
Pak Aji menghela nafasnya, sebenarnya ia merasa berat untuk menceritakan hal buruk seperti itu, namun ia sangat ingin putrinya itu bisa mengerti hal yang memang benar\-benar terjadi.
Alia fokus melihat ke arah Papa nya, menunggu sebuah cerita apa yang akan di sampaikan oleh Papa nya.
Pak Aji terdiam sejenak, setelah memikirkan matang-matang akhirnya dia pun mulai bercerita.
Cerita Papa
Dulu Papa punya teman dekat, dekat sekali, kami berteman sejak kecil. Namanya Pak Hari, usianya memang lebih tua dari Papa, kurang lebih 7 tahun di atas Papa, dia sudah seperti kakak bagi Papa, karena kebetulan semua saudara Papa itu perempuan, dan hanya Papa sendiri yang laki-laki.
Waktu itu Pak Hari menikah, dan kami sudah jarang bertemu karena dia sibuk bekerja di ladang untuk mencukupi kebutuhan keluarga barunya.
Diawal dia menikah, kehidupan rumah tangganya tidak ada masalah, dia bahkan dikaruniai 3 orang anak dalam waktu singkat, tapi keadaan ekonominya memang teramat sangat kurang, selalu saja ada cobaan yang menimpa, seperti gagal panen dan hasil berkebun nya tidak cukup untuk menutup kebutuhan.
Saat itu Papa pergi merantau ke luar kota dan pulang setelah beberapa tahun.
Kurang lebih 5tahun kemudian kami bertemu kembali, dan ternyata dia sudah bercerai dengan istrinya itu.
Awalnya kehidupan rumah tangga mereka sangat baik, tapi karena Pak Hari tidak bisa terus menerus terima dengan keadaaan ekonomi yang sangat turun, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah gunung.
Dia menemui seorang kakek penjaga gunung itu dan berkeluh kesah tentang masalah yang ia hadapi. Kakek tua itu memberitahu Pak Hari bahwa ia bisa mendapatkan harta kekayaan dengan cepat hanya dengan berziarah ke makam yang ada di puncak gunung itu.
Karena pak Hari merasa sudah tidak punya jalan lain, ia akhirnya pun memutuskan untuk pergi ke gunung itu. Sebelum pergi, Pak Hari berpamitan kepada istrinya untuk bekerja keluar kota, dia memeluk anak pertama dan keduanya yang berusia 4 tahun dan 2 tahun. Setelah itu, ia juga mencium kening anak bungsunya yang masih berusia beberapa bulan. Ketiga anak Pak Hari itu semuanya laki-laki.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan anak dan istrinya Pak Hari pun segera berangkat. Ia kembali ke tempat kakek penjaga itu sambil membawa seekor ayam kampung jantan yang belum terlalu tua. Itu adalah salah satu syarat yang diminta oleh kakek penjaga itu.
Setelah diberi perbekalan oleh kakek penjaga itu, Pak Hari pun mulai mendaki gunung. Pada masa itu, jalan menuju puncak gunung itu masih sangatlah terjal karena masih jarang terjamah oleh manusia.
Jalannya masih berupa tanah sempit yang menempel pada bukit dan jurang di sekitarnya, Butuh waktu sekitar sehari semalam untuk bisa sampai ke puncak karena akses jalan yang masih sangat sulit.
Pak Hari mendaki gunung itu dengan membawa seekor ayam jantan yang diminta oleh kakek penjaga tadi.
Setelah sampai di puncak, dia harus mengurung ayam itu di dekatnya. Kakek penjaga itu meminta pak Hari untuk berpuasa Pati Geni selama 40 hari di dekat makam yang berada di puncak gunung itu.
Pada waktu itu belum di bangun sebuah gubug atau apapun di sana, jadi hanya ada sepasang makam tua yang tidak terawat.
Pak Hari duduk di bawah pohon besar dekat makam itu dan memulai pertapaannya. Dia berpuasa 40 hari penuh dan tidak turun gunung selama itu, dia hanya minum air dari mata air dan memakan umbi-umbian. Setelah hari ke empat puluh, kakek tua itu datang menemui Pak Hari, dia melakukan ritual terakhir dari usaha Pak Hari yaitu berdoa di depan makam dengan menggunakan bahasa Jawa yang agak sulit dimengerti oleh orang awam.
Setelah selesai berdoa, kakek tua itu menyuruh Pak hari untuk menyembelih ayam jantan yang di bawanya. Kakek tua itu memberikan sebuah belati kecil dan meminta pak Hari untuk segera melakukan ritual terakhir.
"Hai anak muda, mengapa kamu berhenti, ayo cepat lakukan ritual terakhir!" ucap kakek tua itu pada Pak hari.
Dengan cepat Pak Hari pun menyembelih ayam itu dan segera menyelesaikan ritual agar bisa cepat pulang untuk menemui anak-anaknya di rumah.
Begitu Pak Hari menggoreskan belati tajam itu di leher ayamnya, ayam itu terus meronta-ronta dan membuat Pak Hari cukup kesulitan, butuh waktu cukup lama sampai ayam itu benar-benar mati dan tidak bergerak lagi.
Setelah ayam itu benar-benar mati, Pak hari memberikan ayam itu pada kakek penjaga untuk di urus.
"Pulanglah anak muda, setelah ini kamu tidak akan kesusahan lagi, dan jangan lupa untuk membuat selamatan di rumahmu begitu sampai" ucap kakek tua itu.
Kakek tua itu juga berkata bahwa setiap 3 bulan sekali Pak Hari harus datang ke puncak gunung dan berpuasa selama 3 hari di dekat makam, lalu mengadakan selamatan setelah sampai di rumah.
__ADS_1
Pak Hari mengingat baik-baik ucapan kakek itu, dia bergegas untuk turun gunung dan pulang kerumahnya karena sudah rindu sekali pada anak-anaknya di rumah, terutama putra sulungnya.
Setelah melakukan perjalanan selama 2 hari akhirnya Pak Hari sampai di rumah, namun ia sangat kaget saat melihat ada begitu banyak orang di rumahnya. Dia pun berlari masuk ke rumah dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pak Hari terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa saat melihat putra sulungnya terbaring kaku di tempat tidur dan sedang di bacakan surat Yasin oleh beberapa tetangganya. Istrinya menangis di kamar sembari memeluk putra kedua dan ketiganya.
"Anakku? anakku kenapa? kenapa dia seperti ini?" teriak Pak Hari, namun semua tetangga hanya diam dan tidak berkata-kata.
"Mas Hari! kamu pulang mas!"
Istri pak Hari segera berlari menghampiri Pak Hari sambil menggendong putra bungsunya, dia terus menangis sambil berkata "Nanang mas, Nanang...."
Pak Hari mencoba bertanya pada istrinya, sebenarnya apa yang terjadi pada anaknya.
Istri Pak Hari langsung mengatakan bahwa dua hari yang lalu anak sulungnya itu tiba-tiba menangis histeris, dia berteriak kesakitan dan terus memegangi bagian lehernya. Suhu tubuhnya berubah menjadi panas dan membiru, dia juga melihat mulai muncul luka merah di leher putranya, istrinya mencoba memanggil mantri dan juga dukun bayi, namun keadaan masih tetap sama.
"Nanang terus saja berteriak kesakitan, dia memanggil-manggil kamu terus mas, sampai akhirnya tadi pagi mantri bilang kalau dia sudah nggak bisa tertolong" jelas istri Pak Hari sambil menangis.
Pak Hari benar-benar sangat terpukul, dia tidak bisa berkata-kata lagi, pantas saja selama di perjalanan ia merasa sangat merindukan putra sulungnya itu.
Beberapa warga menyarankan untuk segera mengubur putra Pak Hari, dan dia hanya setuju saja karena sudah tidak tahu harus berbuat apalagi. Pak Hari akhirnya tetap merahasiakan kepergian dirinya ke gunung pada istrinya.
Keesokan harinya tiba-tiba saja ada orang yang datang dan berkata dia mau bekerjasama dengan Pak Hari untuk mengolah ladang. Orang itu bersedia memberikan modal berapa saja untuk mengolah ladang Pak Hari dan hasilnya di bagi 2.
Dengan senang hati Pak Hari pun langsung menerima tawaran itu, setengah dari uang yang diberikan itu ia gunakan untuk mengadakan selamatan, seperti yang sudah di perintahkan oleh kakek penjaga gunung itu.
Sejak hari itu Pak Hari kembali bekerja di ladang dan tinggal di rumah bersama istri dan kedua putranya.
__ADS_1