Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pengendali hati


__ADS_3

Suasana dalam ruangan itu menjadi sangat hening, tidak ada satu patah katapun yang terucap dari Alia ataupun Irfan.


Drrrttttt... drrrttttt...


Tiba-tiba ponsel Alia bergetar, ada satu pesan masuk yang ternyata berasal dari Sandra.


"Alia, tugas kelompok untuk hari ini udah selesai kan? jangan lupa di bawa yah, oh iya 30 menit lagi kita ada kelas, kamu dimana? kok belum kelihatan?"


Setelah membaca pesan dari Sandra, Alia langsung melihat ke arah jam tangannya, dia terkejut karena sebentar lagi jam kelasnya.


Tanpa berlama-lama lagi Alia pun langsung berpamitan pada Irfan dan menuju ke kampus.


Alia berjalan dengan cepat dan terburu-buru karena tidak ingin telat masuk kelas, untung saja dia sampai kelas bersamaan dengan dosen. Dia langsung duduk di bangkunya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Al kamu abis lari-lari yah?" tanya Sandra.


"Hehe iya nih tadi buru-buru"


"Emang kamu abis dari mana?"


"Aku tadi dari rumah sakit dulu"


"Oh nengok Meisya yah? kok nggak ngajakin aku si?"


"Meisya? emang dia kenapa?"


"Loh kan dia kecelakaan pas Sabtu malam"


Alia menjadi bingung dan terkejut mendengar pernyataan Sandra. Kenapa bisa Meisya mengalami kecelakaan di waktu yang sama dengan Irfan, bahkan mereka juga di rawat di rumah sakit yang sama.


Pikiran Alia kembali terganggu, dia sempat berpikir macam-macam, namun tetap berusaha untuk berpikir positif.


"Ah mungkin saja itu kebetulan kan?" gumam Alia dalam hati.


"Al? kamu kenapa kok malah bengong?"


"Ah nggak papa kok, mending kita fokus sama kuliahnya aja"


Setelah itu, selama waktu kuliah berlangsung, Alia benar-benar diam dan tidak berkata-kata, dia terlihat sangat memperhatikan pelajarannya, namun sebenarnya dalam pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.


Dua jam berlalu, waktu kuliah pun selesai. Semua orang keluar dari kelasnya termasuk Alia. Sebenarnya Sandra mengajak Alia untuk pergi ke kantin dan makan siang bersama, tapi Alia menolaknya, dia pergi ke taman dan duduk sendirian untuk menenangkan pikirannya.


Alia duduk di kursi taman, sendirian dan melamun.


Dari kejauhan tanpa sengaja Azam melihat Alia yang sedang duduk sendirian di taman, namun yang mencuri perhatiannya bukanlah Alia, tetapi sesosok mahluk berjubah hitam dengan perawakan yang besar dan tinggi sedang duduk di samping Alia.

__ADS_1


Sosok itu tidak terlihat mempunyai niat jahat, namun bentuknya itu memang sangat mengerikan, wajahnya hampir tidak berbentuk, tangan dan kakinya begitu kurus dengan kuku yang sangat panjang, tingginya juga hampir dua kali lipat dari manusia pada umumnya.


"Ragasy? dia bersama mahluk itu?" Azam bergumam dalam hati sembari terus menatap ke arah mahluk besar itu.


Sudah lama sekali sejak Azam melihat mahluk besar itu berada di sisi Alia, terakhir kali Azam melihatnya saat hati Alia benar-benar merasa kalut dan di selimuti oleh emosi.


"Sepertinya emosinya sedang tidak stabil" Azam berucap pelan dan mencoba untuk menghampiri Alia.


"Assalamualaikum"


"Eh walaikumsalam..."


Alia terlihat kaget saat Azam menghampirinya karena tadi dia memang sedang melamun.


"Ragasy... kamu sedang apa sendirian di sini?"


"Oh lagi pengin sendiri aja"


Ucapan Alia terlihat sangat gugup dengan senyum yang tidak jelas.


Azam terdiam sejenak, dia melihat ke arah sosok yang duduk di samping Alia. Sosok itu merasa tidak senang dengan kehadiran Azam, matanya yang merah menyala terus melihat ke arah Azam dengan tatapan kebencian seakan-akan ingin melahap Azam dengan segera.


"Arrafi! kamu lihat apa si?"


Alia heran saat Azam melihat ke bagian kursi yang kosong dengan seriusnya, seperti sedang perang telepati.


"Apaan?" melihat ke sampingnya.


"Maaf mungkin tadi aku salah lihat saja"


"Oh gitu yah"


Alia kembali terdiam dengan tatapan mata yang kosong.


"Ragasy..."


"Ya?"


"Aku cuma mau mengingatkan agar kamu selalu bisa mengendalikan ucapan dan emosi kamu, jangan sampai kamu menyesal dan menyakiti orang lain lagi" jelas Azam.


"Kok ngomongnya gitu?"


"Maaf kalau kamu tersinggung, tapi aku cuma nggak mau kamu terbawa emosi dan hati kamu di selimuti rasa dendam, itu bisa memberikan kesempatan besar bagi mereka untuk menguasai pikiran kamu"


"Mereka? oh, ya aku tahu, makasih sarannya"

__ADS_1


Alia bicara sembari tersenyum kepada Azam, sementara Azam terkejut karena biasanya Alia akan merasa marah jika dirinya memberikan nasehat pada Alia.


"Ya sudah aku pergi dulu, assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Azam segera pergi menjauh dari Alia karena dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di dadanya. Sambil berjalan Azam terus saja memegangi dadanya dan menuju ke toilet.


Di dalam toilet Azam sudah tidak bisa lagi menutupi rasa sakit yang dirasakannya, perlahan darah segar mulai mengalir dari mulutnya.


"Uhuk uhuk"


Akhirnya Azam memuntahkan darah yang sejak tadi ia tahan-tahan. Dia benar-benar mengalami perang batin dengan mahluk yang berada di sisi Alia tadi.


"Astaghfirullah... auranya besar sekali" ucap Azam pelan.


Di satu sisi Azam memang merasa sakit, tapi di sisi lain dia juga merasa senang karena akhirnya Alia mau kembali tersenyum padanya, meskipun dia sangat tahu bahwa senyuman itu karena terpaksa, namun Azam juga merasa lebih senang lagi karena Alia sudah lebih bisa mengendalikan dirinya saat sedang merasa emosi dan marah.


"Ragasy... sebenarnya kamu sedang ada masalah apa? sepertinya hati dan pikiran kamu benar-benar sedang di penuhi emosi dan dendam, sampai-sampai mahluk itu bisa dengan mudahnya mempengaruhi pikiran kamu"


Azam masih bergumam sembari membersihkan sisa muntahan darah di bibirnya.


Sementara itu Alia masih duduk di taman sendirian, dia juga melihat ke sekelilingnya dan masih mengingat ucapan Azam soal kata "Mereka", namun Alia sama sekali tidak melihat apapun.


"Mereka yah? bener juga si kata Arrafi" ucap Alia dalam hati.


"Woy melamun terus!"


Tiba-tiba Afi datang dan mengagetkan Alia.


"Apaan si Fi, bikin kaget aja! datang ucap salam ke atau apa"


"Oh iya iya maaf, ya udah assalamualaikum..."


"Walaikumsalam!"


"Kok ngegas si! eh iya aku bawakan capuccino cincau kesukaan kamu nih" sembari menyerahkan segelas es cappucino cincau kepada Alia.


"Wah makasih Fi, kamu memang sahabat terbaik deh!"


"Hemm giliran kaya gitu aja muji-muji deh"


"Hehe"


Alia langsung meminum es yang di bawakan oleh Afi karena sejak tadi dia memang sudah merasa haus. Mereka berdua mulai asyik mengobrol sambil menikmati es milik masing-masing, untuk sejenak Alia melupakan hal yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan Azam kembali melihat ke arah Alia yang sedang asyik mengobrol dengan sahabatnya, dia juga sudah tidak lagi melihat sosok yang mengerikan itu di samping Alia.


"Syukurlah... emosinya sudah mulai reda" ucap Azam dalam hati.


__ADS_2