
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi sudah menyapa seperti biasnya Nana melakukan rutinitasnya dengan pekerjaan nya, yang tak lain adalah menjadi pengasuh tuan muda kecilnya.
Meski tubuhnya tidak enak badan tapi Nana harus melakukan pekerjaan nya, menurutnya lebih baik bekerja dari pada berdiam di rumah sendirian dan mendengarkan ceramah papa nya.
Memandikan anak susah-susah gampang, tapi karna Bian sudah berusia lima tahun jadi tidak terlalu ribet memandikan nya, hanya saja Bian selalu susah untuk di suruh keramas, alasan nya pasti karena perih, namanya juga anak kecil pasti alasan nya hanya itu.
"Nanny apa Nanny sakit?." tanya Bian sambil melihat wajah pengasuhnya.
"Tidak tuan muda kecil, Nanny sehat." sahut Nana seraya tersenyum lembut.
Bian menatap intens wajah si pengasuhnya, dia sangatlah yakin jika pengasuhnya sedang sakit, karena wajah orang sakit lebih terlihat pucat, seperti penampakan wajah pengasuhnya sekarang yang pucat.
"Jangan bohong Nanny, bukankah kata Nanny berbohong itu dosa?." Bian mengatakan kata-kata yang sering di ucapkan pengasuh padanya.
Bagai di serang ucapan sendiri, Nana sangat gemas dengan Bian yang selalu mengingat semua apa yang pernah di katakan nya, dia sendiri sering berbohong tapi jika sudah berceramah seolah orang benar saja.
"Iya deh, Nanny jujur." Nana menjeda ucapan nya sebentar. "Nanny lagi ngak enak badan." sambung Nana sambil merapihkan pakaian yang menempel di tubuh Bian.
"Sudah beres, ayo sekarang tuan muda harus sarapan." kata Nana lagi, mengajak Bian untuk keluar kamar.
Bian mengikuti langkah sang Nanny, "Sudah minum obat?." tanya Bian seraya berjalan.
Nana melirik, "Emm sudah." jawab Nana cepat.
"Anak Mama udah ganteng aja, uuh wangi nya." Alena yang baru keluar kamar bersama sang suami tercintanya menyapa sang putra sulung nya.
Sebenarnya Alena merasa kasihan dengan putra nya yang tidak bisa terurus sepenuhnya olehnya, kehamilan nya yang kedua ini memang sangatlah berbeda dari kehamilan pertamanya, tapi beruntungnya Bian tidak pernah marah padanya karena sekarang Alena jarang menyiapkan keperluan sekolah putra nya lagi.
"Mam, jangan cium-cium aku sudah mau jadi kakak." kata Bian, seraya duduk di kursi.
Arka menatap putranya dan memberikan kode, membuat Bian yang melihat nya langsung menghela nafasnya pelan.
"Maaf Mam, Cupp.." Bian meminta maaf lalu memberikan ciuman singkat di kedua pipi sang Mama.
Alena tersenyum mendapatkan ciuman hangat dari putranya, dia pun akhirnya ikut memberikan ciuman di pipi putra nya.
Cupp..
"Anak Mama udah besar, bahkan sekarang kalau mau nyium juga harus pake kode-kodean segala lagi." kata Alena merajuk.
Arka menggelengkan kepalanya, istrinya mulai merajuk, sedangkan Bian yang melihatnya langsung memeluk sang Mama.
"I'm sorry Mam." ucap Bian lagi.
Nana yang melihatnya merasa iri akan kedekatan anak dan ibu itu, dia pernah merasakan semua itu, tapi dulu saat usianya masih tujuh belas tahun, dan sekarang di usianya yang ke dua puluh tahun, Nana juga ingin mendapatkan kasih sayang Mama nya lagi.
__ADS_1
Cepat-cepat Nana sadar dari pikiran nya, dia melihat Bian yang sudah memegangi piring membuatnya bergegas ingin mengambilkan Nasi, namun di halangi oleh Alena.
"Kamu sarapan dulu aja Na, Bian biar sama saya." ucap Alena, di angguki cepat oleh Nana.
Setelah kepergian Nana Alena langsung memasukan nasi dan lauk pauk untuk sang putra, dan lanjut beralih pada suaminya yang sedari tadi menonton drama dirinya dan putranya.
"Kamu juga makan ya sayang biar pulang nya bawa uang banyak." kata Alena sambil terkekeh.
Keluarga kecil itu makan dengan khitmat, tak ada obrolan lagi di saat ketiga nya makan.
sedangkan di dapur nampak Nana yang masih betah mengaduk-aduk nasi nya.
Dia tidak berselera makan, apalagi setelah semalaman tidak bisa tidur teringat akan ucapan majikan nya yang ingin mendekatkan nya dengan si duda galak.
"Kenapa aku jadi memikirkan dia terus, harusnya aku marah karena waktu itu dia pernah memarahiku dengan kasar di Apertemen nya." gumam Nana sambil mengaduk air dalam gelas dengan sendok berisi nasi.
"Astaga, apa yang aku lakukan." pekik Nana kaget saat melihat gelas minum nya keruh dengan nasi.
Entah kenapa setiap Nana memikirkan perihal masalah Andrian itu membuatnya semakin tidak bisa fokus, mungkin karena pernah di marahi habis-habisan oleh pria itu yang membuat Nana selalu berpikir aneh jika di sangkut-pautkan dengan Andrian.
"Nanny!!.. lest go.." teriak Bian di ruang makan.
Dengan cepat Nana mengambil piring dan gelasnya, dan di taruh di wastafel.
Saat Nana sampai di ruang makan dia hanya melihat majikan nya yang masih makan yang membuatnya bingung.
"Saya pamit dulu tuan, nona." kata Nana, di angguki oleh kedua majikan nya, dan setelah itu Nana berlari ke arah pintu luar yang masih jauh di sana, sebenarnya Nana bisa saja berjalan santai, tapi itu tidak dia lakukan mengingat tuan muda kecilnya itu sering melakukan hal-hal yang menyebalkan di luar pikiran nya.
"Nanny disini, ayo tangkap." ucap Bian, sambil tertawa.
Nana mendekat dengan langkah cepatnya, anak majikan nya ingin bermain tangkap-tangkapan, dan harus di ikuti kemauan nya.
Saat akan menangkap Bian, bocah Lima tahun itu malah berbalik arah dan berlari kesamping, hal itu membuat Nana yang sudah melepaskan tangan nya untuk menangkap Bian malah terpeleset.
Brukkk...
Nana jatuh, tapi Nana merasakan ada yang aneh di bawahnya, dimana lantai terasa empuk, dan...
"Aaa..
"Berisik." ketus Andrian, yang ternyata tubuhnya terkena tindihan tubuh Nana.
Untuk beberapa saat Nana terdiam, tapi sedetik kemudian Nana merasakan ada sesuatu sensasi aneh di tubuhnya, yang membuat Nana merinding di buatnya.
"Aaaa..
Pletak....
"Sakit tuan." ringis Nana sambil memegangi keningnya yang terkena sentilan di kening nya.
__ADS_1
"Lalu saya perduli?." Andrian menatap Nana dingin.
"Woah, Mama pasti akan memberikan aku menonton flm selam seminggu, he." gumam Bian sambil berjalan ke arah mobilnya.
Sudah bisa di bayangkan olehnya bisa seminggu menonton flm kesukaan nya, Mama nya sudah berjanji akan memberikan apa saja keinginan nya jika berhasil mendekatkan Nanny nya dan Om Rian.
Arka dan Alena datang, keduanya terkejut dengan apa yang di lihat di depan mereka itu, dimana Nana berada tepat di atas Andrian, dan itu dengan waktu yang tidak sebentar.
Keduanya seolah engan untuk bangkit dan berdiri di posisi masing-masing, membuat Arka dan Alena saling berpandangan, apakah ini artinya Nana menyukai Andrian? atau sebaliknya?.
"Tuan." Nana, menatap Andrian.
"Apa?." jawab Andrian ketus.
Nana terdiam kembali, dia merasa sensasi aneh lagi, dan otak Nana tidak sepolos wajahnya yang tanpa riasan, dengan cepat di melotot karena posisinya sekarang sangatlah mengerikan.
"Mau sampai kapan kalian berdua seperti itu?, atau sebaiknya aku panggilkan penghulu saja biar kalian bisa meneruskan yang enak-enak di kamar." Arka berkata sambil berjalan mendekati mobilnya.
Mendengar ucapan Arka keduanya langsung saling melirik.
"Cepat enyah dari tubuhku, kamu pikir aku kasur apa." kata Andrian ketus.
Nana langsung berdiri, begitupun dengan Andrian.
keduanya saling membenarkan pakaian masing-masing, sampai mereka mendengarkan suara si pembuat ulah.
"Nanny ayo, ini sudah siang." teriak Bian dari dalam mobil tak lupa dengan senyuman nya.
Dengan cepat Nana berjalan mendekati mobil yang di tumpangi Bian, dia masuk meninggalkan kecanggungan yang melanda di halaman rumah mewah majikan nya.
Di dalam mobil Andrian terus teringat akan adegan tadi bersama Nana, dimana dia merasa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang terasa bangkit.
Arka yang sedari tadi menahan tawanya tak mampu menahan tawa nya lagi, dia langsung tertawa.
Haha..
"Bom karatan mulai aktif ya Bun." kata Arka sambil tertawa.
Andrian hanya diam, dia tidak menjawab sepatah katapun.
malu dan aneh menjadi satu, dan lebih anehnya lagi tubuhnya tadi diam saja saat di tindihi oleh tubuh Nana.
"Kejadian tadi sangat memalukan." batin nya kesal.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1