Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Mencoba memahami


__ADS_3

Alia masih memikirkan tentang apa yang terjadi, ia masih tidak habis pikir kenapa dia bisa melakukan itu tanpa sadar.


Sementara di kelas Dina, dia masih saja heboh karena luka di tangannya itu.


" Alia tu bener-bener udah gila yah! beraninya dia nyiram luka aku pakai air garam!" Dina terus menggerutu dengan kesal.


"Iya emang udah gila kali dia!" ucap Yanti, salah seorang teman dekat Dina.


"Kalian bisa nggak berhenti ngomong jelek tentang Alia!" tiba-tiba Aldi datang menghampiri mereka bertiga.


"Eh Aldi,, kamu ngapain si masih belain dia, kamu nggak lihat ini tangan aku sakit banget karena ulah Alia,, tadi kamu juga lihat sendiri kan?" ucap Dina memelas pada Aldi.


"Tapi kamu juga nggak seharusnya jelek-jelekin Alia terus kan!" ucap Aldi lalu pergi meninggalkan mereka.


"Tapi Aldi..." teriak Dina yang belum selesai bicara namun Aldi sudah pergi begitu saja.


"Ah sial! kenapa si selalu aja belain cewek aneh itu!" ucap Dina dalam hatinya.


Sore harinya, Alia pulang terlambat karena harus menemui guru matematika nya.


"Duh bisa-bisa nggak dapat bus nih" ucap Alia dalam hati.


Dia berjalan menuju halte depan sekolah, namun di sana ternyata ada Aldi yang sedang duduk sendirian, jadi Alia memutuskan untuk terus berjalan.


"Alia kamu nggak mau nunggu bus?" tanya Aldi.


"Nggak! aku mau jalan kaki aja! lagian rumah aku nggak terlalu jauh" jawab Alia sembari terus berjalan.


Rumah Alia memang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, jika berjalan kaki akan sampai dalam waktu kurang lebih 20 menit, dan jika naik bus kurang lebih hanya lima menit saja.


Alia terus saja berjalan untuk menghindari Aldi, namun ternyata Aldi sudah ada di sebelah nya, berjalan bersamaan dengannya.


"Kamu ngapain!?" tanya Alia


"Jalan" ucap Aldi singkat.


"Rumah kamu itu jauh! mau sampai jam berapa kalau kamu jalan kaki!" ucap Alia dengan nada cukup tinggi.

__ADS_1


" Nggak papa, nemenin kamu sampai rumah, nanti aku bisa naik bus dari rumah kamu juga" jawab Aldi sembari tersenyum pada Alia.


Alia hanya terdiam, dia terus saja berjalan tanpa berkata apapun. Aldi ingin sekali bertanya tentang kejadian yang menimpa Dina, namun dia tidak berani karena dia tahu Alia masih kesal dengannya.


"Maaf yah" suara Aldi begitu lirih dan agak gemetar.


Alia masih saja terdiam, dia masih teringat ekspresi wajah Aldi yang terlihat tidak percaya padanya di depan Dina.


"Aku percaya sama kamu! dan kemarin itu nggak ada maksud sama sekali..." ucapan Aldi langsung di potong oleh Alia.


"Kalau percaya kenapa kemarin pergi gitu aja! nggak mau denger penjelasan aku!" Alia mulai mengeluarkan rasa kesalnya pada Aldi.


" Maaf, aku cuma kaget aja, dan waktu aku lihat luka di tangannya Dina itu, bener-bener bikin aku bingung" jelas Aldi.


"Bahkan aku sendiri bingung, kenapa lukanya bisa jadi kaya gitu" ucap Alia.


Mereka berdua terus berbicara satu sama lain dan menghilangkan kesalahan pahaman dia antara mereka. Aldi mencoba untuk terus percaya pada Alia, begitupun sebaliknya.


Tak terasa sudah lama mereka berjalan, dan kini sudah sampai di persimpangan arah masuk ke rumah Alia, mereka pun berpisah di sana. Alia masuk ke dalam gang yang menuju rumahnya dan Aldi naik bus untuk melanjutkan perjalanannya.


Sesampainya di rumah, Alia langsung pergi membersihkan dirinya. Setelah selesai, seperti biasa dia duduk di tempat tidurnya dan memegang boneka Tiara.


Setelah lama menatap bonekanya, ia lalu meletakkannya di samping tempat tidurnya, ia lalu memandangi kedua tangannya terutama kukunya.


Alia terus memandangi kuku di tangannya dan mengingat kejadian itu.


"Apa iya kuku di tangan aku ini beracun?, apa aku begitu mengerikan?" ucap Alia sambil terus memandangi kuku di kedua tangannya.


Ia pun langsung mencari pemotong kuku dan memotong pendek semua kuku di jari tangannya, ia berharap tidak akan ada lagi yang terkena cakar olehnya, karena ia takut akan mengalami hal yang sama seperti Dina.


*****


Keesokan harinya di sekolah....


Pagi itu Aldi melihat tangan Dina sudah tidak di perban lagi, karena luka di tangannya sudah mulai kering dan tidak bernanah lagi.


"Din, tangan kamu udah mulai sembuh ya?" tanya Aldi sambil melihat kearah tangan Dina yang terluka.

__ADS_1


"Eh Aldi, iya nih udah agak kering, tapi masih agak sakit " jawab Dina masih memelas.


"Kamu harus berterima kasih sama Alia!" ucap Aldi.


"Buat apa!? orang dia yang bikin tangan aku luka kok!" Dina kesal ketika Aldi menyebutkan nama Alia.


"Tapi dia kan udah obati, air yang kemarin dia siramkan ke luka kamu, dan sekarang luka kamu udah kering, itu semua karena Alia kan?" jelas Aldi.


Dina hanya terdiam, dia tidak dapat menyangkalnya.


Aldi pun pergi meninggalkan Dina yang masih kesal memikirkan ucapan Aldi.


"Makasih sama Alia? nggak akan!" Dina menggerutu dalam hati.


Dina pergi ke kelasnya, sementara Aldi pergi menemui Alia yang baru sampai di sekolah.


"Alia!" teriak Aldi sambil menghampiri Alia yang masih berada di gerbang sekolah.


"Duh pagi-pagi ngapain si udah nyamperin aku segala!" ucap Alia dalam hati, ia tidak menjawab panggilan dari Aldi dan hanya terdiam.


"Hai, kamu baru sampai" sapa Aldi dengan lembut. Alia hanya tersenyum.


"Oh iya tadi aku ketemu Dina, aku lihat lukanya udah mulai kering" ucap Aldi langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Beneran?" tanya Alia yang masih penasaran.


Aldi mengangguk sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau gitu, aku juga jadi lega" ucap Alia sambil menghela nafasnya.


"Aku yakin itu karena air yang kamu siramkan kemarin" ucap Aldi dengan yakin.


Alia teringat bahwa kemarin tanpa sadar ia menyiramkan air ke luka Dina, dan dia kaget ketika Aldi membahasnya.


"Ah mungkin saja itu kebetulan! jangan terlalu membuat ku menjadi besar kepala!" jawab Alia.


Aldi tersenyum kagum melihat jawaban Alia yang masih merendah,

__ADS_1


"Ya sudah aku ke kelas dulu" Alia pun pergi meninggalkan Aldi dan pergi ke kelasnya.


Aldi tersenyum dan diapun pergi menuju kelasnya, sementara dari kejauhan Dina mengamati mereka berdua dengan perasaan sangat kesal.


__ADS_2