewa!"
Azam lalu pergi meninggalkan ruangan dan membantu panitia yang lain.
"Subhanallah... ternyata benar\-benar ada manusia seperti itu? aku sungguh malu pada diriku sendiri"
__ADS_1
Nafisah kini sudah tahu siapa sebenarnya Alia dan bagaimana identitas nya yang sesungguhnya. Dia sekarang sadar bahwa seberapa kuat ia mencoba untuk melawan Alia, dia tidak akan mampu.
Nafisah akhirnya mencoba untuk menerima bahwa orang yang ia sukai ternyata menyukai orang lain.
_____-----_____
Alia berjalan menuju kantor untuk melaporkan sesuatu, dan di jalan ia berpapasan dengan Irfan.
"Lho kak Irfan, kenapa berkeliaran disini?"
"Kenapa? jam sekolah sudah selesai, jadi bebas kan?"
Alia bingung dan melihat jam tangannya, ternyata waktu pulang sekolah memang sudah lewat setengah jam. Karena sangat sibuk membuat laporan ia jadi tidak menyadarinya.
"Kamu panitia ya? berarti nanti malam kamu disini juga?" tanya Irfan dengan wajah yang selalu datar.
Alia hanya mengangguk, dia merasa grogi setiap kali bicara dengan Irfan, padahal mereka sudah sering bicara, bahkan sudah akrab satu sama lain karena sering bertemu saat Alia main ke kelasnya Zizi.
"Alia!"
Tiba-tiba Mayra memanggilnya lalu menghampiri. Irfan pun langsung berlalu ketika Mayra mendekatinya.
"Dicariin tuh, ada yang mau minta uang!"
"Yah udah kaya emaknya aja minta uang ke aku!"
"Yah kan kamu bendahara nya, yang pegang uangnya juga kamu! ya mintanya ke kamu lah!"
Mereka melanjutkan pekerjaannya dan hanya beristirahat untuk sholat ashar setelah itu kembali lagi.
Semuanya sibuk bekerja sampai tak terasa waktu sudah hampir Maghrib.
Amar mengumpulkan semua anggota panitia untuk rapat sebentar sebelum beristirahat sholat Maghrib. Dia memastikan apa saja yang kurang supaya tidak ada yang terlewat untuk acara besok.
Alia duduk di belakang dan tak sengaja melihat Azam yang terus memegangi tangannya. luka itu mulai terasa panas dan perih lagi karena waktu sudah menjelang Maghrib, namun Azam berusaha terus menutupi.
Di samping itu, Alia melihat Nafisah yang juga sedang menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"*Astaghfirullah... aku lupa kalau dia terluka karena aku juga! kemarin dia pasti juga kesakitan seperti itu*" Alia berguman dalam hati sambil terus memperhatikan Nafisah.
Setelah selesai rapat para panitia bergegas ke masjid untuk menjalankan sholat Maghrib berjamaah, dan kembali lagi setelah selesai sholat Isya.
"Azam"
Alia menghentikan Azam yang terburu-buru untuk pulang ke pesantren dan mengobati lukanya.
"Ya ada apa?"
"Tolong beri tahu Nafisah, karena di juga terluka gara\-gara aku"
Setelah bicara, tanpa berpamitan Alia langsung pergi meninggalkan Azam. Para panitia yang lain menuju ke pesantren untuk sholat dan beristirahat, namun Alia lebih memilih untuk pulang ke rumah nenek Mida, dan Mayra juga mengikutinya.
__ADS_1