
Bell pulang sekolah berbunyi, Alia bergegas untuk pulang, dan seperti biasa dia pulang bersama dengan Mayra. Selama di jalan ia masih teringat dengan perkataan Nida.
Sesampainya dirumah Alia langsung masuk ke kamarnya. Dia meletakkan tas nya di atas meja belajar. Perlahan Alia terus menatap ranjang tempat tidurnya.
"Alia kamu lagi ngapain nak? pulang sekolah malah ngalamun di kamar, ayo makan dulu" ucap Bu Mia dari balik pintu kamarnya.
"Ah iya Mah, sebentar aku ganti baju dulu"
Alia langsung melepaskan baju seragamnya dan mengganti dengan baju biasa. Tak lama kemudian ia keluar untuk makan siang bersama dengan mamanya.
Setelah selesai makan ia langsung mencuci piring yang ia gunakan untuk makan, lalu duduk kembali dan menemani mamanya.
"Mah, boleh ngga kalau ranjang di kamar aku di keluarkan aja?"
Pelan-pelan Alia mulai bertanya kepada mamanya yang masih sibuk menghabiskan makan siangnya.
"Lho kenapa?"
"Ngga papa mah, pengen tidur di bawah aja"
"Ya jangan lah, tidur di lantai itu ngga bagus lho, dingin juga" bu Mia dengan halus menolaknya.
Alia mencoba untuk terus membujuk mamanya agar mau mengeluarkan ranjang yang ada di kamarnya, namun bu Mia masih saja menolak dengan berbagai alasannya.
Alia akhirnya menyerah dan tidak lagi membujuk mamanya, karena ia merasa yang ia lakukan sia-sia saja.
Alia kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di kursi meja belajarnya. Dia masih saja menatapi ranjang tempat tidurnya.
__ADS_1
Malam harinya pun Alia kembali tidur di sofa karena dia masih merasa tidak nyaman untuk tidur diatas ranjangnnya.
_____-----_____
Keesokan harinya sepulang sekolah, Alia kembali membujuk mamanya agar mau untuk membantunya mengeluarkan ranjang di kamarnya, namun bu Mia masih saja menolak dengan alasan yang sama.
Alia pun merasa kesal hingga akhirnya dia mulai melakukannya sendiri. Alia memulainya dengan mengangkat semua bantal dan juga guling yang ada di atas ranjangnya dan menaruhnya di atas meja belajar.
Lalu perlahan dia melepaskan sprei karakter yang berwarna hijau kesukaannya. Alia menggulungnya dan diletakkan di atas tumpukan bantal. Setelah itu terlihatlah sebuah kasur kapuk lama yang sudah sangat tipis, perlahan Alia mulai menggulung kasur itu dan mengangkat nya seorang diri.
Alia memang agak kesusahan mengangkatnya, karena meskipun sudah tipis namun sebuah kasur kapuk akan tetap terasa berat. Alia berusaha dengan keras sampai akhirnya dia bisa mengangkat kasur itu dan meletakkannya di lantai.
Dan tepat diatas ranjang terdapat sebuah klasa(tikar pandan jaman dulu) yang sudah sangat lusuh, bahkan sebagian pinggirannya sudah banyak sobek termakan waktu.
Perlahan-lahan Alia mulai mengangkat klasa itu dan mencoba untuk menggulungnya.
"Astaghfirullah!! ini apa!?"
Alia kaget ketika mulai melihat sesuatu di bawah klasa tersebut, dan ternyata ada begitu banyak belatung melompat-lompat disana. Alia memberanikan diri untuk mengangkat klasa itu dan melemparkannya ke lantai. Dia makin terkejut karena ternyata belatung itu sudah memenuhi ranjang kayunya.
"Maaaaa!! mamaaaa!!!"
"Kamu kenapa teriak, astaghfirullah! itu..."
Bu Mia bicara sembari menghampiri Alia ke kamarnya, dan ia pun langsung kaget ketika melihat keadaan di ranjang Alia.
"Nak, kamu? kenapa bisa begini?"
Bu Mia bertanya kepada Alia, namun Alia hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sangat ketakutan.
"Sudah ngga papa, sini sayang, ayo kita keluar dulu"
Bu Mia meraih pundak Alia dan menuntunnya untuk keluar dari kamar agar bisa menenangkan dirinya.
"Sudah kamu tenang yah, itu mungkin karena ranjangnya sudah lama, jadi bisa saja busuk dan muncul hal seperti itu"
Bu Mia terus berusaha untuk menenangkan Alia, namun ia masih saja terdiam karena masih tidak menyangka.
__ADS_1
"*Irfan*?"
Alia mengingat nama itu dan tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja, hatinya terasa begitu sakit sampai tidak bisa berkata-kata dan air mata itupun mengalir semakin banyak.
Bu Mia langsung mengambil air putih dan memberikannya pada Alia. Setelah itu bu Mia kembali ke kamar Alia dengan membawa sebuah kantong plastik besar dan sapu lidi. Ia mulai membersihkan semua belatung yang ada di ranjang itu, meskipun tidak sampai hilang semua, namun setidaknya itu tidak akan berjatuhan ketika ranjangnnya diangkat keluar.
"Ma ayo kita keluarkan ranjangnya!"
Alia tiba-tiba menghampiri bu Mia yang masih sibuk membersihkan ranjang itu. Bu Mia hanya mengangguk, mereka berdua lalu mengangkat dan mengeluarkan ranjang itu dari kamar Alia dan meletakkannya di pekarangan belakang rumah.
Alia bergegas mengambil cairan bensin dan menyiramkan nya ke sekeliling ranjang, kebetulan papanya selalu menyediakan bensin di rumah untuk jaga-jaga jika bensin motornya habis dan tidak sempat ke pom bensin.
"Nak kamu yakin ini mau dibakar?"
"Yakin mah! lagian udah ngga bisa di pakai lagi! kalau mau dipakai juga pasti bakalan bawa sial buat yang makai!" tegas Alia.
Alia terus menyiramkan bensin yang ia pegang dalam sebuah jerigen kecil kapasitas dua liter. Bahkan tak terasa jerigen itu sudah kosong karena begitu semangatnya Alia menuang semua isinya.
Bu Mia masuk ke dalam dan mengambil sebuah korek lalu memberikannya pada Alia.
"Ini nak"
"Makasih mah"
Alia menerima korek itu sambil berusaha untuk tersenyum. Dia lalu meletakkan jerigen yang ia pegang dan mulai menyalakan korek apinya.
Alia melemparkan korek api itu ke arah ranjang yang sudah disirami dengan cairan bensin tadi. Api pun langsung menyala dan melahap habis ranjang kayu itu. Bu Mia juga melemparkan klasa lusuh dan kantong plastik hitam berisikan sebagian belatung yang ia bersihkan tadi.
Alia menatapi bara api itu dengan tatapan sayu, hatinya merasa begitu terluka, karena ia harus kehilangan ranjangnya yang sudah menemani dia sedari lahir. Dan ini kali kedua dia harus membakar sebuah benda yang sangat penting baginya. Meskipun hanya sebuah ranjang tua, namun benda itu mempunyai banyak kenangan masa kecilnya. Ia bahkan selalu teringat ketika ia begitu takut untuk menengok ke bawah ranjang itu saat ia masih kecil.
Setelah itu Alia bergegas untuk membereskan kamarnya, dia mengepel seluruh lantai di kamar itu. Alia juga menemukan sebuah batu putih kecil di lantai pojokan kamar tempat bekas ranjangnnya diletakkan.
Sekilas batu itu memang terlihat biasa saja, tidak ada yang spesial, saat Alia mencoba mengambil dan melihatnya, tanpa sengaja batu itu terjatuh dan menggelinding ke bawah meja belajarnya. Ternyata batu itu menyala saat berada dalam kegelapan, jadi tidak butuh waktu lama bagi Alia untuk menemukan nya.
__ADS_1
"Eh kok bisa bagus banget gini yah? baru pernah lihat aku" ucap Alia sembari mengambil kembali batu itu.
Ia lalu menyimpannya ke dalam laci lemarinya dan melanjutkan beres-beres kamar.