Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2.Dua bocah


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah kepergian suami nya yang bekerja dan putranya yang sekolah, Alena langsung masuk ke rumah nya, begitulah rutinitas nya sepanjang hari, yaitu menjadi ibu rumah tangga.


Sebuah predikat yang tidak ada harga nya, bukan karna murah tapi menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu hal yang sangat bernilai tinggi, tepat nya di hati suami dan putra nya.


Lima tahun sudah dia membina rumah tangga bersama pria yang di cintai nya, suka duka nya pasti banyak, tapi begitulah kehidupan yang pasti membutuhkan proses, baik yang senang ataupun yang sulit.


"Tolong bereskan meja nya, saya mau ke atas dulu." ucap Alena pada pelayan nya.


Pelayan itu mengangguk, "Baik nona." jawab nya.


Alena berjalan ke arah dapur, dia akan mulai membuat makanan yang di pesan suami tercinta nya.


Opor ayam dan perkedel kentang menjadi menu makanan pilihan nya, Alena sangat tau jika suaminya sangat menyukai perkedel kentang, dan Alena sudah mengetahui resep perkedel kentang dari mertuanya, dan ya perkedel kentang buatan mertuanya memang tidak ada dua nya.


"Nyonya apa perlu bantuan?." tanya pelayan.


"Tidak terimakasih, kalian bereskan saja yang belum di bereskan saya akan memasak nya sendiri." ucap Alena menolak bantuan para pelayan, jika untuk urusan perut suaminya Alena tidak pernah mengijinkan siapapun membantu nya, terkecuali mertuanya karna jika di bantu mertuanya masakan yang di masak akan lebih lezat.


"Tiga puluh menit lagi tolong panaskan opor nya, kentang nya juga di goreng tapi jangan terlalu garing juga jangan terlalu basah, taruh semuanya di rantang susun, dan untuk nasi nya terakhir saja biar masih panas." ucap Alena.


"Baik nona." jawab pelayan sambil mengangguk.


Alena Kembali melangkahkan kaki nya untuk menaiki satu persatu anak tangga, lalu berjalan ke arah kamar nya, tempat yang selalu menjadi saksi keharmonisan keluarga kecil nya.


Membereskan kamar menjadi hal yang di sukai nya, Alena tidak pernah mengijinkan pelayan masuk ke kamarnya selain menyapu dan mengepel, selebihnya selalu di lakukan oleh nya sendiri, jika di tanya alasan nya kenapa? jelas karna dia yang tidur dan dia juga yang harus membereskan tempat tidur nya sendiri.


"Aku harus mandi, suami dan putra ku pasti sudah menunggu ku." ucap nya, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah selesai berpakaian Alena langsung berjalan melewati satu persatu anak tangga, dan sesampai nya di meja makan Alena langsung menenteng rantang susun nya.


"Saya akan pergi ke luar, tolong jaga rumah ya." ucap Alena.


Alena bergegas pergi dengan menggunakan salah satu mobil mewah nya, jam sudah menunjukan pukul sebelas siang putranya pasti sudah keluar kelas.


Sebelum nya Alena sudah menyuruh supir untuk menjemput putranya dan mengantarkan Bian ke perusahaan mengingat mereka akan menginap di rumah besar.


Setelah melewati jalanan yang macet mobil yang di kendarai Alena sampai di gedung yang menjulang tinggi, Alena keluar dengan menenteng rantang susun berisikan makanan siang untuk sang suami tercinta nya.


"Selamat siang, dan selamat datang nona muda." sapa resepsionis sambil menunduk hormat.

__ADS_1


Alena tersenyum, "Siang." jawab nya singkat, "Apa suamiku masih meeting di luar?." tanya nya pada resepsionis.


Kedua resepsionis itu menggelengkan kepalanya, "Tidak nona, tuan muda sudah kembali sekitar tiga puluh menit yang lalu." jawab salah satu resepsionis itu.


"Saya akan ke atas dulu, selamat bekerja." ucap Alana lalu berjalan ke arah Lift.


Setelah Lift terbuka Alena langsung melangkahkan kaki nya ke arah ruangan CEO, dan di luarnya nampak sekertaris Arka yang nampak kaget melihat nona muda nya.


"Selamat siang nona." sapa sekertaris itu gugup.


Pernah dua kali mendapatkan kemarahan dari nona muda nya membuat wanita cantik bernama Amanda gelagapan, karna pernah ketahuan memendam rasa pada CEO nya.


Alena tersenyum sinis. "Ya siang." jawab nya singkat, "Steel fashion kamu tambah bagus, lanjutkan jangan kembali menjadi pelakor dadakan, atau kau tau apa akibat nya." sambung Alena menepuk bahu Amanda pelan.


Masih ingat betul di ingatan nya saat Amanda si sekertaris baru yang mencoba mendekati suaminya, apalagi dengan pakaian nya yang seksi, membuat Alena geram bahkan hampir mengeksekusi Amanda dengan terang-terangan, dan di lempar ke perut si Hiu cantik Alena.


"Jangan ingatkan itu lagi nona, saya sudah tidak berniat lagi menjadi cadangan, saya sudah bertobat." sahut Amanda pelan, dia masih takut dengan kemarahan istri CEO nya.


Pernah di kritik berbagai macam dengan kata-kata penuh kepedesan membuat nyali Amanda menciut, dia salah mencari lawan, Alena bukan lawan yang tepat apalagi si tuan muda yang dingin membuat dia mengurungkan kembali niatnya menjadi cadangan atau pelakor.


"Bagus itu, aku mendukung perubahan mu." kata Alena lalu pergi meninggalkan Amanda dan masuk kedalam ruangan suaminya.


Ceklek..


"Siang sayang." ucap Alena sambil mencium pipi suaminya, lalu menaruh rantang susun nya di meja.


"Bian mana?." tanya Arka heran tak melihat putra nya.


Alena duduk, "Bian masih di jalan, aku surih supir untuk antar langsung kesini." jawab Alena.


"Rian kamu mau makan bersama ngak?." tanya Alena pada Asisten suaminya.


Andrian menggeleng, dia tidak mau menyaksikan keharmonisan Arka dan Alena, semua itu mengingatkan dia pada kenangan nya bersama Lili.


"Aku akan makan di luar." jawab nya, lalu beranjak berdiri.


Dan saat Andrian ingin berjalan ke arah pintu tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan sosok Bian dan sosok Boy.


"Siang Paman, siang bibi." sapa Boy si bocah bule yang baru tiga tahun.


Berbeda dengan Boy yang menyapa Bian malah berjalan lurus, lalu mencium pipi sang Mama.


"Maaf Ma." ucap nya pelan, lalu kembali mencium pipi sang Mama.

__ADS_1


Alena mengerutkan keningnya nya saat mendengar kata maaf yang terucap dari bibir kecil sang putra. "Bian ngak salah, kenapa harus minta maaf?." tanya Alena heran.


Bian duduk di pangkuan sang Mama. "Untuk yang tadi, maaf karna tidak mencium Mama saat pergi ke sekolah." ucap Bian kembali memberikan ciuman di pipi sang Mama.


Alena gemas langsung memeluk sang putra.


"Mama memaafkan mu." ucap Alena sambil mencium pipi sang putra, dan kali ini Bian membiarkan pipi nya di cium sang Mama.


Arka tersenyum melihat putra nya yang minta maaf pada sang istri nya, Bian menuruti nasihat nya untuk tidak menyakiti wanita yang melahirkan nya.


"Boy kenapa kamu kesini? kemana Mommy mu?." tanya Arka heran, karna tidak biasanya Boy ikut ke perusahaan nya.


"Mommy sedang belanja, Daddy sibuk bekerja, mereka bilang aku bisa pulang bersama bibi ke rumah Opa." ucap Boy, dia memang memanggil Rafasya dengan sebutan Opa, karna Boy sudah tidak memiliki sosok Opa maupun Oma.


Bocah bule itu melirik Andrian yang kebetulan sedang melirik nya. "Uncle, antar aku ke McD, aku lapar." ucap bocah tiga tahun itu.


Andrian melongo, ini pertama kalinya dia mendapatkan perintah dari bocah kecil, dan miris nya lagi bocah itu adalah anak dari mantan wanita incaran nya, yang tak lain Kelle.


"Uncle, hello?, apa uncle sakit? ayo antarkan aku dan Bian ke McD aku dan Bian sedang kelaparan." ucap Boy lagi.


"Ahk baiklah, uncle akan mengantarkan kalian." ucap Andrian.


Boy melirik sepupunya yang masih dalam pelukan bibi nya. "Bibi boleh kah aku meminjam putra mu, Bian akan aman bersama ku, tenang saja bodyguard Daddy ku sangat banyak." ucap Boy sambil tersenyum.


Alena melepaskan pelukan nya membuat Bian langsung berjalan mendekati Boy, "Jangan sombong, Bodyguard Opa ku lebih banyak." ucap Bian tak mau kalah.


Sepanjang perjalanan kedua bocah itu hanya berdebat, dan hal itu membuat Andrian yang menyupir di depan menggelengkan kepala nya. "Tuan muda, kalian adalah sepupu kenapa harus bertengkar." tanya Andrian pusing.


"Uncle aku yang paling kaya bukan? harta Daddy ku yang paling banyak kan?." tanya balik Boy.


Baru Andrian akan menjawab Bian sudah kembali bersuara.


"Om Rian, katakan pada Boy uang Opa yang paling banyak." ucap Bian dingin.


Andrian hanya bisa menghela nafasnya pelan, keduanya memiliki bibit yang sama-sama keras, dan sombong, dan sifat itu menurun pada kedua bocah itu.


"Apalah dayaku yang pas-pasan ini." batin Andrian yang kalah jauh dari kedua bocah sultan itu.


Berbeda tempat nampak Alena dan Arka yang sedang sibuk bermesraan, keduanya makan sing bersama dengan saling suap menyuapi, melupakan sejenak tentang dua bocah itu, dan menikmati suasana tanpa gangguan dua bocah yang selalu berdebat itu.


___________


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Jangan lupa Voteโ™ฅ๏ธ


__ADS_2