Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Masih menjadi misteri


__ADS_3

Alia bertanya\-tanya dalam hati apa sebenarnya yang berbeda dari pohon itu, ia juga ingat bahwa dirinya sempat diikuti oleh kakek\-kakek yang sekarang mengikuti Afi.


Afi melihat ke arah jam tangannya dan tiba-tiba teringat bahwa ia ada kelas lagi.


"Eh Alia aku ada kelas sekarang nih, aku pergi dulu yah"


Afi pun pergi meninggalkan Alia yang masih terduduk diam dengan rasa penasaran yang masih belum terjawab.


"Eh aku juga kayaknya ada janji sama seseorang deh, hampir aja lupa"


Alia teringat bahwa ia sudah sepakat untuk menunggu Irfan yang akan mengembalikan motornya, dia pun segera berjalan menuju ke taman di dekat parkiran.


Azam yang baru saja keluar dari kelasnya melihat Alia berjalan sendirian, dia berniat untuk memanggil Alia namun saat mengetahui tujuan Alia adalah bertemu dengan Irfan, dia pun mengurungkan niatnya.


"Jadi dia ketemu sama Irfan, apa mungkin dia masih belum bisa melupakannya? ah sudahlah mungkin aku memang tidak pernah ada di matanya" ucap Azam dalam hati.


_____-----_____


"Ya ampun kenapa baru datang si! lama aku nunggu tahu!" Irfan menggerutu karena sudah menunggu lama.


"Maaf tadi ada urusan!"


Tanpa basa-basi Irfan langsung memberikan kunci motor Alia dan berkata bahwa motornya sudah berada di parkiran.


Irfan menatap Alia dengan wajah yang tidak biasa, dan itu membuat Alia merasa tidak nyaman, Alia pun memutuskan untuk segera pergi namun Irfan kembali menahannya.


"Apa lagi si?"


"Tunggu dulu lah!"


"Kamu kenapa si kok lihatin aku kayak gitu?"


"Kamu dapat pegangan dari mana?"


Irfan tiba-tiba menanyakan hal yang aneh, dan itu membuat Alia bingung.


"Pegangan apa maksudnya?"


"Ngga usah pura-pura lah, pelindung itu kuat juga yah, bahkan sampai Pak Yahya aja ngga sadar"

__ADS_1


Alia menjadi semakin bingung, dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Irfan.


"Ih sumpah ya aku nggak paham apa yang kamu omongin, tolong jelasin!"


"Jadi dia sendiri nggak sadar? itu artinya ada orang yang sengaja nutupin identitasnya, dan kemampuannya cukup tinggi juga" Irfan bergumam dalam hati.


"Malah bengong! kalau nggak jelasin aku pergi aja lah!"


"Eh tunggu, ya aku jelasin!"


Irfan mulai bicara bahwa sejak hari pertama Alia sakit sebenarnya ia sedang diganggu oleh sosok yang kemarin malam dilihat oleh Alia, namun sepertinya ada seseorang yang sengaja menutupi aura Alia agar tidak ada yang bisa melihat selain orang yang menutupi tersebut, namun ternyata Irfan juga memiliki kemampuan itu, jadi dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Alia.


"Kok jahat sih! kan jadi kelihatannya aku cuma pura-pura sakit! bahkan aku sendiri bisa nggak sadar kalau sakitnya aku karena gangguan itu" ucap Alia pelan.


"Aku juga ngga tahu apa tujuannya"


"Padahal kalau ngga terhalang, pasti waktu itu aku nggak perlu sampai di bawa ke rumah sakit"


Dalam hati Alia mulai timbul rasa kesal pada seseorang yang belum ia ketahui itu, Irfan juga kembali menjelaskan bahwa di kampus itu tidak ada yang memiliki kemampuan lebih tinggi darinya kecuali yang berasal dari pesantren yang sama saat ia di MA dulu.


Alia kembali berfikir dan mengingat bahwa dari pesantren itu yang kemampuannya cukup tinggi hanyalah Nafisah, karena kemampuan Nafisah bahkan jauh di atas Azam.


"Sebenarnya siapa di antara mereka berdua? dan apa tujuannya? apa mungkin itu Nafisah? karena selama ini dia memang tidak menyukaiku." ucap Alia dalam hati.


Alia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Sementara Irfan kembali bicara panjang lebar.


Tiba-tiba Alia teringat kembali dengan kejadian tahun lalu soal ranjang miliknya, sebenarnya dia agak ragu untuk bertanya namun dia benar-benar ingin tahu kebenarannya, jadi ia mulai bertanya pelan-pelan kepada Irfan.


"Oh jadi kamu kira aku yang lakuin itu?"


"Ya orang nggak ada yang pernah ngancem aku selain kamu"


Alia menjawab dengan nada pelan, wajahnya terlihat berubah menjadi pucat karena takut jika Irfan akan marah lagi.


"Hahaha"


Tiba-tiba Irfan tertawa dengan keras dan itu membuat Alia kembali bingung melihat tingkahnya.


"Jadi karena itu kamu takut sama aku pas pertama ketemu kemarin? aku ngga sekejam itu kali!"

__ADS_1


Alia kaget mendengar jawaban Irfan. Itu artinya bukan Irfan yang melakukannya, dan entah kenapa perasaan Alia berubah menjadi sangat senang. Alia mengucapkan banyak kata-kata dan mereka berdua begitu asyik mengobrol.


"Oh iya, kamu tahu sesuatu tentang pohon Cherry yang disana nggak?"


Alia kembali ke pembicaraan awal, dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pohon itu, dia juga menanyakan penyebab ia merasa sakit saat berada dekat dengan pohon itu.


"Itu kan emang karena kamu diikuti sama penunggu pohon itu" jawab Irfan singkat.


"Tapi kenapa sakitnya cuma saat aku dekat dengan pohon itu aja?"


Irfan akhirnya menjelaskan bahwa sejak tahun sebelumnya memang sudah ada mahasiswa baru yang juga bernasib sama seperti Alia. Dia seorang indigo juga, dan dia di ganggu oleh penunggu pohon Cherry itu sejak pertama kali datang ke kampus, dia juga sering merasa kesakitan saat sedang belajar dikelas dan bahkan sampai dirumahnya sampai akhirnya orang tua dari anak itu mencari tahu lewat orang pintar, lalu setelah mereka tahu penyebabnya, anak itu langsung mengundurkan diri dari kampus dan akan melanjutkan kuliah lagi tahun depan di universitas yang berbeda.


"Lalu apa tanggapan dari pihak kampusnya?"


"Mereka ngga bilang apa-apa dan nggak mau bilang si kayaknya"


"Apa pihak kampus nggak ngasih solusi? kan sayang anak itu jadi harus menunda satu tahun untuk sekolahnya?"


"Katanya si dari dulu emang udah begitu, tiap anak yang udah diganggu sama si buruk rupa itu pasti nggak akan kuat buat lanjut kuliah disini, karena ya itu, tiap hari dia bakal di ganggu terus"


"Terus nasib aku gimana? apa bakalan kaya gitu juga?"


Alia mulai khawatir dengan keadaannya sekarang setelah mendengar cerita dari Irfan, namun ia juga menjadi semakin ingin tahu kenapa pihak kampus bahkan tidak bisa memberikan solusi yang pantas, karena kata Irfan ada seorang dosen yang mampu dalam hal seperti itu, yaitu Pak Yahya.


Irfan melepaskan sebuah gelang kayu berwarna hijau muda dari tangan kirinya lalu ia pakaikan di tangan kiri Alia.


"Eh gelang ini bukannya gelang aku yang dulu yah? kok masih ada?"


"Kamu tenang aja, untuk sementara gelang itu bisa menghindarkan kamu dari gangguan si buruk rupa itu"


Irfan bicara sambil tersenyum dan menatap Alia.


"Eh kok aku jadi deg-degan gini yah" gumam Alia dalam hatinya.


"Hobi kamu ternyata ada manfaatnya juga yah" ucap Irfan.


"Maksudnya apa?" tanya Alia heran.


"Ya kamu suka koleksi gelang kayu, dan sekarang itu bisa menghalau dari gangguan si mahluk kayu itu" jelas Irfan.

__ADS_1


"Oh iya juga yah, mungkin ini memang sudah takdir."


Setelah lama mengobrol, Alia berpamitan untuk pergi, karena di jam ini ia ada satu kelas terakhir di hari pertamanya.


__ADS_2