Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Siapa Dia?


__ADS_3

Alia bangun dan berdiri di depan pintu kelas, dia meninggalkan teman\-temannya yang sedang asyik makan bersama dan mengobrol satu sama lain.



"Sebenarnya apa tujuannya?"


Alia bicara pelan sendirian dan mengingat sosok perempuan yang tadi sempat mengganggu Windy.


"Akhirnya kamu menunjukkan dirimu yang sebenarnya"


Azam berjalan mendekati Alia dan bicara sambil tersenyum. Alia hanya melirik dan tidak membalas ucapan Azam.


Sejak hari ia bicara dengan kakaknya, Alia mulai bisa mengendalikan emosinya dan menjadi tidak mudah marah lagi.


"Aku tahu, kamu itu sebenarnya ceria, suka bicara dan apa adanya, tapi kenapa selama ini kamu menutup diri?"


Azam kembali bicara pada Alia, namun Alia masih saja diam, dia hanya tersenyum kecil menandakan apa yang diucapkan Azam adalah benar.


Azam lalu mengeluarkan sapu tangannya yang baru saja dikembalikan oleh Alia dan menunjukannya.


"Kenapa kamu kasih ini ke aku?" tanya Azam.



"Itu kan punya kamu, ya aku kembalikan"



"Kamu mengejek aku?"


Alia hanya tersenyum mendengar kalimat terakhirnya Azam. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan tatapannya mulai kosong.


"Kamu pasti tahu kenapa aku berikan mahluk itu ke kamu" ucap Alia dengan singkat.


Azam sebenarnya sudah tahu, namun dia pura-pura tidak tahu agar Alia mau mengatakan apa yang sedang ada dalam pikirannya sekarang.


Dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku ngga mau ada orang yang mengira kalau dia itu arwah gentayangan nya Mayra"



"Memangnya itu bukan Mayra?"


Azam berpura-pura tidak tahu dan menguji Alia.


Dia sangat penasaran apa yang akan di katakan Alia selanjutnya, apakah dia akan menjelaskan yang sebenarnya atau kembali menutup diri seperti biasanya.


"Ya jelas bukan lah! Mayra ngga bakal sejelek itu!"


Alia bicara spontan dan secara terang-terangan mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Hahaha aku sungguh berterimakasih padanya"


Azam tertawa lepas begitu mendengar ucapan Alia, dia merasa senang sekali karena Alia sudah bisa mengekspresikan emosinya sendiri tanpa harus menutupi suasana hatinya.


Sementara itu Alia hanya terdiam melirik ke arah Azam, dia heran melihat Azam yang tertawa dan terlihat sangat puas.


"*Baru kali ini aku melihat dia tertawa seperti itu, seperti baru saja mendapatkan impiannya saja*"


Alia hanya bergumam dalam hati.


Azam terus bertanya siapa orang yang telah mampu merubah Alia, namun Alia merasa bahwa pertanyaan Azam itu hanyalah gurauan saja sehingga dia terus saja diam dan tidak ingin menjawabnya.


"Baiklah jika kamu ngga mau kasih tahu ngga papa, tapi soal sosok yang tadi itu..."



"Aku takut jika Windy akan mengira bahwa itu adalah arwahnya Mayra, karena tadi cuma dia yang lihat"

__ADS_1



"Bagaimana kamu yakin kalau itu bukan Mayra?"



"Selama jasadnya sudah di kubur dengan normal maka dia akan tenang"



"Jadi harus ku apakan mahluk ini?"



"Terserahlah!"


Alia pun pergi dan bergabung dengan teman yang lainnya. Azam masih berdiri di depan pintu kelas dan memandang Alia dari jauh.


"Dari sekian banyak yang mengelilinginya, hanya satu yang mampu mengembalikan sifat aslinya, siapa sebenarnya sosok perempuan itu?"


_____------_____


"Al apa jangan\-jangan yang tadi itu arwah gentayangan nya Mayra?" Windy memberanikan diri untuk bertanya pada Alia.



"Jangan mikir aneh\-aneh!"



"Tapi aku dengar kalau kepalanya pecah, dan wajahnya juga hancur kaya perempuan tadi..."



"Cukup! dia bukan Mayra! itu tuh cuma jin iseng!"


Alia mulai kesal ketika Windy bersikeras bahwa itu adalah hantu Mayra. Alia pun pergi keluar kelas dan menuju ke toilet untuk membasuh mukanya.


"Alia tuh kenapa sih, tiap kali ngomongin Mayra pasti marah" Windy menggerutu pada Nida.


"Udahlah, lagian kan juga ngga baik ngomongin orang yang udah meninggal" jawab Nida.


"Tapi kata orang kalau meninggal secara ngga wajar kan arwahnya bakal jadi gentayangan gitu"


Mereka terus saja membicarakan Mayra meskipun Alia sudah melarangnya. Tanpa sengaja Alia mendengar mereka yang masih bicara, saat itu Alia baru sampai di depan pintu kelas setelah selesai dari toilet.


Alia kembali merasa kesal karena mereka masih menjelekkan Mayra.


Braaakkkkk!!!


Tiba-tiba sebuah tumpukan kursi yang sudah di tata rapi itu jatuh dan hampir saja mengenai mereka yang sedang asyik duduk dan mengobrol. Mereka semua pun langsung bangun dan menjauh.


"Udah dibilangin ngga usah ngomongin orang meninggal, masih aja susah!"


Alia berjalan mendekat, tatapannya kembali tajam dan mengerikan hingga membuat semua teman perempuan yang sedang berkumpul itu ketakutan.


"Ragasy tenang!"


Azam berusaha untuk menghentikan Alia, namun dia sama sekali tidak menghiraukan. Alia terus berjalan mendekat ke arah Windy, tatapannya semakin tajam dan membuat Windy semakin ketakutan.


"Alia kamu ngapain? jangan bikin orang takut deh!"


Windy berusaha untuk menghentikan Alia yang terus mendekatinya, namun kata-katanya seolah tak di dengar.


Azam melihat sosok perempuan yang sedang mengawasi Alia dari kejauhan, dia merasa perempuan itulah yang mampu untuk menghentikan Alia, jadi Azam mulai mendekatinya.


"Kami itu sebenarnya siapa?"


Azam menatap dalam sosok perempuan itu, lalu perempuan itu tiba-tiba tersenyum ke arah Azam dan tak lama kemudian Alia mulai terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Alia kamu ngga papa?"


Nida kaget dan merasa sangat khawatir melihat Alia yang tiba-tiba pingsan. Nida duduk di samping Alia dan berusaha mengangkat kepalanya, namun Alia langsung sadar dan bangun.


"Kamu itu ngga lucu tahu!"


Nida mulai mengumpat kesal karena merasa di tipu oleh Alia, ketegangan di kelas itu pun mulai hilang ketika Alia bangun dan tersenyum.


"Alia kamu itu nakutin aku tahu!" Windy pun mulai ikut bicara.


Alia hanya terdiam dengan senyuman kecil. Dia lalu bangun dan kembali bersikap seperti biasa.


Karena doa bersama sudah selesai maka Azam dan semua teman sekelasnya pun kembali ke kelas, mereka juga sepakat untuk tidak mengungkit lagi tentang kejadian yang dialami oleh Windy.


Alia dan teman sekelasnya kembali menata bangku pada posisi seperti semula untuk mengikuti kegiatan belajar selanjutnya.


Setelah selesai, mereka kembali duduk di bangku masing-masing untuk mengerjakan tugas selanjutnya.


"Al nih minum!"


Nida menyodorkan satu buah air mineral gelas yang sudah terbuka.


"Kok udah di buka si? masa aku di kasih bekasan!"



"Bukan bekas kok! ini tadi dari Azam, mungkin udah di bacain doa"



"Ah ngga ah takutnya udah di jampi\-jampi!"



"Alia.... jangan bercanda deh, ayo minum"



"Hehe iya iya aku minum"


Alia pun meminum air itu, setelah sebelumnya berusaha untuk menolaknya. Penolakan itu sebenarnya tidak serius, dia hanya ingin menggoda Nida, namun Nida sungguh sedang tidak mau bercanda sama sekali.


"Al, tadi aku lihat Azam kaya senyum sendiri gitu, dia udah mulai ketularan kamu kayaknya"



"Yeee enak aja! emangnya aku kenapa!?"



"Tadi dia senyum ke arah sana, ngga tau senyum ke siapa"


Nida menunjuk ke arah sosok perempuan yang sedang berdiri dan melihat Alia dari kejauhan. Nida tidak bisa melihat apapun, namun ia menunjukkan arah pandangan Azam ketika terus tersenyum.


"Uhuk uhuk!!!"



"Pelan aja minumnya kenapa!"


Alia kaget ketika melihat sosok perempuan yang sedang ditunjuk oleh Nida, dia lalu bertanya apakah Nida bisa melihatnya namun Nida hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Al?" tanya Nida heran.



"Eh ngga papa kok hehe"


Alia melanjutkan kembali minumnya dengan pelan sambil bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Apa Azam juga bisa lihat kaka? tapi selama ini hanya aku yang bisa melihatnya, bahkan mama papa aja ngga bisa"


..... ..... ......


__ADS_2