Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Kepergian yang membuat gelisah


__ADS_3

Begitu selesai sholat, Alia bergegas untuk menuju ke dapur meskipun masih merasa sedikit sakit, namun ia juga tidak mau melewatkan tugasnya sebagai seorang istri yaitu menyiapkan makanan untuk Azam.


Husna jarang sekali menggunakan dapur di rumah itu karena biasanya dia makan di dapur pesantren ataupun ikut makan di rumah kakak-kakaknya. Jadi pagi itu Alia berada di dapur sendirian dan menyiapkan sarapan untuk Azam sekaligus untuk Husna.


Sekitar jam 7 pagi masakan sederhana Alia sudah tertata rapi di meja makan yaitu sayur kacang panjang, tempe goreng dan juga sambal terasi, dia segera memanggil Azam dan juga Husna untuk sarapan bersama.


"Wah ini Mba Alia yang masak?" tanya Husna yang terlihat senang melihat masakan tersaji di meja.


"Iya, kita makan sama-sama yah, tapi sebelumnya maaf juga kalau masakan aku kurang enak" ujar Alia.


"Ah nggak mungkin! dari aromanya aja udah pasti enak" ujar Husna yang langsung duduk.


Mereka bertiga menikmati sarapan pagi bersama, Husna terus saja bicara dan memuji masakan Alia, dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata Alia bisa memasak.


"Mba, kalau tahu masakan Mba Alia enak begini, dari kemarin aku makan di rumah deh" ujar Husna.


"Kamu ini jangan terlalu memuji begitu lah" jawab Alia.


"Tapi masakannya memang enak, terutama sayur kacang panjang nya" imbuh Azam.


Alia hanya tersenyum, dia merasa senang karena suami dan adik iparnya menyukai masakannya. Dia juga mengetahui dari Husna kalau Azam sangat menyukai sayur kacang panjang, maka dari itu Alia berusaha untuk memasak makanan kesukaan suaminya.


Setelah sarapan pagi, Alia masuk ke kamar untuk membereskan kamarnya yang lumayan berantakan, terutama bagian tempat tidur. Sementara itu Azam masih duduk di meja makan karena belum selesai.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam"


Terdengar suara Fauzi yang datang pagi-pagi ke rumah untuk menemui Azam dan berbicara padanya. Mereka berdua duduk di ruang tamu, lalu Alia segera membuatkan minum untuk mereka berdua.


Tak lama kemudian Husna berpamitan untuk segera pergi ke kampus karena ada jadwal kuliah pagi.


Fauzi menatap Azam dengan serius, terutama setelah Alia keluar dan menemui mereka berdua. Alia paham dengan isyarat itu, jadi dia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan kegiatannya yang tadi.

__ADS_1


Cahaya sinar matahari pagi yang masuk ke dalam kamar melalui jendela membuat kamar itu semakin cerah, itu juga membuat Alia semakin bersemangat dalam melakukan tugasnya membersihkan kamar karena melihat langit yang terlihat cerah.


Setelah selesai membereskan tempat tidur, ia lalu menyapu seluruh lantai di kamar itu termasuk bagian bawah ranjang besi yang mereka gunakan. Sebenarnya ia merasa agak tidak nyaman dengan hal itu, karena di rumah ia sudah terbiasa dengan tidak menggunakan ranjang dan tidur hanya beralaskan kasur saja.


Saat sedang berusaha untuk membersihkan bagian bawah tempat tidur, tiba-tiba kepala Alia merasa pusing dan hampir terjatuh.


"Astaghfirullah! aku kenapa? kok rasanya lemas sekali, padahal kan baru saja selesai sarapan" gumam Alia pelan.


Perasaan itu tidak bertahan lama, dalam sekejap Alia sudah kembali seperti semula, tubuhnya juga langsung merasa bertenaga lagi, rasa pusing dan lemas tadi seperti hanya sekedar lewat saja, namun pikirannya menjadi tidak tenang karena hal itu. Ia seperti mendapatkan sebuah penglihatan tentang hal yang akan terjadi.


Alia bergegas agar pekerjaannya itu segera selesai, setelah itu dia menengok ke arah ruang tamu dan ternyata kakak iparnya sudah tidak ada. Dia hanya melihat Azam yang duduk termenung sendirian di ruang tamu


Alia pun mencoba untuk menghampiri Azam dan menanyakan hal apa yang membuatnya merasa tertekan.


"Mas... kamu kenapa?" tanya Alia sembari duduk di samping Azam.


"Eh kamu... emm ini tadi mas Fauzi bilang kalau aku diminta untuk mengantar santri pergi ziarah, karena kebetulan Mas Fauzi ada acara mendadak jadi dia nyuruh aku" jawab Azam.


Azam menghela nafas dan menceritakan bahwa ziarah kali ini cukup jauh, mereka paling tidak bisa pergi sampai 2 hari untuk pulang pergi.


"Lalu apa yang membuat kamu bingung?"


"Aku sebenarnya ingin kamu ikut, tapi kali ini yang berangkat semuanya santri putra, dan lagi jarak dari jalan raya ke makamnya itu kita harus jalan sekitar 2 kilometer, aku tahu kamu belum bisa untuk jalan jauh, apalagi kamu masih sakit" jelas Azam.


"Ya udah berangkat aja, kenapa harus mikirin aku? kan aku bisa tinggal di rumah" ujar Alia.


Azam kembali terdiam, raut wajahnya semakin terlihat khawatir karena masih belum tega jika harus meninggalkan Alia sendirian di rumah dan lingkungan yang masih asing bagi Alia.


"Aku nggak papa kok" ucap Alia yang mencoba meyakinkan Azam.


Setelah mendengar pendapat Alia, akhirnya Azam pun memutuskan untuk pergi, dia mengajak Alia ke dalam kamar untuk membantunya bersiap.


Dengan cepat Alia segera menyiapkan pakaian dan barang-barang yang harus di bawa oleh Azam selama dua hari.

__ADS_1


"Alia, kamu pakai ini lagi yah?" ucap Azam sembari mengeluarkan gelang yang terbuat dari kayu kokka dari laci lemarinya.


Gelang itu adalah gelang yang di berikan Azam pada Alia saat melakukan kegiatan KKN dulu.


"Gelang ini...?" Alia hanya melihat ke arah gelang itu.


"Ya, nggak ada maksud apa-apa kok, anggap saja pemberian dari suami kamu, biar kamu merasa aku selalu dekat dengan kamu meskipun aku nggak ada" jelas Azam.


Alia hanya tersenyum lalu mengulurkan tangan kirinya, pertanda bahwa ia ingin Azam sendiri yang memakaikan gelang itu di tangan Alia.


Sekitar jam 9 pagi Azam sudah siap dan berpamitan dengan Alia, Alia pun mengantarkan Azam sampai ke depan pintu, namun sebelum itu Alia terus memegangi tangan Azam seolah tak ingin melepaskannya untuk pergi.


"Kamu kenapa? apa mau pegangin tangan aku terus?" tanya Azam.


"Aku kok ngerasa agak nggak enak ya Mas" ujar Alia.


"Nggak enak kenapa? aku itu cuma pergi dua hari aja kok, nggak lama" ucap Azam.


Untuk sejenak Alia terdiam, dia berusaha untuk menenangkan hatinya yang terus merasakan hal yang tidak enak, dia berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif yang terus bersarang dalam otaknya.


"Mas aku boleh minta sesuatu?" tanya Alia.


"Apa?"


"Aku minta sama kamu, selama kamu melakukan perjalanan ini, kamu jangan sampai mengendarai sepeda motor yah?" ucap Alia.


"Heh kamu ini lucu yah, aku kan bawa mobil karena semua santri nggak ada yang bisa nyetir, jadi aku yang bawa, lagian masa iya aku bakalan nyetir mobil sambil nyetir motor, ya nggak mungkin lah..." ujar Azam.


"Ya... nggak gitu juga mas. Intinya itu satu pesan aku, kamu jangan sampai lupa yah?" ucap Alia sambil terus memegangi tangan kanan Azam.


"Insyaallah aku akan ingat pesan kamu, ya sudah aku berangkat dulu yah, kamu hati-hati di rumah, jaga Husna"


Alia pun mencium tangan Azam dan membiarkannya berjalan menuju ke parkiran di depan masjid. Alia terus menatapi Azam yang segera memasuki mobil dan berjalan menjauh. Ia berusaha tersenyum melihat kepergian Azam, meskipun sebenarnya hatinya masih merasa tidak tenang.

__ADS_1


__ADS_2