
Alia dan Amar saling diam karena Alia merasa sangat bingung dengan perkataan yang barusan diucapkan oleh Amar.
"Kamu serius?"
Alia bicara pelan dengan nada yang juga serius. Kedua matanya menatap sekeliling wajah Amar seolah masih tidak percaya bahwa itu adalah teman sekelasnya yang selama ini ia kenal.
"Kamu kenapa lihat aku kaya lihat hantu?"
"Hahaha kamu udah pasti nih!"
"Apa?" Amar semakin penasaran.
"Kamu pasti hantu yang aku lihat tadi kan? kamu ngerasukin temen aku ini kan!? kamu pasti bukan Amar!"
Amar hanya terdiam mendengar perkataan terakhir Alia, dia merasa sedikit kecewa dalam hatinya karena Alia begitu tidak sadar bahwa Amar sedang bicara serius tentang perasaannya.
"Maaf Amar, aku cuma bercanda kok, tapi aku benar-benar masih penasaran sama perempuan tadi"
"Ngga papa kok, anggap saja aku ngga pernah ngomong gitu, aku ambil minum dulu yah"
Amar bangun dan mengambil beberapa botol air mineral yang sudah disiapkan untuk para panitia. Sementara Alia masih duduk sendirian dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan tadi.
Alia terus menerka-nerka bahwa perempuan itu mati bunuh diri saat dia sedang hamil, namun ia juga berpikir jika perempuan itu bunuh diri lalu kenapa harus di tempat itu, dan kenapa juga dia terus menangis seolah-olah tidak terima dengan kematiannya.
"Ah! ini membuatku pusing!"
"Minum dulu"
Amar tiba-tiba datang dan menyodorkan sebotol air mineral kepada Alia.
"Eh makasih" Alia tersenyum sambil menerima air dari Amar dan meminumnya perlahan.
"Jadi... apa sebenarnya yang buat kamu berdiri di tempat itu sendirian?"
Alia terdiam sejenak, dia membuka tutup botol air mineral dan meminum beberapa teguk air. Setelah itu ia kemudian mulai bicara dan menceritakan apa yang tadi ia lihat di dalam bangunan rusak itu.
"Aku beneran jadi penasaran gimana dia bisa meninggal di tempat itu, dan keadaan dia juga lagi hamil pula"
"Aku emang ngga bisa lihat hal seperti itu, tapi dari cerita kamu tadi sepertinya perempuan itu sangat kasihan"
Alia dan Amar masih asyik mengobrol sambil duduk di pinggir lapangan bagian belakang, sampai Putri menyadari bahwa dirinya sudah tidak bersama dengan Alia lagi.
Putri pun mulai menjauh dari panggung dan mencoba untuk mencari Alia. Setelah beberapa saat mengelilingi lapangan utama, Putri akhirnya menemukan Alia dan Amar yang sedang duduk berdua di pinggir lapangan.
"Woi ngapain kalian berdua di sini! pacaran yah!?"
"Apaan si ngga lah!"
"Ngaku aja deh!"
"Putri, aku itu tadi lihat Alia berdiri sendirian di dekat bangunan bekas toilet, dia ngalamun di sana jadi aku ajak dia ke sini takut kenapa-napa"
Amar mencoba menjelaskan apa yang terjadi, namun Putri terus saja mengejek mereka berdua sampai Alia akhirnya bicara tentang apa yang ia lihat.
"Serius kamu!?" Putri kaget ketika mendengar pernyataan Alia mengenai sosok perempuan tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa? kok kelihatan takut gitu? jangan-jangan kamu tahu sesuatu?"
"Ngga kok ngga papa, cuma aku jadi keinget sama tetangga aku, udah satu minggu menghilang"
Putri tiba-tiba teringat dengan tetangganya yang menghilang seminggu yang lalu dan hingga kini belum juga ditemukan.
"Eh Alia kamu mau kemana!?"
Putri kaget karena Alia tiba-tiba bangun dan pergi dengan cepat. Dia pun mengajak Amar untuk segera menyusulnya.
"Ngga bisa dibiarkan! ini benar-benar mengganggu pikiranku!" Alia bergumam sambil terus berjalan dengan cepat menuju bangunan rusak.
"Alia kamu ngapain!?"
Amar kembali menarik tangan Alia dan mencoba menghentikannya.
"Amar lepasin! aku yakin pasti ada sesuatu disana!"
"Ya tapi kamu ngga bisa pergi sendirian gini!"
Alia bersikeras untuk melihat bangunan itu lebih dekat dan Amar tidak bisa lagi menghentikannya. Amar akhirnya menyuruh Putri untuk memanggil beberapa petugas keamanan, sementara itu dia mengikuti Alia di belakangnya.
Perlahan Alia kembali menuruni jalan setapak yang masih di penuhi dengan tumbuhan ilalang, dia menggunakan ponselnya untuk menerangi jalan.
"Aneh, kok aku ngga denger suara tangisan lagi yah?"
Alia sempat berhenti karena ragu, pasalnya ia sudah tidak lagi mendengar suara tangisan yang sejak tadi mengganggunya, namun hal itu membuatnya menjadi semakin penasaran.
Alia mencoba mengarahkan senter ponselnya ke bagian dalam bangunan itu.
Alia menjatuhkan ponselnya, kakinya gemetar dan menjadi sangat lemas, dia pun terjatuh dan duduk di tanah, air matanya terus menetes, bibirnya membeku dan tidak dapat berkata-kata lagi.
"Alia kamu kenapa?"
Amar pun heran melihat Alia yang terduduk lemas di tanah dengan tatapan mata terus melihat ke arah dalam bangunan yang ada di depannya itu.
Amar mencoba mengambil ponsel Alia dan mengarahkan senter itu untuk melihat apa yang membuat Alia sangat terkejut.
"Astaghfirullahaladzim! Alia itu..."
Amar ikut terkejut melihat apa yang di lihat Alia, sementara itu Alia masih terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
Tak lama kemudian Putri datang menghampiri Alia dan Amar yang masih membisu di depan bangunan rusak itu.
"Alia, kamu kenapa" teriak Putri sembari menghampiri Alia.
"Kok ada bau busuk yah" ucap salah seorang petugas yang datang bersama putri.
"Aaaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!!!!"
Putri berteriak sangat ketakutan ketika seorang petugas yang datang bersamanya mengarahkan senter yang begitu terang ke arah dalam bangunan itu.
Mereka semua terkejut ketika melihat ada sosok mayat perempuan yang duduk bersandar pada tembok bangunan dan dengan pisau yang masih menancap di perutnya.
Mereka langsung memanggil petugas lain dan juga memanggil polisi, sementara itu Putri menuntun Alia yang masih membisu menuju ke ruang kesehatan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ada mayat di sini?"
"Ini sudah busuk, sepertinya sudah lebih dari tiga hari"
"Jangan di sentuh! nanti kita tunggu polisi datang!"
Suasana di depan bangunan itu menjadi ramai dan banyak petugas yang bertanya-tanya. Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang jelas di telinga Alia, namun dia masih belum bisa berkata-kata.
*****
Setelah kurang lebih 30 menit polisi pun datang dan mengurus mayat perempuan tadi, sementara itu Alia masih tidak bergeming sama sekali.
"Alia kamu minum dulu yah biar lebih tenang"
Putri terus berusaha membujuk Alia dan mengajaknya bicara, namun dia terus saja diam dengan tatapan mata yang kosong, pikirannya masih kacau dan sangat terkejut.
Putri terus menggosok-gosok tangan Alia menggunakan minyak angin karena tangannya begitu dingin dan kaku, tubuhnya juga mengeluarkan banyak keringat dingin.
"Putri!"
"Ya Alia?"
Alia mulai membuka mulutnya, dia bicara sambil memegang erat tangan Putri seperti orang yang sangat ketakutan.
"Tadi kamu lihat juga kan?"
"Ya aku lihat"
Air mata keduanya mulai menetes saat teringat kondisi mayat tadi, terlebih lagi saat Putri tahu kalau mayat itu adalah tetangganya yang sudah menghilang seminggu yang lalu.
"Jadi tadi itu bukan hantu kan?"
"Iya bukan"
Alia masih bertanya-tanya pada Putri, dia masih tidak percaya bahwa yang dia lihat tadi benar-benar mayat, karena sejak awal dia selalu mengira bahwa yang ia lihat itu hanyalah penampakan yang hanya bisa dilihat olehnya dan orang-orang tertentu saja.
"Dia... dia kasihan banget Putri...."
Alia mulai menangis kencang dan memeluk Putri.
"Iya, dan polisi udah tahu identitas nya, dia itu tetangga aku yang menghilang seminggu yang lalu"
Putri tidak tahu bahwa yang di maksud Alia bukanlah itu, dia hanya tahu bahwa Alia merasa kasihan karena jasadnya baru ditemukan sekarang karena terlihat bahwa dia sudah meninggal seminggu yang lalu.
"Tapi berkat kamu sekarang mayatnya sudah ditemukan, meskipun sudah satu minggu"
"Bukan itu!"
"Maksud kamu apa? apa ada hal lain yang membuat kamu kasihan sama dia?"
"Dia lagi hamil, dan dia meninggal bersama janin di perutnya"
"Apa!?"
Putri sangat terkejut mendengar pernyataan Alia bahwa perempuan itu sedang hamil, karena setahu dia tetangganya itu masih belum menikah.
__ADS_1