
Dengan pelan Alia membuka pintu kamar dan mencari dimana Afi. Dia mendengar suara langkah kaki itu sudah ada di ruang tamu dan segera berjalan untuk melihatnya. Ruangan itu sangat gelap karena lampu masih di matikan, saat Alia sedang mencari saklar lampu, tanpa sengaja ia melihat bayangan seorang wanita yang sedang menari\-nari dengan gemulainya.
"Eh aku nggak salah lihat kan?" gumam Alia sembari mengusap kedua matanya.
Saat ia kembali melihat ternyata bayangan wanita itu sudah tidak ada. Alia mencoba menyalakan lampu di ruang tamu, dan memang tidak ada siapapun di sana.
"Alia? kamu ngapain di sini?"
Afi tiba-tiba datang menghampiri Alia dan bertanya padanya.
"Loh Afi, kamu dari mana?" tanya Alia.
"Aku tadi dari kamar mandi"
"Oh gitu, ya udah sekarang kita ke kamar lagi yah" ucap Alia.
Alia langsung menarik tangan Afi dan membawanya masuk ke dalam kamar.
*****
Hari-hari berlalu dengan semua kegiatan KKN yang sudah di rencanakan, semuanya berjalan dengan lancar meskipun terkadang jadwalnya agak bergeser. Sikap Afi juga masih terlihat sedikit berbeda, dia lebih sering diam dan melihat bunga saat sedang tidak ada kegiatan, meskipun begitu Alia masih berusaha untuk memahami Afi, ia berfikir bahwa sahabatnya mungkin sedang mempunyai banyak pikiran karena beberapa hari sebelum pergi KKN Afi pernah bercerita pada Alia kalau dia sedang punya sedikit masalah di keluarganya.
Kebetulan hari ini adalah hari terakhir kegiatan KKN, mereka berniat untuk membuat perpisahan dengan mengadakan pengajian kecil-kecilan di TPQ bersama para anak-anak yang biasa mengaji.
Para perempuan sedang sibuk membantu Bu Murniati memasak dan membersihkan rumah, sementara anak laki-laki bertugas membersihkan TPQ dan membuat dekor sederhana supaya lebih berkesan.
"Azam! mau sampai kapan kamu biarkan ini? ini sudah sangat genting! menyangkut nyawa!"
Nafisah terus bicara pada Azam yang berada di ruang tamu, dia sedang menyelesaikan sebuah kaligrafi berukuran cukup besar yang akan dijadikan kenang-kenangan untuk rumah Bu Murniati.
"Kalau kamu masih saja diam, aku akan kasih tahu Alia!" ujar Nafisah yang merasa kesal karena ucapannya sama sekali tidak dihiraukan.
"Jangan, aku juga sedang berusaha..." ucap Azam dengan nada pelan.
"Tapi ini sudah dua hari, dan kamu masih belum bisa menemukan apa-apa, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Afi?"
Nafisah berbicara cukup keras sehingga tanpa sengaja Alia mendengar ucapan mereka. Alia pun segera menghampiri dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kenapa kalian ngomong soal Afi? apa ada sesuatu yang kalian tahu?" tanya Alia.
__ADS_1
Nafisah dan Azam hanya terdiam, mereka saling menatap satu sama lain, Nafisah ingin mengatakan yang sebenarnya pada Alia tapi Azam terus berusaha untuk melarangnya.
"Ayo ngomong! kenapa pada diam aja?" teriak Alia.
"Alia, kamu lihat Afia nggak?"
Tiba-tiba Sandra datang dan bertanya pada Alia. Alia hanya menggelengkan kepalanya karena sejak tadi dia memang tidak melihat Afi.
"Kalian berdua juga nggak lihat? aku udah cari-cari tapi kok nggak ada yah" ujar Sandra.
Alia pun langsung pergi untuk mencari Afi, dia bahkan sudah tidak lagi ingat dengan pertanyaan tadi karena mengkhawatirkan sahabatnya.
"Kamu lihat kan Azam! dia nggak akan pernah membiarkan sanderannya pergi!" ucap Nafisah.
Alia dan Sandra mencari Afi bersama-sama, mereka mencari di setiap sudut ruangan dan juga halaman, namun tidak juga menemukan Afi. Tanpa sadar gelang yang di pakai Alia tersangkut dan jatuh di depan pintu kamar, karena sibuk mencari Afi jadi dia tidak mengingatnya.
Alia kembali masuk ke dapur dan berniat melihat ke bagian kamar mandi, saat sampai di depan pintu kamar mandi dia sungguh sangat terkejut melihat sesuatu yang tergantung di atas pintu.
"Hhuueeekkk!!!" Alia merasa sangat mual dan hampir muntah karena melihat itu.
Sebuah kepala manusia yang terpajang di atas pintu kamar mandi dan menempel di kayu besar yang selama ini selalu ia tatap karena penasaran. Kepala itu sudah membusuk sehingga dipenuhi dengan belatung yang menggerogoti bagiannya, namun masih ada tetesan darah yang terus terjatuh dan membasahi lantai di bagian depan pintu.
"Alia kamu kenapa?" tanya Sandra yang heran saat melihat Alia tiba-tiba mual.
Sandra langsung menuntun Alia pergi dan menjauh dari tempat itu, dia membawa Alia ke ruang tengah dan menyuruhnya duduk sejenak.
"Kamu sakit?" tanya Sandra.
Alia terdiam, dia heran kenapa tiba-tiba dirinya bisa dengan jelas melihat makhluk itu padahal mata batinnya masih tertutup.
Dia melihat pergelangan tangan kirinya dan ternyata gelang yang selalu ia pakai sudah tidak ada.
"Loh gelangnya kemana?" ujar Alia.
"Gelang apa?" tanya Sandra.
Alia langsung bangun dan bergegas menuju ke kamar, dia mencari gelang itu namun tidak menemukannya, tanpa sengaja ia justru menyentuh ponsel Afi dan melihat sesuatu.
"Ponsel ini sudah nggak tersentuh selama dua hari?" gumam Alia.
__ADS_1
Tanpa sengaja Nafisah melihat gelang yang di pakai Alia itu tersangkut di gagang pintu kamar, dia lang mengambilnya dan berniat untuk mengembalikan itu pada Alia.
Saat masuk ke dalam kamar, Nafisah melihat wajah Alia yang pucat dan langsung menghampirinya, dia bertanya dengan ekspresi datar.
"Kamu kenapa?" tanya Nafisah.
Dengan cepat Alia segera menarik tangan kanan Nafisah dan mengusap telapak tangannya. Dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Nafis dan juga Azam.
"Kamu ngapain!" Nafisah langsung menarik tangannya dari Alia.
"Kamu lihat aku! lihat aku!" teriak Alia.
Nafisah merasa kaget saat Alia berteriak padanya, dia merasa bahwa Alia sudah mengetahui sesuatu. Nafisah yang biasanya tidak pernah takut untuk menatap mata orang lain, kali ini ia bahkan tidak berani menatap mata Alia.
"Kenapa? kamu nggak berani lihat aku!" Alia kembali berteriak.
Nafisah hanya diam saja, sementara Sandra masih bingung karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Alia pun berjalan keluar dan berusaha untuk kembali mencari Afi.
"Ragasy kamu mau kemana?"
Azam melihat Alia yang keluar dari kamar dengan wajah kesal, dia berusaha untuk menghentikan Alia pergi.
"Cari Afi!" jawab Alia singkat.
"Dimana gelangnya? kenapa kamu melepaskannya?"
"Kenapa? karena kamu nggak mau aku merepotkan kalian? tenang saja, aku nggak akan membuat kalian repot!"
Alia berbalik dan berniat untuk pergi meninggalkan Azam, namun Azam kembali menghentikannya.
"Bukan karena itu" suaranya terdengar sangat berat dan sulit diucapkan.
"Lalu karena apa lagi?"
Untuk sejenak Azam terdiam di hadapan Alia.
"Kenapa diam?" Alia kembali bertanya.
"Karena aku sayang sama kamu! aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" suara Azam terdengar sangat lemah.
__ADS_1
Alia hanya terdiam mendengar pernyataan itu, dia terpaku dan tidak bisa berbicara. Merasa sangat terkejut dan juga tidak menyangka sama sekali bahwa kata-kata seperti itu akan ia dengar dari Azam.
Nafisah berdiri di pintu kamar dan mendengar pernyataan itu, ia mulai merasa putus asa akan rasa sayangnya yang tidak pernah terbalas dari Azam.