
Alia dan Sifa mengobrol dikamar, banyak yang mereka bicarakan sebagai teman baru, dan juga teman sekamar.
"Oh ya Sif, bentar lagi kan naik kelas dua nih, nanti kamu mau ambil jurusan apa?" tanya Alia.
"IPS!" Sifa langsung menjawab dengan tegas tanpa berpikir.
"Cepet amat jawabnya".
"Iya dong. Soalnya udah aku mimpikan dari dulu aku mau ambil jurusan IPS" Sifa bicara sambil tersenyum lebar.
"Oh gitu ya"
"Iya! kamu ambil apa?" Sifa balik bertanya pada Alia.
"Aku IPA lah, udah aku impikan juga ambil jurusan itu" jelas Alia.
"Oh,, yah nanti kita ngga satu kelas lagi dong"
"Iya,, eh udah malem nih, tidur yuk" Alia berbaring di kasur yang berada di bawah tanpa adanya ranjang.
Mereka berdua tidur di bawah hanya beralaskan kasur saja, meskipun begitu, kasur yang digunakan pun cukup tebal, jadi tidak masalah jika tidak memakai ranjang.
Esoknya Alia bangun pagi-pagi sekali, dia sudah siap-siap sejak jam 6 pagi. Sementara itu dia malah di tertawai oleh Sifa yang baru saja selesai mandi.
"Kamu cepet amat udah siap, mau berangkat jam segini?" tanya Sifa sambil meledek Alia.
"Ya abis aku udah biasa, malah jam segini biasanya udah di jalan" jelas Alia.
"Aduh Alia,, kamu tu yah! sekarang kan kamu tinggal disini, jalan kaki juga ngga sampai 5menit sampai, orang cuma nyebrang doang" Sifa langsung masuk kamar dan bersiap.
Sementara Alia masih duduk di depan pintu kamar sambil menunggu Sifa selesai bersiap.
Waktu menunjukkan jam 6 lewat 45 menit dan Sifa baru saja keluar dari kamarnya.
"Sif kamu siap-siap atau tidur dulu si,, lama bener. Jam berapa ini?" Alia mulai mengeluh.
"Udahlah kamunya aja yang kecepatan! yuk berangkat sekarang"
__ADS_1
Mereka berdua pun berangkat ke sekolah berjalan kaki.
Sudah hampir dua bulan Alia tinggal dirumah nenek Mida, dia merasa cukup nyaman dan juga jarang mengalami hal\-hal aneh, karena mungkin Pak Aji sudah memberikan beberapa doa\-doa untuk Alia.
Pagi itu seperti biasa Alia dan Sifa berangkat sekolah bersama, Sudah selama itu Alia bersekolah di MA, namun hanya Sifa dan Nida yang akrab dengannya, Alia terlihat acuh dengan teman sekelas yang lainnya.
Sifa dan Alia duduk di bangku seperti biasa, namun hari ini Alia terlihat gelisah karena pelajaran sudah hampir dimulai namun Nida belum juga kelihatan.
Akhirnya guru datang dan pelajaran dimulai, tak lama kemudian Nida pun datang, dan dia terlambat masuk kelas.
"Kamu kenapa telat? ngga biasanya?" tanya Alia dengan nda khawatir.
"Ngga papa kok, tadi ada santri yang sakit, jadi aku tadi ngurus sarapan sama obatnya dulu" jelas Nida. Karena sekarang Nida sudah diangkat menjadi seorang pengurus yang bertugas di bagian dapur dan makanan, jadi dia dan pengurus yang lain harus memperhatikan makanan dan juga memberikan obat pada santri yang sakit.
"Oh siapa?" tanya Alia yang semakin penasaran.
"Namanya Ziva, biasa dipanggil mba Zizi. Dia baru pindah ke pesantren ini sekitar seminggu yang lalu, tapi ngga tau dia sering banget sakit dan sakitnya ngga jelas gitu" ucap Nida.
"Oh di kelas X apa?"
"Bukan, dia kelas XI, tepatnya XI IPS"
"Iya"
Alia semakin penasaran dengan Zizi itu dan ingin bertemu dengannya. Namun karena ujian kenaikan sekolah akan segera dilaksanakan, ia jadi lupa dengan rasa penasaran nya itu.
Meskipun baru pertama kali mendengar tentang Zizi, namun Alia terus terpikirkan dia dan ingin bertemu dengannya, sudah beberapa kali ia mencoba untuk main ke pesantren namun tidak jadi karena selalu ada halangan.
Ujian kenaikan kelas pun berakhir, Alia kini sudah menjadi siswa kelas XI jurusan IPA. Kelas yang selalu dia impikan selama ini.
Alia kembali satu kelas dengan Nida karena mereka memilih jurusan yang sama, namun tidak dengan Sifa, karena ia tetap memilih jurusan impiannya. Meskipun begitu Alia dan Sifa masih dekat dan masih tinggal satu kamar dirumah nenek Mida, neneknya Sifa.
Selama ini nenek Mida memperlakukan Alia dengan baik, sama seperti memperlakukan Sifa, cucunya sendiri, dan Alia juga sudah menganggap nenek Mida seperti neneknya sendiri. Orang tua Alia juga sering berkunjung dan silaturahmi dengan nenek Mida, mereka sudah memutuskan untuk bisa menjadi saudara.
Kali ini, meskipun sudah tidak satu kelas, Alia dan Sifa tetap berangkat sekolah bersama, namun jam pulang sekolah mereka berbeda.
Di kelas yang baru, Alia juga mempunyai beberapa teman sekelas yang baru, ada juga teman sekelas yang lama. Namun Alia masih saja tidak terlalu peduli, dia berteman dengan yang lain sekedarnya saja
__ADS_1
Jam pulang sekolah berbunyi, waktu itu Alia baru saja keluar dari kelasnya, dia berjalan bersama Nida menuju gerbang sekolah. Dijalan dia berpapasan dengan seorang siswa perempuan yang menurut nya terlihat sangat aneh, saat mereka berada di posisi yang terdekat Alia berasa ada hawa panas yang melintas dan mengikuti siswa itu.
Alia berbalik dan menatapnya, begitupun sebaliknya, siswa itu menatap Alia dengan tatapan yang aneh.
Melihat hal itu Alia langsung berbalik dan menyeret Nida.
"Da itu siapa Da?" tanya Alia yang penasaran.
"Mana?"
"Itu lho yang tadi papasan, yang penampilannya agak aneh gitu" jelas Alia.
"Oh itu, dia mba Mita, anak kelas XII IPA, dia baru pindah kesini pas kenaikan kemarin" Nida menjawab pertanyaan Alia dengan detail.
"Oh tinggal di Pesantren juga"
"Iya, dan dia juga dekat sama mba Zizi"
"Oh iya mba Zizi, udah hampir lupa kalau aku pengin ketemu sama dia" Alia kembali teringat dengan Zizi yang sangat ingin dia temui.
"Oh masih ingat, aku kira sudah lupa, lagian kenapa si kok pengin banget ketemu dia, kaya udah kenal aja!" Nida agak sewot.
"Eh kok gitu si, aku cuma penasaran aja kok hehe jangan marah lah" Alia mencoba menghibur Nida.
"Y udah besok sebelum eskul ke kamarku, nanti aku antar kamu, kebetulan juga dia sekarang lagi sakit"
Nida dan Alia pun berpisah di depan gerbang sekolah. Alia berjalan pulang sendirian ke rumah nenek Mida. Namun tiba-tiba...
Bruuggg!!
"Ah sakit!" Alia menggerutu ketika ada seseorang yang berlari dan tanpa sengaja menabraknya.
"Woy! jalan lihat-lihat dong!" orang itu berteriak kepada Alia.
__ADS_1
"Apaan! kamu yang nabrak kok malah jadi kamu yang marah! harusnya kamu minta maaf!!" Alia berbalik dan kaget melihat seorang siswa laki-laki dengan badan tinggi dan agak besar menatapnya. Wajahnya sebenarnya tidak terlalu garang, bahkan kulitnya putih bersih, yang membuatnya terlihat menakutkan karena ia memakai celak (penghitam garis mata bagian bawah) yang sangat tebal, dan itu membuatnya terlihat menakutkan.
Alia terdiam dan menatapnya dengan rasa penasaran, entah apa yang membuatnya mempunyai perasaan itu. Namun, tanpa berucap apa-apa dia langsung pergi meninggalkan Alia sendirian.