
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sudah empat hari ini Arka sangat sibuk di kantor, sedangkan Alena kini tengah di di sibukan dengan acara sebelum menikah, yang tak lain adalah acara nyalon, medi pedi, luluran dan lain nya, Ririn benar-benar membuat Alena kinclong sebelum hari pernikahan nya.
Bagaikan sultan Alena benar-benar di perlakukan layaknya wanita paling beruntung, apalagi memiliki mertua seperti Ririn yang baik hati membuat Alena semakin merasa di atas awan, menurut Alena bahagia itu ketika kita di hargai di tempat baru.
"Good morning Mom..Dad." Teriak seorang gadis dengan suara cempreng nya.
membuat semua penghuni rumah besar replek meihat ke arah sumber suara.
"Astaga sayang kecilkan suara mu, itu tidak sopan." ucap Ririn menasehati.
"His Mommy." ucap gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu berakhir memeluk tubuh sang Mommy. "Rindu." ucap gadis cantik itu sambil mempererat pelukan nya.
Ririn terkekeh. "Mommy juga rindu sayang, gimana kabarmu sayang." tanya Ririn setelah melepaskan pelukan nya.
"Seperti yang Mommy lihat, Ira sehat dan tetap cantik." ucap gadis itu yang tak lain adalah Anaira Anatasya putri bungsu Ririn dan Rafa yang kini usianya mengijak 22 tahun.
(Visual Anaira Anatasya).
"Sama Daddy ngak kangen nih?." Rafa ikut menyahut dengan menggoda putri bungsunya.
Sontak Anaira pun melirik kesamping dan langsung tersenyum sumringah. "Aaaa...Daddy kangen." ucap Anaira manja sambil berlari membawa rentangan tangan nya.
Rafa terkekeh saat melihat tingkah manja sang putri bungsu, pelukan hangat penuh kasih sayang pun dia berikan untuk Anaira, yang membuat gadis cantik itu semakin mempererat pelukan nya, padahal dia selalu pulang jika pibir kuliah tapi entah kenapa Anaira begitu sangat merindukan pelukan pria matang yang dia sapa dengan nama Daddy itu.
"Dad, pelukan nya..Ira sesak." ucap Anaira sambil memperagakan orang yang kehabisan nafas.
"Daddy merindukan mu, bagaimana dengan kuliahmu sayang?." tanya Rafa sambil melepaskan pelukan nya.
"Lancar Dad, tahun depan Ira akan lulus." sahut Anaira sambil tersenyum.
"Kakak dimana Dad, Mom?." tanya Anaira yang tidak melihat kakak tercintanya.
Ririn berjalan mendekati putri bungsu dan suaminya yang sedang duduk, "Kak Arka sedang pergi bersama istrinya." jawab Ririn.
"Kakak benar-benar menikah? aku merasa mimpi, secepat itu kakak melupakan kak Kikan." ucap Anaira dengan raut wajah yang nampak tidak bisa di artikan.
Ririn tersenyum dia tau apa yang dimaksud dengan ucapan sang putri bungsu, "Lebih cepat lebih baik, lagi pula kakak mu juga harus hidup maju kedepan, dia tidak mungkin berlama-lama terjebak dalam kesedihan kehilangan Kikan, Mommy akan mendukung semua yang kakak kamu lakukan." ucap Ririn diangguki Rafa.
__ADS_1
Anaira menghela nafasnya, "Kalo kak Arka udah nikah, berarti Anaira boleh nyusul dong, boleh kan Mom." ucapnya dengan raut wajah yang sudah berganti ke mode ceria.
Sontak Rafa melotot mendengarnya. "Kuliah yang benar dulu, jangan pacaran Daddy tidak mau nilai kamu saat lulus kecil." Rafa menyahut dengan nada tegasnya, membuat Anaira melirik sinis.
"Daddy Anaira udah 22 tahun, masa iya ngak boleh pacaran, jahat banget, ya kan Mom."rengek Anaira mengadu pada sang Mommy.
Ririn tersenyum. "Iya, Mommy mau kamu lulus dulu sayang." sahut Ririn yang membuat Anaira menatap kedua orang tuanya dengan wajah lesunya.
"Mommy, Daddy sama aja, huh." ucap Anaira.
"Ini demi kebaikan kamu." sahut Rafa dan Ririn bersamaan.
"Ya..ya.. Anaira paham." sahut Anaira cepat, lalu berdiri. "Anaira cape, mau istirahat dulu." sambungnya lagi sambil berdiri lalu berjalan melangkah ke tangga yang menuju lantai atas.
Ririn dan Rafa saling melirik lalu tersenyum, bukan tanpa alasan mereka tidak mengijinkan putri bungsunya untuk berpacaran, masa lalu mereka membuat Rafa dan Ririn mau tak mau harus over pretektif pada putrinya, ketakutan akan hal yang tidak diinginkan oleh keduanya membuat Rafa dan Ririn selalu menjaga putrinya secara ketat.
"Ini yang terbaik." ucap Rafa diangguki Ririn.
.
.
.
.
Seharusnya sebelum menikah mereka di pingit, tapi karna ini adalah acara repsesi nya saja jadi tidak ada kata pingitan mengingat mereka sudah sah menikah.
Menikah adalah hal yang paling di nanti-nanti oleh siapapun, dan Alena cukup senang saat keinginan nya untuk menjadi princess di pernikahan nya akan terlaksanakan, apalagi gaun yang akan Alena pakai bernilai pantastis, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memilikinya.
"Arka tolong bukakan sleting nya, aku mau pipis." ucap Alena yang sedang membelakangi Arka.
"Iya." sahut Arka sambil mengubah posisinya menghadap Alena, lalu dia pun membukakan sleting gaun yang di pakai Alena.
Arka terdiam sambil menelan silivanya saat melihat pungung putih nan mulus milik Alena, seketika tubuhnya memanas meminta sesuatu yang di sebut dengan Vitamin.
"Arka udah belum." tanya Alena sambil menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
"Hem." jawab Arka sambil menatap pundak Alena yang sudah terbuka.
"Hem apa?." tanya Alena.
Karna lama menunggu jawaban Alena pun menyimpulkan jika sletingnya sudah terbuka, dia membuka gaun nya cepat, lalu berlari ke arah toilet dengan pakaian yang menempel seadanya, dan hal itu tak luput dari pandangan Arka.
__ADS_1
"Sempurna." gumam Arka sambil mengambil gaun yang Alena tinggalkan begitu saja di lantai, lalu menaruhnya di tempat penyimpanan baju.
"Arka tolong ambilkan bajuku, aku lupa membawa baju." teriak Alena sedikit membukakan pintu toilet, keduanya sedang berada di ruangan khusus VVIP yang disediakan pihak perusahaan pemotretan untuk Arka dan sang istri.
Arka membawakan pakaian Alena, lalu berjalan ke arah kamar mandi. "Cepat, kita harus melalukan pemotertan lagi." ucap Arka.
Alena menerima baju nya. "Iya bawel, kamu tunggu di luar jangan mengintip, aku malu." ucap Alena lalu menutup pintu, Arka yang melihat tingkah Alena hanya menggelengkan kepalanya.
"Bahkan kemarin aku melihat semuanya, kenapa harus di tutupi lagi." gumam Arka sambil tersenyum kecil, setiap malam Arka selalu mendapatkan vitamin nya, dan nanti malam dia pun pasti akan mendapatkan nya, meski Alena selalu menolak nya tapi dengan gaya licik nya dengan mudah Arka bisa membuat Alena sendiri yang merengek -meminta permainan nya di lanjutkan.
Setelah selesai pemotretan Arka berniat pulang, tapi suara dering alrm alam dari perut Alena membuat Arka membalikan arah perjalanan nya menjadi berhenti di sebuah restoran bintang 5 yang tak jauh dari tempat pemotretan nya tadi.
"Ayo turun." ucap Arka.
Alena terdiam sebentar dengan pandangan yang mengarahkan pada satu titik, "Kenapa?." tanya Arka yang merasa jika tatapan Alena berarah pada yang lain bukan padanya.
"Aku seperti mengenal gadis itu." ucap Alena menunjuk seorang gadis berambut coklat dengan pakaian yang sangat minim.
Arka langsung melihat ke gadis yang di tunjuk Alena, jalas Arka tau siapa gadis itu, dia adalah Dinar Ghani anak bungsu Dean Ghani yang sekarang sudah menikah dengan seorang pengusaha tua.
"Mungkin dia teman lama mu, ayo turun bukan kah perut buncit mu sudah meminta makan." ucap Arka mengalihkan pembicaraan.
Alena yang mendengar penuturan Arka sontak membulatkan matanya. "Mana ada buncit, parut ku kempes tau." sungut Alena tidak terima di sebut perut nya buncit.
Arka terkekeh, "Iya kempes, tapi nanti akan buncit." ucap Arka sambil mengedipkan sebelah matanya, yang seketika membuat mata Alena membulat lagi, lalu pipinya memerah.
"Ayo turun, aku sudah lapar." ucap Alena lagi, sambil membuka pintu mobil, dia berjalan duluan ke restoran dengan pipi yang merah.
Keduanya memilih meja yang ada di ujung, karna Arka tidak suka suara bising dari pengunjung lain, keduanya duduk dengan posisi yang saling berhadapan.
"Mau makan apa?." tanya Arka.
Alena nampak berpikir, di tangan nya terdapat buku daftar menu, "Aku mau makan-makanan jepang aja." ucap Alena. "Sushi." sambung nya lagi.
Arka menganggukan, dia memesankan makanan yang di minta wanita yang 4 hari ini menjadi candunya itu, dan keduanya pun makan bersama dengan khitmat.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ngak kerasa udah puasa hari kedua😍
Selamat berbuka puasa❤
__ADS_1