Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Bacaan Surat Yasin


__ADS_3

 


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, Alia akhirnya sampai di rumah, ia langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya, bergegas untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.


 


Tak lama kemudian ia menyadari bahwa ternyata tidak ada seorangpun di dalam rumah kecuali Alia, dia merasa heran pergi kemana semuanya.


Alia lalu bergegas menuju ke rumah nenek Imah dan ternyata adiknya berada di sana, dia juga langsung bertanya kemana mamanya, dan kenapa rumah menjadi begitu sepi.


"Hiks... papa masuk rumah sakit ka.."


Sita menangis sembari mengatakan keadaan papanya. Nenek Imah lalu meminta Alia untuk makan siang terlebih dahulu baru setelah itu ia bisa menyusul ke rumah sakit untuk bergantian dengan bu Mia yang menjaga pak Aji.


Setelah selesai makan, Alia langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk menyusul mamanya, sebelum itu nenek Imah sudah memberitahu di rumah sakit mana dan ruangan apa papanya di rawat.


Kurang lebih 30 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, Alia pun sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan yang sudah diberitahukan oleh nenek Imah.


Pak Aji dirawat di sebuah rumah sakit umum daerah di kota itu, karena mereka berasal dari keluarga menengah kebawah, pak aji di rawat di ruangan kelas tiga, atau lebih tepatnya satu ruangan berisi 4 orang pasien.


"Ah ini kali yah ruangannya?"


Alia berdiri tepat di depan ruangan Bougenville, dia melihat-lihat ke dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.


"Alia kamu datang?"


Bu Mia kaget ketika melihat Alia yang tiba-tiba menyusulnya ke rumah sakit. Alia pun segera masuk dan duduk di samping pak Aji.


Perlahan Alia mulai memijat kaki pak Aji sementara bu Mia sibuk menyiapkan obat yang harus diminum oleh suaminya.


Alia melihat sekeliling, disana terdapat 3 orang pasien yang sedang di rawat termasuk pak Aji. Ada satu ranjang pasien yang kosong karena kebetulan pasien itu sudah pulang.


Di samping kanan pak Aji terdapat seorang pasien wanita yang terbaring lemas dan terlihat sangat kurus. Sementara di samping kirinya terdapat seorang laki-laki yang sudah cukup tua, dia terbaring kaku di tempat tidurnya, tidak bergerak sama sekali, matanya juga terpejam seperti orang yang sedang koma.


"Mah bapak itu sakit apa mah?"


"Oh dia, mama juga kurang paham tapi kayaknya si stroke, soalnya badannya ngga bisa gerak semua"


Alia terus melihat ke arah bapak tua itu dan merasa heran karena kabut putih tebal mulai menyelimuti nya.

__ADS_1


Alia tiba-tiba teringat pada Mayra, sebelum meninggal dia juga pernah melihat sahabatnya itu diselimuti kabut putih tebal.


"Apa mungkin itu cuma kebetulan saja?"


Alia berguman dalam hati sambil terus melihat bapak tua itu.


"Alia mama keluar sebentar yah kamu tunggu disini"


Bu Mia berpamitan untuk keluar dan Alia hanya mengangguk, dia kembali memijat pelan kaki pak Aji dan melupakan apa yang tadi ia lihat.


_____-----_____


Tak lama kemudian bu Mia kembali dengan membawa sebuah amplop besar berwarna coklat berlogo rumah sakit tempat pak Aji di rawat.


"Itu apa mah?"


"Ini hasil tes papa kamu"


"Oh ya, terus hasilnya gimana mah?"


"Tadi mama udah dijelasin supaya bisa membaca hasil tesnya, dan ternyata papa kamu positif terkena tifus"


"Positif mah? berarti papa harus beneran jaga makannya yah"


Tiba-tiba bapak tua yang terbaring di samping kanan pak Aji itu mulai merengek seperti sangat kesakitan, nafasnya mulai tersengal-sengal seperti hampir tidak bisa bernafas, istrinya yang duduk di sampingnya hanya bisa terus menangisi keadaan bapak tua itu.


"Kasihan bapak itu mah"


"Iya, tapi sayang, keluarga nya cuma menangisi saja, tidak ada niatan untuk mengaji buat dia"


"Mama ngga ngasih saran ke mereka?"


"Udah, tapi ngga tau juga lah"


"Mereka muslim kan mah?"


Bu Mia hanya mengangguk sembari melihat ke arah bapak itu, tatapannya menjadi sangat iba dan kasihan dengan kondisinya.


"Mama sebenarnya ingin membacakan surat Yasin untuknya, tapi ngga ada buku Yasin dan mama juga ngga hafal"

__ADS_1


Bu Mia bicara sambil menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena tidak bisa membantu orang yang sedang susah, bahkan ia sangat ingin mengaji untuk orang itu namun tidak bisa.


Tatapan bu Mia terlihat sangat dalam seolah sedang menyimpan sesuatu yang ia ketahui.


"Kenapa harus surat Yasin mah?"


Alia penasaran kenapa mamanya ingin sekali membacakan surat Yasin untuk bapak tua itu.


"Dia itu sebenarnya sedang menghadapi sakaratul maut, sejak kemarin dia sudah seperti itu"


Alia heran kenapa mamanya berkata seperti itu, dan akhirnya bu Mia pun memberitahukan bahwa mamanya itu bisa mengetahui orang sakit yang sudah tidak lama lagi hidupnya. Tiba-tiba Bu Mia teringat bahwa Alia hafal surat Yasin, dia pun langsung menyuruh Alia mengaji untuk bapak yang sedang sekarat itu.


Awalnya Alia menolak karena merasa tidak enak dengan keluarganya, namun setelah bu Mia membujuk, akhirnya Alia pun mau.


Pertama Alia meminta ijin kepada keluarga bapak itu, dan ternyata mereka mengijinkan.


Sebelum memulai, Alia meminta segelas air putih yang akan ia bacakan doa. Air putih itu ia pegang di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang salah satu tangan bapak itu. Bapak tua itu masih terus merengek seperti sangat kesakitan, bahkan suara rengekannya menjadi lebih keras.


Dengan pelan Alia mulai membacakan surat Yasin, baru beberapa ayat Alia membaca, tangan bapak itu tiba-tiba menggenggam tangan Alia dengan kencang dan nafasnya semakin tidak beraturan, namun Alia berusaha untuk terus mengaji.


Perlahan-lahan suara rengekan itu menjadi semakin pelan dan mulai berhenti, nafasnya juga sudah mulai stabil hingga Alia menyelesaikan bacaannya.


Setelah selesai Alia meminta kepada istri bapak itu untuk meminumkan air putih yang sudah di bacakan doa tadi. Dengan pelan dan sangat telaten ibu itu menyuapi suaminya air putih sesendok demi sesendok.


Terlihat jelas bahwa bapak itu sudah sangat kesulitan untuk menelan, bahkan hanya beberapa tetes air. sangat sedikit air yang tertelan dan sebagian banyak mengalir keluar dari mulutnya menuju pipi.


Alia pun bangun dan langsung menuju ke toilet untuk mencuci tangan, kaki dan juga wajahnya. Setelah itu ia kembali duduk di samping pak Aji. Hatinya merasa lebih lega saat ia sudah selesai mengaji untuk bapak itu.


Alia kembali menatapi bapak tua itu, dia sangat diam dan tidak merengek kesakitan lagi. Tidak sampai satu jam bapak itu menghembuskan nafas terakhirnya. Istri dan anak-anaknya hanya bisa menangisi kepergian dari bapak tua itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun... ma..."


Bu Mia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kepada Alia.


"Hidup mati itu ditangan Allah, itu bukan karena kamu nak, justru kamu sudah membantu meringankan rasa sakit yang di alami bapak itu" ucap bu Mia.


Alia hanya terdiam, dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Hatinya menjadi tidak tenang.


Jenazah bapak tua itu pun langsung di bawa pergi oleh beberapa perawat rumah sakit dan diikuti oleh anggota keluarganya. Sebelum mereka semua pergi, anak perempuan dari bapak itu menghampiri Alia.

__ADS_1


Alia langsung merasa ketakutan, namun rasa takut itu hilang ketika anak anak perempuan dari bapak itu tersenyum kepada Alia dan berkata "Terimakasih sudah mau mengaji untuk bapak saya".


Alia pun hanya tersenyum sambil mengangguk dan tidak bisa berkata-kata. Perempuan itu lalu pergi setelah bersalaman dengan Alia.


__ADS_2