
Keesokan harinya Alia berangkat sekolah seperti biasa, namun mulai hari itu Alia sudah tidak berangkat bersama dengan Mayra lagi. Begitu melewati jalan tempat terjadinya kecelakaan itu Alia mulai melaju dengan pelan. Dia menengok kanan kiri berharap bisa melihat Mayra, namun semua usahanya hanya sia\-sia saja.
Begitu sampai di sekolah Alia langsung masuk ke kelasnya dan duduk di bangku seperti biasa. Alia hanya terdiam dan duduk sendiri karena Nida belum sampai di kelas. Di kursi paling depan duduk dua orang teman sekelas Alia yang sangat suka menggosip. Kebetulan jarak kursi mereka dengan Alia tidak jauh jadi Alia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"*Duh si Mayra kasihan banget yah*" ucap salah seorang yang duduk di bangkunya.
"*Iya, lagian pake berangkat sama pacar segala si"
"Yah mau pacaran dulu kali,"
"Duh kan sayang banget baru pertama kali mau berangkat sama pacar malah jadi apes*"
Alia merasa sangat kesal ketika mendengar kedua temannya itu sedang membicarakan Mayra. Tangannya mengepal di atas meja, matanya menatap tajam ke arah jam dinding yang berada di atas papan tulis di depan kelas. Tatapan Alia menjadi semakin tajam ketika mereka tidak berhenti membicarakan sahabatnya yang baru meninggal itu.
Praaaaaang!!!
Tiba-tiba jam dinding yang berada di depan kelas jatuh ke lantai dan pecah. Beberapa pecahan kacanya jatuh tepat di depan kedua orang yang sedang menggosip itu.
"Astaghfirullah kenapa bisa tiba\-tiba jatuh begini?" teriak salah satu dari mereka.
"Duh kok aku jadi merinding yah, jangan\-jangan..." jawab satunya lagi.
Mereka berdua baru bisa diam saat jam itu terjatuh dan menjadi ketakutan. Alia berdiri dan mulai berjalan mendekati mereka berdua dengan tatapan tajam karena dia masih merasa marah.
"Makanya kalau ngomong itu dijaga mulutnya!"
"Ma maaf Alia, kami ngga bermaksud kok"
__ADS_1
Mereka berdua bicara dengan terbata-bata dan semakin ketakutan ketika Alia mendekati mereka.
Setelah bicara, Alia pun berlalu dan kembali duduk di bangkunya. Sementara itu dari depan kelas tak sengaja Azam melihat kejadian itu dan sangat yakin bahwa jam itu jatuh karena Alia.
"*Sepertinya ada yang sudah membimbing kamu*" Azam bergumam dalam hati lalu masuk ke kelasnya yang berada tepat di sebelah kelas Alia.
"Astaghfirullah ada apa ini kenapa bisa pecah begini?"
Nida sampai di kelas dan kaget melihat pecahan kaca dari jam dinding di kelasnya, dia melihat ke arah Alia namun Alia hanya diam saja. Akhirnya kedua orang tadi pun akhirnya memberitahu Nida bahwa jam itu jatuh sendiri. Mereka bertiga segera membersihkan pecahan itu karena sebentar lagi bell masuk kelas akan berbunyi.
Benar saja, tak lama setelah mereka selesai membersihkan pecahan itu bell masuk kelas pun berbunyi. Nida lalu duduk di bangkunya yang berada di samping Alia.
"Eh Amar kok belum datang yah"
Nida heran ketika ketua kelas belum juga masuk kelas saat bell sudah berbunyi.
"Paling juga ke ruang guru dulu, dia kan biasa tiap pagi ngapel ke ruang guru" jawab Alia dengan santai.
Tak lama kemudian Amar pun masuk kelas dan memberitahukan kepada semua teman sekelasnya bahwa hari ini semua siswa kelas XII hanya di beri sebuah tugas karena guru sedang rapat dan tidak bisa mengajar secara langsung.
Dua jam berlalu dan banyak siswa yang sudah selesai dengan tugasnya, mereka mulai ribut, ada yang bicara sendiri dan ada yang bermain, ada juga yang memaksa untuk keluar kelas dan pergi ke kantin namun Amar melarang karena belum masuk waktu istirahat.
"*Terus kita ngapain di kelas, tugas juga udah selesai*!" ucap salah seorang teman sekelas Amar.
"*Ya paling nggak kalau mau ke kantin tunggu jam istirahat lah, ngga enak kan sama anak kelas yang lain*" jawab Amar.
Alia hanya diam saat melihat mereka semua ribut, dia tidak mempedulikan hal di sekitarnya sama sekali. Akhirnya Amar pun berhasil meyakinkan temannya untuk tidak keluar kelas sebelum jam istirahat. Amar masih berdiri di depan pintu untuk berjaga agar tidak ada teman sekelasnya yang keluar tanpa izin.
"Udah kaya satpam aja kamu Amar!"
Azam mendekati Amar yang sedang menjaga pintu, dia tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang sangat taat dengan peraturan sekolah.
"Ya habisnya mereka pada maksa mau keluar"
__ADS_1
"Tugasnya sudah selesai semua?"
"Sudah"
"Bagaimana kalau kita berdoa bersama saja?"
"Boleh juga, aku akan memberitahu semua teman sekelasku"
Amar pun langsung masuk dan memberikan pengumuman untuk mengadakan doa bersama dengan kelas sebelah.
"Ide bagus! daripada kita ngelakuin hal ngga jelas"
Alia akhirnya bicara setelah lama diam, dia mulai meminta temannya untuk menyiapkan tempat. Mereka semua bekerja sama untuk menata setengah bangku di kelas agar mendapat ruang yang lebih longgar di bagian belakang dan bisa digunakan untuk berdoa bersama, mereka juga tak lupa untuk menyapu lantainya terlebih dahulu agar tidak kotor saat di gunakan untuk duduk.
Tak lama kemudian Azam datang bersama semua teman sekelasnya, mereka duduk bersama dengan teman sekelas Alia di bagian belakang kelas. Mereka duduk di lantai dengan posisi berjejer dan saling berhadapan.
Amar meminta Azam untuk memimpin mereka membaca surat Yasin dan diteruskan dengan do'a tahlilan. Semua do'a tersebut ditujukan untuk mendoakan Mayra yang baru meninggal agar bisa lebih tenang.
Tak perlu buku Yasin atau tahlil, karena salah satu syarat agar bisa masuk dan bersekolah di MA Ma'arif itu adalah hafal surat Yasin dan bacaan tahlil, jadi mereka semua pasti sudah hafal dan tak perlu lagi melihat bukunya.
Azam pun memulai doanya dengan membaca surat alfatihah terlebih dahulu lalu di lanjutkan dengan membaca surat Yasin. Tanpa sadar Alia mulai melirik ke arah Azam dan tersenyum melihat Azam yang sedang memimpin doa, dia mulai merasa kagum melihat Azam yang membaca doa dengan sangat fasih.
Nida menyentuh tangan Alia dan membuatnya kaget, Alia pun langsung menarik pandangannya dan menunduk, takut jika ada orang lain yang menyadari sikapnya itu.
"*Baru pertama kali aku melihat dia tanpa rasa benci*" Alia bergumam dalam hati.
Namun Amar menyadari tatapan Alia dan mencoba menarik diri, dia masih tidak bisa menghilangkan perasaan yang ada di dalam hatinya itu. Rasa itu sudah begitu dalam, dia sudah merasakannya saat pertama kali bertemu dengan Alia, dia juga merasa sangat senang karena sudah hampir tiga tahun ini bisa satu kelas dengan Alia, Amar benar-benar tidak berani mengungkapkan perasaannya, terlebih lagi saat ia menyadari bahwa sahabatnya yaitu Azam juga memiliki perasaan yang sama terhadap Alia meskipun tidak pernah mengucapkan secara langsung, tapi Amar bisa menyadari hanya dengan melihat tatapan Azam pada Alia.
Amar sangat setia terhadap sahabatnya, dia juga sangat menghormati dan mengagumi nya, jadi dia juga tidak punya niat sedikitpun untuk bersaing dengan Azam, maka dari itu Amar memutuskan untuk lebih diam dan menyimpan perasaan itu.
__ADS_1
Semua siswa pun fokus untuk berdoa, berharap agar jiwa Mayra bisa tenang di alam sana.