
Hari-hari di jalani Azam dengan penuh tekanan dari kakak laki-lakinya, mereka masih saja berbeda pendapat sampai H-7 dari hari yang sudah di sepakati untuk pernikahan. Akhirnya Azam mengalah dan memohon agar Fauzi mau mengizinkan pernikahannya dengan Alia.
Karena melihat kesungguhan Azam, Fauzi pun akhirnya luluh dan memberikan persetujuannya, namun ia tetap pada pendiriannya untuk tidak hadir dalam acara pernikahan itu.
"Sudahlah Azam... nanti lama kelamaan juga Mas Fauzi akan bisa menerimanya" ujar Fajri yang tanpa henti memberikan semangat dan dukungan pada Azam.
*****
Hari pernikahan pun tiba. Semua orang di rumah Alia sudah sibuk sejak pagi melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Sementara itu Alia masih berada di dalam kamarnya dan sedang di rias ditemani oleh Afi.
Sekitar jam 1 siang Azam dan rombongan keluarganya sampai di rumah Alia, dengan mengenakan setelan jas hitam dan juga peci hitam yang selalu terpasang di kepalanya, dia juga di temani oleh sahabat dekatnya yaitu Amar. Sebenarnya Amar masih menyimpan rasa terhadap Alia, namun ia sama sekali tidak ingin bersaing dengan sahabatnya.
Azam langsung dipersilahkan duduk di kursi pelaminan sembari menunggu bapak penghulu datang.
Sementara itu Alia duduk di dalam ruangan yang berbeda ditemani oleh Afi dan juga Sita. Alia terlihat mengenakan gaun kebaya berwarna putih dengan bunga melati yang menghias kerudungnya. Riasan yang di ulaskan pada wajah putihnya membuat aura kecantikannya semakin terpancar dan membuat orang di disekelilingnya merasa pangling.
Beberapa saat kemudian Bapak penghulu pun tiba bersama dengan asistennya, dan acara pun segera di mulai.
Acara itu di awali dengan sholawat yang dilantunkan oleh grup Hadroh dari pesantren milik keluarga Azam, lalu di lanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang di bacakan oleh Husna.
Akhirnya sampai pada acara inti yaitu ijab kabul, Pak Aji menjabat tangan Azam dan memulainya dengan bacaan basmalah.
Pak Aji sengaja menikahkan sendiri putrinya karena itu adalah salah satu permintaan dari Alia yang tidak ingin pernikahannya di wakilkan kepada Bapak penghulu.
Meskipun terlihat gugup, namun akhirnya Azam dapat mengucapkan ijab kabul dengan lancar sampai semua orang berkata "Sah!".
Afi dan Sita langsung menuntun Alia untuk berjalan ke luar dan duduk di samping Azam.
Alia langsung meraih dan mencium tangan laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya. Azam tersenyum sembari menatap Alia yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun dan kerudung serba putih.
Setelah selesai acara ijab kabul, mereka berfoto-foto dan juga berdiri di pelaminan untuk mendapatkan selamat dan bersalaman dengan para tamu.
*****
Malam harinya... pengantin baru itu berada di dalam kamar Alia yang sudah di hias sedemikian rupa. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan saling diam tanpa sepatah kata.
__ADS_1
"Ini beneran kamar kamu?" tanya Azam yang memecah keheningan di antara mereka.
"Ya... aku tidur di kamar ini sejak kecil" jawab Alia pelan.
Azam terus melihat ke sekeliling kamar, dirasakannya energi yang sangat negatif berada dalam kamar yang mereka tempati sekarang, bahkan aura negatif itu menjadi semakin kuat saat hari sudah semakin malam.
Perlahan Azam mendekati Alia dan mencoba meraih tangan kanannya. Namun dengan cepat Alia langsung menjauhkan tangannya dari Azam.
"Kenapa?" tanya Azam.
"Ma... maaf... aku... sedang berhalangan" ucap Alia sambil menunduk.
Perasaannya sungguh campur aduk, antara malu dan juga takut. Sebelumnya Alia adalah anak yang berani saat berbicara dengan siapapun, namun kini wajahnya langsung berubah menjadi bingung saat berhadapan dengan Azam.
"Aku hanya ingin memegang tangan istriku, apa tidak boleh?" ucap Azam sembari tersenyum pada Alia.
Alia hanya menunduk malu, dia hanya diam dan tidak bisa menjawab ucapan Azam.
"Ragasy... apa kamu tahu?"
"Apa?"
"Apa itu benar?" tanya Alia yang masih saja menunduk.
Azam hanya tersenyum lalu mencium kening Alia. Jantung Alia berdetak semakin cepat, dia merasa sangat gugup sekali bahkan sampai berkeringat.
"Kalau kamu lelah, kamu tidur dulu saja" ucapnya.
Azam lalu bangun dan melepaskan peci hitam yang selalu ia kenakan.
Rambut hitamnya langsung berpindah menutupi sebagian keningnya dan membuat pandangan Alia tidak berhenti menatapnya.
Selama ini, Alia bahkan belum pernah sekalipun melihat Azam tanpa mengenakan peci. Jadi dia merasa agak berbeda melihat Azam yang seperti itu.
"Wah ternyata suamiku ini lumayan ganteng juga kalau gaya rambutnya seperti itu" Alia berucap dalam hati.
Azam duduk di sudut kamar dan mengambil sebuah buku yang terdapat di rak buku kecil milik Alia, perlahan dia membuka lembaran buku itu lalu fokus untuk membaca.
Sementara itu Alia mulai mengantuk dan membaringkan tubuhnya di atas kasur, dia bahkan tertidur tanpa sempat melepaskan kerudungnya karena kelelahan.
__ADS_1
Saat Alia sudah benar-benar terlelap, Azam meletakkan buku yang ia pegang dan kembali menatap ke arah Alia.
Dia melihat dengan sangat jelas bahwa semakin malam aura negatif itu semakin besar, berkumpul bahkan mengelilingi Alia.
Perlahan-lahan raut wajah Alia mulai berubah menjadi sangat cantik, namun kecantikan itu sangat tidak lazim dan wajah cantik itu juga bukanlah wajah Alia yang biasanya. Azam masih terus duduk diam sambil terus melihat Alia.
"Ternyata ini kamu yang sebenarnya" gumam Azam pelan.
"Laaaa...... la lala..."
Suara nyanyian lembut mulai terdengar perlahan oleh Azam. Suara itu berasal dari Alia yang mengkidung meskipun matanya terpejam.
Azam lalu bangkit dari duduknya dan duduk di samping Alia, perlahan dia meletakkan tangan kanannya di atas kepala Alia yang masih tertidur sambil mengkidung.
"Dia sedang berhalangan, jadi sangat mudah bagi mereka untuk menguasai tubuhnya di malam hari!" ujar Azam.
Azam masih meletakkan tangannya di atas kepala Alia, lalu ia berusaha untuk membacakan beberapa surat-surat pendek dan meniupkan nya ke ubun-ubun Alia.
Tak lama kemudian muncul sosok perempuan bergaun putih dengan rambut berwarna hitam panjang yang sedang duduk tepat di atas tubuh Alia yang tertidur. Sosok wanita itu duduk di atas perut Alia yang tidur dengan posisi terlentang.
Azam dan sosok wanita itu kini berhadapan dan saling bertatapan. Awalnya wajah sosok wanita itu sangatlah cantik seperti wajah Alia yang berubah tadi, namun setelah cukup lama bertatapan dengan Azam, wajah itu berubah menjadi buruk. Kedua matanya terlihat terus bertambah besar dengan warnanya yang hitam pekat. Mulutnya terus bergumam menyanyikan tembang jawa yang sejak tadi sudah terdengar oleh Azam.
Cukup lama mereka berseteru lewat telepati sampai akhirnya Azam menarik tangannya yang menempel di atas kepala Alia karena merasa kepanasan.
"Astaghfirullah!" Azam langsung melihat telapak tangannya yang mulai memerah.
"Hihihihihi... hihihihihi..."
Sosok perempuan itu mulai tertawa dengan keras karena merasa menang dar Azam. Namun sepertinya hanya Azam saja yang bisa mendengar suara tawa mahluk itu karena semua orang di rumah Alia sudah tertidur.
"Kamu pikir kamu siapa! hihihihihi..." sosok wanita itu terus saja tertawa mengejek Azam.
"Apa kamu pikir kamu bisa membuatku lepas dari keturunanku?"
Azam hanya terdiam mendengar ucapan itu. Wajah sosok wanita itu kini berubah menjadi sangat cantik lagi. Sosok itu lalu berubah seperti asap lalu masuk ke dalam kepala Alia dan menghilang.
Azam menatap wajah Alia dan tanpa sengaja melihat beberapa helai rambut Alia yang keluar dari kerudungnya.
"Ternyata tadi aku tidak sengaja menyentuh rambutnya yah?" gumam Azam pelan.
__ADS_1