
Hari ini adalah hari pertama Alia untuk mengikuti kegiatan ospek di kampusnya. Dia bangun jam 3 pagi dan bersiap untuk berangkat karena jadwal kegiatannya di mulai dari jam 5 pagi.
Sebenarnya pihak kampus sudah menyarankan untuk para mahasiswa baru agar bisa tinggal di asrama supaya lebih dekat saat mengikuti kegiatan, namun Alia sangatlah keras kepala, dia bersikeras tidak mau menginap di rumah lain selain rumahnya sementara Afi memilih untuk tidur di rumah saudaranya selama kegiatan ospek.
Alia berangkat dari rumah sekitar jam empat kurang dan sampai di sana jam lima kurang seperempat. Begitu sampai Alia langsung menuju ke mushola di dekat ruang auditorium, karena di setiap gedung fakultas terdapat musholanya sendiri-sendiri jadi tidak sulit untuk melaksanakan sholat.
Setelah selesai Alia mendengar sebuah sirine berbunyi dan pengumuman untuk para mahasiswa baru agar segera berkumpul di lapangan utama tepat jam lima pagi.
Alia pun segera berlari agar tidak terlambat berbaris, karena ia sudah paham betul bagaimana situasi sebagai junior ketika menjadi anggota baru, pasti akan ada banyak drama dari para seniornya. Karena semua mahasiswa di kampus itu beragama Islam, maka semua perempuannya pun berhijab jadi penampilan para mahasiswa baru tidak terlalu aneh-aneh, mereka hanya memakai kemeja putih, rok hitam dan kerudung putih, juga tidak lupa papan nama yang di gantung ke leher dan menempel di dada mereka.
Acara awal berjalan dengan lancar meski sudah terpikirkan oleh Alia bahwa akan ada drama saat beberapa junior tidak bisa memenuhi syarat perlengkapan yang harus dibawa hari itu. Namun Alia sama sekali tidak memikirkan hal itu, ia hanya harus fokus dan sebisa mungkin tidak menjadi target untuk di kerjai para seniornya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan setelah banyak drama, akhirnya upacara pembukaan pun dilaksanakan, layaknya upacara seperti pada umumnya, tidak ada yang aneh.
Ditengah-tengah upacara entah kenapa Alia merasa pusing dan pandangannya mulai kabur dan bahkan tubuhnya menjadi tidak bisa seimbang saat berdiri.
"Duh kenapa ini? kok pusing banget, padahal tadi udah sarapan" ucap Alia dalam hati.
Alia melihat ke sekelilingnya, dan ada beberapa juga temannya yang sudah mundur karena pusing dan lelah, dia mencoba untuk tetap berdiri tegap dan meluruskan pandangan, dia juga tidak berani bergerak banyak karena tepat di belakangnya ada seorang senior laki-laki yang berdiri mengawasi.
"Duh kenapa si aku harus ada di barisan paling belakang? mana persis di belakang aku lagi itu senior!" gerutu Alia dalam hatinya.
Tak lama kemudian Alia benar-benar merasa bahwa ia sudah tidak sanggup lagi terus berdiri di lapangan.
"Kamu kenapa dek? pusing ya?" ucap senior yang berada di belakang Alia.
Alia hanya terdiam dan tidak bergeming, namun senior itu melihat bahwa wajah Alia sangatlah pucat, jadi dia memanggil teman perempuannya untuk membawa Alia ke ruang kesehatan.
Alia hanya terdiam saja saat salah seorang senior perempuan menuntunnya untuk meninggalkan lapangan. Semula tidak ada yang aneh dengannya, namun saat ia sampai di ruang kesehatan, tubuhnya malah menjadi semakin aneh. Ruangan itu adalah ruangan kedua yang ia masuki setelah ruang auditorium, dan itu pertama kalinya Alia memasuki ruangan kesehatan.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu tiba-tiba dada Alia merasa sakit seperti di tusuk, nafasnya juga mulai sesak. Tangannya yang masih di pegang oleh seniornya langsung dilepas dan memegang dadanya dengan erat.
__ADS_1
"Haah haahh!!!"
Alia mencoba menarik nafas panjang namun rasanya seperti sia-sia saja. Tubuhnya mulai lemas dan terjatuh di lantai.
"Eh dek kamu kenapa? aduh ini kenapa, eh tolong bantuin dong" Senior itu mulai panik dan meminta temannya untuk membantu membaringkan Alia di atas matras tipis yang berada di dekat pintu.
"Dia kenapa?" tanya salah satu senior itu.
"Ngga tau, tadi cuma pucat aja kok tiba-tiba jadi gini" jawab senior yang mengantar Alia sejak dari lapangan.
"Agh! aku kenapa? kenapa nafasku rasanya sesak banget? huh ini kenapa dadaku juga sakit banget si?" ucap Alia dalam hati.
Kedua senior itu mulai panik melihat keadaan Alia, jadi dia memanggil salah satu dosen yang bertanggung jawab atas acara itu.
"Lho ini kenapa?" tanya dosen itu
"Ngga tau pak, dia tiba-tiba kaya gini" jawab salah satu senior.
Mereka menjadi semakin panik saat melihat tangan dan kaki Alia mulai kaku dan berkeringat dingin, Alia juga terlihat memegangi lehernya dan terlihat sangat kesakitan. Kejadian yang baru pertama kali mereka lihat dan membuat semuanya menjadi bingung harus bagaimana. Akhirnya dosen itu memutuskan untuk langsung membawa Alia ke rumah sakit saja karena melihat Alia yang semakin kesakitan dan sulit bernafas.
Saat keluar dari ruang kesehatan menuju ke mobil, tanpa sengaja Irfan melihatnya, namun ia tidak tahu jika itu adalah Alia.
"Wah dia..." Irfan bergumam pelan sambil melihat ke arah Alia.
"Kamu kenapa Fan?" tanya seorang teman Irfan yang sedang berjalan bersamanya.
"Itu junior mau di bawa kemana ya?"
"Alah udah ngga usah urusin! palingan dia juga sakit abis di bully! udah ayo jalan!"
Irfan dan temannya pun melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan mereka.
Sementara itu Alia sampai di dalam mobil dan langsung di bawa ke rumah sakit terdekat, kebetulan lokasi kampus itu berdekatan dengan rumah sakit umum di kota itu, jadi dalam waktu cepat bisa sampai dan langsung membawanya ke IGD.
Sesampainya di IGD Alia langsung di sambut dua perawat dan di bawa ke ruang periksa.
__ADS_1
Para perawat itu sangat cekatan, melihat keadaaan Alia yang terlihat sangat gawat, perawat itupun langsung memanggil dokter jaga dan memintanya untuk memeriksa Alia.
Tak tanggung-tanggung, dokter itu pun langsung memasangkan oksigen untuk membantunya bernafas, dan mulai mengambil beberapa alat yang akan ia gunakan untuk memeriksa, namun sebelum itu ia menyuntikkan sebuah obat yang membuat Alia menjadi lebih tenang.
Beberapa saat setelah obat itu masuk ke dalam tubuh Alia, ia menjadi lebih tenang, nafasnya mulai teratur dan tubuhnya tidak kaku lagi. Ia mulai sadar bahwa ia sedang terbaring di sebuah ruangan di rumah sakit.
Dokter itu mulai mengambil beberapa alatnya, terlihat begitu banyak kabel yang ia pegang dan akan di tempelkan ke tubuh Alia.
"Dok, saya mau di apain?" tanya Alia pelan.
"Tenang aja, ini cuma periksa jantung aja kok, ngga sakit" ucap dokter itu mencoba menenangkan Alia.
Awalnya Alia merasa agak takut, namun setelah beberapa saat menjalani pemeriksaan, ternyata ia tidak merasakan sakit apapun.
Setelah kurang lebih setengah jam menjalani pemeriksaan, dokter pun keluar dan memberitahu kepada dosen Alia bahwa hasilnya akan keluar setelah satu jam.
Dokter itu kemudian pergi dan mengijinkan seseorang untuk menemani Alia.
"Hei kamu udah ngga papa?" senior itu masuk ke dalam ruangan dan menyapa Alia.
"Ngga papa kak, masuk aja" ucap Alia.
"Aku Vani, anggota KSR di kampus, kamu bisa panggil aku Vani"
"Oh makasih ya kak Vani" sembari tersenyum.
Mereka mulai mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan saat menunggu, dan tidak terasa ternyata sudah satu jam berlalu, dosen yang mengantar Alia datang ke ruangan bersama dokter tadi dan memberitahu hasil tesnya.
Dosen dan seniornya terkejut saat mengetahui bahwa hasil tes tersebut semuanya normal, tidak ada gangguan sedikitpun.
Alia merasa tidak enak karena dirinya telah merepotkan orang di hari pertama kegiatan yang ia ikuti di tempat barunya.
Tak lama kemudian Alia teringat kembali saat ia pernah mengalami hal yang sama waktu awal sekolah MA dulu.
"Kejadian ini persis seperti waktu itu!"
__ADS_1