
Alia berjalan menuju ke taman dan duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Dia mencoba membaca buku supaya bisa menghilangkan perasaan yang masih tidak karuan.
Tanpa sengaja tangan Alia mengenai dagunya yang terluka, dan dia merasa perih tersayat karena luka itu masih mengeluarkan darah.
"Duh aku harus segera cari handsaplast nih biar nggak berdarah terus"
Saat Alia bangun dari tempat duduknya, tiba-tiba Irfan datang menghampiri.
"Kamu mau kemana? eh itu kenapa kok berdarah?"
Irfan langsung bertanya saat melihat luka Alia.
"Aku mau beli handsaplast"
"Oh kamu tunggu sini aja, biar aku yang belikan"
Irfan langsung pergi dan menyuruh Alia untuk menunggunya di tempat itu. Alia pun kembali duduk dan menunggu.
Tak lama kemudian Irfan kembali, dia memberikan handsaplast itu pada Alia dan langsung di tempelkan ke tempat lukanya.
Irfan bertanya apa yang terjadi sampai Alia bisa terluka seperti itu. Alia pun akhirnya menceritakan semua keanehan yang ia alami pada Irfan.
Irfan pun mencoba untuk mengerti karena dia pun memang sempat melihat bahwa tubuh Alia sedang dikelilingi asap hitam yang sangat gelap. Irfan mencoba untuk terus menghibur Alia dan menghilangkan pikirannya yang tidak-tidak.
Hari itu juga, Irfan berusaha untuk menyatakan perasaannya kepada Alia, Irfan bertanya pada Alia apakah dia mau menjadi pacarnya atau tidak.
Alia jelas kaget mendengar pernyataan itu, hatinya semakin tak karuan, karena sejak pertama melihat Irfan, Alia memang sudah menyimpan rasa terhadapnya. Bibir Alia seperti tak bisa mengucapkan kata lain selain kata iya.
Sejak hari itu, mereka menjadi lebih sering menghabiskan waktu berdua, Alia merasa lebih nyaman karena mungkin hanya dia yang mampu mengerti tentang hal yang sering dialami oleh Alia.
**********
Satu Minggu berlalu, dan setiap hari yang Alia jalani masih terus di penuhi oleh keanehan yang hampir sama, Alia bahkan sempat di juluki perempuan aneh, bahkan ada juga yang bilang kalau Alia sudah mulai gila, terutama Meisya yang terlihat sangat membenci Alia.
Alia tidak pernah memikirkan ucapan para teman sekelasnya, dia hanya mencoba untuk tetap fokus dalam kuliahnya.
Selain kepada Irfan, Alia tidak pernah menceritakan keanehan yang ia alami pada orang lain. Beberapa hari terakhir Alia bahkan sudah hampir tidak pernah bertemu dengan Afi lagi karena jadwal kuliah yang padat dan pikirannya yang agak terganggu.
*****
Sore itu Afi baru selesai kuliah, dia berniat untuk menemui Alia karena sudah beberapa hari tidak bertemu, dia hanya mendengar kabar dari teman sekelas Alia bahwa akhir-akhir ini Alia mulai bersikap aneh.
Afi berjalan menuju ke gedung fakultas pendidikan. Saat di jalan dia melihat Alia yang berjalan dengan cepat. Afi mencoba untuk mengikutinya dan ternyata Alia berhenti di bawah pohon Cherry. Alia duduk di bawah pohon itu dengan tatapan mata yang kosong.
__ADS_1
Karena khawatir Afi pun langsung menghampiri Alia dan memanggilnya.
"Alia kamu ngapain di sini?"
Afi bicara pada Alia, namun ia hanya diam saja dan terlihat seperti orang yang sedang tidak sadar.
"Alia jawab! kamu ngapain di sini!"
Afi berteriak sambil menepuk pundak Alia, dan barulah Alia tersadar, dia seperti orang yang kaget karena dirinya sedang terduduk di bawah pohon.
"Loh kok aku disini sih?"
"Orang aku yang dari tadi tanya sama kamu ngapain kamu disini! malah balik tanya"
"Aku..."
Alia terdiam, dia ingat betul bahwa saat keluar dari kelas dia berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil motornya, tapi kenapa sekarang malah ada di bawah pohon.
Afi juga berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan tingkah laku sahabatnya itu.
Tak lama kemudian Irfan datang dan mengajak Alia untuk pulang.
"Eh Alia, dia siapa?"
"Hah pacar?"
"Iya, kita jadian seminggu yang lalu"
"Minggu lalu?"
"Iya, pokoknya besok aku ceritakan deh, sekarang aku pulang dulu yah"
Alia langsung meninggalkan Afi sendirian, dia menuju ke parkiran untuk pulang bersama Irfan.
Afi sekarang baru percaya dengan kata-kata teman sekelas Alia tentang tingkah laku anehnya.
Afi melihat Alia dan Irfan yang mulai pergi menjauh, dia merasa sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Tanpa sengaja Afi juga melihat Azam yang sedang berjalan menuju ke parkiran, dia langsung memanggil dan menghampirinya.
"Azam tunggu!"
"Eh Afi, kenapa?"
__ADS_1
"Beberapa hari ini aku lihat kamu hanya diam saja, apa kamu sudah tidak mau membantuku menolong Alia?"
"Bukan begitu tapi..."
"Oh apa karena Alia sudah jadian dengan senior itu, jadi kamu mau lepas tangan?"
Azam hanya terdiam, dia merasa sangat kaget saat tahu ternyata Alia sudah berpacaran dengan Irfan. Afi yang melihat ekspresi Azam jadi merasa bersalah karena telah memberitahukan hal itu.
"Maaf bukan maksud aku..."
"Nggak papa kok"
"Tapi aku beneran khawatir sama Alia"
Afi menceritakan kejadian yang ia lihat tadi kepada Azam, bahkan Afi sendiri mulai berpikir bahwa pikiran Alia memang sudah terganggu.
"Tenang saja, aku masih berusaha untuk menekan aura itu, dan aku rasa Irfan juga masih mencoba untuk melindungi Alia"
"Tapi mau sampai kapan? sampai Alia beneran gila? oh aku mengerti sekarang, kenapa Alia cerita kalau orang yang udah di ganggu sama mahluk itu nggak akan bertahan lama di sini, bahkan sampai gila"
"Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi"
Azam lalu pergi meninggalkan Afi yang masih berdiri di dekat pohon itu.
"Yah kok aku ditinggal lagi si!"
Afi pun pergi dan berniat untuk pulang. Azam tiba-tiba kembali ke pohon itu dan mencoba untuk memetik ranting pohon yang masih kecil. Awalnya itu terasa sangat sulit, namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya Azam berhasil mendapatkan ranting pohon itu.
Azam langsung membawa pulang ranting pohon itu dan meletakkannya di atas meja belajar di kamarnya.
Setelah sholat isya, Azam sama sekali tidak tidur, dia terus membaca doa-doa dengan sangat khusyuk.
Setelah cukup lama Azam berdoa, tiba-tiba ranting pohon itu mulai bergerak, ranting itu terjatuh tepat di depan Azam dan muncul sesosok mahluk kayu yang sangat mengerikan, mahluk itulah yang selalu mengganggu dan menyakiti Alia.
Azam masih fokus untuk berdoa, sementara mahluk itu sudah berdiri tepat di depan Azam, beberapa belatung yang berasal dari wajah sosok itu mulai berjatuhan dan bergeliat di atas sajadah milik Azam, namun dia tetap duduk dan berusaha untuk menyelesaikan doanya.
Bau yang sangat busuk mulai memenuhi ruangan kamar itu karena sosok mahluk kayu itu terlihat sangat marah dan ingin segera menerkam manusia yang sedang duduk berdoa di depannya itu.
Mahluk itu mulai mengulurkan tangan panjangnya melingkar ke leher Azam dan dengan cepat langsung mencekik, cekikan itu terus bertambah kencang dan semakin banyak belatung yang berjatuhan, bahkan mulai merambat ke baju Azam, namun Azam masih saja tidak bergeming dan tetap fokus pada doa-doa yang sedang ia bacakan.
Sementara itu di rumah Alia, tiba-tiba saja tubuhnya mulai terasa panas dan seperti terbakar, seluruh tubuhnya mulai memerah bahkan seperti melepuh karena kepanasan.
Alia berteriak-teriak kesakitan dan membuat Bu Mia panik, Pak aji berusaha membacakan beberapa doa untuk mengurangi rasa sakitnya, namun itu seperti percuma saja.
__ADS_1
Bu Mia akhirnya menyuruh pak Aji untuk memanggil ustadz di desanya. Tanpa berlama-lama pak Aji pun langsung berangkat untuk mengundang ustadz itu supaya mau menolong Alia yang terus berteriak kesakitan.