Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2.Sibotak


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Pertemuan antar pemegang saham seharusnya menjadi icon besar untuk Arka bisa mengenal beberapa pemegang saham nya, namun hal yang tak di duga terjadi, Arka malah terkulai ambruk lemah.


Berawal dari melihat pria botak yang ternyata salah satu pemilik saham di perusahaan nya, Arka benar-benar ingin muntah saat melihat kepala tanpa rambut itu, alias botak.


Hoekk..


Hoekk..


Untuk kesekian kalinya Arka memuntahkan isi perutnya, bahkan entah sejak kapan Arka berdiam di kamar mandi.


"Sial, kenapa ada yang kepala nya botak." sungutnya kesal, kembali membayangkan pria botak itu membuat Arka kembali ingin muntah, mungkin bawaan bayi nya.


Beruntung pertemuan tadi mendapatkan hasil yang memuaskan karna Andrian dan Amanda bekerja sama untuk mendapatkan kepercayaan dari para pemegang saham lain nya.


Bahkan Andrian dan Amanda juga berhasil membeli dua puluh persen saham di perusahaan Xxxx, meski pada kenyataan nya perusahaan yang di pimpin oleh Arka jauh lebih besar dan sukses dari perusahaan itu, tapi tidak ada salahnya bukan menanam saham di tempat lain?.


"Apa perlu tukang pijit?." tanya Andrian, dia masuk kedalam toilet melihat teman sekaligus Bos nya yang nampak sangat tidak bertenaga.


Arka menoleh, lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak suka pijitan orang lain." tegas Arka, ingin kembali mual.


Huh..


Andrian menarik nafasnya dalam-dalam, perasaan saat istrinya hamil dulu istrinya tidak melibatkan nya dengan ngidam yang aneh-aneh, hanya saja ikan kesayangan nya yang di goreng oleh Lily dulu.


Buru-buru Andrian menepuk pipinya, dia sudah berjanji akan mencoba melupakan sedikit-sedikit masa lalu nya, nama Lily akan tetap terkenang di hatinya, tapi untuk mengenang lembaganya mungkin itu hal yang harus di hapus dari ingatan nya, karna mengingat kenangan itu membuat nya sakit.


Tok..tok..


"Tuan, ini jamu nya." Amanda membawa segelas jamu yang dia beli di pinggir jalan.


"Taruh saja di meja." Jawab Andrian tanpa melihat Amanda yang berdiri di balik pintu.


Amanda pun menaruh jamunya lalu pergi meninggalkan kamar hotel Bos nya itu, hari ini benar-benar melelahkan untuk nya, tapi demi uang dan bonus apapun akan Amanda lakukan.


"Untuk uang apapun akan ku lakukan."


Sedangkan di kamar mandi Andrian nampak membantu memijat leher Bos nya itu, sesekali di mengoceh sambil membantu si Bos nya.


"Sepertinya anakmu ingin membuat papa nya sulit, lihat saja apa yang terjadi hanya karena pria botak itu kau sampai muntah seperti ini." kata Andrian.


Manedengarkan ucapan teman sekaligus Asisten nya sejak tadi yang mengoceh membuat Arka kesal. "Diam lah dan bantu aku agar mual nya cepat hilang." tegas Arka, kembali memuntahkan isi di perutnya lagi.

__ADS_1


Huhh..


Jika bukan karena kasihan dan bonus mana mau Andrian melihat muntah teman nya, tapi Arka adalah bos nya dan sekaligus teman yang selalu ada dalam kesusahan.


"Baiklah, tapi tadi si botak itu ingin_____" ucap Andrian terhenti karna Arka berteriak.


"Jangan katakan si botak itu lagi, kau tau hanya dengan mengatakan nya saja kepala ku langsung teringat akan kepala botak tanpa rambut itu." Arka kembali memuntahkan isi perutnya setelah mengatakan kata itu, entahlah dia merasa jijik dan mual melihat kepala botak itu.


Huhh..


Andrian kembali diam, lalu memberikan pijatan di leher Arka lagi, tidak ada dumelan yang ada hanya suara muntah Arka.


Setelah merasa baikan Arka keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Andrian, keduanya duduk di sofa, Andrian dengan sigap memberikan jamu yang di belikan Amanda tadi.


"Minumlah, setelah ini kau tidur." kata Andrian, usianya memang beda satu tahun dan Arka jadi Andrian tak sungkan lagi untuk berbicara apalagi kedua orang tuanya adalah sahabat kecil.


Arka menerima segelas jamu itu, lalu meminum nya, rasanya sangat pahit membuat Arka kembali mual.


"Mau kemana lagi?." tanya Andrian kaget melihat Arka berlari.


Bukan nya menjawab pertanyaan Andrian Arka malah langsung masuk ke kamar mandi lagi dan kembali memuntahkan isi di perut nya.


"Sialan pahit sekali minuman nya." sungut Arka, kembali muntah.


Andrian menggelengkan kepalanya. "Itu jamu, Kalau mau yang manis minum susu saja." Andrian kesal, lalu keluar dari kamar yang di tempati Arka.


"Astaga Oppa kau tampan sekali, melihat wajah mu membuatku merasa ingin menjerit geli, saranghe Oppa." celetuk Amanda sambil menatap layar laptop nya yang menampilkan flm drakor anak sekolah yang sekarang sedang viral, dan pemain nya kebetulan adalah aktor favorit nya yang tak lain Cha Eun Wo, si tampan yang takalah tampan dengan Oppa Lee Min-ho.


Bergedik ngeri Andrian di buatnya, tingkah Amanda sama dengan Lily dulu yang mengidolakan aktor Korea, dan sekarang Andrian melihat sikap kekanakan Amanda, padahal setahunya Amanda sudah berusia lebih tua dari Lily, tapi mungkin faktor usia tidak menjadi penghalang untuk seorang wanita mengidolakan aktor kesayangan nya, ya meski sampai berlagak bodoh seperti yang Amanda lakukan sekarang.


Lihat saja kaki dan tangan Amanda tidak bisa diam seperti cacing kepanasan, membuat Andrian yang sedang mengintip di balik pintu merasa geli melihat nya.


"Benar-benar sama seperti Lily." gumam Andrian lalu berjalan ke arah pintu kamar yang di tempati nya.


Sedangkan di tempat lain nampak Alena yang sedang membutakan makanan untuk sang putra tersayang nya, Bian meminta makan dengan perkedel kentang dan sayur sop.


Berkutik di dapur sendirian, membuat Nana yang melihat nya tidak tega.


"Apa butuh bantuan Nona?." tanya Nana, mendekati majikan nya.


Alena menggeleng. "Ini hampir selesai Na, oh iya Bian nya mana?." Alena malah balik bertanya.


"Tuan muda kecil sudah tidur nona, mungkin kelelahan karna seharian bermain kejar-kejaran." jawab Nana, lalu melihat beberapa piring cucian yang ada di wastafel.


"Jangan di pegang Na, tugas kamu kan cuman jadi pengasuh Bian, biarin aja nanti ada pelayan yang cuci." Alena melarang pengasuh putra nya untuk mengerjakan pekerjaan dapur.

__ADS_1


Nana bingung memilih diam, dan saat melihat majikan nya duduk di kursi yang ada di dapur Nana langsung sigap mengambilkan air minum, dia tau kondisi kehamilan majikan nya itu sedikit bermasalah.


"Terimakasih, Na." ucap Alena, seraya tersenyum, di balas senyuman oleh Nana.


Nana berniat untuk pergi namun langkahnya terhenti karna di panggil lagi oleh sang majikan.


"Duduk Na, biarin aja Bian jangan di tungguin nanti juga kalo bangun pasti nyari nya ke dapur " kata Alena.


Sedikit sungkan untuk Nana duduk, tapi pada akhirnya Nana pun ikut duduk.


tentunya dengan rasa cangung dan kikuk.


Alena melihat Nana, cantik dan dari penampilan nya Nana tidak terlihat seperti gadis yang kekurangan uang, bahkan wajah Nana tidak sedikitpun memiliki kotoran seperti pelayan lain nya.


"Kemarin gimana Na? udah ketemu sama ibu nya?." Alena sedikit kepo, kata putranya Nana pulang karna ingin mencari ibunya, dan Alena kepo dengan kehidupan pengasuh putra nya.


"Belum nona, masih dalam pencarian." sahut Nana, lalu menunduk lagi.


"Jangan sungkan Na, anggap aja teman, usia kita kan ngak jauh." kata Alena lagi, membuat Nana sedikit malu.


"I..iya nona." sahut Nana lagi.


"Kamu sudah punya pacar?." Alena kembali kepo, dia tau Nana belum menikah jadi dia menanyakan pacar nya saja.


Nana kikuk, kenapa juga tiba-tiba majikan nya menanyakan pacar?, jangankan pacar teman saja Nana tidak punya, sejak kecil menjadi sosok tertutup membuat dia tidak memiliki satu orang pun teman.


"Kenapa diam Na?." Alena semakin kepo, yang dia tua dari Bian putranya jika Nana itu masih jomblo.


"Saya masih ingin sendiri Nona." sahut Nana, akhirnya memilih jujur, dan jawaban Nana malah membuat Alena tersenyum senang.


"Kamu tau Na, Asisten Andrian itu duda loh Na, kamu suka ngak sama dia? kalau kamu suka nanti aku deketin sama dia mau ya."


Apa? duda? dan apa lagi ini kenapa majikan nya malah ingin mendekatkan nya dengan si galak, mana mau Nana, pernah beberapa kali di bentak oleh Andrian saja membuat Nana tidak menyukai pria berparas imut itu.


"Maaf Nona, saya sadar diri, saya hanya seorang pengasuh dan miskin." kata Nana, menolak.


Alena memegang tangan Nana sambil tersenyum.


"Jangan khawatir, keluarga kita tidak memang kasta seseorang, mau kaya atau miskin sama saja, jangan merendah kamu cantik Na, cocok sama Andrian." ucap Alena memberi kepercayaan penuh untuk Nana, dia yakin Nana adalah gadis yang cocok untuk Andrian, dan harapan nya Andrian mau jika di dekatkan dengan Nana.


____________


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Bian dan Lisa udah 41 epsd loh, yu langsung cus ke judulnya Bian dan Lisa๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Jangan lupa jejak, โ™ฅ๏ธ


__ADS_2