
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Hari yang di rencanakan pun tiba dimana Ririn akan menjalani oprasi, raut wajah Rafa benar-benar tidak bisa di bilang baik-baik saja, terlihat wajah tegang cemas dan ketakutan semuanya berlebur menjadi satu.
Sepanjang perjalanan mengantarkan Ririn sampai menuju pintu ruangan oprasi Rafa benar-benar tidak melepaskan gengaman nya, dia terus memegang tangan istrinya seolah tidak rela melepaskan istrinya pergi ke ruang oprasi.
Suasana duka dan haru mulai menyelimuti keduanya, Ririn membelai wajah suaminya dengan senyuman menahan rasa sakit nya, "Jangan menangis, aku tidak apa sayang." ucap Ririn sambil menghapus air mata yang ada di wajah suaminya.
"Apa aku boleh ikut? aku tidak bisa membiarkan mu berjuang sendirian." pinta Rafa yang kesekian kalinya membuat Ririn menghela nafasnya.
"jangan nona, kami bisa mati berdiri jika tuan muda ikut kedalam." batin kelima dokter ahli yang akan mengoprasi Ririn.
Ririn mengelengkan keplanya, "Tidak sayang, kamu disini aja." ucap Ririn mencoba untuk tetap berani meski sebenarnya dia juga takut akan oprasi yang akan di lakukan nya, Ririn ingin Rafa ada di samping nya menemaninya berjuang tapi Ririn tidak melakukan hal itu dia tidak mampu melihat wajah sedih suaminya jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Apalagi dia tahu jika suaminya pasti akan melakukan hal-hal aneh pada para dokter yang bisa menghambat oprasinya.
melihat tatapan tajam Rafa pada dokter saja Ririn sudah merasa kasihan pada para dokter itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu sayang, tuhan jika aku tidak di takdirkan bersamanya sampai tua aku ikhlas, tapi tolong berikan ketabahan untuk suami dan anak ku agar bisa kembali menjalani kehidupan." batin Ririn, berat baginya jika dia harus benar-benar gugur tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima takdirnya.
Hany Zex dan Rey benar-benar menjadi saksi haru pilu si tuan muda, mereka tidak menyangka jika Ririn bisa mengalami hal seperti ini, tapi itulah takdir mereka hanya bisa mensyuport kedua patsuri itu meski disini mungkin yang akan paling terpukul adalah si tuan muda.
Doa selalu mereka panjatkan pada sang pencifta alam semesta, mereka berharap Ririn maupun bayinya bisa selamat dengan keadaan sehat.
"Maaf tuan oprasinya akan di lakukan sebentar lagi." ucap dokter mengigatkan yang kesekian kalinya karna Rafa benar-benar terus menunda waktu, dimana seharusnya oprasi dilakukan 15 menit yang lalu.
Rafa melirik."Aku tahu." ucap Rafa sambil menatap tajam ke lima dokter yang akan menangani istrinya itu.
"Rey tulis nama mereka dalam daftar hitam jika mereka membuat hal yang vatal." ucap Rafa yang langsung diangguki Rey.
ke lima dokter itu seketika pucat, mereka jelas tau siapa pria yang ada di hadapan mereka saat ini, mendengar nama nya dari riuh-riuh masyarakat sekitar saja mereka sudah ngeri apalagi sekarang mereka benar-benar sedang berada di ujung jurang dimana kehidupan dan karir mereka akan di pertaruhkan jika mereka sedikit saja melakukan kesalahan.
Rafa melepaskan gengaman tangan nya dari istrinya, dia melihat ke arah pintu yang tertutup, raut wajah nya tidak terbaca, rasanya dia hidup tapi tidak bernafas begitulah yang dia rasakan saat ini, jantung nya berdetak kencang bahkan ini baru 5 menit Ririn masuk kedalam ruangan oprasi, tapi 5 menit itu yang Rafa raskan bukan lah 5 menit melainkan berapa berjam-jam.
Beberapa kali Rafa berjalan kesana kesini layak nya setrikaan, bahkan wajah nya saja nampak sangat berantakan, Rafa yang selalu terlihat tampan kini jauh berbeda wajahnya nampak sangat kacau, rasa sakit yang masih tersisa di perutnya bahkan seolah lenyap dan hilang karna kekhawatiran pada kondisi istrinya.
"Tuhan aku mohon, jangan ambil istri dan anak ku, aku mencintai mereka tuhan..aku tau aku bukan hambamu yang taat akan menuruti semua perintah mu, tapi kumohon tuhan untuk kali ini saja biarkan aku bisa merasakan kebahagian, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa nya tuhan." batin Rafa.
__ADS_1
"*Y*a tuhan tolong selamatkan teman ku dan bayinya, dia gadis baik tuhan, jangan biarkan salah satu mereka pergi, aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan temanku." batin Hany sambil mengusap air matanya.
Zex duduk di samping Hany dia tau apa yang sedang di rasakan gadis itu, tangan nya ter-ulur untuk menghapus air mata Hany dan hal itu tak terlewat oleh kaca mata penglihatan Rey, " Aku tau mereka saling mencintai, tapi rasanya aku kesal melihat Zex mencari kesempatan dalam kesempitan seperti itu, sepertinya aku harus cepat mencari pacar agar aku tidak selalu kesal melihat hal seperti ini." batin Rey sambil melihat Hany yang menyandarkan kepalanya di pundak Zex.
Waktu berputar begitu cepat sudah satu jam lebih Ririn berada di ruangan oprasi itu dan pintu masih tertutup yang mana membuat Rafa benar-benar di buat mengila sedari tadi dia benar-benar di buat ketakutan akan keadaan istrinya di dalam sana.
Didalam ruangan setelah satu jam lebih oprasi di lakukan akhirnya si bayi bisa di keluarkan, para dokter akhirnya bisa bernafas dengan lega karna bayinya sehat meski bayi itu masih berusia 30 minggu yang membuat ukuran bayi itu tidak sebesar bayi bayi biasanya beratnya hanya 2,8 kg.
Ririn membuka matanya samar-samar dia mendengar suara tangisan bayinya, saat melihat bayinya Ririn nampak meneteskan air matanya haru melihat bayi merah yang baru di lahirkan nya, dia benar-benar bahagia karna akhirnya dia menjadi ibu di usianya yang ke 20 tahun.
" Terimakasih tuhan, aku sangat bahagia atas semua waktu yang telah kau berikan padaku untuk hidup bersama dengan pria yang mencintai ku." batin Ririn lalu tak lama kemudian dia menutup matanya.
"Nona !!." ucap para dokter bersamaan.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Sengaja gantung biar penasaran😂
__ADS_1
Thanks yang udah pantengin novel Author.
Semoga kalian sehat selalu💕