
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Menangis hanya itulah yang bisa Alena lakukan, tubuhnya benar-benar bergetar hebat karna merasakan sensask kedinginan setelah dua jam lamanya dia dan Arka si tuan muda mandi bersama, ralat hanya Alena saja tidak dengan Arka yang hanya basah sedikit saat memeluk Alena di bawah guyuran shower.
Merengkup tubuhnya yang masih di balut dengan handuk, tepat di pojokan kamar milik Arka, dia tidak berani untuk berdiri ataupun melihat wajah Arka yang telah memperlakukan dia dengan kejam seperti tadi, jujur saja setelah kejadian ini Alena benar-benar tidak mau menyepelekan Arka lagi, dia tidak akan menganggap Arka pria gila lagi, tapi pria saiko yang kejam dan bermulut pedas.
"Pakai ini." Arka melemparkan pakaian pada tubuh Alena.
Tak mendapatkan jawaban lagi membuat Arka kembali bersuara. "Kau tuli !! Cepat pakai." sambung Arka lagi dengan nada yang lebih tinggi lagi.
Dengan gerakan pelan Alena mengambil pakaian nya, lalu dia berdiri dan berjalan hendak ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti karna Arka kembali bersuara.
"Siapa yang menyuruhmu mengganti di kamar mandi, pakai disini." tegas Arka.
"Tapi___ " ucap Alena terhenti, dia ingin menolak tapi langsung di hentikan oleh suara Arka lagi.
"Tidak ada penolakan cepat lakukan." ucap Arka lagi, yang membuat Alena mau tak mau menurut dan mengganti pakaian nya di hadapan Arka.
membuang rasa malu, lagi pula Arka sudah pernah melihat tubuh polosnya.
"Sudah, aku mau tidur." ucap Alena yang sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian yang di berikan Arka tadi yang berupa kaos kebesaran dan celana yang kepanjangan, tanpa celana dal*m dan tanpa br*, sungguh membuat Alena serasa tidak nyaman bergerak.
"Tidur disini." ucap Arka yang membuat Alena menatap tak percaya.
Setau Alena bukan nya di surat perjanjian waktu itu dia sudah menuliskan beberapa permintaan nya, yang diantara lain untuk tidak tidur sekamar, tidak berhubungan badan, dan tidak melarang jika dia melanjutkan pendidikan nya, Arka menyetujuinya tapi sekarang apa? Alena benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir Arka yang seenaknya dan tidak bisa di tebak itu.
"Tapi tuan, bukan nya di surat perjanjian tuan mengijinkan saya meminta tiga permintaan." ucap Alena mengingatkan.
Arka menoleh. "Bacakan isi poin tetakhir." titah Arka tegas.
Alena terdiam, mencoba mengingat-ngingat semua isi yang ada di dalam surat perjanjian itu, lalu matanya membulat, "Tapi tuan, itu tidak adil untuk ku." ucap Alena memberikan suara penolakan nya tentang isi pernikahan kontrak konyol yang telah mereka berdua sepakati saat sebelum pernikahan.
__ADS_1
"Aku bilang bacakan, bukan penolakan."
Alena menghela nafasnya. "Poin terakhir, apapun yang sudah di tuliskan oleh pihak pertama adalah tugas, dan jika pihak pertama meminta beberapa hal yang pihak kedua larang maka kembali ke awal, jika semua yang di ucapkan oleh pihak pertama adalah perintah yang sudah seharusnya di patuhi pihak kedua." Alena membacakan poin terakhir itu dengan wajah kesal nya.
Arka tersenyum devil, "kemari dan pijat kaki ku." ucap Arka sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sedangkan Alena nampak mengelus dadanya, sambil menghela nafas nya kasar. "Apa dia buta, ini sudah tengah malam gila, aku ngantuk." gerutu Alena dalam hati sambil berjalan mendekati Arka.
"Terlalu pelan." ucap Arka, membuat Alena yang tengah memijat kaki Arka menambahkan sedikit tenaganya.
"Bodoh, tangan mu bisa membuat kaki ku merah jika cara memijat mu begitu, sedikit pelan." oceh Arka lagi yang membuat Alena kesal setengah mati dengan mata yang mengantuk, dan mulut yang terus menguap lebar.
Hoam...
"Tuan aku ngantuk." ucap Alena sambil menguap, lalu memijat pelan dan hampir setengah jam hanya tetap di kaki itu saja, entah lupa atau apa tapi Alena benar-benar tidak bergerak, masih tetap di tempat yang sama dengan tangan yang memegang kaki yang sama.
"Pindah tempat, tangan ku belum." perintah Arka yang tidak di gubris Alena sedikitpun.
"Astaga ngantuk banget, pura-pura tidur aja ahk, males." batin Alena sambil menutup matanya, namun belum lama dia menutup mata dia merasakan tangan nya memegang sesuatu yang melengkung.
"Hey apa yang kamu lakukan." Arka membuka matanya saat merasakan sesuatu miliknya tidak nyaman.
Alena kembali menutup matanya namun naasnya Arka malah memegang tangan nya dan membalikan posisinya, menjadi terlentang, "Tuan, jangan." ucap Alena saat melihat Arka yang menatapnya tanpa arti.
Arka menatap Alena, "Kenapa? kita pernah melakukan nya bukan." Arka mencoba membuka baju yang di pakai Alena, namun Alena memegang tangan nya.
"Kamu sudah berjanji, ini tidak sesuai dengan isi perjanjian, kita hanya menikah kontrak tuan, saya tidak mau kalau samapai saya__ " ucap Alena menggantung.
"Hamil?." Arka berucap datar.
Alena tidak menjawab dia membenarkan posisinya menjadi duduk, dan saat Alena ingin membuka suaranya lagi Arka mendahuluinya.
"Pergi, lagi pula siapa yang mau jika anak-anak ku memiliki seorang ibu tidak tau malu sepertimu, menjijikan." ucap Arka kembali berkata pedas.
"Maaf." ucap Alena pelan.
__ADS_1
"Kamu pikir siapa dirimu, aku tidak sudi mengemis pada wanita murahan sepertimu, di luaran sana masih banyak wanita yang lebih segalanya, dasar tidak tau diri." ucap Arka lagi.
Alena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "kenapa dia semarah itu?, huhhh tidak jelas, lagi pula siapa juga yang mau memiliki ayah yang kejam seperti dia, banyak yang lebih baik dari pada si tuan gila itu. " batin Alena merasa jika Arka terlalu pede, padahal dirinya pun tidak pernah terpikirkan sampai kesana, karna detelah Arka membantu dia mengambil alih perusahaan ayah nya Alena akan pergi meniggalkan semua kenangan pahit ini.
.
.
.
.
Disisi lain tepatnya disebuah ruangan kamar, nampak pasangan yang sudah tak bisa di sebut muda lagi sedang saling memeluk satu sama lain, saling memberikan rasa kasih sayang yang selalu menyertai pasangan patsuri lama itu.
Ririn memeluk pria yang sudah 28 tahun itu menjadi suaminya, semua rasa sakit yang pernah dia rasakan di awal pernikahan nya sudah lama hilang dan sekarang yang ada hanya kebahagian yang selalu keduanya ukir bersama, cinta menyertai kehidupan mereka membuat Ririn dan Rafa tetap harmonis meski usia mereka sudah tidak muda lagi.
Harapan mereka sekarang hanya satu, menikahkan putra putri mereka, dan segera mendapatkan cucu, baik dari si sulung Arka maupun dari si bungsu Anaira, Rafa dan Ririn berharap jika si sulung tidak menunda-nunda terus untuk masalah jodoh, satu sisi mereka juga was-was dengan keadaan Anaira yang sedang menuntut ilmu luar negri, tepatnya di jerman tempat Rafa dulu menimba ilmu bisnis.
"Sayang, kira-kira jodoh Arka akan seperti apa ya?." tanya Ririn jujur saja dia gelisah jika memikirkan masalah perihal jodoh untuk putranya, dia takut putranya akan bersikap seenaknya dan kejam sama seperti suaminya dulu.
Rafa yang paham akan ke khawatiran istrinya pada si sulung membawa Ririn kembali kedalam pelukan nya. "Tenang saja, aku yakin sekeras apapun Arka, dia tetap bisa menimang mana yang benar dan mana yang salah, dia putramu sayang putra kita, aku yakin dia tidak akan menuruni semua sifat buruk ku, pasti setengahnya juga mengikuti sifat baikmu." ucap Rafa.
Ririn mendongkak. "Semoga saja itu benar, jika Arka menjadi kejam seperti dirimu dulu, aku tidak yakin akan ada wanita yang mau menerima perlakuan Arka yang selalu seenaknya, emm apalagi dengan ucapan Arka yang sering kali membuat orang terluka, aku khawatir mas." Ririn krmbali mengeluhkan sifat putranya yang sekeras batu.
"Aku juga berfikir begitu, tapi Arka pasti tidak akan membuat masalah yang sama seperti aku dulu, dia berbeda sayang, kamu ingat jika Arka memiliki wajah imut, aku tidak yakin jika pytra tampan kita itu bisa membuat kesalahan yang di luar nalar sama sepertiku." ucap Rafa lagi.
Ririn memejamkan matanya, lalu kembali membuka matanya. "Mas kamu ingat Arka kecil pernah melihat kucing mati, dan ekspresinya datar bahkan dia tidak menangis saat melihat kucing yang terlindas truck itu." Ririn mengingatkan kejadian dua puluh tiga tahun lalu, dimana Arka kecil masih berusia 2 tahun setengah, dan selalu membuat ulah seperti kejadian dimana Arka membuat kekacauan di pernikahan Zex dan Hany yang riuh dengan suara tangisan anak kecil, menjerit sakit karna mendapatkan tembakan karet jepret dari Arka.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jejak !!
__ADS_1