Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Cobaan lain


__ADS_3

 


Tak lama setelah itu, kakak Azam yaitu Fauzi meminta Azam untuk segera pulang dari rumah Alia. Beberapa waktu kemudian mereka semua benar-benar berpamitan setelah paman Azam dan Pak Aji menentukan tanggal untuk pernikahan Alia dan Azam. Selama itu Fauzi terus saja diam, jadi yang bicara hanyalah paman Azam.


 


_____-----_____


Begitu sampai di rumah Azam, Fauzi memanggil Azam untuk bicara.


"Azam, kamu benar mau menikah dengan anak itu?" tanya Fauzi.


"Maksud Mas apa? kan kita baru saja melamarnya?"


"Tapi Aku berubah pikiran!" ucap Fauzi dengan tegas.


Azam merasa sangat terkejut dengan pernyataan kakaknya, begitu juga dengan Husna dan Fajri, kakak perempuan Azam.


"Husna, kamu masuk ke kamar dulu sana!" pinta Fajri.


Kini di ruang tamu rumah Azam hanya ada dirinya dan kedua kakaknya. Sejak kecil Azam selalu menghormati keputusan kakak laki-lakinya yaitu Fauzi, meskipun mereka terpaut usia lebih dari 10 tahun, namun mereka tidak pernah sekalipun berbeda pendapat. Fauzi sudah seperti guru yang selalu Azam hormati.


"Mas, kenapa mendadak berubah begitu? apa karena dia bukan dari keturunan tokoh agama seperti kita?" tanya Azam.


"Mas gimana si? bukannya sejak awal mas udah setuju meskipun calonnya Azam ini berasal dari keluarga biasa?" imbuh Fajri.


"Nggak! pokoknya kamu nggak bisa menikahi perempuan itu, kamu harus batalkan niatan ini!" Fauzi berteriak dengan nada cukup tinggi pada Azam.


Sejak kecil Fauzi sangat menyayangi adik laki-lakinya, dia tidak pernah sekalipun membentak ataupun memarahi Azam meskipun dalam keadaan sangat marah, namun kali ini sikapnya benar-benar membuat Azam merasa sangat kecewa.


Untuk pertama kalinya Azam meneteskan air mata karena berselisih paham dengan anggota keluarganya.


"Azam, kamu yang sabar yah, Mas Fauzi mungkin lagi banyak pikiran" Fajri mencoba untuk menenangkan adik laki-lakinya.


"Tapi Mba, baru kali ini Mas Fauzi bicara se kasar itu" ucap Azam pelan.


"Kamu benar-benar mencintai perempuan itu?" tanya Fajri.


Azam mengangguk dengan sangat yakin. Fajri berkata bahwa dia akan mencoba untuk bicara dengan kakaknya mengenai hal itu.


Dia pun berpamitan untuk pergi kembali ke rumahnya karena hari sudah semakin malam.


Karena kedua orangtuanya sudah tidak ada, maka Azam hanya tinggal bersama dengan Husna di rumah orang tua mereka yang cukup besar. Fauzi dan Fajri sudah memiliki rumah sendiri karena mereka sudah berkeluarga, namun letak rumah mereka hanya bersebelahan dengan rumah orangtuanya Azam.

__ADS_1


Azam masuk ke dalam kamar dan duduk di depan meja belajarnya. Dia menatapi burung kertas buatan Alia yang masih tersimpan di mejanya.


"Cobaan apa lagi ini?" gumam Azam.


Kini Azam hanya bisa berdoa supaya hati kakaknya mau berubah dan menerima keputusannya.


Sementara di rumah Alia hanya duduk termenung di dalam kamarnya. Dia menatapi cincin tunangannya dengan penuh diam, seolah tidak percaya bahwa sebentar lagi ia akan menikah. Tiba-tiba saja dia teringat dengan perkataan Mayra pada Alia sebelum meninggal.


"*Alia! Arrafi itu suka sama kamu! dan kelihatannya kalian cocok, aku doakan semoga kalian berdua berjodoh!"


"Alia! Arrafi itu kan punya ilmu batin, dan kamu juga, kalau kalian menikah pasti sangat cocok! dan nanti anak kalian pasti juga lebih hebat dari kalian berdua*!"


Perkataan itu yang kini sedang terngiang-ngiang di pikiran Alia, perkataan yang terus di ucapkan Mayra sehari sebelum dia meninggal.


"Mayra... andai saja kamu masih ada, pasti kamu akan jadi orang pertama yang paling bahagia dengan ini" ucap Alia pelan.


"Hiiiii hii hihihihihi"


Tiba-tiba saja terdengar suara tawa perempuan yang sangat nyaring sampai membuat telinga Alia terasa sakit. Lalu muncul sosok perempuan bergaun putih dengan rambut panjang berwarna hitam yang terbang dan melayang-layang mengelilingi Alia di dalam kamarnya.


Sosok itu terbang ke sana kemari dengan sangat cepat sampai Alia tidak bisa melihatnya dengan jelas, tawanya juga tidak berhenti sampai membuat Alia berteriak karena kesal.


"Diam!!"


Alia terdiam dan melihat ke sekelilingnya, sosok itu langsung hilang begitu Bu Mia datang.


"Ah nggak papa Mah"


"Beneran nggak papa?"


"Iya, tadi cuma ada nyamuk berisik banget jadi aku kesal" jelas Alia.


Bu Mia hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi.


Tak lama setelah itu sosok kakak perempuan Alia muncul dan berdiri di sudut kamar.


"Kakak?" ucap Alia pelan.


"Dia tidak akan melepaskan sesuatu yang sudah di anggap miliknya dengan mudah"


Hanya satu kata itu yang terdengar dari sosok kakak perempuan Alia, lalu sosok itu pun langsung menghilang begitu saja. Alia masih bertanya-tanya apa maksud dari perkataan itu.


*****

__ADS_1


Pagi itu Azam masih berada di dalam kamarnya, sedang bersiap untuk pergi kuliah.


Begitu juga Husna yang sudah siap sejak tadi dan menunggu Azam untuk pergi bersama.


Begitu Azam keluar dari kamarnya, ternyata kedua kakaknya sudah duduk di ruang tengah seolah menunggu kedatangannya.


"Mas Fauzi, mba Fajri? pagi-pagi sekali sudah ada di sini kenapa?" tanya Azam.


"Azam... mba sudah mencoba bicara sama mas Fauzi, tapi sepertinya percuma saja" ujar Fajri.


Azam pun hanya diam dan mencoba duduk di antara mereka. Dia tidak melihat ke arah Fauzi seolah menunjukkan bahwa dirinya masih kesal.


"Kamu jangan keras kepala Azam, ini juga untuk kebaikan kamu!" ujar Fauzi.


"Kebaikan apa? itu justru tidak menghormati keluarga mereka karena kita harus membatalkan lamaran yang sudah kita buat" sahut Fajri.


Azam masih terdiam melihat kedua kakaknya yang terus berdebat itu.


"Keputusan ada di tangan kamu Azam!"


"Apa aku boleh tahu apa alasan mas Fauzi berubah pikiran?" tanya Azam.


Sebelumnya Fauzi memang tidak pernah bertemu dengan Alia, dia hanya mendengar tentang Alia dari Husna dan juga Azam. Fauzi hanya berpikir jika itu baik di mata adiknya maka baik juga di matanya, namun setelah melihat Alia secara langsung dia baru tahu siapa Alia yang sebenarnya.


"Dia... dia di kelilingi oleh makhluk beraura hitam, bahkan beberapa dari mereka menempel dan bersemayam dalam tubuhnya, dan itu sangat bertentangan dengan keluarga kita" jelas Fauzi.


Azam menghela nafas panjang, dia mencoba mengutarakan keinginannya namun tetap berusaha agar tidak menyakiti hati kakaknya.


"Azam sudah tahu itu sejak lama mas"


"Lalu kenapa kamu tetap memilih dia?"


"Karena Azam mencintainya mas!"


Untuk sejenak mereka semua terdiam, tatapan Fauzi tidak lepas kepada Azam dengan sorot mata sayu yang merasa tidak rela dengan keputusan adiknya.


"Mas cuma tidak ingin kamu kenapa-kenapa, karena kamu masih tanggung jawabnya Mas"


"Insyaallah Azam nggak akan kenapa-kenapa mas"


"Terserah kamu saja, tapi maaf jika calonnya tetap dia, Mas nggak bisa hadir di pernikahan kamu"


Fauzi lalu pergi tanpa mau mendengarkan ucapan Azam dan Fajri lagi. Dia sepertinya benar-benar tidak bisa menerima Alia sebagai adik iparnya. Bukan bermaksud untuk mengecewakan Azam, namun semua itu ia lakukan karena tidak ingin adik laki-laki satu-satunya kenapa-kenapa.

__ADS_1


Meskipun begitu, Fajri mencoba untuk mengerti perasaan adiknya, dia percaya jika Azam sudah memilih maka dia sudah siap dengan segala resikonya, maka dari itu Fajri berusaha untuk tetap mendukung Azam.


__ADS_2