Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Perpisahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari perpisahan untuk kelas 9 yang sudah selesai melaksanakan ujian Nasional.


Para siswa kelas 9 semuanya hadir beserta wali mereka masing-masing, begitu juga Alia. Dia datang bersama Mama nya.


"Al kamu kok datang telat si! bukannya lebih awal ke bantuin!" Afi mengoceh pada Alia karena ia datang sesuai dengan jam undangan.


"Apaan si, ini kan baru jam 9, lah undangan jam 9, ya ngga telat lah" jawab Alia dengan singkat.


Afi melotot dan melihat Alia dengan pandangan yang mengerikan.


"Eh kamu biasa aja dong, lihatnya kaya mau makan aku aja!" Alia masih menjawab dengan santainya.


"Susah ngomong sama kamu! udah sini cepetan bantuin aku!" Afi langsung menyeret tangan Alia dan membawanya keruang dimana para siswa kelas 9 sudah berkumpul.


Saat berjalan menuju ke ruangan, tiba\-tiba dari jauh Alia melihat seseorang memasuki gerbang sekolah dengan mengendarai sepeda motor berwarna merah.


"Aldi?"


Ternyata dia adalah Aldi yang datang bersama dengan ibunya.


"mau sampai kapan lihatnya?" ucap Afi yang makin geram melihat Alia terus memandangi Aldi.


Alia tidak menjawab, dan meneruskan jalannya menuju ruang berkumpul para siswa. Ia kembali teringat tentang hal yang ia lihat kemarin malam, dan masih belum tahu apa maksud dari semua itu.


"Al aku tahu kamu suka sama Aldi, tapi ngga gitu juga kali lihatnya!" Afi kembali menyadarkan Alia dari lamunannya.


"Kapan aku bilang kalau aku suka dama Aldi?"


"Aduh udah deh,, dari cara kamu tadi lihatin dia terus!"


"Aku lihatin dia bukan karena itu! tapi karena sesuatu!"


Mendengar perkataan Alia, Afi mulai menatap Alia dengan serius. Sementara Alia seolah tahu bahwa sahabat nya itu ingin mendengar penjelasan darinya.



Alia mencoba menceritakan semua yang ia lihat kemarin malam kepada Afi. Setelah mendengar cerita Alia, Afi mulai menduga\-duga apa yang akan terjadi.

__ADS_1



Mungkinkah kejadian itu akan sama seperti yang dialami olehnya beberapa waktu lalu, atau mungkin akan terjadi hal lain yang lebih mengerikan.



"Aku juga ngga tahu betul itu maksudnya apa Fi, dan aku juga ngga bisa menebak apa yang akan terjadi" ucap Alia yang masih terus memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi.


"Tapi yang aku lihat ini jelas beda sama waktu itu aku ngelihat kamu" imbuhnya lagi.


"Ya sudahlah ngga usah dipikirkan lagi, ayo cepat teman\-teman sudah nungguin! kamu sama aku kan anggota paduan suara, jadi masih harus gladi bersih sekali lagi sebelum naik panggung!"


Mereka berdua bergegas menuju ke ruangan untuk berlatih paduan suara.


Setelah Alia dan Afi sampai diruang latihan, tak lama kemudian Aldi juga datang. Mereka semua menyempatkan untuk berlatih terlebih dahulu sebelum tampil.


"Emmmm kayaknya masih ada yang kurang nih" ucap Afi sembari melihat sekeliling.


"Oh iya aku lupa!" Alia menepuk keningnya sendiri, ia teringat akan sesuatu yang tertinggal, benda itu adalah sebuah kancing berbentuk pita yang dipesan untuk dipakai para anggota paduan suara. Karena itu adalah tugas Alia, jadi setelah mengambil nya dari toko ia langsung membawa kerumahnya.


"Hehehe sorry, ketinggalan dirumah" Alia berkata sambil senyam\-senyum karena lupa.


Tanpa banyak bicara Alia pun berniat untuk mengambil nya segera, karena masih ada cukup waktu jik ia harus pulang dulu untuk mengambil kancing pita itu.


"Pake motor aja al biar cepet! kalau naik bus kelamaan!" ucap salah seorang teman.


"Bener juga tuh, tapi aku kan ngga bawa motor" Alia berucap dalam hatinya.


"Itu lho bapak ketua OSIS kan bawa motor tuh, pinjem punya dia aja!" tiba-tiba Afi asal bicara.


"Udah bukan ketua OSIS lagi lah, udah pensiun!" jawab Aldi sembari membalas candaan Afi.


Alia terdiam, dia berfikir sejenak.


"Oh aku anterin aja yuk" Aldi langsung menawarkan dirinya.


"Eh ngga usah, aku pinjam motornya aja, aku bisa ambil sendiri kok" ucap Alia.

__ADS_1


"Udah ngga papa, aku antar aja!" Aldi tetap kukuh untuk mengantarkan Alia.


"Udahlah jangan debat! kelamaan! udah sana kalian berdua berangkat!" Ucap Afi seolah mengusir Alia dan Aldi.


Alia dan Aldi pun pergi kerumah Alia untuk mengambil kancing pita yang tertinggal, selama perjalanan tak ada satupun kata yang terucap dari Alia maupun Aldi.


Mereka berdua seperti orang yang sedang bermusuhan. Tak lama kemudian mereka kembali sampai disekolah, dan setelah itu mereka semua bersiap untuk naik ke atas panggung dan menyanyikan sebuah lagu perpisahan.


"Huh akhirnya lancar juga! aku tadi deg\-degan banget tau!" Afi terus saja bicara, namun Alia masih saja diam.


"Al kamu tahu ngga!"


"Kalau kamu ngga ngomong ya gimana aku tahu!"


Alia menjawab ucapan Afi dengan sangat cuek.


"Tadi aku lihat Dina nangis tuh!"


"Terus apa urusannya sama aku!"


"Ya jelas urusan kamu lah!"


Alia terdiam, dia masih tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Afi. Alia kemudian menatap Afi dengan tatapan yang sangat dingin, seolah bertanya apa yang sedang ia bicarakan.


"Dina itu nangis gara-gara lihat kamu boncengan sama Aldi!" jelas Afi.


Alia terdiam sejenak, "Hahahahahahaha" tiba-tiba Alia langsung tertawa dengan lepas seperti orang yang tak punya beban.


"Yah,,, anehnya kumat lagi dia!" Afi menggerutu, karena sudah terbiasa dengan kelakuan aneh sahabat nya itu.


"Serius kamu?" tanya Alia yang masih saja tertawa.


"Buat apa aku bohong!" Afi mulai kesal dengan respon Alia yang begitu tidak serius.


"Hahaha kok bisa gitu yah! kaya anak kecil banget si!"


Mereka berdua asyik bicara sampai Alia telah melupakan apa yang sedang ia pikirkan sedari kemarin.

__ADS_1


__ADS_2