
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Tujuh bulan berlalu kandungan Alena kini sudah memasuki bulan ke sembilan, di usia kandungan nya yang semakin besar itu Alena susah kemana-mana, apalagi dengan kondisi tubuh nya yang sekarang menjadi bulat.
Segala aktivitas sebelum melahirkan selalu di ikuti nya, meski terkadang Alena selalu mengeluh cape dan engap.
Waktu memang sangat cepat, Alena dan Arka memilih berdamai meski perdebatan kecil selalu menyertai kehidupan sehari-hari nya, tapi percayalah hidup tidak akan seru jika tidak di tambah sedikit bumbu kehidupan realita.
Tidak ada yang sempurna dalam kamus kehidupan, tapi kesempurnaan akan datang jika kita bisa saling menerima, dan begitu pun dengan calon Mama Papa muda itu, keduanya saling menerima satu sama lain, sebagai awalan memperbaiki keadaan rumah tangga yang masih seumur jagung itu.
"Arkaa.." teriak Alena yang masih sibuk menonton tv.
Yang di panggil datang dengan tergesa-tega, "Ada apa sayang." tanya Arka sambil mengipasi wajah nya dengan tangan, malam ini semua orang sedang di sibukan dengan acara kecil-kecilan di rumah besar.
Arka kebagian jadi pengipas sate, dan ya siapa yang bisa menolak titah sang Mommy, Arka tidak berani memberi penolakan dia menuruti perintah ibunya, berbeda dengan Alena yang menjadi princess dan hanya di suruh duduk manis saja.
"Sini duduk." titah nya.
Arka menurut, dia duduk di sofa samping istrinya, "Ada apa?." tanya nya sudah duduk di samping sang istri.
Alena mengambil tangan Arka, lalu dia taruh di perutnya, "Bagaimana? dia aktip bukan." ucap Alena dengan senyuman nya.
Arka mengangguk, wajah nya menahan haru saat merasakan sebuah tendangan kecil dari putranya, ahk untuk masalah jenis kelamin Arka dan Alena sudah mengetahui nya sejak bulan ke 5, dan mereka senang karna anak pertama nya berjenis kelamin laki-laki.
"Ya, bayi kita sangat aktif, pasti dia menyukai bola sudah besar nya." ucap Arka masih menyimpan lengan nya di perut buncit istrinya.
"Tidak, dia sedang berlatih mendang musuh, aku yakin dia akan menjadi anak yang hebat." ucap Alena sambil mengusap perut nya.
Huh.. rasanya Alena ingin segera melahirkan, dia sudah tidak sabar untuk melihat bayi mungil nya, apakah dia mirip dengan nya atau malah memilih mirip dengan suaminya? ahk Alena benar-benar sudah tidak sabar.
"Kamu benar sayang, dia akan menjadi anak yang hebat dan pintar." ucap Arka, dan dia mendapatkan tendangan lagi, yang membuat nya kembali tersenyum.
"Hallo son, ini Papa..cepat lahir nanti Papa akan ajarkan bagaimana caranya memegang pistol yang benar." ucap Arka sambil mencium perut istrinya, dan beberapa menit kemudian Arka menutup mulutnya.
Plakkk..
__ADS_1
Sebuah tepukan berhasil di berikan Alena di tangan suaminya, kesal tentu saja..siapa yang mau jika putranya mempelajari hal berbau ekstream, huh..suaminya memang benar-benar sudah tidak waras.
"Sana, jangan deket-deket." usir Alena sambil mengoyang-goyangkan tangan nya.
"Aku masih ingin memegang perut mu sayang." ucap Arka merengek manja.
Perduli apa Alena dengan rengekan suaminya, dia menepis tangan suaminya, "Kembali kipasi sate atau aku bilangin ke Mommy kalau putranya yang tampan ini sudah berniat untuk mempengaruhi kejahatan pada cucu nya." ancam Alena membuat Arka menatap istrinya dengan wajah kesal nya.
Padahal dia kan hanya asal berbicara, kenapa istrinya selalu sensi jika dia membicarakan masalah bela diri, toh sebagai pengusaha yang memang sudah sukses dari sana nya, keturunan nya wajib memiliki ilmu bela diri, meski hanya untuk jaga-jaga, karna sebuah ilmu yang sudah di pelajari tidak berat jika di bawa-bawa.
"Baiklah, aku kembali mengipasi sate, tapi nanti malam boleh ya." ucapnya tersenyum menggoda.
Alena menatap jengah pada suaminya, jelas-jelas dokter sudah mengatakan jika untuk sekarang sampai sebulan setelah melahirkan Arka harus puasa, tapi Arka seolah pura-pura lupa dengan apa yang di katakan dokter.
"Berisik, sana pergi dasar penganggu." usir Alena malas menanggapi ocehan suaminya yang penuh kemesuman.
Di tempat lain tepatnya di are dapur, terlihat para ibu-ibu yang sedang menyiapkan makanan apa saja yang akan menjadi menu cemilan makanan di acara malam minggu nya, ketiganya asyik dalam pekerjaan nya masing-masing dengan tambahan bergosip.
Sedangkan para bapak-bapak, tiga pria yang menolak di sebut tua itu tengah di sibukan dengan bakar-bakaran, Rafa yang kebagian sebagai pengipas jagung begitupun dengan Arka yang jadi pengipas sate.
"Dad, bagaimana meluluhkan hati ibu hamil?." tanya Arka yang sedang mengipas.
Rafa menoleh, "Kenapa? kalian ribut lagi?." tebak Rafa.
Arka mengeleng. "Tidak, hanya saja Alena sangat keras kepala, dan susah di jinakan." ucap Arka dengan nada lesu, hampir setiap saat keduanya selalu ribut, mungkin keduanya akan damai saat melakukan hal-hal berbau panas saja.
"Begitu juga istrimu, dia sedang hamil jadi sikapnya pasti berubah-ubah." ucap Rafa. "Jangan buat dia merasa terbebani dengan sikap mu, belajarlah mengalah karna bagaimana pun pernikahan tidak akan sempurna jika masing-masing pasangan nya selalu bersikap seenaknya tanpa ada yang mau mengalah." sambung Rafa menasehati.
Menjalin rumah tangga hampir 28 tahun bersama Ririn jelas membuat Rafa tau bagaimana suka duka nya membuat hubungan rumah tangga tetap utuh, sikap Ririn yang memang sangat sempurna di mata Rafa jelas membuatnya nyaman, apalagi sikap Ririn yang lemah lembut membuat Rafa semakin mencintai istrinya.
Berneda dengan sang Daddy, jelas Alena sangat berbalik dengan sikap Mommy nya, Alena bagaikan kebalikan dari sikap Ririn, dari mulai keras kepala, manja dan sikap seenak nya, benar-benar jauh 99%.
"Ahk iya, Daddy sudah menyiapkan hadiah untuk putramu."
"Hadiah apa?" tanya Arka penasaran.
Rafa mengangkat sebelah alisnya. "Rahasia, cucu ku akan mendapatkan segalanya." ucapnya penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan nama nya? sudah menemukan nama yang cocok?." sambung Rafa bertanya.
Arka mengangguk cepat. "Tentu saja sudah, nama panjang nya akan mengikuti nama belakang kita." ucap Arka, membicarakan nama putranya membuat dia ingin segera cepat-cepat melihat putranya lahir kedunia.
Bukan hanya Arka, tapi Rafa pun sudah tidak sabar untuk segera menunggu hari itu, dia sudah membayangkan akan menimang cucu nya dengan Ririn, lengkap sudah kehidupan nya jika dia sudah memiliki cucu, dan mungkin yang harus dia pikirkan hanya satu hal lagi, yaitu putri bungsunya yang masih menimba ilmu di luar negri.
Zex dan Rey hanya diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Arka dan Rafa, mereka berdua menjadi iri akan kebahagian yang sedang menimpa Rafasya.
Ya, mereka sangat menginginkan kebahagian yang sama seperti Rafa, dimana anak-anak mereka menikah dan memberikan banyak cucu pada mereka.
"Zex, kapan Kiano pulang?." tanya Rey.
Yang di tanya menoleh, "Mungkin bulan depan." jawab Zex singkat sambil menusukan daging ke tusuk sate.
"Sepertinya kita harus mencari cara agar putra kita laku cepat, mereka tidak boleh menunggu tua baru menikah." ucap Rey memberi usul.
Dan perkataan Rey seolah menyindir Zex yang menikah di usia 34 tahun, yang mana membuat Zex menatap Rey dengan tatapan tajam nya.
Mengerti dengan sorot tajam adik iparnya membuat Rey tersenyum kikuk, "Sabar, aku tidak menyindir." ucap Rey, "Tapi mungkin lebih ke pakta." sambung nya sambil tertawa.
"Kiano sudah memiliki kekasih, tapi putramu? Andrian." Zex melirik remeh pada kakak ipar nya.
Rey kesal dan langsung memberikan tatapan kesalnya. "Putraku aka cepat menikah, lihat saja nanti, aku yang akan lebih dulu mendapatkan cucu." tegas Rey sambil memicingkan matanya.
"Sudah lah kalian kalah, kalian kalah segala hal dariku." bukan Zex melainkan Rafa yang menimpali. "Aku kaya, menikah yang pertama dan sekarang untuk masalah cucu? emm aku juga yang pertama menimbang cucu." ucap Rafa dengan wajah percaya dirinya.
Zex dan Rey menoleh, "Cih..Sombong." ucap keduanya bersamaan, sedangkan Arka hanya menggelengkan kepala, jika membicarakan masalah perdebatan ketiga bapak-bapak itu dia sudah biasa melihat para bapak-bapak itu mengoceh dan saling melempar tatapan tajam.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Mampir ke cerita si Lia ya🤗
^^JODOH YANG TAK TERDUGA^^
Jangan lupa jejak !!
__ADS_1