
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Bian ajak Rere nya main." titah Alena lembut.
"Aku sibuk Mam." sahut Bian dingin, lalu berjalan ke arah kamar nya.
Alena menghela nafasnya lalu melihat keponakan nya. "Tidak apa, Rere main sama Nanny ya." kata Alena di angguki cepat oleh gadis berambut sebahu itu.
Melihat putri nya yang berlari ke arah pengasuh Bian membuat Dinar tersenyum. "Bian benar-benar mirip dengan kalian." ucap Dinar sambil melihat ke arah sepupunya.
"Tentu saja, dia kan putraku." sahut Alena sewot.
Astaga Dinar lupa jika sepupunya itu memang selalu sewot jika berbicara dengan nya, lain hal nya dengan orang lain yang selalu ramah, tapi meski begitu Dinar paham betul apa penyebab sepupunya tidak nyaman, kesalahan nya di masa lalu memang sangatlah fatal.
"Penampilan mu membuatku kaget, aku sampai menyangka kamu bukan sepupu ku." kata Alena, ya melihat penampilan sepupunya yang sekarang benar-benar membuatnya kaget dan kagum.
Dinar tersenyum cangung, "Kamu bisa saja." sahut Dinar malu, "Berapa?." sambung nya bertanya.
"Hah? berapa? apa nya?." kata Alena bingung.
"Usia kandungan mu."
Alena tersenyum serasa mengusap perut nya. "Baru jalan sebulan." kata nya seraya tersenyum. "Dari mana kamu tau kehamilan ku?." tanya Alena bingung.
"Aku melihat guru olahraga mu, aku kenal dia adalah tetanggaku." kata Dinar, membuat Alena hanya bisa manggut-manggut.
Keduanya berbincang-bincang ringan di temani secangkir teh hijau, Dinar yang sekarang sangatlah damai tidak seperti Dinar yang dulu, berontak dan penuh ambisi seperti Alena di masa lalu.
Sedangkan di tempat lain Bian yang sedang duduk di sopa yang ada di sudut kamarnya nampak sedang fokus membaca buku, disana juga ada Rere yang sedang melihat mainan di depan nya.
"Aku tidak suka robot, tidak suka mobil-mobilan, dan tidak suka Lego." ucap Rere sambil menatap aneh pada mainan di depan nya.
Bian mendengkus kesal saat mendengar ucapan Rere, kalau tidak suka ya jangan main, begitu oceh nya dalam hati.
"Aku mau boneka Barbie." kata Rere.
"Maaf nona, tapi di kamar tuan muda tidak ada boneka nona." sahut si pengasuh.
Rere melirik pada Bian yang nampak fokus pada buku yang ada di tangan nya, membuat Rere kesal karna merasa di abaikan.
Tangan kecil Rere mengambil mainan mobil-mobilan, lalu dia lempar ke arah Bian, membuat mobil-mobilan nya seketika hancur menjadi beberapa bagian.
Para pengasuh hanya diam melihat mobil-mobil yang baru di beli minggu lalu oleh si tuan muda kecil nya, bisa marah besar pikir mereka.
__ADS_1
Huhh..
Bian menahan kesal nya, ingin marah tapi dia ingat satu pesan sang Mama padanya.
"Jangan bersikap tidak baik pada tamu, itu tidak sopan, tamu adalah raja jadi perlakukan mereka dengan baik agar kita memiliki kesan baik di hati mereka."
"Jangan rusak mainan nya jika tidak suka, kemari dan duduk lah." Bian berkata sambil menepuk sofa di samping nya.
Mengabaikan mobil-mobilan nya yang rusak dan menjadi beberapa bagian, lagi pula mobil-mobilan itu di beli oleh sepupunya Boy, bukan dari kartu tanpa batas nya.
"Kak." Rere duduk seraya mendekat secara perlahan.
"Jangan dekat-dekat, aku tidak suka dekat-dekat dengan anak cengeng." kata Bian cetus.
Rere menggelengkan kepalanya, "Rere ngak cengengeng kak." sahut Rere sambil memanyunkan bibir nya.
"Kalau tidak cengeng kenapa tadi menangis?." Bian menaikan sebelah alis nya.
Dan Rere terdiam, "Kaget kan." katanya menampilkan deretan gigi susu nya.
Huh..
Bian memberikan satu buku milik nya ke Rere, namun sedetik kemudian Bian menepuk jidatnya, dia lupa Rere masih berusia tiga tahun, dan pasti belum sekolah.
Rere menggeleng. "Aku suka buku itu." tunjuk nya pada buku tebal dengan judul yang memakai bahasa asing.
"Kamu bisa membaca nya?." tanya Bian kaget.
"Rere menyukai bahasa nya." sahut Rere sambil membuka lembaran pertama.
Bian melongo mendengarnya, bahkan Bian harus butuh waktu lama untuk bisa mempelajari bahasa itu.
🌹
Di tempat lain sepasang patsuri nampak sedang duduk di ranjang, obrolan keduanya nampak serius di lihat dari tatapan kedua nya.
"Apa kakak sudah memikirkan tawaran yang kemarin?." tanya Anaira pelan.
Kiano terdiam mendengar ucapan istrinya, dia sudah memiliki jawaban nya, tapi Kiano masih merasa tidak pantas.
"Kak." panggil Anaira lagi, lalu bersandar di pundak suaminya.
Kiano tersadar dari lamunan nya, lalu melirik istrinya, "Aku mau, aku akan mencoba." sahut Kiano.
Dia sudah memutuskan untuk mau mengambil posisi CEO, dia ingin istrinya bahagia dan senang, meski menjadi CEO itu tidak gampang dan butuh tanggung jawab yang besar.
__ADS_1
Mengesampingkan pendapat orang lain untuk nya, sudah di pastikan orang-orang akan mengatakan jika tujuan Kiano menikahi Anaira adalah karna posisi CEO, tapi hal itu akan di kesampingkan oleh nya, apapun pendapat orang lain adalah hak mereka, dan yang perlu dia lakukan hanyalah berkerja keras untuk menjadi pemimpin.
"Kamu serius?." tanya Anaira sambil menatap suami nya.
Jika benar mungkin Anaira akan senang, apalagi ini adalah impian nya, untuk cepat-cepat program kehamilan.
Kiano mengangguk. "Aku serius, aku mau kamu program kehamilan, dan menjadi istri yang kamu impikan." sahut Kiano sambil tersenyum.
Anaira tak bisa berkata-kata lagi, dia langsung memeluk suaminya dengan perasaan yang penuh bahagia, dia akan mewujudkan impian nya menjadi istri impian untuk suaminya.
"Terimakasih sayang, terimakasih." kata Anaira sambil mempererat pelukan nya.
Kiano membalas pelukan nya dengan penuh kasih sayang.
keduanya bertatapan lalu tersenyum.
"Apapun untuk mu, sayang." ucap Kiano.
Cupp..
Anaira mencium pipi suaminya. "Aku lebih mencintaimu, sayang." sahut Anaira sambil tersenyum manis.
Keduanya merebahkan tubuhnya, lalu saling memeluk dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Cinta yang keduanya miliki memang sederhana, tapi begitulah cinta yang memang sederhana dan tidak butuh banyak ungkapan, kebahagian adalah ketika kita di cintai dengan setulus hati oleh orang tersayang.
Kini Anaira akan fokus pada program kehamilan nya, dia ingin segera memberikan anak untuk suaminya, memberikan cucu untuk keluarga besar nya.
"Mama dan Mommy akan senang mendengar kabar ini." ucap Anaira.
Kiano mengangguk. "Iya, tapi jika aku salah bimbing aku, aku masih belum terbiasa dengan posisi itu." kata Kiano jujur, dia memang benar-benar gugup akan posisi nya saat ini.
Anaira memengang tangan suaminya, "Aku yakin kamu bisa sayang, kamu itu pintar dan berpotensi, aku yakin di bawah pimpinan mu perusahaan kita akan semakin maju, semangat." Anaira memberikan semangat dan kepercayaan pada diri sendiri untuk suami tercintanya.
"Terimakasih untuk semua pengertian mu, aku berjanji akan menjalani tugas ku dengan penuh tanggung jawab, aku tidak akan mengecewakan mu, sayang." kaga Kiano bersungguh-sungguh.
"Aku percaya padamu, sayang." sahut Anaira sambil tersenyum.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ada yang nunggu Andrian move on ngak?.
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1