Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Hari yang sial


__ADS_3

Alia berjalan menuju ke ruang kesehatan dengan perasaan yang masih agak kesal terhadap perilaku Nafisah.


"Dia itu kenapa si? kadang baik, kadang nyebelin, tapi banyak nyebelin nya!" Alia terus menggerutu.


Hari itu ia lalui dengan rasa penasaran dan juga kesal, entah kenapa hatinya selalu saja merasa tidak pernah tenang, ada saja orang yang membuatnya kesal saat ia mencoba untuk bersabar.


"Ah sudahlah terima saja, mungkin ini memang sudah takdirku dikelilingi oleh orang-orang nyebelin!" ujar Alia.


Hari itu semua kegiatan berjalan dengan lancar, tidak ada hal aneh apapun yang terjadi, penutupan juga berlangsung tepat waktu yaitu jam 5 sore, namun para panitia harus rapat terlebih dahulu sebelum pulang, jadi Alia pun tetap tinggal, sementara itu adiknya tinggal di asrama selama masa ospek.


Sekitar jam 7 malam rapat panitia baru selesai, Alia pun segera keluar dari ruangan dan menuju ke parkiran. Di jalan ia melihat Azam yang juga sedang berjalan menuju parkiran, tadinya Alia berniat untuk menghampirinya dan bertanya, namun tiba-tiba saja Nafisah datang dan menghentikan Alia.


"Kamu mau ngapain?" ucap Nafisah dengan nada keras.


"Bukan urusan kamu ah!"


"Kalau soal Azam, itu urusan aku juga!"


"Yee emang kamu siapanya dia? pacarnya? bukan kan!"


"Alia denger yah kamu itu udah sering merepotkan dia, kamu juga sering bikin dia terluka! apa kamu lupa saat tangannya itu terluka cukup parah cuma gara-gara kemarahan kamu yang nggak jelas itu?" Nafisah berbicara panjang lebar, dia juga mengungkit beberapa kejadian yang telah berlalu.


"Apaan si Naf orang aku cuma mau nanya aja kok! kalau nggak boleh ya udah permisi!"


Alia merasa kesal saat Nafisah mengungkit kejadian dulu, dia menjadi hilang niat untuk bertanya pada Azam. Alia pun pergi meninggalkan Nafisah dengan hati yang kesal.


Alia sampai di parkiran dan segera mengambil kunci motor untuk menghidupkan motornya.


"Nafisah apaan si, segitunya dia benci sama aku? padahal kan aku selalu berusaha menghormati dia, karena dia itu seorang Syarifah" gumam Alia.


Alia mencoba menghidupkan motornya namun tak kunjung bisa. Cukup lama ia mencoba sampai semua orang sudah pergi dan hanya tinggal dia seorang yang masih berada di parkiran.

__ADS_1


"Aduuhh ini motor kenapa lagi! pakai nggak mau nyala segala, udah tahu aku lagi kesel juga!" Alia terus mengumpat karena kesal pada Nafisah, dan sekarang ditambah lagi dengan motornya yang juga mogok.


Alia melihat ke sekelilingnya, semua tempat terlihat sudah sepi dan tidak ada orang, akhirnya diapun memutuskan untuk menelfon Irfan dan memintanya untuk menjemput Alia.


"Sayang sekarang aku lagi di depan gelora, motorku di bawa sama Lana, nanti aku telfon Lana biar jemput kamu ke situ ya, aku tunggu di sini" terdengar ucapan Irfan dari ponsel Alia.


"Eh tapi..." Alia belum selesai bicara namun telepon itu sudah terputus.


Karena tidak punya pilihan lain akhirnya Alia pun menunggu di parkiran sendiri. Sekitar 10 menit kemudian Lana tiba menggunakan motor Irfan, tadinya Alia agak enggan untuk ikut, namun setelah Lana meyakinkan akhirnya Alia pun mengikuti Lana untuk menyusul Irfan yang berada di depan gelora.


Saat sampai di depan gelora, suasananya begitu ramai sekali karena kebetulan sedang ada konser band yang cukup terkenal di halaman depan gelora. Alia dan Lana berjalan untuk menemui Irfan, namun saat Alia melihatnya, perasaannya berubah seketika.


"Lan, itu Irfan kumpul sama siapa si?" tanya Alia yang masih berdiri agak jauh dari Irfan.


"Em itu... temen Al..." jawab Lana dengan nada terbata-bata.


Alia mulai berjalan mendekat, dan apa yang ia perkirakan menjadi semakin jelas saat ia melihatnya dalam jarak yang lebih dekat.


"Lana! sejak kapan dia jadi seperti itu?" tanya Alia dengan nada yang cukup keras.


"Gila yah! berarti bener tadi pas dia angkat telepon ku itu memang lagi mabuk? sampai-sampai dia nggak sadar dan nyuruh aku buat datang ke sini buat lihat dia yang seperti itu?" Alia marah-marah dan mengungkapkan kekesalannya pada Lana, sementara itu Lana hanya bisa terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Kunci motor kamu mana?" teriak Alia.


"Bu... buat apa Al?" tanya Lana heran.


"Pulang lah! emangnya kamu pikir aku mau di antar pulang sama orang yang lagi mabuk seperti itu!"


Alia mengambil kunci motor Irfan dari tangan Lana dan berjalan pergi menuju ke parkiran untuk segera pulang ke rumah.


Lana tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menuruti kemauan Alia, karena dia juga merasa bersalah dan tidak tahu sama sekali kalau Irfan ternyata sedang mabuk.

__ADS_1


Lana menghampiri Irfan yang sedang asyik minum bersama temannya yang lain.


"Fan gila kamu yah!" teriak Lana.


"Gila kenapa si?"


"Kamu suruh aku bawa Alia ke sini, sedangkan kamu lagi seperti ini?"


"Lah terus sekarang Alia nya mana?" Irfan masih bicara dengan polosnya karena pikirannya sudah tidak sepenuhnya sadar.


"Ya pulang lah, dia marah-marah lihat kamu kaya gini, lagian sejak kapan si kamu jadi doyan minum seperti ini?"


Lana terus memarahi Irfan, namun ia sama sekali tidak peduli dan mengabaikan lana begitu saja.


Lana terus berusaha untuk menghentikan Irfan dan mencoba mengajaknya pulang, namun itu sepertinya sangat sulit dilakukan karena Irfan sudah benar-benar mabuk dan kehilangan kesadarannya.


Alia pulang ke rumah dengan hati dan perasaan yang di selimuti emosi, entah kenapa ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang sangat sial baginya, sejak masih di kampus ia berseteru dengan Meisya dan Nafisah, lalu motornya mogok, dan yang terakhir melihat orang yang sangat ia sayangi berubah menjadi seperti orang lain yang bahkan ia sendiri tidak mengenalinya.


Alia masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu, dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


"Apa ini? kenapa jadi seperti ini? orang yang sudah aku kenal bertahun-tahun kini berubah menjadi orang yang tidak aku kenal sama sekali, sebenarnya sejak kapan semuanya mulai berubah jadi seperti ini?"


Alia ingin sekali berteriak, namun tidak bisa, jadi dia hanya bisa berteriak dan melepaskan kekesalannya dalam hati, tanpa bersuara, dan tanpa ada seorangpun yang tahu.


Air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya, dia merasa sangat tidak berarti bagi orang-orang di sekelilingnya.


"Apa aku memang orang yang seburuk ini ya Allah? orang yang peduli padaku, selalu terluka setiap kali dekat denganku, orang yang aku hormati, dia membenci aku, teman sekelas ku yang aku temui setiap hari, dia memusuhi aku, dan bahkan ingin melukaiku, dan kini orang yang paling aku sayang, mulai mengecewakan aku, apa aku memang sangat tidak pantas untuk mendapatkan kebalikan dari semua ini?"


Alia menangis, meluapkan semua emosi yang ia rasakan, namun tidak bisa bersuara, hanya tetesan air mata yang mengungkapkan semua kesedihan yang ia rasakan sekarang.


Saat hatinya sedang diselimuti kegelapan, sosok wanita bergaun putih muncul dan berdiri di depannya. Dia menatap ke arah Alia sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kakak...?"


Alia melihat kedatangan sosok itu dan berdiri berhadapan dengannya, dia ingin sekali memeluk sosok itu untuk sejenak melepaskan semua beban yang sedang ia rasakan, namun ia sangat sadar bahwa menyentuhnya saja ia tidak akan pernah bisa. Tapi perlahan-lahan emosi di hati Alia mulai mereda ketika melihat senyuman tulus dari sosok kakak perempuannya itu, ia merasa kakaknya sengaja datang untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau, sama seperti sebelum-sebelumnya.


__ADS_2