
Alia mencoba untuk bangun dari tempat duduknya dan menuju ke kamar kecil untuk membasuh mukanya. Setelah itu ia berniat untuk kembali keruang panitia dimana Mayra sedang tertidur disana sendirian.
Dari kejauhan terlihat ada seseorang yang sedang berdiri di samping pintu, Alia mencoba untuk mendekatinya karena penasaran.
"Ngapain kamu berdiri di situ!?"
Alia menghampiri orang itu dan ternyata itu adalah Azam yang sedari tadi sedang berdiri di sana, namun saat Alia keluar tadi tidak menyadari keberadaannya karena buru-buru.
"Kamu lengah! apa yang sedang kamu pikirkan?"
Azam berbicara dengan nada yang sangat lembut, namun pandangan nya tetap lurus ke depan seolah tidak ingin bertatapan dengan Alia.
"Itu bukan urusan kamu!"
Alia mulai kesal dengan ucapan Azam, dia mencoba untuk berjalan masuk ke ruangan dan meninggalkan Azam di luar.
"Ini milikmu?"
Alia tiba-tiba berhenti ketika Azam bicara sambil menunjukan sesuatu di atas telapak tangan kanannya. Alia melirik, dan ternyata benda yang di tunjukkan Azam adalah sebuah batu putih kecil yang bersinar milik Alia.
"Dari mana kau mendapatkan itu?"
Alia berbalik dan mendekat, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil batu yang berada di atas telapak tangan kanan Azam, namun dia tiba-tiba berhenti karena teringat sesuatu.
"Kenapa?"
Azam heran ketika melihat Alia tidak jadi mengambil batu yang ada di tangannya. Alia lalu duduk di kursi yang ada di sebelah pintu. Di sana terdapat dua kursi dan satu meja yang berada di tengah-tengah.
Alia terdiam, Azam lalu duduk di kursi sebelahnya dan berjarak sebuah meja di tengah. Azam lalu meletakkan batu itu di atas meja, dan tanpa bicara Alia pun langsung mengambilnya.
"Itu peninggalan dari sesepuhnya kamu iya kan?"
Azam bertanya, namun Alia malah kaget mendengar pertanyaan Azam.
"*Bagaimana dia tahu? aku bahkan tidak tahu batu* *itu dari mana asalnya*!" Alia hanya bergumam dalam hati.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sehingga kamu bisa lengah seperti tadi?" tanya Azam.
"Itu tidak ada hubungannya denganmu!"
"Aku sudah tahu semuanya, kenapa kamu masih tidak mau bicara?"
"Kalau kamu tahu, lalu kenapa masih bertanya! dasar aneh!"
Alia mulai kesal dan dia pun bangun dari duduknya lalu berniat untuk masuk ke dalam ruangan, namun Azam kembali menghentikan dia.
__ADS_1
"Apa karena Irfan?"
Alia tiba-tiba berhenti, dia berbalik namun masih tidak berkata-kata. Dia kembali duduk di kursi tadi dan menatap Azam dengan tatapan kesal.
"Ayo ngomong!"
Alia berucap dengan sangat singkat, namun dari perkataan itu Azam sudah tahu bahwa Alia ingin mendengar penjelasan yang ingin di sampaikan oleh Azam.
"Aku hanya tidak ingin kamu kenapa\-kenapa!"
"Berhentilah bicara omong kosong!"
"Aku tahu semua yang Irfan lakukan sama kamu!"
Suasana menjadi sangat hening setelah Azam berbicara, karena Alia kembali terdiam, dia menengok ke arah Azam lalu membuang pandangannya lagi.
Entah kenapa hati Alia merasa sakit, ia juga merasa takut tentang hal yang akan dikatakan oleh Azam selanjutnya, seolah-olah dia tidak ingin mengetahui kebenarannya.
"Cukup aku tidak mau dengar lagi"
"Tapi mau sampai kapan? kamu harus tahu!"
Alia mulai bicara dengan nada tinggi, tiba-tiba air matanya mulai menetes, dadanya terasa sakit dan nafasnya begitu sesak. Ia akhirnya sadar bahwa hal yang selama ini ia takutkan, yang selama ini selalu ia pikirkan, ternyata adalah kenyataan namun masih sulit untuk menerima hal itu.
"Maaf, aku tidak berniat" Azam merasa bersalah ketika melihat air mata Alia mulai menetes.
"Aku tahu, itu bukan masalah"
Alia menghela nafas, mencoba menahan air mata yang tidak mau berhenti untuk menetes. Perlahan ia mulai menyeka air matanya dengan kedua tangan, lalu Azam menyodorkan sebuah sapu tangan kepada Alia. Tanpa bicara Alia pun langsung mengambil sapu tangan itu dan di gunakan untuk menyeka air matanya.
"Bicaralah aku akan dengar"
Meskipun Azam sudah tahu semuanya, namun ia tetap ingin Alia untuk bicara, agar Alia bisa membagi rasa sedihnya dan membuat hatinya merasa lebih lega.
Alia merenung sejenak, menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Kau tahu, aku dulu pernah membuat orang yang aku sukai meninggal, bertahun\-tahun aku hidup dengan rasa bersalah aku berusaha keras untuk melupakan itu sampai akhirnya aku bertemu Irfan, rasa itu sangat berbeda ketika aku melihatnya. Aku tahu, banyak yang menasehati, banyak yang mengingatkan, banyak juga yang mengatakan bahwa dia bukan orang baik, aku sendiri bahkan sangat sadar dengan pengaruh itu. Jika aku mau aku bahkan bisa menghilangkannya, tapi semua itu tidak akan ada bedanya, karena sebelum Irfan menggunakan kemampuan nya entah itu pelet atau guna\-guna, aku memang sudah menyukai dia, jadi tidak ada bedanya bagiku. Aku pikir itu cukup hanya dengan aku yang mencintai dia, aku bahkan mulai bisa melupakan Ardian \(mantan kekasih yang sudah meninggal\).
Aku bahkan sangat senang bisa menjadi teman baiknya, sampai dia menceritakan tentang orang yang dia cintai, persahabatan kami mulai berubah, dia mulai memusuhi ku, bahkan..."
Alia tidak mampu untuk meneruskan ucapannya, air matanya kembali mengalir deras ketika dia mengingat kejadian tempo hari, dia bahkan masih tidak percaya bahwa itu adalah perbuatan Irfan.
"Itu semua bukan salahmu"
__ADS_1
Azam merasa kecewa saat mendengar pernyataan tentang perasaan Alia yang sebenarnya, namun dia berusaha untuk tetap tenang, dia juga berusaha untuk menenangkan Alia, dia mencoba untuk menyentuh kepala Alia dengan tangannya untuk mendinginkan pikiran Alia.
Alia semakin terduduk, tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir, dia bahkan menutup kedua matanya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Azam.
"*Perasaan apa ini? kenapa aku merasa begitu tenang saat dia meletakkan tangannya diatas kepalaku seperti ini*?" Alia membuka matanya dan bergumam dalam hati.
"Jadi tentang pengaruh itu?" tanya Azam sembari menarik kembali tangannya dari atas kepala Alia.
"Aku tahu dia sudah menariknya, tapi perasaanku masih sama"
"Dan itu yang membuat kamu menjadi lengah sampai bisa di rasuki dengan mudah!"
"Aku tahu aku salah"
Azam terdiam mendengar jawaban Alia yang merendah, ini pertama kalinya dia tidak menyangkal ucapan Azam, jadi Azam tidak berani untuk bicara lagi karena dia tahu bahwa hati dan pikiran Alia sedang kacau sekarang.
"Kenapa kamu diam?" tanya Alia yang heran ketika melihat Azam hanya diam, karena biasanya dia selalu menjawab apa yang dikatakan oleh Alia.
"Jaga hati dan pikiranmu, Jangan sampai siapapun menguasai dirimu, dan yakinlah masih ada orang yang mencintai kamu lebih dari kamu mencintai dia"
"Eh kamu belum menjawab kenapa batu itu tadi bisa ada di tanganmu!?"
Alia tiba-tiba teringat tentang pertanyaan nya yang belum dijawab oleh Azam, namun sikap Azam menjadi sangat gugup ketika Alia kembali bertanya hal itu.
"Kamu tadi yang ngusir mahluk itu?"
"Kamu tahu itu"
Alia kembali berfikir, dia merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Azam.
"Tapi kenapa saat dia hilang batu itu langsung berada di tangan kamu?" Alia kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
"Dia sebenarnya tertarik dengan batu itu"
"Oh pantas saja dia muncul di belakang Mayra saat Mayra memegang batu itu"
__ADS_1
Sementara itu, dari kejauhan tanpa sengaja Amar melihat Alia dan Azam yang sedang duduk bersama di depan ruang panitia.
"*Mungkin aku hanya bisa menyimpan rasa ini dalam hati*" ucap Amar.