Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Anugerah atau musibah?


__ADS_3

Bell masuk kelas sudah berbunyi, namun Alia sungguh sudah tidak memiliki semangat lagi untuk mengikuti kelas berikutnya, dia kembali membaringkan tubuhnya di atas matras tipis dan terus terdiam.



"Alia kamu ngga mau masuk kelas?" tanya Nida.


Alia hanya menggelengkan kepalanya, sementara Amar berpamitan untuk masuk ke kelas. Nida pun masih duduk di samping Alia dengan terus menggenggam tangannya.


"Kamu ngga ke kelas Da?"



"Aku disini aja yah, nemenin kamu"


Nida mencoba untuk tetap tersenyum kepada Alia, meskipun perasaannya sendiri sangat campur aduk. Alia kembali terdiam, pikirannya masih teringat dengan Mayra yang mendatangi nya malam sebelum kecelakaan itu terjadi.


Sekarang ia menjadi tahu bahwa kedatangan Mayra seperti pertanda bahwa ia akan pergi untuk selama-lamanya, namun ia juga merasa sangat menyesal dan bersalah karena tidak memahami maksud dari kedatangan Mayra.


Cukup lama mereka berdua berada di UKS dan saling diam, tak lama kemudian Azam datang untuk melihat keadaan Alia.


"Azam kamu kok ngga masuk kelas?" tanya Nida.



"Hari ini siswa dipulangkan cepat, semua guru dan staff mau melayat" jawab Azam.



"Berarti aku juga harus pulang dong, duh Alia maaf yah aku ngga bisa nemenin kamu lagi"


Nida bicara dengan sangat menyesal karena tidak bisa berada di samping sahabatnya lagi, karena peraturan bagi santri putri hanya bisa berada di luar pesantren saat jam sekolah saja, jika jam sekolah selesai maka mereka harus segera pulang ke pesantren.


Alia mengangguk sambil tersenyum, mencoba mengerti keadaan Nida. Dia lalu bangun dari tempat tidurnya dan berdiri hendak meninggalkan ruangan itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Azam.



"Aku mau ambil tas aku di kelas"



"Amar tadi udah bawakan"



"Terus sekarang mana Amar?"



"Dia lagi di ruang guru, kamu tunggu aja"


Alia akhirnya kembali duduk dan menunggu, sementara Azam berjalan keluar.


"Kamu mau ikut ke rumah Mayra?" Azam tiba\-tiba berbalik dan bertanya.


__ADS_1


"Aku pasti ikut, lagi pula setiap hari aku juga melewati rumahnya".


Azam pun keluar ruangan sementara Alia masih duduk di dalam untuk menunggu.


Setelah beberapa saat semua orang sudah siap untuk berangkat dan mereka pun pergi ke rumah Mayra.


_____-----_____


Saat sampai di rumah Mayra ternyata jenazahnya baru akan di makamkan, jadi Alia bergegas untuk ikut ke pemakaman.


Sepanjang jalan Alia terus diam, matanya terfokus ke salah satu dari ujung keranda dimana ada darah yang terus menetes.


"*Mayra... kenapa bisa begini*?" gumam Alia.


Ibunya Mayra masih di rumah dan tidak ikut ke pemakaman karena dia tidak kuasa melihat anak satu-satunya meninggal dengan sangat tragis, sementara ayahnya masih berada di perjalanan pulang karena bekerja di kota yang lumayan jauh.


Begitu sampai di pemakaman kerandanya mulai di buka dan jenazah mulai diangkat. Semua sanak saudaranya tidak mampu menahan air mata ketika jenazah itu masih mengucurkan darah begitu banyak dari kepalanya.


"Ya Allah kenapa bisa begitu"


Alia berucap lirih sambil menitikkan air matanya. Bu Yanti yang berada di sebelah Alia pun menepuk pundaknya dan meminta Alia untuk tetap tenang.


"Ibu dengar kepalanya pecah karena terlindas ban bus, bahkan waktu itu helm nya hampir tidak bisa di lepas karena sudah hampir menyatu dengan kepalanya" Bu Yanti bicara dengan sangat pelan karena tidak ingin orang lain mendengarnya.


Air mata Alia terus menetes, perasaannya sungguh menjadi tambah sedih ketika mendengar ucapan bu Yanti.


Begitu pemakaman selesai semua orang mulai pergi meninggalkan makam, namun Alia masih berdiri di sana sendirian dan menatap nisan Mayra. Azam melihat hal itu dan meminta Amar untuk menunggunya di parkiran.


"Mau sampai kapan kamu seperti itu?"


"Semua orang pasti akan mati, kamu tidak bisa begini"



"Lalu aku harus bagaimana? berpura\-pura tidak tahu dan hidup seperti biasa? tentu tidak bisa!"


Suasana menjadi sangat hening ketika Alia dan Azam saling diam setelah Alia bicara dengan nada tinggi. Pikiran Alia kembali di selimuti rasa bersalah.


"Kenapa kamu terus menyalahkan diri?"



"Lalu aku harus menyalahkan siapa? anda saja aku paham maksud dari pertanda itu, andai saja pagi itu aku berangkat sedikit lebih cepat seperti biasa dan mengajaknya berangkat bersamaku mungkin saja..."


Alia tak kuasa meneruskan kata-katanya, air matanya kembali mengalir deras, tubuhnya kembali lemas dan terduduk di tanah.


"Apa maksud kamu?"


Azam menjadi pemasaran dengan perkataan Alia, ada beberapa kata yang membuatnya tidak paham dan kenapa Alia harus menyalahkan dirinya sendiri.


"Beberapa hari sebelumnya aku sudah melihat aura dari wajah Mayra yang sangat berbeda"


Alia menceritakan semua yang ia alami beberapa hari terakhir saat dia melihat Mayra di penuhi bayangan putih yang sangat tebal, hingga wajah Mayra yang terlihat sangat pucat.


"Kamu benar\-benar melihatnya?"


Alia mengangguk,dia juga bilang bahwa semalam dia bermimpi tentang Mayra yang berterimakasih kepadanya.

__ADS_1


"Aku ingat sekarang, dulu aku juga melihat hal yang sama pada Ardian, tapi kenapa kemarin aku benar\-benar tidak paham! aku memang sangat bodoh!"


Alia memukuli kepalanya sendiri dan kembali menyalahkan diri karena dia benar-benar tidak bisa memahami sesuatu yang ia lihat.


"Ragasy apakah kau tahu, bahwa kemampuan itu sebuah anugerah?"



"Anugerah? ini bahkan seperti musibah untukku!"



"Kenapa kamu berkata seperti itu?"



"Bagaimana tidak? aku tahu kalau ini akan terjadi, tapi aku bahkan tidak bisa berbuat apa\-apa dan harus membiarkan Mayra..."


Alia kembali menangis, dia menutup mata menggunakan kedua tangannya. Azam mendekat dan berdiri tepat di samping Alia, dia memegang kepala Alia menggunakan tangan kanannya dan berusaha untuk menenangkan pikiran Alia.


Alia membuka kedua tangannya dan mulai berhenti menangis, dia merasa sedikit lebih tenang dan Azam langsung menarik kembali tangannya.


"Allah memberi manusia kelebihan, tapi dia pasti juga memberinya kekurangan"


Alia berdiri sambil menghapus air matanya, dia melihat ke sekeliling dan seketika itu langit mulai menjadi mendung, angin bertiup kencang seperti akan hujan lebat.


"Ayo pulang?" Azam mengajak Alia untuk segera pulang.


Alia hanya mengangguk dan tidak bicara, Azam dan Alia mulai berjalan meninggalkan makam Mayra dan bergegas untuk pulang, dari kejauhan Alia dan Azam melihat sosok Mayra berdiri di samping makamnya sambil tersenyum ke arah mereka berdua.


"Mayra... kamu yang tenang yah"



"Kamu cepat pulang sebelum hujan, dan hati\-hati di jalan"


Azam tersenyum kepada Alia, namun Alia kembali diam lalu pergi, ia menuju ke motornya dan berjalan untuk pulang. Alia mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Mayra, namun sepanjang jalan dia masih belum bisa melupakan kecelakaan yang dialami oleh Mayra.


"Jadi ini anugerah atau musibah?"


Alia terus bergumam sendiri selama perjalanan. Saat sampai di rumah kebetulan bu Mia sedang berada di teras dan melihat kepulangan Alia. Dia melihat putrinya pulang dengan wajah yang lusuh dan rok yang terlihat kotor terkena tanah.


"Alia kamu kenapa nak? kamu jatuh?"



"Ngga mah, tadi aku duduk di tanah"



"Kenapa kamu duduk di tanah?"



"Sahabat aku meninggal tadi pagi, aku habis dari pemakamannya"


Bu Mia khawatir melihat Alia bicara dengan tatapan mata sayu, dia lalu menyuruh Alia untuk segera mandi dan berganti pakaian. Alia pun masuk ke rumah dan segera mandi, setelah itu dia masuk ke kamarnya dan duduk di lantai dengan menyenderkan bahunya ke dinding kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2