
Setelah selesai membasuh lukanya, Alia kembali berjalan dan segera menuju ke taman. Dia berjalan agak terburu\-buru karena tidak ingin Irfan terlalu lama menunggunya, namun ditengah perjalanannya dia kembali terhenti karena ternyata ada sosok Chika yang berdiri di depannya.
"Chika? kamu beneran Chika?" tanya Alia yang kaget saat melihat sosok Chika.
Sosok Chika yang ia lihat kali ini sangatlah berbeda dari sosok yang ia lihat terakhir kali dan ingin menyerangnya.
Chika yang ia lihat sekarang adalah sosok anak kecil yang cantik dan juga imut dengan rambut panjang yang diikat menggunakan pita merah khasnya.
Chika tersenyum sembari mengulurkan tangannya yang memegang beberapa buah Cherry matang seperti biasanya.
"Wah aku yakin kamu pasti beneran Chika, kamu kemana saja?" Alia kembali bertanya.
"Main..." jawab Chika dengan sangat singkat.
"Kakak pikir kamu sudah tidak mau menemui kakak lagi, soalnya kemarin pas kakak lihat kamu, kamu malah menghilang?" ujar Alia.
Chika hanya menggelengkan kepalanya tanpa ekspresi.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Chika.
"Kakak baik-baik saja, Chika nggak perlu khawatir sama kakak" ucap Alia.
Chika kemudian melihat ke arah kaki Alia yang terluka dan menunjuk luka itu menggunakan tangannya seolah berkata bahwa "Jika kakak baik-baik saja maka ini apa?"
"Oh ini tadi nggak sengaja terjatuh, hanya luka kecil saja kok" jelas Alia.
Beberapa orang yang lewat dan melihat Alia mulai heran karena dia berbicara sendiri seperti orang gila. Alia pun menyadari hal itu, hingga akhirnya Alia mengajak Chika ke tempat yang sepi supaya tidak ada orang yang melihat ataupun curiga kepada Alia.
"Chika, kemarin kakak bertemu mahluk yang mirip kamu, tapi dia jahat" ucap Alia.
"Dia bukan Chika! dia suruhan orang jahat!" tiba-tiba saja Chika menjawab dengan cepat dan tegas tentang pernyataan itu.
Untuk sejenak Alia terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Chika. Sejak kemarin Alia memang sudah mengira kalau itu bukanlah sosok Chika, melainkan adalah sosok lain yang menampakkan wujud yang sama dengan Chika dan sifatnya memang tidak baik, tapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata sosok itu adalah suruhan atau kiriman dari seseorang.
"Suruhan? suruhan siapa?" tanya Alia.
"Orang jahat, orang yang sangat jahat!" Chika kembali berucap dengan cepat dan tegas.
"Orang jahat? siapa?" tanya Alia yang semakin penasaran.
__ADS_1
Tak lama setelah mengucapkan kata-kata itu, sosok Chika kembali menghilang entah kemana, dan itu membuat Alia semakin penasaran.
"Ah kebiasaan deh! setiap ngomong belum selesai pasti langsung menghilang!" gerutu Alia.
Alia masih sangat penasaran dengan perkataan Chika tentang orang jahat tadi, sebenarnya siapa orang jahat yang dia maksud.
"Perasaan selama ini aku nggak pernah buat masalah sama orang, tapi kenapa sampai ada orang yang berbuat seperti itu sama aku?" Alia bertanya-tanya dalam hati.
"Astaghfirullah!! aku kan udah janji mau ke taman, duh kak Irfan pasti udah lama nungguin aku, mendingan aku langsung ke taman aja deh"
Alia teringat dengan janjinya yang akan pergi menemui Irfan, dia pun berjalan terburu-buru menuju ke taman, bahkan sampai tidak merasakan sakit walau kakinya baru saja terluka.
Saat sampai di taman, Alia melihat Irfan yang sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang dan masih menunggu Alia.
"Hai kak, maaf yah nunggu lama"
Alia langsung menyapa Irfan begitu sampai, dia duduk di kursi yang berada di sebelah Irfan.
"Kamu ngapain aja si, kok lama banget?" tanya Irfan yang sudah mulai kesal karena terlalu lama menunggu.
"Aduh biasa lah tadi ada sedikit masalah, tapi sekarang udah beres kok, hehe. Oh iya kamu mau ngomong apa?" tanya Alia.
"Aku cuma mau kasih ini buat kamu, yah meskipun agak telat dan nggak seberapa nilainya"
"Apa ini?" tanya Alia yang kaget sekaligus senang.
"Selamat ulangtahun yang ke 20 ya sayang, maaf kalau aku ngucapinnya telat"
"Wah makasih kak, aku pikir kamu nggak ingat, teman aku cuma Afi yang ingat" ujar Alia.
"Ya nggak mungkin lupa lah, kan aku pacar kamu"
Alia tersenyum senang mendengar ucapan Irfan, dia masih memegang dan terus saja memandangi kado yang diberikan oleh Irfan.
Alia sama sekali tidak menyangka bahwa tahun ini dia juga akan mendapat kejutan lagi dari Irfan.
"Buka dong masa dilihatin aja"
"Boleh nih?" tanya Alia.
__ADS_1
"Ya boleh lah, kan itu buat kamu"
Perlahan-lahan Alia mulai menarik pita hijau yang menghiasi bungkus kado itu dan mulai membukanya.
Tidak butuh waktu lama untuk membuka kado itu, karena cara membungkusnya sangatlah sederhana namun begitu terlihat cantik.
Setelah semua terbuka, Alia kembali tersenyum melihat isi dari kado tersebut, itu adalah sebuah boneka Teddy bear berwarna hijau dengan sebuah kalung yang terpasang di lehernya. Meskipun nilainya tidak seberapa, namun Alia merasa sangat senang karena boneka itu adalah boneka favoritnya, terlebih lagi warnanya juga hijau, yang merupakan warna favoritnya.
"Ya ampun ini cantik banget kak!" ucap Alia sembari memeluk boneka itu.
"Bagus deh kalau kamu suka" jawab Irfan.
"Iya aku suka banget, makasih kak"
"Eh iya ini kalungnya buat kamu pakai" ucap Irfan sembari melepas kalung yang dipakaikan pada boneka tersebut.
Kalung itu adalah kalung berbahan monel dengan liontin berbentuk hati yang terdapat ukiran nama mereka berdua, yaitu Irfan dan Alia.
"Iya iya nanti aku pakai" ucap Alia.
Saat sedang asyik mengobrol, tanpa sengaja Irfan melihat kaki Alia yang terluka.
"Kaki kamu kenapa? kok luka?" tanya Irfan yang terlihat khawatir.
"Oh ini, tadi nggak sengaja jatuh pas lagi jalan" jawab Alia.
"Aku kebetulan punya handsaplast, sini aku pakaikan"
"Eh nggak usah, aku pakai sendiri aja"
Alia mengambil handsaplast itu dari tangan Irfan dan memakainya sendiri. Sejak keluar dari rumah sakit belum lama, Irfan selalu membawa stok handsaplast, plester dan juga perlengkapan pembalut luka yang lain, itu di gunakan untuk mengganti penutup lukanya saat sedang berada di luar rumah.
"Kamu itu masih sama aja, jalan buru-buru dan nggak lihat-lihat" Irfan mengejek Alia.
"Ya habisnya kan tadi aku mau cepet-cepet sampai ke sini" ucap Alia.
Seketika semua pertanyaan dan rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi benak Alia pun menghilang karena rasa senangnya mendapat kejutan dari Irfan.
"Kita ke kantin yuk, aku lapar nih" ucap Irfan.
__ADS_1
"Iya..."
Alia segera memasukkan boneka itu ke dalam tasnya, karena Alia selalu membawa tas ransel yang cukup besar, jadi tas itu pasti muat untuk menyimpan boneka yang berukuran sedang. Alia sengaja selalu membawa tas ransel, karena selain untuk menyimpan beberapa alat tulis, dia juga memanfaatkan tas itu untuk menyimpan laptop yang selalu ia bawa saat pergi ke kampus.