Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Tatapan kebencian


__ADS_3

"Aku ingin tahu kenapa aku bisa jadi ancaman buat mereka?"



"Kamu itu jangan pura\-pura bodoh! bukankah luka bakar di tangan Azam itu di sebabkan oleh kamu!"


Alia tiba-tiba teringat dengan kejadian saat dirinya pertama kali bicara dengan Azam.


"Jadi, itu memang gara-gara aku? bukan karena sebuah pantangannya?"


"Saat kamu marah kamu bisa dengan mudah melukai siapapun! dan kamu juga bisa mengendalikan pikiran orang lain!" jelas Zizi.



"Aku... aku ngga paham apa maksud ucapan itu" Alia menjadi semakin bingung.



"Sudahlah kamu renungkan saja, nanti kamu juga akan tahu, ya sudah aku pergi dulu" Zizi lalu meninggalkan Alia yang masih terdiam dan bingung karena ucapannya.



Alia masih terdiam sendiri di tempat itu, "Woy ngelamun aja! sadar!" tiba\-tiba suara seseorang mengagetkan nya.



"Ah siapa si iseng banget!" memasang wajah kesal.


Saat Alia mengetahui orang yang menyapanya itu dia langsung kembali terdiam seolah bisu, bibirnya bahkan tidak bisa berkata apa-apa.


"Irfan?" ucap Alia dalam hatinya sambil terus menatap orang itu.


Irfan tersenyum lalu pergi, Alia berjalan kembali ke kelasnya dengan wajah yang memerah malu.


Entah kenapa ia merasa sangat senang bisa melihat senior itu.


Alia sampai di kelas, ternyata Mayra dan juga Nida sudah pama menunggunya.



"Kamu kemana aja Alia!" ucap Nida agak kesal.



"Hehe maaf" Alia hanya tersenyum dan tidak bicara banyak.



"Alia pipimu merah begitu, abis ketemu Arrafi ya!?" tersenyum sambil meledek.



"Eh ya nggak lah!"



"Mayra maksud kamu apa?" tanya Nida yang heran.



"Lagian kayaknya dia suka sama Alia" celetuk Mayra.



"Hey Mayra kamu tu jangan gosip yah!!"



Mereka bertiga asyik bercanda sampai bell masuk kelas berbunyi. Alia kembali mengikuti pelajaran hari itu dan sampai selesai. Jika biasanya saat istirahat dzuhur Alia main ke kamar Nida, namun hari ini ia lebih memilih untuk mampir kerumah nenek Mida, ia berniat untuk menjauh sementara dari tempat itu.



Siang itu adalah jadwal untuk eskul di sekolah Alia, karena dirinya juga sudah kangen dengan teman organisasi, maka dia memutuskan untuk tetap berangkat meskipun hari ini hari pertama ia berangkat sekolah setelah sakit.



Kebetulan ruangan kegiatan PMR bersebelahan dengan ruangan keagamaan, saat berjalan menuju tempat eskul dia berpapasan dengan Amar.



"Loh Alia kamu berangkat eskul juga?"



"Hehe iya lah, udah lama ngga ke sekolah jadi kangen juga sama eskul"



"Oh syukurlah, apalagi PMR sudah mulai terbengkalai saat ketua mereka tidak hadir"



"Kamu bisa saja, oh iya sekarang kamu sudah jadi ketua Pramuka ya, selamat ya"

__ADS_1



"Ah biasa saja, terimakasih selamatnya, ya sudah aku duluan yah" Amar meninggalkan Alia karena eskul Pramuka di laksanakan di lapangan sekolah.



"*Orang yang begitu ramah dan bijaksana, cocok sekali menjadi seorang pemimpin*" ucap Alia dalam hati.



"Aduh sakit!" tiba\-tiba seseorang sengaja menabrak Alia dari belakang.



"Hei! kau itu jalan lihat\-lihat!" ucap seseorang yang menabrak Alia. Dia bicara sambil menatap Alia dengan penuh kebencian.



Alia hanya terdiam, dia menatap orang itu dengan perasaan yang sangat kesal.


Mereka berdua saling bertatapan seolah sedang berkelahi menggunakan telepati.


"Ah!!" orang itu tiba\-tiba berteriak sembari memegangi kepalanya.



Dari kejauhan Azam melihat mereka berdua dan langsung berlari menghampirinya, "Nafis!!" teriak Azam dan berusaha menjauhkan mereka berdua.



"Kamu ngga papa?" Azam terlihat khawatir melihat Nafisah yang terus memegangi kepalanya.



"Ngga! aku ngga papa! cuma sedikit pusing aja" Nafisah pergi dengan perasaan kesal.



Sementara itu Alia masih saja menatap kesal kepada Nafisah yang mulai pergi menjauh.


"Kendalikan emosi kamu!" ucap Azam.


"Apa maksudnya? dia yang duluan menabrakku, dia juga yang marah!" Alia bicara dengan nada kesal.


"Aku tahu, tapi kamu lebih bisa mengendalikan diri daripada dia!"




"*Bukan begitu maksudku, aku tidak berniat membuatmu marah*" mencoba menyusul Alia.



Alia berjalan dengan cepat karena merasa semakin kesal dan ingin segera menjauh dari Azam.



"Huh Nafisah! katanya dia seorang Syarifah! tapi kelakuannya seperti itu! begitu juga Arrafi! putra dari seorang ulama, tapi membela yang salah! huh mereka semua sungguh sangat menyebalkan!" Alia terus menggerutu sembari terus berjalan.



"Siapa yang nyebelin? Arrafi ya?" Mayra tiba\-tiba mengagetkan Alia.



"Eh Mayra! kok kamu ada disini, kamu bukannya anggota Pramuka?"



"Oh tadi di suruh sama Amar buat panggil kamu, hari ini Pramuka sama PMR disuruh latihan bareng" jelas Mayra.



"Oh gitu, ya udah ayo kelapangan"



Mayra dan Alia bergegas menuju ke lapangan untuk melakukan pelatihan outdoor.


Alia tadinya merasa senang karena dia jadi bisa menjauh dari Azam, namun dia kembali terkejut melihat Nafisah juga ada di lapangan.


"Kok dia di sini juga!" ucap Alia dengan nada ketus.



"Oh Nafisah? dia kan sekretaris di sini" jawab Mayra.


Alia kembali kehilangan moodnya, dia menjalani kegiatan dengan perasaan kesal karena harus bersama dengan orang yang terlihat sangat membencinya.


Setelah kegiatan selesai, Alia duduk di tepi lapangan untuk beristirahat sementara anggota yang lain diperbolehkan untuk pulang.


__ADS_1


"Alia! jangan pulang dulu ya, nanti pengurus setiap organisasi rapat!" teriak Amar.



"Oke!" Alia masih duduk di tepi lapangan dan melihat sekeliling.



"Woy nyadar ngga si dari tadi lagi diperhatikan!" Mayra menghampiri Alia dan duduk di sampingnya.



"Siapa?" tanya Alia penasaran.



"Tuh atas!" Mayra menunjuk ke arah balkon atas.



Alia pun melihat kearah balkon lantai dua, dan ternyata di depan ruangan keagamaan berdirilah Azam yang sedari tadi sedang memperhatikan Alia dari jauh.



"Apaan si ngga penting banget! kamu kenapa ngga pulang?"



"Kan aku wakilnya Amar, jadi ikut rapat"



"Oh iya yah, ya udah ayo kita keruang rapat aja"


Alia dan Mayra berjalan menuju ke ruang rapat yang terletak di lantai dua, bersebelahan dengan ruangan PMR. Disana sudah da beberapa pengurus dari organisasi lain termasuk Nafisah dan juga Amar.


Masih seperti biasa, Nafisah terus menatap Alia dengan penuh rasa benci, entah apa yang membuatnya sangat membenci Alia.



"Ini bahas apa si?" tanya Alia.



"Acara maulid minggu depan" jawab Amar.


Karena rapat kali ini membahas tentang kegiatan keagamaan, jadi Azam yang memimpin rapat.


Semua anggota begitu antusias dalam rapat dan juga membentuk kepanitian acara.


Dan hasil dari rapat yaitu Amar menjadi ketua panitia acara itu, Azam menjadi wakil, dan Mayra menjadi sekretaris nya. Sementara itu Alia juga menjadi bendahara, dan anggota yang lain membantu tugas\-tugas kepengurusan.



Setelah selesai rapat, semua anggota keluar ruangan dan bergegas untuk pulang. Alia masih sibuk mencatat sesuatu, karena Mayra harus melaporkan hasil rapat ke kantor jadi ia tinggal sendirian di ruangan.



"Alia aku tunggu kamu di bawah ya" ucap Mayra.



"Ya!" masih sibuk membuat catatan.



Tiba\-tiba seseorang masuk dan menghampiri Alia, orang itu adalah Azam, ia berjalan pelan dan berusaha untuk tidak menggangu.



"Kamu! ngapain kesini?" Alia hanya melirik sambil melanjutkan catatannya.



"Kamu benar\-benar sudah tidak apa\-apa?"



"Kau bisa melihatnya sendiri! sekarang aku sibuk, jadi kau pergilah!"



"Bisakah kamu tenang sedikit dan tidak emosi?"


Alia terdiam, dia teringat kejadian saat itu ketika dia emosi dan tanpa sengaja melukai tangan Azam. Alia menghela nafas dan mengangguk, dia mencoba untuk tenang dan menghilangkan rasa kesalnya terhadap Azam.


"Boleh aku memeriksa nya?" tanya Azam dengan pelan.


Alia hanya mengangguk, dia juga penasaran apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Azam.


Azam mencoba mengangkat tangannya perlahan dan menempelkan nya di atas kepala Alia.


Dia terdiam sejenak dan langsung menarik tangannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2