Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pesan yang berarti


__ADS_3

Setelah menyalakan mobilnya, dengan pelan Azam mulai melaju dan pergi meninggalkan halaman masjid yang berada di samping rumahnya. Alia masih saja berdiri di depan pintu dan melihat kepergian mobil itu.


Dalam perjalanan, Azam terus saja berdoa untuk keselamatan mereka semua yang memiliki niat baik untuk berziarah, dia juga terus saja memikirkan bagaimana keadaan Alia yang harus dia tinggal sendiri di rumah tanpa orang lain yang bisa memahami tentang keadaannya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 9 jam akhirnya Azam dan santrinya pun sampai di tempat penitipan mobil, namun perjalanan mereka masih jauh, mereka harus berjalan menaiki bukit sejauh dua kilometer untuk sampai ke sebuah makam yang di tuju.


Sekitar jam enam sore mereka baru selesai dan sampai ke tempat penitipan mobil, tak lama kemudian teerdengar suara adzan Maghrib yang mulai berkumandang. Azam pun mengajak yang lainnya untuk segera sholat berjamaah di masjid yang terdapat pada parkiran mobil yang sangat luas itu.


Wilayah parkiran mobil itu sangatlah luas, terdapat berbagai fasilitas di sana seperti masjid, rumah makan, toilet umum dan bahkan penginapan. Tempat itu sudah seperti terminal besar, hal itu karena ada begitu banyak orang yang datang untuk berziarah ke makam yang letaknya di atas gunung itu, sehingga tempat parkir itu juga sering di gunakan oleh orang yang datang sebagai tempat peristirahatan dan juga tempat singgah sementara jika mereka kemalaman saat turun dari gunung.


Karena langit sudah mulai gelap, maka Azam pun memutuskan untuk bermalam di tempat itu bersama dengan santri yang lain.


*****


Sementara itu di rumah Alia hanya duduk sendirian di dalam kamar, menikmati malam yang sunyi tanpa Azam yang menemaninya. Saat malam Husna selalu berada di dalam kamarnya karena dia sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, sehingga tidak bisa menemani Alia mengobrol ataupun hanya sekedar basa-basi.


Malam itu, Alia terus saja melihat sesosok mahluk berwarna hitam yang menurutnya mengganggu pemandangan, Alia pun bergegas untuk pergi ke dapur dan mengambil sebuah gunting kecil.


Entah kenapa Alia langsung berinisiatif untuk memotong sebagian dari rambut panjangnya itu. Dengan cepat Alia pun memotong rambutnya sendiri hampir separuhnya. Meskipun ia memotong rambutnya cukup panjang, namun rambut Alia masih terlihat panjang sepunggung karena memang rambutnya itu sangatlah panjang.


Setelah itu ia mengikat rambutnya dengan rapi lalu meletakkannya di bawah mahluk yang sejak tadi sedang menampakkan dirinya pada Alia.


Entah apa yang dipikirkan oleh Alia sehingga dia bisa dengan mudah memotong rambutnya itu, padahal sebelumnya ia sangat takut jika akan memotong rambutnya, karena biasanya ia akan mengalami demam tinggi setelahnya, namun kali ini hatinya merasa yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi


*****


Keesokan harinya...


Fajri mengetuk pintu rumah lewat samping yang langsung menuju ke ruang tengah, Alia dan Husna segera membuka pintu dan menemui Fajri yang terus berteriak kepanikan.


"Ada apa Mba, kelihatannya panik sekali?" tanya Husna.

__ADS_1


"Em itu... Azam..." ucap Fajri dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Mas Azam kenapa Mba?" tanya Alia yang langsung panik saat mendengar Fajri mengucapkan nama suaminya.


"Tadi mas Fauzi bilang, dia dapat kabar kalau Azam masuk rumah sakit, dia kecelakaan" ucap Fajri dengan cepat.


"Innalilahi.."


"Innalilahi.."


ucap Alia dan Husna secara bersamaan. Seketika Alia langsung terdiam, dia merasa sangat terkejut mendengar kabar tentang suaminya, sejak kemarin ia memang merasa akan ada hal buruk yang terjadi, namun seingatnya dia sudah berusaha untuk menghindarkan Azam dari hal buruk itu.


Alia pun bertanya dimana Azam di rawat, lalu setelah itu dia dengan cepat meminta Husna untuk mengantarnya menuju ke rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Husna dan Alia pun sampai di rumah sakit tempat Azam di rawat, dia segera mencari ke ruangan yang sudah di beritahukan oleh Fajri.


Saat sampai di ruangan itu, Alia melihat suaminya terbaring tak berdaya dengan kepala dan tangan kanannya yang di balut dengan perban. Dia juga ditemani oleh seorang santri laki-laki yang duduk di sampingnya.


Alia pun langsung berlari menghampiri Azam dan menanyakan apa yang terjadi.


"Ragasy... aku nggak apa-apa" ucap Azam dengan pelan. Dia bahkan terlihat tidak memiliki tenaga untuk bicara, namun tetap memaksakan diri agar tidak membuat Alia semakin khawatir.


"Nggak papa gimana? jelas-jelas kamu kaya gini, masih bisa bilang nggak papa!" ucap Alia dengan nada tinggi.


Husna mencoba untuk menenangkan Alia dan bertanya pada santri yang menemani Azam, namun santri itu berkata dia tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba di beri kabar kalau Azam mengalami kecelakaan.


"Mas... kamu pasti mengendarai sepeda motor kan?" tanya Alia dengan pelan.


Azam hanya terdiam, raut wajahnya terlihat cemas dan merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi pesan Alia.


"Mas! kenapa diam? kan aku udah bilang sama kamu, apa kamu udah nggak percaya lagi sama aku!?" ucap Alia agak keras sehingga membuat Husna dan santri itu merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Dengan cepat Husna pun mengajak santri itu untuk keluar ruangan dan memberikan waktu bagi Alia untuk bicara dengan Azam.


"Maaf Mas, bukan maksud aku bicara kasar sama kamu" suara Alia kian melemah, tanpa terasa air mata menetes dan membasahi pipinya, hatinya merasa sedih sekaligus kecewa pada Azam karena merasa bahwa Azam sudah tidak percaya lagi padanya.


"Aku keluar dulu Mas" ujar Alia.


Namun Azam berusaha untuk menghentikan Alia dengan menarik tangannya sehingga Alia menghentikan langkahnya.


"Aku minta maaf kalau udah buat kamu kecewa" ucap Azam.


Alia hanya diam dan masih membelakangi Azam. Dia sebenarnya tidak tega melihat Azam yang terbaring lemah seperti itu.


"Aku benar-benar nggak bisa melihat kamu marah sama aku begini, tadi pagi aku benar-benar terdesak" jelas Azam.


Alia berusaha menghapus air matanya dan membalikkan badan, dia menatap dalam mata suaminya yang terlihat benar-benar menyesal karena telah membuatnya kecewa.


Alia pun duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Azam. Dia menggenggam tangan kiri Azam dengan erat.


"Mas... aku nggak pernah sedikitpun ingin melarang ataupun mengekang kamu, apalagi sampai membuat kamu berpikir kalau aku terlalu posesif sama kamu, tapi kemarin aku mengatakan itu karena aku punya alasan dan juga ketakutan, dan ternyata sekarang ketakutan aku terjadi" ucap Alia yang tak bisa menahan tangisnya.


"Aku minta maaf untuk itu..."


Azam terus saja mengatakan maaf pada Alia, namun Alia berkata bahwa Azam sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya, dia hanya kecewa pada dirinya sendiri karena telah melihat keburukan yang akan terjadi, namun tetap tidak bisa menghentikannya meskipun sudah berusaha.


"Jadi... saat kamu merasa tidak enak kemarin itu karena kamu tahu akan terjadi hal seperti ini?" tanya Azam.


Alia hanya menganggukkan kepalanya, sementara itu Azam terus memegang tangan Alia dengan erat dan berusaha untuk menenangkannya.


"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Azam lagi.


"Mas... aku cuma nggak mau mengatakan hal buruk ataupun mendoakan hal buruk terjadi sama kamu, aku juga nggak mau dikira mendahului takdir dengan mengatakan hal yang belum tentu terjadi, bisa saja kan apa yang aku lihat itu salah, dan lagi ucapan itu sama dengan doa, jadi aku nggak mau mengatakan itu karena nggak mau mendoakan hal itu terjadi sama kamu" jelas Alia.

__ADS_1


__ADS_2