
Mayra akhirnya membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata agar bisa tertidur, setelah beberapa lama akhirnya dia tertidur.
Sementara itu Alia sudah tertidur pulas karena kelelahan. Namun tiba-tiba Alia terbangun karena merasa ada seseorang yang sedang menggenggam tangannya. Ia tidak bergerak namun hanya membuka matanya sambil memastikan yang tadi itu benar atau tidak.
Lama-lama genggaman tangan itu terasa semakin kuat dan nyata. Tangan itu seperti sedang memegang sebuah cincin yang melingkar di jarinya. Alia akhirnya memutuskan untuk bangun dan melihat tangan siapa itu, namun saat ia duduk dan melihat sekelilingnya, tak ada siapa-siapa selain Mayra dan Sifa.
Posisi Alia tidur di tengah, sementara Mayra dan Sifa masing-masing tidur dengan posisi miring dan membelakangi Alia, jadi tidak mungkin salah satu dari mereka berdua. Lagipula tangan yang tadi menggenggam tangan Alia juga terasa agak panas dan sangat kasar.
"Itu tadi aku nggak menghayal kan?"
Alia memegangi tangan kirinya yang memakai cincin pemberian dari seniornya itu, ia berusaha untuk melepasnya namun terasa sangat sulit sekali, bahkan Alia tidak bisa melepaskannya.
"Ini kenapa? kok susah banget!"
Alia masih terus berusaha untuk melepaskan cincin itu namun tetap tidak bisa, tak lama kemudian suara adzan subuh mulai berkumandang, dan Alia akhirnya menyerah untuk melepaskan cincinnya.
Ia bergegas ke belakang untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat subuh. Ia juga tak lupa untuk membangunkan Mayra dan Sifa.
Setelah selesai sholat subuh, Alia, Mayra dan juga Sifa bergantian untuk mandi lalu berangkat ke sekolah.
Hari ini tidak ada pelajaran karena ada acara pengajian maulid nabi, jadi semua siswa dan guru berkumpul dan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.
"Al kamu yakin ke sekolah pakai cincin itu? cincin itu emang bagus sih, tapi batunya itu loh besar, kelihatan jelas banget kalau dari jauh, apalagi itu kan cincin model cowok"
Mayra bertanya karena melihat Alia masih memakai cincin dengan hiasan batu hitam yang lumayan besar itu.
"Abis gimana, ngga bisa dilepas!"
Alia berjalan sambil terus menyembunyikan tangannya karena tidak ingin orang lain melihat cincin yang ia pakai.
"Hai Alia! kamu kenapa? kok tanganmu di simpan di balik kerudung gitu si?"
Tiba-tiba Alia bertemu dengan Zizi, dia langsung menarik tangan Zizi dan membawanya ke tempat yang sepi untuk meminta tolong.
"Mba, lihat ini"
Alia mengeluarkan tangan kirinya dari balik kerudung dan menunjukkan pada Zizi.
"Ini bukannya cincinnya si Irfan?"
"Iya! semalem aku pake ini, tapi sekarang ngga bisa dilepas"
Mendengar ucapan Alia, Zizi lalu memegang tangan kiri Alia dan mencoba untuk melepaskan cincin itu.
Zizi menariknya secara perlahan dari jarinya Alia, dan tak butuh waktu lama cincin itu pun terlepas.
"Eh kok gampang banget si?"
"Kamu tu lebay deh! lepas cincin aja ngga bisa!"
"Tapi tadi pagi tu bener\-bener ngga bisa! terus sebelum nya aku juga ngerasa kaya ada tangan yang megang tangan aku kenceng banget!"
__ADS_1
"Masa sih? tapi aku lihat cincin ini biasa aja!"
"Tau ah, mungkin aku lagi ngelindur!"
Alia lalu pergi dan meninggalkan Zizi, Zizi pun menyusul Alia dan menuju ke depan panggung acara. Zizi duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk para siswa, sementara Alia pergi ke ruang panitia.
"*Itu bukannya gelang Alia*?"
Zizi berucap dalam hati ketika melihat Irfan lewat di sampingnya dan tak sengaja melihat gelang kayu milik Alia melingkar ditangan kiri Irfan.
Sementara itu diruang panitia Amar mengumpulkan seluruh panitia untuk rapat sebentar sebelum acara di mulai.
_____-----_____
Tak lama kemudian acara dimulai, para panitia duduk di tempat masing-masing. Alia duduk di kursi paling belakang bersama dengan Mayra.
"Eh Alia, cincinnya mana?"
Mayra heran ketika melihat Alia sudah tidak memakai cincinnya, padahal tadi ia baru saja bilang bahwa cincin itu tidak bisa dilepas.
"Ada di saku, tadi mba Zizi yang lepasin"
Acara pengajian pun di mulai, pembukaan dilaksanakan dengan melantunkan beberapa sholawat nabi dan yang dibawakan oleh grup Hadroh dari Pesantren. Semua anggota dari grup tersebut adalah santri putra, terdiri dari beberapa siswa MA dari melas X hingga XII, termasuk Amar dan Azam juga.
"Eh suaranya Azam bagus juga yah" ucap Mayra sambil melihat kearah panggung.
Acara berjalan dengan lancar sampai waktu penutupan tiba, dan tepat saat adzan dhuhur berkumandang, acara resmi selesai. Semua siswa bergegas untuk ke masjid dan melakukan sholat dhuhur berjamaah termasuk Alia, namun ia masih belum mau memasuki pesantren jadi hanya ke masjid saja.
Setelah selesai istirahat siang, para panitia acara kembali berkumpul untuk membereskan sisa acara.
Alia sedang sibuk membuat rekapan dana pengeluaran acara tersebut di ruang panitia sementara yang lainnya berada di lapangan.
"Ragasy!"
Terdengar pelan suara Azam dari depan pintu dan berjalan masuk menghampiri Alia.
Alia hanya terdiam dan tidak menghiraukan nya, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku tidak melihat gelang hijau mu, kemana?"
"Apa urusannya denganmu?"
"Aku hanya bertanya, apa tidak boleh?".
"Aku lupa tidak memakainya"
__ADS_1
"Oh ya? lalu kenapa aku melihat gelang itu ada di tangan Irfan? dia juga berkata pada semua temannya bahwa ia di beri gelang itu olehmu"
Alia terdiam, dia kaget ketika Azam tahu bahwa gelang kesayangannya berada di tangan Irfan, dan semuanya juga melihat hal yang sama.
"*Dasar gila! kok dia terang\-terangan gitu si, bikin malu aja*!"
"Kamu ada hubungan apa sama dia?"
Azam kembali bertanya dan kini wajahnya mulai berubah menjadi kecewa.
"Itu bukan urusan kamu!"
Alia bangun dan pergi meninggalkan Azam sendirian, dia bergegas menuju ke ruang kepala keuangan sekolah untuk melaporkan tugasnya.
Setelah selesai ia berjalan keluar dan berniat untuk mengambil tasnya lalu pulang.
"Hei Alia!"
Alia kembali berpapasan dengan senior yang mengambil gelang kesayangannya secara paksa kemarin, dia memanggil Alia sambil terus tersenyum menatapnya.
"Ka! kamu tu gila yah! ngapain kamu bilang ke semua orang kalau aku ngasih gelang itu buat kamu? bikin malu aja!"
"Kenapa? memang benar kan?"
Irfan menjawabnya dengan santai, entah kenapa tatapannya berubah menjadi seperti biasanya, dingin dan menakutkan.
"Kembalikan lah gelangku! dan ini aku kembalikan cincinnya" sambil mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.
"Kamu tidak suka pemberian ku?"
"Bu bukan begitu tapi..."
Irfan menatap Alia dengan tatapan mata yang sangat dingin, dia terdiam lalu tiba-tiba pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
"Huh dasar nyebelin!! tapi kok kenapa tiba\-tiba dia pergi gitu aja yah?"
Alia mencoba duduk di tangga dekat ruang guru untuk menghilangkan rasa kesalnya, tak lama kemudian Abah kyai datang dan melihat Alia yang sedang duduk sendirian.
"Loh kamu disini?"
Abah menyapa sambil tersenyum ke arah Alia, sedangkan Alia merasa kaget karena tiba-tiba bertemu dengan Abah.
"Hehe iya bah" Alia menjawab dengan bahasa jawa halus, dan Abah pun berlalu, dia datang seolah hanya ingin melihat saja.
"*Apa jangan\-jangan tadi kak Irfan tiba\-tiba pergi karena lihat Abah berjalan ke mari*?" gumam Alia.
__ADS_1