
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Lima tahun berlalu...
Di sebuah taman nampak sepasang anak remaja berpakaian baju SMA sedang duduk berhadapan.
seragam yang di pakainya sudah menandakan jika kedua anak remaja itu baru pulang sekolah.
Bian menatap sosok gadis cantik di depan nya, sosok yang beberapa bulan ini selalu mengganggu tidur nya, karena bayangan-bayang wajah cantik gadis itu selalu berkeliaran bebas di pikiran nya.
Sama halnya dengan Bian, sosok cantik nan enak di pandang itu nampak gugup di pandang terus oleh pria yang di sukai nya.
jantung nya berdebar tak karuan saat netra hitam milik pria yang di sukai nya itu menatap nya terus menerus.
"Rere.." panggil Bian lembut.
"Iiya?." sahut gadis itu yang tak lain adalah Adinda Reyna, atau biasa di sapa dengan nama Rere.
"Aku suka kamu." kata Bian lagi.
Deg..
"Aku mau kamu jadi pacar ku." lanjut Bian lagi.
Rere benar-benar salah tingkah di buatnya, dia tidak mungkin akan menolak cinta pertama nya.
"Aku juga mencintaimu Bian." kata Rere sambil tersenyum.
Bian tersenyum mendengar cintanya terbalaskan, sama halnya dengan Bian Rere pun merasa senang karena dia benar-benar menggapai cintanya yang sudah terpendam lama.
Sejak kecil Rere memang menyukai Bian, begitupun dengan Bian, tapi keduanya baru bertemu lagi setelah pertemuan orang tuanya beberapa bulan lalu, dan Rere juga baru pindahan dari luar kota maka dari itu dia baru menemui kekasih mas kecil nya itu.
Dan setelah ungkapan kata cinta itu keduanya sudah resmi berpacaran.
hari-hari yang kedua nya lalui lebih indah, bahkan Rere sampai pindah sekolah karena ingin dekat dengan kekasihnya.
Hubungan cinta Rere dan Bian berjalan dengan lancar, setiap hari tidak ada kata tidak bertemu, keduanya banyak menghabiskan hari bersama dan Rere juga kian main ke rumah Bian.
__ADS_1
"Dengarkan Mama baik-baik Bian, tidak kata cinta kalian itu sepupu, kamu dan Rere itu sepupuan karena Kakek nya Rere dan dan kakek kamu itu bersaudara." ucap Mama Alena.
Entah betapa kali Mama Alena mengatakan kebenaran itu, tapi putra nya yang satu ini benar-benar sulit di beri tau.
"Stop Mam. Rere and I are just dating, not married, after all, even if we get married we don't have blood ties, aren't my grandfather and grandfather Dean just half-brothers?"
"Stop Mam. aku dan Rere hanya pacaran, tidak menikah, lagi pula kalaupun kami menikah juga kami tidak memiliki ikatan darah, bukan kah kakek ku dan kakek Dean hanya saudara tiri? mereka tidak memiliki ikatan bukan?." tegas Bian.
Memang benar jika mereka tidak ada hubungan darah, tapi tetap saja Mama Alena tidak setuju.
bukan karena membenci Dinar yang tak lain ibunya Rere, ya jika mengingat kejadian di masa lalu dengan semua kejahatan yang di lakukan keluarga kakek nya Rere mungkin Mama Alena masih akan membekas rasa sakit itu.
Tapi hidup berjalan ke depan bukan, dan masalah yang utama bukanlah itu.
mertuanya sudah menjodohkan Bian dengan gadis dari keluarga Sanjaya.
Dan Mama Alena tidak mau hubungan putranya menjadi ancaman untuk masa depan putranya, Karena dia takut akan kejadian masa lalu, Mama Alena takut jika Rere tidak akan menerima jika nantinya Bian akan menikah dengan wanita lain.
"Mam." panggil gadis remaja.
Dia tak lain adalah Alisya Aura kharisma, gadis empat belas tahun yang sudah bercita-cita untuk menjadi jodoh Albiansya.
Bian melangkahkan kakinya pergi ke arah kamarnya, meninggalkan Mamanya dengan sosok gadis berisik yang selalu mengadukan sikapnya tidak baiknya.
Mama Alena mengangkat bahunya ke atas.
"Ngak tau, ayo mending sekarang kita bikin makan di dapur, bentar lagi Oma-Oma mau datang katanya rindu sama gadis." kata Mama Alena sambil mencubit gemas hidung minimalis calon menantunya.
Ya meski Lisa masih kecil tapi Mama Alena sudah menganggap Lisa seperti menantu nya, kepribadian Lisa yang sangat kontras dengan Rere menjadi poin pertama kenapa Mama Alena lebih menyukai Lisa.
"Wah asyik."
"Iya, maka dari itu sekarang Lisa bantuin Mama masak, sudah ijin kan sama Mama dan Papa kalau hari ini kamu mau nginep di rumah Oma?." tanya Mama Alena sambil berjalan ke arah dapur.
Lisa menggunakan kepalanya cepat, "Sudah, Mama Papa bolehin kok, malahan kakek titip salam sama Opa, katanya jagain ya cucu cantik nya." sahut Lisa lagi.
"Pasti di jagain dong, masa cantik gini ngak di jagain." kata Mama Alena lagi.
Setelah itu keduanya asyik membuat makanan di dapur, memasak adalah Hobby Lisa, dan Mama Alena adalah guru nya.
__ADS_1
Lisa tau banyak makanan apa saja yang di sukai Bian, calon jodoh nya.
Mama Alena sangat senang karena Lisa mau belajar di dapur, padahal Lisa adalah gadis yang berasal dari kalangan atas, meski kekayaan keluarga Sanjaya tidak setara dengan keluarga Rafasya, tapi tetap saja Mama Alena kagum dengan kemauan Lisa yang mau belajar memasak.
Bian yang kesal karena Rere pulang langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.
menghela nafasnya dengan kesal.
Lisa bisa menginap dan bermain sesukanya, tapi jika Rere saja, keluarga nya pasti sensi, dan banyak beralasan.
"Kenapa sih kak, bingung milih mana ya?." celetuk Arfan, yang sedang duduk di sopa dekat tv di ruangan kamar itu.
"Anak kecil tau apa?, belajar yang benar." sahut Bian kesal.
Arfan mendelik tak suka pada kakak nya, jika dia anak kecil lalu kakaknya apa? bahkan kakaknya juga masih kecil sudah berpacaran, benar-benar menyebalkan.
"Hallo sayang, besok kita ketemuan di gang waktu itu ya, jangan lupa datang ya." celetuk Arfan lagi.
Sontak saja Bian berdiri dan melemparkan bantal ke arah adiknya yang tengil itu.
Bian tau adiknya itu sedang menyindirnya, karena beberapa waktu lalu dia kepergok oleh adiknya saat bertemu diam-diam dan Rere setelah pulang sekolah.
"Pulsa habis lagi." Arfan kembali memulai drama nya.
Huh..
Bian mengambil dompet miliknya, di dalam nya ada uang berwarna biru lima lembar, sisa-sisa uang jajan yang dia kumpulkan selama tiga hari ini, karena meski terlahir di keluarga kaya Bian tidak boros dan banyak meminta, orang tuanya memberikan dia uang bulanan sebesar dua sampai tiga juta dalam perbulan nya.
"Nih, jangan berisik lagi." kata Bian mau tak mau harus memberikan dua lembar uang berwarna biru nya pada adiknya yang bawel.
Arfan tersenyum senang mendapatkan uang itu.
Lumayan rejeki anak Sholeh hehe..
Bisa beliin pacar es krim deh.
" Makasih kakak tampan ku, adikmu yang tak kalah tampan ini akan tetap setia menjaga rahasia di gang itu, tenang saja kak." kata Arfan sambil cekikikan.
__________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Yuk mampir ke cerita Bian yang udah sampai Epsd 74😍