
Tak lama kemudian Alia membuka matanya. Dia masih terdiam dan membeku melihat sosok yang ia lihat ternyata berada tepat di depannya dengan wujud yang sangat tinggi.
"Alia kamu udah sadar? kamu tadi kenapa?"
Mayra terus saja bertanya dan khawatir melihat keadaan Alia, namun Alia masih saja diam dengan tatapan mata tajam bahkan tanpa berkedip.
Tiba-tiba Alia mulai meng kidung tembang durma favorit nya dengan suara yang sangat lirih, namun lama kelamaan suara itu menjadi semakin keras.
"Mayra gimana keadaan Alia?" tanya Bina, salah satu anggota organisasi OSIS.
"Kamu duduk sini, bantu aku tungguin dia!" pinta Mayra.
Bina pun mengangguk, dia juga duduk di samping Alia dan berlawanan dengan Mayra.
"May, kok dia nyanyi gini sih" Bina mulai merasa takut ketika mendengar Alia sedang meng kidung.
"Udah kamu diam aja, berdoa aja!"
Bina hanya terdiam, dia memegangi tangan kiri Alia dan membacakan doa-doa. Saat itu tiba-tiba Alia mulai mengangkat lutut sebelah kirinya, dan menggerakkannya naik turun.
"Eh ini kenapa May?" Bina agak panik.
"Coba kamu pegangin supaya ngga gerak lagi"
Bina pun men coba memegangi lutut Alia menggunakan ke dua tangannya agar berhenti di gerakan, namun hal itu rasanya sia-sia saja.
Bina mulai lelah ketika menggunakan banyak tenaga untuk memegangi lutut Alia yang terus di gerakan naik turun, ia pun akhirnya menduduki kaki kiri Alia, namun Alia bahkan masih bisa menggerakkannya naik turun dengan beban tubuh Bina.
"Eh gila! ini kuat banget si! gimana ni May?"
"Duh gimana yah"
Bina dan Mayra mulai panik, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena keadaan sudah sangat larut.
Suara nyanyian Alia semakin keras dengan nada yang sangat halus, itu membuat Bina semakin merinding.
"Hiiiiihihihihihihi........" tiba\-tiba Alia mulai tertawa dengan keras.
______-----______
Di aula atas kegiatan renungan keagamaan masih berjalan yang sedang diisi oleh Azam. Semua peserta mulai ketakutan ketika mendengar suara tawa keras itu, bahkan sampai ada yang berteriak.
"*Ragasy*?" Azam bergumam dalam hati.
"Wah ngga beres nih! keterlaluan banget nih!"
Ketua OSIS mulai merasa geram, dia pun akhirnya turun ke bawah untuk melihat siapa yang sedang bermain-main, sementara itu Azam dan panitia yang lain masih mencoba untuk menenangkan para peserta.
__ADS_1
Beberapa panitia berdiri di depan pintu ruang panitia, mereka sedang bingung dan juga khawatir ketika melihat keadaan Alia dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sang ketua OSIS mulai menghampiri mereka yang berada di depan pintu dengan perasaan marah.
"Woy kalian ngapain si! ngga penting banget tau! iya ini renungan, tapi kalau mau nakut\-nakutin peserta ngga gitu juga caranya!" Ketua OSIS pun marah\-marah kepada panitia yang berdiri di depan pintu ruangan, mereka terdiam dan tidak bisa berkata\-kata.
"Woy ngomong dong, malah pada diem!"
"Hei pak ketua OSIS sini kamu!" Mayra akhirnya memanggil ketua OSIS untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
"Ini Alia kan? dia kenapa? dan kamu Bina, ngapain kamu duduk di kaki Alia?"
"Kamu lihat ngga, ini aku udah duduk di sini loh, tapi kakinya masih bisa ngangkat naik turun kaya ngga ada beban gitu, atau aku yang terlalu kurus?" Bina berkata dengan nada agak bercanda untuk menghilangkan ketakutan nya.
"Jadi maksudnya suara tawa yang tadi itu bukan ringtone yang kalian putar buat nakutin peserta?"
"Ringtone? ya kali kita ngga punya otak muter ringtone sekeras itu tengah malam begini!" ucap Mayra dengan nada yang mulai kesal.
Amar akhirnya memeriksa keadaan Alia lalu naik ke atas dan memberitahu Azam.
"Iya tadi aku udah lihat sendiri"
Tiba-tiba ketua OSIS datang menghampiri Azam dan bertanya bagaimana solusinya.
"Apa kita panggil Gus saja Zam? ucap ketua OSIS.
"Jangan! ini sudah jam 1 lebih, tidak enak mengganggunya" jelas Amar.
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Amar, kamu pergi ke penampungan air pesantren, ambil satu gelas air di sana" ucap Azam.
Azam pun mengakhiri acara yang sedang ia tangani dan meminta panitia lain untuk menyuruh para peserta beristirahat. Dia lalu turun ke bawah untuk melihat keadaan Alia, namun ia hanya berdiri di depan pintu saja.
"Azam kamu ngapain disini? kenapa ngga masuk!?"
Mayra menghampiri Azam karena melihatnya hanya berdiri di depan pintu. Azam hanya menggelengkan kepalanya saat Mayra bertanya.
"Di saat seperti ini kamu masih bisa setenang itu?"
__ADS_1
Mayra pun kesal melihat tingkah Azam yang begitu tenangnya, dia akhirnya meninggalkan Azam dan kembali kepada Alia.
"Azam, ini airnya"
Amar menghampiri Azam dengan segelas air yang telah ia ambil dari pesantren. Azam lalu memegang gelas yang berisi air itu dan membacakan beberapa doa lalu memberikannya kembali ke Amar.
"Berikan pada Mayra, suruh dia meminumkan pada Alia sambil memijat telapak tangannya, ingat! harus Mayra!" jelas Azam.
Amar pun mengangguk karena sudah mengerti maksud perkataan Azam. Dia pun masuk dan memberikan air itu kepada Mayra.
Mayra mencoba untuk meminumkan air itu kepada Alia, tadinya Alia sempat menolak, namun Mayra akhirnya memaksa dan berhasil. Alia mulai berteriak kencang sampai akhirnya dia diam dan memejamkan matanya.
"*Di saat seperti ini aku bahkan tidak bisa melakukan* *apapun*" Amar bergumam dalam hati sambil menundukkan kepalanya seolah tidak mampu untuk melihat keadaan Alia.
Alia membuka matanya, dia melihat sosok yang sangat tinggi itu berjalan menjauhinya dan berdiri di depan pintu ruangan bagian dalam. Sementara itu Azam masih berdiri di depan pintu bagian luar, dia berdiri dan melihat keatas.
Alia terus menatap sosok itu dan kemudian menghilang, lalu tampak lah sosok Azam yang masih berdiri di sana. Alia langsung mengalihkan pandangannya ketika mahluk itu menghilang.
"Alia! kamu udah sadar? kamu ngga papa?"
Mayra dan Bina terus bertanya untuk memastikan keadaannya.
"Mayra, batu yang tadi kamu pegang di mana?"
Alia tiba-tiba bertanya tentang batu yang tadi sedang di pegang oleh Mayra, sementara itu Mayra malah kaget dengan pertanyaan Alia, karena ia benar-benar tidak ingat di mana batu itu sekarang.
"Maaf yah, nanti aku cariin deh"
Mayra pergi ke dapur sekolah untuk membuatkan teh hangat, sementara panitia yang lain pergi untuk beristirahat di ruangan yang sudah di siapkan. Alia masih duduk sendirian di ruang panitia, dia kembali memikirkan kemana perginya batu putih itu.
"Alia kamu udah baikan?" tiba\-tiba ketua OSIS masuk dan menghampiri Alia.
"Udah ngga papa kok, maaf yah jadi ngerusak suasana" ucap Alia.
"Ngga kok, oh ya ruang buat tidur anak cewe di sebelah yah"
Alia mengangguk sambil tersenyum dan ketua OSIS pun pergi.
"*Mahluk tadi... aku benar\-benar lihat dia menghilang tepat di hadapan Azam, sudahlah untuk apa aku memikirkannya*!"
Alia hanya terdiam, dia mulai enggan memikirkan hal itu lagi karena kepalanya masih terasa pusing. Tak lama kemudian Mayra datang dengan membawa segelas teh manis hangat.
"Ayo minum dulu"
"Makasih ya May!"
Alia meraih segelas teh hangat itu dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"May, tadi siapa yang sembuhin aku?"
"Owh tadi Amar yang kasih air dari pesantren"
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol cukup lama, namun Mayra mulai lelah dan tertidur di kursi dengan menyandarkan kepalanya diatas meja. Alia melihat ke arah jam tangannya, dan ternyata masih jam 3 pagi, tapi dia belum juga mengantuk. Alia hanya duduk sambil bermain ponselnya sendirian.