Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Yang terlihat benar terjadi


__ADS_3

Keesokan harinya Alia berangkat bersama dengan Mayra seperti biasa. Ia langsung masuk kelas dan duduk di bangkunya. Alia melihat ke arah bangku milik Nida dengan penuh rasa khawatir dan takut jika apa yang ia lihat kemarin benar\-benar terjadi.



"Eh Nida ngga berangkat?"


Alia mencoba bertanya kepada teman sekelasnya yang juga tinggal di pesantren. Namun temannya itu berkata bahwa Nida tidak berangkat karena sakit.


"Ya Alloh, kan kejadian!"


Alia bergumam pelan sembari memukul kepalanya sendiri seperti merasa sangat bersalah.


"Kenapa Al?"


Mayra menghampiri Alia, karena penasaran melihat sikap Alia yang sangat khawatir, dia memutuskan untuk duduk di samping Alia hari itu.


"Ngga papa kok"


Alia mencoba untuk tenang dan tetap fokus mengikuti pelajaran seperti biasa.


Siangnya Alia datang ke pesantren untuk menengok Nida.


"Da? kamu ngga papa?"


Alia dan Mayra masuk ke kamar Nida, di sana hanya ada Nida sendirian yang sedang terbaring diatas kasur lantai tipis dan berselimutkan jarik(kain batik panjang, orang jawa biasa menyebutnya jarit)"


"Nggak kok, cuma pusing dikit aja"


Nida menengok ke arah Alia, dia bicara sambil tersenyum namun tetap terlihat bahwa ia sedang menahan rasa sakit di kepalanya.


Alia mendekat dan duduk di sampingnya begitupun Mayra. Alia mencoba memegang kening Nida dan dia merasa kaget karena tubuhnya masih begitu panas.


"Da? kamu sudah minum obat?"



"Udah kok tadi pagi" ucap Nida singkat.



"Tapi ini udah siang lho, dan badan kamu juga masih panas banget gini! tunggu sebentar yah"


Alia bangun dan langsung menuju ke dapur, dia meminta jatah makan siang dan juga obat untuk Nida, Alia juga tak lupa membawakan segelas teh hangat.


Perlahan Alia dan Mayra membantu Nida untuk duduk dengan bersandar pada dinding kamar. Alia mulai menyuapi Nida makan dan memberinya obat.


"Assalamualaikum, Alia disini kah?"


Tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar dan Mayra membuka pintu. Ternyata Zizi yang berada di luar dan sedang mencari Alia.

__ADS_1


"Al kamu ikut aku deh!" langsung menarik tangan Alia dan terlihat sangat gugup.



"Kemana mba?"



"Udah ikut aja, cuma sebentar kok!"


Zizi masih menarik tangan Alia dan akhirnya dia pun mau untuk mengikuti Zizi. Sementara itu Alia meminta Mayra untuk menjaga Nida sebentar.


Zizi menarik tangan Alia dan mengajaknya menuju kamar, di kamar Zizi ternyata terdapat seorang santri yang sedang duduk dengan kedua kaki lurus dan salah satu dari kaki itu memar dan biru.


"Dia kenapa mna?"


Dari depan pintu Alia heran melihat teman sekamar Zizi dalam keadaan seperti itu. Zizi akhirnya menjelaskan semua yang terjadi pada Alia dan Alia juga kaget ketika mengetahui bahwa semua ucapannya kemarin benar-benar terjadi, mulai dari sakitnya Nida sampai santri yang jatuh dari tangga.


"Mba, aku sebenarnya ngga bermaksud..."



"Dia pengin ngomong sama kamu! dan aku tau kok, kamu dari kemarin penasaran sama dia kan?"


Zizi tiba-tiba memotong ucapan Alia yang belum selesai, Alia akhirnya menghampiri teman sekamar Zizi dan duduk di sampingnya.


"Assalamu'alaikum mba, aku Alia"




"Oh iya, kebetulan pernah liat mba di kelasnya mba Zizi"


Alia bicara dengan ragu-ragu, karena baru pertama kali bicara dengannya dan dia merupakan senior, jadi Alia merasa minder, ditambah lagi dengan kelakuan konyol Irfan yang membuat Alia semakin merasa malu.


"Kamu kenapa kok lihat aku kayak gitu?" ucap Maya yang merasa tidak nyaman dengan tatapan aneh Alia.



"Mba aku boleh lihat tangan mba ngga?"


Tadinya agak ragu, namun Alia akhirnya memberanikan diri untuk menghilangkan rasa penasarannya yang sedari kemarin ia pendam. Pasalnya beberapa hari yang lalu saat Alia sedang berada dikelasnya Zizi, Alia melihat Maya dan mengetahui sesuatu darinya.


Maya pun mengangguk, ia mengangkat tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya kepada Alia.


Alia meletakkan tangannya dan mencoba mengusap telapak tangan milik Maya.


Alia terdiam sejenak, dia agak ragu untuk bertanya, namun Alia begitu ingin memastikan apakah penglihatannya benar atau salah.

__ADS_1


"Mba kamu lagi ada masalah sama orang tua?" tanya Alia pelan.



"Ternyata Zizi ngga bohong yah" Maya menjawab sambil tersenyum pada Alia.



"Maaf ya mba, bukannya aku mau ikut campur urusan pribadi mba, tapi pikiran itu kalau ngga segera dihilangkan bisa terus menimbulkan hal buruk bagi mba sendiri, dan aku rasa orang itu cukup baik kok" jelas Alia.



"Ya aku tahu kok, tapi aku masih belum berani memutuskan"



"Tapi itu harus cepat diputuskan mba, kalau ngga nanti bakal mengganggu pikiran mba"


Maya terdiam dan menunduk, Alia mencoba menyentuh kaki Maya yang lebam akibat jatuh dari tangga, dia menekannya sedikit.


"Aw! sakit!"


Maya langsung berteriak kesakitan ketika Alia menekan lukanya.


"Maaf mba, tapi insyaallah setelah ini ngga bakalan sakit lagi, ya udah kalau gitu aku pamit dulu yah assalamu'alaikum"


Maya dan Zizi belum berkata apapun, tapi Alia sudah pergi meninggalkan kamar Zizi begitu saja.


"Maya, emang kamu ada masalah apa?" Zizi mendekat dan mencoba bertanya.



"Jadi bentar lagi kan ujian, dan kita bakalan lulus, dan aku udah dijodohin sama orang" ucap Maya yang masih memegangi kakinya yang terluka.



"Dan Alia bisa tahu masalah kamu hanya dengan melihat wajah kamu sekilas aja?" untuk pertama kalinya Zizi merasa heran dengan kemampuan Alia.



"Itu kan teman kamu! kok nanya ke aku si!"


Zizi dan Maya asyik mengobrol sampai-sampai luka lebam di kaki Maya sudah tidak terasa sakit lagi.


Sementara itu, setelah selesai sholat Alia dan Mayra kembali bergegas untuk ke kelas.


Hari ini pun berlalu, dan hari-hari berikutnya juga berlalu. Banyak hal yang akan terjadi terlihat oleh mata Alia, namun kali ini ia lebih memilih untuk diam dan menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Dia juga takut di kejar-kejar oleh para siswa yang penasaran dan selalu bertanya pada Alia hal apa yang akan terjadi berikutnya, karena sejak saat itu teman sekelasnya banyak yang tahu tentang kemampuan Alia. Terkadang ada juga temannya yang meminta Alia untuk meramalkan sesuatu yang akan terjadi pada orang itu, namun Alia lebih memilih untuk diam dan berkata "Aku tidak tahu". Karena Alia mulai merasa terganggu dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak perlu di jawab.


Satu bulan sudah berlalu, dan ujian akhir semester sudah selesai dilaksanakan, kini Alia hanya tinggal menunggu hari penerimaan raport dan pengumuman kenaikan kelas. Sementara para siswa kelas XII sudah memasuki hari bebas, karena mereka hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja.

__ADS_1


Minggu ini adalah minggu bebas untuk seluruh siswa MA Ma'arif, sekolah pun mengadakan classmeeting dengan menyelenggarakan berbagai macam lomba antar kelas untuk meramaikan momen kebersamaan tersebut. Semua siswa begitu antusias dalam mengikuti perlombaan, termasuk para siswa kelas XII yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah itu.


__ADS_2