
Alia terkejut mendengar perkataan Zizi, dia terdiam dan belum mengerti apa yang sebenarnya dia bicarakan. Tak lama kemudian Zizi kembali berucap dengan nada yang sangat yakin.
"Kamu indigo!"
Alia hanya terdiam, dia kemudian melepaskan tangannya yang masih di genggaman Zizi, perlahan dia menjauh dan duduk tertunduk. Suasana di kamar itu menjadi sangat hening. Pikiran Alia menjadi campur aduk, identitas yang selama ini ia tutupi akhirnya ada juga yang mengetahui.
"*Jadi perasaan itu, penasaran itu, dan tatapan itu, semuanya bukan kebetulan? ternyata dia memang sudah tahu? tapi kenapa dia bisa tahu? atau jangan\-jangan*?" Alia berucap dalam hatinya.
"Kamu kenapa Al?" tanya Nida yang mengalihkan Alia dari pikiran nya.
"Ngga papa kok" Alia mencoba menenangkan dirinya, perlahan dia kembali mendekati Zizi yang masih menatapnya.
"Jadi, kamu juga?" tanya Alia pelan.
Zizi mengangguk sambil melihat kearah Mita yang masih berada di sampingnya sambil berkata "Dia juga".
"Kamu tidak usah kaget begitu, seberapapun kamu menyembunyikannya maka orang yang lebih mampu dari kamu akan tahu, karena tempat ini bukan tempat biasa" ucap Mita yang sedari tadi diam saja.
Alia kembali terdiam sementara Nida merasa bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh mereka bertiga, dia pun berusaha untuk diam dan mendengarkan saja.
"Ya! selama ini aku memang merasakannya, tapi aku tidak terlalu peduli, karena aku tidak ingin mendapat masalah lagi" jelas Alia.
"Permisi, maaf sudah mengganggu waktu kalian. Nida ayo kita pergi" Alia beranjak bangun dari duduknya dan mengajak Nida kembali ke kamarnya.
"Kamu mungkin tidak peduli, tapi dia peduli! dan seberapapun kamu acuh, dia tidak akan pergi!" ucap Zizi yang mencoba menghentikan Alia.
Alia berhenti sejenak, memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Zizi, namun ia tetap saja pergi meninggalkan kamar itu. Alia dan Nida berjalan menuju lantai bawah, saat itu Alia kembali merasa bahwa perempuan yang tadi ia lihat masih saja mengikutinya dari belakang.
Alia kembali menengok perempuan itu, namun dia kembali bersembunyi. Alia kemudian teringat dengan ucapan Zizi, dan disitulah Alia baru sadar bahwa yang mengikutinya bukanlah manusia.
"*Apa dia ingin memberitahu sesuatu? tapi kenapa aku*?" ucap Alia dalam hati.
Sesampainya di kamar Nida, Alia merasa sangat lelah, ia merebahkan tubuhnya dilantai tanpa beralaskan apapun. Tanpa sadar dia tertidur.
__ADS_1
"Kamu! bukankah kamu yang sejak tadi mengikuti aku? ada apa? kenapa kamu mengikutiku terus?"
Alia kaget karena tiba-tiba perempuan itu berada di depannya, dia bertanya-tanya namun perempuan itu hanya diam saja. Dia lalu mendekati Alia dan menyentuh kepalanya, disitu Alia seperti sedang di beritahu sesuatu. Alia melihat segalanya yang terjadi pada perempuan itu, termasuk alasan dia menjadi seperti sekarang ini.
"Alia!! bangun! ayo makan dulu!" Nida berteriak sambil menggoyangkan tubuh Alia yang terbaring di lantai.
Alia merasa kaget dan terbangun dari tidurnya, dia lalu duduk dan tidak berkata apapun.
"Ternyata cuma mimpi, tapi itu terlihat seperti nyata!"
"Malah ngalamun! ayo makan dulu" Nida kembali mengagetkan Alia.
"Da aku boleh tanya ngga?"
"Apa?" sambil mengaduk nasi dengan lauknya dan memulai makan siang.
"Pernah denger cerita ngga si kalau dulu ada yang meninggal disini?"
"Uhuk uhuk!!" Nida tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan dari Alia.
"Pelan\-pelan aja kali makannya! aku ngga minta kok!"
"Pernah ada yang meninggal disini?"
Nida terdiam sambil mengingat, kalau dirinya pernah mendengar cerita dari teman sekamarnya yaitu mba Lila.
"Oh ya! pernah denger, tapi ngga tau jelasnya, soalnya kejadian udah lama" jawab Nida sambil mengunyah makanan yang masih berada di dalam mulutnya.
"Jadi benar!" Alia bicara dengan nada cukup kencang.
"Woy lagi ngapain si! ngobrolnya jangan keras-keras! ngga enak sama yang lain!" tiba-tiba mba Lila datang ke kamar.
"Nah ini orang nya! aku denger dari dia!" ucap Nida sambil menunjuk ke arah mba Lila.
Mba Lila adalah salah satu santri senior yang sudah cukup lama tinggal di pesantren itu, dia sudah tidak bersekolah namun dia tetap ingin tinggal di pesantren karena ingin melanjutkan belajar mengajinya.
Dari lima orang termasuk Nida yang tinggal dikamar itu, mba Lila satu\-satunya yang sudah tidak bersekolah, dan dia juga merupakan santri yang paling tua dikamar itu.
__ADS_1
Alia sebenarnya agak takut untuk bertanya kepada mba Lila, karena ini baru pertama kali ia bertemu, dan lagi pertanyaan itu mungkin agak sedikit mengganggu.
"Apa!? kok nunjuk-nunjuk aku?" tanya mba Lila yang penasaran dengan pembicaraan Alia dan Nida.
"Itu Alia nanya, bener ngga dulu ada yang pernah meninggal disini" jelas Nida dengan santainya.
Alia tersenyum kecil, merasa takut jika mba Lila mungkin tidak ingin memberikan jawaban. Mba Lila terdiam sejenak lalu berkata "kamu kenapa nanya itu?"
"Eeemm cuma memastikan aja kok mba" Alia berucap dengan nada ragu.
"Ya! tapi itu udah lama, saya juga ngga tau kenapa" mba Lila menjawab dengan nada cuek, berharap agar Alia tidak bertanya lebih.
"Aku tau! eh" Alia tiba-tiba keceplosan bicara.
Mba Lila dan Nida menatap dalam kearah Alia, seolah ingin mendengar penjelasan dari kata-kata yang Alia ucapkan tadi.
"Hehe kok liatnya gitu si, kaya mau makan aku aja si"
"Jadi yang dibilang mba Zizi itu bener?" tanya Nida.
"Apa yang di bilang Zizi? terus apa maksudnya tadi kamu ngomong gitu?" mba Lila merasa semakin penasaran.
"Sebenarnya, aku ngga bermaksud, tapi dia meninggal karena jatuh dari lantai atas kan?" Alia menjelaskan dengan nada lirih.
Mba Lila terdiam, dia lalu duduk di samping Alia, sementara Nida hanya melihat saja, karena merasa sangat ingin mendengar kelanjutan dari cerita Alia.
"Tidak banyak yang tahu soal ini, hanya orang yang sudah lama tinggal disini saja, cerita ini sebenarnya sudah dikunci, dan tidak boleh diungkit lagi, karena kalau di buka lagi, nanti mungkin ada yang akan jadi korban" mba Lila menjelaskan dengan berbisik, namun Nida dan Alia masih bisa mendengar nya.
"Jadi itu benar?" Alia kaget mendengar penjelasan dari mba Lila.
"Kejadiannya kurang lebih 10 tahun yang lalu. Dengar-dengar dia bunuh diri dan melompat dari lantai atas" imbuh mba Lila.
"Nggak! dia ngga bunuh diri!" tegas Alia.
"Darimana kamu tahu? apa kamu bisa melihatnya seperti si Azam itu?" mba Lila kembali melemparkan pertanyaan pada Alia dengan nada cueknya.
"Maksudnya? Da siapa Azam?" Alia mengarahkan pandangannya pada Nida.
"Dia kan satu angkatan sama kita, anak kelas sebelah" jawab Nida.
"Ya! dia udah cukup lama tinggal di Pesantren ini, dia juga anak dari kyai terkenal di kotanya, jadi dia bisa melihat hal seperti itu. Dan saya dengar cerita itu juga dari dia" mba Lila kembali angkat bicara.
"Yang mana si Da?" Alia kembali bertanya pada Nida, karena selama ini dia sangat cuek terhadap orang lain sehingga tidak mengenal teman satu angkatan nya sendiri.
"Ah itu yang tadi berdiri di depan pintu masuk pesantren putra!" jawab Nida.
" Jadi,, dia yang selama ini ngawasin aku dari jauh?"
__ADS_1