Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Takut kehilangannya


__ADS_3

Azam masih tersenyum sembari melihat ke arah Afi dan Alia. Dia berbalik dan hendak pergi ke kelasnya, namun ternyata di belakangnya sudah berdiri seseorang yang sejak tadi juga melihatnya dari belakang.


"Eh assalamualaikum Nafis" ucap Azam dengan ramah.


"Walaikumsalam"


Azam berniat untuk pergi setelah mendengar jawaban salam dari Nafisah, namun Nafisah menghentikan Azam.


"Azam, aku itu nggak mengerti sama sikap kamu yah!"


"Maksudnya apa?"


"Mau sampai kapan kamu terus menahan rasa sakit cuma buat orang yang sama sekali nggak peka sama perasaan kamu?"


"Itu bukan urusan kamu"


"Tapi aku itu beneran nggak tega lihat kamu menderita terus kaya gini Zam!"


"Menderita? siapa yang menderita? aku nggak papa kok"


"Tapi dia itu sama sekali nggak ada perasaan sama kamu!"


"Nafisah... jodoh, maut dan rezeki itu ada di tangan Allah, Allah yang mengendalikan hati aku, jadi aku percaya suatu saat nanti Allah pasti akan memberikan balasan atas kesabaran aku, permisi assalamualaikum"


Azam pun pergi meninggalkan Nafisah yang masih kesal.


"Walaikumsalam..."


Nafisah melihat ke arah Alia yang sedang mengobrol dengan Afi. Perasaannya semakin kesal karena Azam selalu saja membelanya.


"Azam! kapan kamu itu sadar kalau aku sayang sama kamu?" Nafisah bergumam dalam hati hingga tanpa sadar air matanya menetes karena sedih.


_____-----_____


"Oh iya Al, gimana keadaan Irfan?" tanya Afi.


"Udah mendingan kok, udah bisa bangun"


"Oh syukurlah... oh ya jadi gimana keputusan kamu?"


"Aku belum tanya lebih lanjut si soal kenapa dia bisa pergi sama perempuan itu, bisa aja kan kalau sebenarnya mereka nggak ada hubungan, dan pas kebetulan lagi bareng aja"


"Hmm iya juga si" Afi terdiam dan mengingat percakapannya dengan Lana.


*****


Flashback percakapan Afi dan Lana


"Jadi sebenarnya Irfan itu emang beneran pergi sama cewe?" tanya Afi.


"I iya Fi" jawab Lana dengan ragu-ragu.


"Kamu tahu siapa cewek itu?"


Lana hanya mengangguk, wajahnya terlihat pucat dan tidak enak hati.


"Siapa?"


"Dia sebenarnya... teman sekelas Alia"


"What!? temen sekelasnya Alia?"

__ADS_1


"Ya Fi, aku sendiri juga nggak nyangka sama sekali"


"Gila yah! Irfan itu beneran gila!"


"Tapi aku mohon sama kamu buat nggak ngasih tahu Alia"


"Kenapa?"


"Itu kan masalah pribadi mereka, jadi biarin aja Irfan yang ngomong sendiri ke Alia"


"Iya juga si"


*****


"Fi, kamu kenapa melamun?"


Alia heran saat melihat Afi tiba-tiba menjadi diam dan memiliki tatapan mata yang kosong.


"Eh nggak papa kok"


Afi kembali terdiam, sebenarnya dia sangat penasaran siapa sebenarnya teman sekelas Alia yang di maksud oleh Lana, tapi di bandingkan itu, dia juga merasa iba dan kasihan pada Alia.


"Emm Alia..."


"Kenapa Fi?"


Afi berniat untuk menanyakan tentang teman sekelas Alia itu, namun hatinya masih ragu-ragu dan tidak inggin membuat Alia makin sakit hati, tapi rasa penasarannya juga tidak bisa ia hilangkan begitu saja.


"Itu Al... emm "


"Apaan si Fi, mau ngomong aja susah banget deh!"


"Oh iya... tadi Sandra bilang kalau Meisya kecelakaan, kok kamu tahu si?"


"Me... Meisya?"


"Kenapa si Fi, kok kaget gitu mukanya?"


"Ah nggak papa kok, eh ya udah aku ke kelas duluan yah daaah..."


Afi pun segera pergi meninggalkan Alia karena tidak ingin terlihat mencurigakan di depan Alia.


"Itu anak kenapa si, aneh banget deh!"


Alia pun memutuskan untuk kembali ke kelas juga karena sebentar lagi jam kuliah terakhir akan di mulai.


Saat di perjalanan Alia tiba-tiba teringat dengan sosok Chika, karena sudah beberapa hari ini dia tidak muncul untuk sekedar bertemu dan menyapa Alia.


Setelah kuliah berakhir, Alia bergegas keluar kelas dan menuju ke rumah sakit untuk kembali menengok Irfan. Dia juga tidak lupa membawa beberapa buah-buahan sebagai buah tangannya.


Saat sampai di ruangan Irfan, ternyata sudah ada Lana yang menemani Irfan di sana.


"Eh Lana? kamu udah lama di sini?" tanya Alia sembari meletakkan buah yang ia bawa di atas meja.


"Hehe baru aja kok, eh aku ke luar dulu yah, mau cari minum"


Lana pun segera keluar dan memberikan kesempatan pada Alia dan Irfan untuk bicara.


Suasana yang tadinya akrab kini berubah menjadi canggung lagi.


Alia mendekat ke tempat tidur Irfan dan duduk di sampingnya. Sementara Irfan hanya terduduk diam sambil menunduk dan tidak berani melihat mata Alia.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Alia pelan.


"Aku... aku malu sama kamu"


"Malu? kamu nggak ingin minta maaf sama aku?"


"Emangnya kamu mau maafin aku?"


Alia meraih tangan Irfan dan memegangnya, dia menatap Irfan dengan sangat serius sembari berkata "Ada syaratnya dong..."


"Apa?"


Irfan begitu antusias saat mendengar perkataan Alia, sementara itu Alia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Kenapa kamu senyum begitu?"


Irfan merasa heran melihat sikap Alia yang terlihat sudah tidak marah sama sekali.


"Aku nggak tahu kamu pergi sama siapa malam itu, dan aku juga nggak mau tau hal itu"


Irfan terdiam, dia menjadi semakin heran pada Alia, sebenarnya apa maksud dari kata-katanya itu.


"Tapi..." Alia menghentikan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Irfan.


Alia menunduk terdiam, sebenarnya hatinya masih sulit menerima perlakuan itu, tapi Alia benar-benar merasa tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi.


"Kak... aku sayang sama kamu..."


"Aku juga sayang sama kamu, tapi maaf aku udah nyakitin perasaan kamu"


Tanpa terasa air mata Alia menetes karena mengingat kesalahan yang telah di perbuat Irfan, dia benar-benar tak kuasa menahannya, rasa sayangnya begitu besar terhadap Irfan.


Irfan mencoba untuk mengusap air mata yang membasahi pipi Alia itu.


"Maafin aku... aku memang bukan orang yang baik buat kamu"


Alia masih terdiam sambil menahan tangisnya, dia menghela nafas panjang dan berkata "Aku beneran nggak mau kehilangan kamu kak!"


Irfan hanya terdiam, dia tidak bisa lagi berkata apa-apa.


"Kamu mau janji satu hal sama aku?" tanya Alia.


"Apa?"


"Jangan pernah mengulang kesalahan itu lagi"


Irfan kembali diam, dia benar-benar merasa bingung dengan sikap Alia, baru kali ini dia melihat perempuan yang sama sekali tidak marah saat dia telah benar-benar menyakiti hatinya.


Sementara itu Alia masih melihat ke arah Irfan dengan penuh harapan dan menanti jawaban darinya. Setelah cukup lama diam dan berpikir, akhirnya Irfan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Iya, aku janji"


Alia merasa sangat senang sekali mendengar jawaban itu, dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan kesalahan Irfan kemarin, yang terpenting baginya adalah Irfan sudah mengakui kesalahannya dan mau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.


"Makasih yah... oh iya aku bawain buah buat kamu, aku kupasin yah"


Alia langsung meraih kantong kresek berisi buah yang tadi ia letakkan di atas meja.


Hatinya merasa sangat lega karena masalahnya sudah terselesaikan dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2