Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Rasa yang salah


__ADS_3

Hari\-hari berjalan seperti biasa, setelah pengumuman kelulusan siswa kelas XII di laksanakan, pembagian raport kenaikan kelas juga dilaksanakan.


Setelah menerima pengumuman, banyak para santri yang pulang meninggalkan pesantren untuk melanjutkan sekolahnya, dan ada juga beberapa yang masih bertahan tinggal di pesantren.


Hari itu adalah hari pertama Alia di kelas XII, ternyata ia kembali satu kelas dengan Nida dan Mayra.


Karena masih awal masuk, jadi belum ada pelajaran yang di mulai, hanya beberapa pengumuman jadwal saja.


Siang itu Alia menuju ke pesantren, dia menemui Zizi dan juga Mita yang hendak pergi dari pesantren karena harus meneruskan sekolahnya.


"Jaga diri baik\-baik ya Al!" ucap Zizi sembari mengemasi barang\-barang nya.



"Iya mba, mba juga, jangan lupa sama aku!"


Mereka berdua mengobrol cukup lama, karena akan berpisah satu sama lain dan tidak bisa ditentukan kapan lagi akan bertemu.


"Alia, kamu harus hati\-hati! dia itu masih disini, dan masih ngawasin kamu!" Mita tiba\-tiba membuat Alia merasa takut.



"Tapi bukankah itu sudah pergi waktu diadakan doa bersama?" tanya Alia.



"Itu tidak mengusirnya, hanya mengunci nya, dia tidak bisa berbuat apapun, tapi jika kamu lengah, maka itu bisa terjadi lagi!" imbuh Zizi.


Karena akan pulang ke rumah masing-masing, Zizi dan Mita sama-sama memberikan nomor ponsel mereka kepada Alia agar bisa tetap saling berhubungan dan bertemu di waktu luang.


Tanpa terasa adzan dhuhur sudah berkumandang, semuanya bergegas mengambil air wudhu dan menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.


Setelah selesai sholat, Alia memutuskan untuk pulang, namun Mayra masih ingin tinggal jadi Alia pulang sendirian. Begitu keluar dari pesantren Alia langsung menuju ke parkiran sekolah untuk mengambil motornya.


"Alia!"


Terdengar suara memanggil Alia dan mendekatinya. Alia menengok ke belakang dan ternyata orang itu adalah Irfan.


"Ya, ada apa ka?"



"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


Alia terdiam, dia menjadi sangat penasaran dan ingin tahu hal apa yang akan dibicarakan dengannya.


Alia sebenarnya merasa sangat senang karena orang yang ia sukai bisa lulus dan mendapatkan nilai bagus, dia juga sudah diterima di universitas yang diinginkannya, tapi di sisi lain Alia juga merasa sedih karena mulai saat itu ia tidak akan melihat Irfan lagi, dan dia hanya bisa memendam perasaannya sendirian.


"Mau ngomong apa? kelihatannya serius banget"



"Aku mau minta tolong sama kamu"



"Apa?"



"Kamu itu satu\-satunya junior cewe yang jadi temen baikku, jadi aku mau cerita sama kamu"


Alia terdiam, dia menjadi semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Irfan.


"Aku sebenarnya suka sama seseorang"


Irfan berucap dengan nada ragu, sementara Alia merasa kaget melihat ekspresi Irfan yang seperti itu, karena selama ini ia mengenal Irfan sebagai orang yang suka ceplas-ceplos dan tidak punya rasa ragu.


"Siapa?" tanya Alia dengan wajah yang sangat penasaran.

__ADS_1



"Dia anak pesantren, dan junior juga"


Deg! Alia sangat kaget ketika mendengar pernyataan Irfan bahwa orang yang dia sukai adalah seorang santri, dan itu sudah jelas pasti bukanlah Alia.


Perlahan wajah Alia berubah, dia mulai merasa putus asa karena perasaannya yang selama ini hanya dirasakan olehnya sendiri.


"Oh terus kenapa kasih tau aku?"


Alia mencoba untuk tetap bersikap seperti biasanya, meskipun dari sorot matanya sangat terlihat bahwa ia merasa kecewa.


"Aku minta tolong sama kamu"



"Apa?"



"Tolong jagain dia, karena aku bakalan pergi dari sini, dan mungkin jarang ke sini"



"Cih enak aja? emangnya aku bodyguard apa!"


Alia masih berusaha untuk bersikap seperti biasa dan mencoba untuk mengejek dan juga bercanda untuk menghibur dirinya sendiri.


"Serius ini! aku suka sama dia itu udah lama, bahkan sebelum kamu sekolah disini"


Irfan kembali bicara, dan sejujurnya Alia baru pertama kali ini melihat Irfan bicara dengan serius dan penuh harap. Dia benar-benar terlihat sangat menyayangi orang itu.


"Emang siapa dia?"


Alia mencoba bertanya, meskipun ia sebenarnya tidak ingin tahu juga siapa orang yang disukai oleh Irfan.


"Namanya Dista, sekarang berarti dia kelas XI"


"*Dista? anak sepolos dia? kenapa bisa dia si*!?" gumam Alia dalam hatinya.



"Woy ngalamun lagi! udahlah pulang sana!"



"Tunggu eh..."


Irfan pun pergi meninggalkan Alia yang masih bingung di parkiran, dia akhirnya memutuskan untuk segera pulang kerumahnya.


Setelah sampai di rumah ia langsung masuk ke kamar dan beristirahat. Alia membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya, dia menatap kearah langit-langit kamarnya.


"*Dista ya? ternyata orang yang selama ini dia sukai adalah Dista, junior yang ngakunya ngefans bangat sama aku? kok aku jadi kelihatan kaya orang bodoh yah*?" Alia terus mengumpat dalam hatinya.


Tak lama kemudian dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil kedua barang pemberian dari Irfan. Ia meletakkan nya diatas meja belajar dan menatapinya.


"Jadi selama ini aku cuma salah paham aja sama perasaan dia? aku yang terlalu berharap? aku terlalu bodoh hingga membiarkan perasaan ini terus tumbuh! dia hanya menganggapku sebagai teman baik, tapi aku begitu bodoh karena menginginkan hal yang lebih"


**********


Keesokan harinya Alia berangkat sekolah seperti biasa, pada waktu istirahat siang ia memutuskan untuk mencari dimana kamar Dista dan menemuinya.


"Eh mba Alia, kenapa ke kamarku?"


Dista terlihat sangat girang ketika melihat Alia datang ke kamarnya. Dia pun langsung mempersilahkan Alia untuk duduk.


"Aku mau ngomong sama kamu, berdua"


Alia bicara dengan nada agak berbisik sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Dista begitu penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Alia, dia mengajak Alia untuk pergi ke balkon atas di luar kamarnya dan bicara berdua.

__ADS_1


"Jadi kenapa mba?"



"Kamu ada hubungan sama Irfan?"



"Irfan? enggak kok,, kenapa tiba\-tiba nanya itu?"



"Kamu ngga tau kalau dia suka sama kamu?"


Dista menggelengkan kepalanya dan Alia pun kembali kaget karena ternyata Irfan selama ini hanya memendam perasaannya.


"Apaan si mba! kalaupun aku tau juga aku ngga bakalan mau sama dia!" ucap Dista dengan ekspresi yang sangat serius.



"Kenapa?"



"Nggak! pokonya aku ngga suka sama dia!"


Dista menjawab dengan wajah yang terlihat khawatir, karena di memang memiliki sifat yang ke kanak-kanak an dan manja.


Mendengar pernyataan Dista, Alia langsung pergi dan mencoba untuk mencari Irfan.


Alia pergi ke kantin sekolah, dan ternyata dia sedang berada di sana bersama temannya.


"Ngomong sebentar boleh?" tanya Alia.



"Apa?"



"Kamu gila yah? suka sama dia, tapi dianya ngga tau! aku pikir kalian udah sama\-sama suka!"



"Hehe belum saatnya aku bilang ke dia"



"Tapi kamu bilang ke aku?"



"Kamu adalah orang pertama yang aku kasih tau"



"Tapi dia ngga suka sama kamu!"



"Itu bukan urusan kamu! aku cuma minta kamu buat jagain dia!"


Alia mulai merasa kesal ketika pembicaraan mereka semakin menarik emosi satu sama lain. Entah kenapa Irfan menjadi terlihat marah ketika Alia mengatakan kenyataan bahwa Dista tidak menyukainya.


"Aku ngga mau!"


Alia masih mencoba untuk mengejek Irfan dengan terus menolak permintaan nya, namun Irfan malah menganggap ucapan Alia itu serius dan dia menjadi semakin emosi.


"Denger yah kalau sampai dia kenapa\-kenapa, kamu akan tahu akibatnya, aku bahkan bisa membuat kamu merasakan sakit tanpa aku menyentuhmu!"

__ADS_1


Nada bicara Irfan terdengar semakin mengerikan, bahkan dia terlihat sangat serius dengan ucapannya itu. Irfan pun langsung pergi meninggalkan Alia dengan wajah yang sangat kesal, sementara Alia hanya terdiam melihat ekspresi Irfan yang sangat marah.


"*Segitu sayangnya kamu sama dia? sampai ngancem aku kaya gitu*?".


__ADS_2