
JANGAN LUPA LIKE COMENT AND VOTE !!
Selamat membaca😉
🌹🌹🌹🌹🌹
Kondisi pak Danu sekarang lebih membaik, setelah keluar dari masa kritis, pak Danu terlihat sehat meski iya masih menderita penyakit struk dan yang bisa digerakan hanya tangan dan kakinya saja itupun hanya jarinya saja.
Meski demikian Ririn masih bersyukur karna ayahnya bisa sedikit berbicara padanya meski kata-katanya terbata-bata, Ririn tak henti-henti nya mengucapkan rasa syukur nya pada sang pencifta karna telah mengembalikan ayahnya pada nya lagi.
" ma..afin ay..ah nak."Ucap pak Danu terbata-bata.
Ririn menatap wajah kriput ayahnya, sungguh melihat itu Ririn terluhat sakit, apalagi melihat kondisi ayahnya sekarang, iya merasa kan marah yang teramat pada ibu sambungnya dan kakak tirinya yang telah membuat ayah nya menjadi seperti ini.
Ririn lebih rela di jadikan budak di rumahnya sendiri dari pada melihat ayahnya harus menderita seperti ini, apalagi dokter yang tadi memeriksa pak Danu bilang kalau ayahnya itu telah terlalu banyak mengosumsi obat yang bisa mempercepat kematian nya.
obat itu snagat langka di indonesia obat itu hanya ada di luar negri dan harganya pun sangat mahal karna fungsi obat ini sendiri adalah membunuh secara halus seperti membuat tubuh seseorang lemah dan tak bergerak begitu lah cara bekerja obat yang di kosumsi pak Danu menurut medis.
" Ayah ngak perlu minta maaf, harusnya Ririn yang minta maaf sama ayah.. karna Ririn telat menjemput ayah, maafin Ririn karna ngak ada di saat ayah butuh Ririn." Ucap Ririn sambil mengusap air mata pak Danu yang ternyata mengalir sama sepertinya.
"Ayah makan dulu ya, kata dokter ayah harus makan biar tubuh ayah cepat pulih." Ucap Ririn yang langsung mengambil bubur di nakas lalu menyuapi pak Danu dengan perlahan.
Suasana di ruangan VIP itu terlihat haru, Rafa tersenyum melihat Ririn yang sedang sibuk menyuapi mertuanya dengan telaten, jujur saja hal itu mengundang kecemburuan nya tapi apalah daya nya, sebisa mungkin Rafa nampak biasa saja meski hatinya selalu mengatakan iya cemburu. memang lebay tapi itulah yang iya rasakan sekarang.
Ririn nampak sibuk menyuapi pak Danu, sesekali Ririn memberikan gurauan candaan yang berhasil membuat ayahnya bisa sedikit menyungingkan senyuman, tanpa iya sadari sedari tadi suaminya sudah memperluhatkan wajah sedih nya, karna merasa tidak di perhatikan.
__ADS_1
Setelah selesai menyuapi pak Danu Ririn nampak gelisah seperti menahan sesuatu. " Sayang kamu kenapa? kamu sakit?." Rafa terlihat cemas.
" emm.. ngak mas, Aku mau pipis.. jagain ayah dulu ya." Ucap Ririn lalu berjalan ke arah kamar mandi khusus yang ada di ruangan VIP nya.
Rafa kembali duduk lalu melirik pak Danu kecangungan tiba-tiba merasuk kedalam tubuhnya, pak Danu hanya tersenyum melihat Rafa yang nampak segan padanya.
" aku titip Ririn ya Rafa, aku tahu semua masalalu kamu, tapi aku mohon jangan sakiti Ririn dia tidak bersalah, kau tau itu kan.. jaga dia untuk ku," Ucap Pak Danu terbata-bata.
Rafa terkejut dengan apa yang di ucapkan pak Danu, di lihatnya wajah pak Danu yang sudah mulai mengeriput, seketika iya teringat dengan ayah nya, tatapan penuh permohonan yang pak Danu perlihatkan padanya membuat Rafa terlihat tersentuh.
Kematian Nabila memang belum terungkap karna entah kenapa sangat susah baginya untuk mengungkap kejadian yang hampir 11 tahun lamanya itu, apalagi di tambah dengan kematian Cyrilla yang mana melibatkan dirinya sendiri.
" Saya berjanji akan menjaga nya, bahkan tanpa di suruh pun saya akan melakukan nya, dia telah membuat hati saya yang beku menjadi mencair, di juga telah mencuri hati saya, mana mungkin saya bisa meningalkan gadis yang telah membuat pengaruh besar di kehidupan saya." Ucap Rafa.
" Terimakasih.. dengan begitu aku bisa tenang kalau Ririn ada yang menjaga." Ucap Pak Danu masih dengan kata-kata yang terbata-bata.
Sedangkan Rafa yang mendengar itu entah kenapa merasa sedih, iya teringat dengan kata-kata mendiang almr ibunya dulu, kata-kata yang di ucapkan mertuanya sama persis dengan kata-kata orang yang seolah-olah ingin meningalkan dunia.
" Jangan bicara seperti itu ayah, Ririn sangat ingin melahirkan dan memberikan mu cucu, jangan kecewakan nya, dan jangan pernah meningalkan nya." Ucap Rafa dengan nada yang seperti tidak mau di bantah, hal utu membuat pak Danu tersenyum.
Suara kentukan pintu membuat pandangan mereka beralih ke pintu, Bersamaan dengan itu Ririn keluar dari kamar mandi, " Aku aja yang buka, takutnya teman aku." Ucap Ririn smabil berjalan ke arah pintu.
Ceklek..
pintu terbuka memperlihatkan dua wanita dua pria, tapi yang membuat Ririn tersenyum adalah teman kuliahnya alias sahabat yang sudah menemaninya selama 7 tahun lamanya.
__ADS_1
" Hani.. kangen." Ucap Ririn sambil memeluk teman nya yang kelakuan nya sedikit tomboy namun manja.
setelah berpelukan cukup lama ke 4 tamu itu masuk kedalam ruangan VIP itu, Rafa sedikit kaget karna melihat Rey datang ke ruangan tempat mertuanya di rawat.
" Hai Om masih inget aku kan, aku hany om.. teman Ririn smp sampai kuliah sekarang." Ucap Hany memperkenalkan diri nya.
Pak Danu mengangguk menginyakan jelas iya ingat gadis yang selalu menaiki pagar rumah nya layaknya maling untung saja saat itu Hany kepergok nya sama supir nya jika orang luar yang memergokinya bisa-bisa bonyok Hany karna di kira maling.
" Gimana kabar nya Om? maaf ya baru jenguk soalnya Hany akhir-akhir ini sibuk di rumah." Ucap Hany sambil tersenyum.
" Seperti yang kamu lihat Han, ayah masih lemah dan tubuhnya terkena struk." Ucap Ririn terlihat sedih.
" Sabar ya Rin, aku doain semoga Om cepat sembuh, biar bisa main maling-malingan lagi." Ucap Hany yang berhasil membuat Pak Danu menyuging kan bibirnya pertanda tersenyum.
"Masih inget aja han, padahal aku hampir aja lupa kalo kamu sering di anggap maling kalo masuk ke rumah. abisnya main naik pagar segala sih." Ucap Ririn menahan tawanya.
kedua gadis berbeda status itu sibuk bernistalgia tanpa menghiraukan mata do sekitarnya yang tidak paham dengan apa yang mereka obrolkan.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
jejak..jejak..
^^Happy Reading^^
__ADS_1