
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sebelum nya..
Andrian yang sedang dalam perjalanan pulang menerima kabar dari sang ayah yang membuat dia kembali memutar balik arah mobilnya, dengan kecepatan di atas rata-rata dia mengemudikan mobilnya layak nya orang yang menantang maut.
Tak butuh waktu lama untuk Andrian sampai di tempat itu, saat Andrian turun dari mobilnya telinga nya mendengarkan suara Arkasya yang dingin dan pedas, "Bos kau memang pandai berbicara pedas, setidaknya itu bisa mengulur waktu." guman Andrian sambil melihat sekitar.
Mata nya menelaah setiap sudut, dan mata nya melebar sempurna saat melihat seorang gadis yang kini tengah membuka pintu mobil milik bos nya, dengan gerakan cepat Andrian berjalan seribu langkah mendekati wanita itu.
"Hey, mau ngapain kamu." ucap Andrian sambil menepuk bahu gadis itu.
"Siapa kamu." pekik gadis itu kaget.
Andrian memberikan tatapan tajam nya, jalas dia tau siapa gadis di depan nya, Dinar Ghani.
"Siapa aku tidak penting, dan kamu gadis licik jangan mencoba menyakiti istri bos ku." ucap Andrian sambil memberikan tatapan tajam nya.
Dinar mengeleng cepat, dia ketempat ini bukan untuk menyakiti Alena, dia kemari justru ingin menolong sepupunya, rasa bersalah karna pernah melakukan hal berbahaya yang hampir membuat janin yang ada di kandungan Alena membuat Dinar merasa ingin menolong sepupunya dari recana busuk kekasihnya Zeo Ton.
Tak ada jawaban membuat Andrian memegang dagu Dinar, dia mengambil pistolnya berniat untuk menembak Dinar, namun langkahnya terhenti karna mendengar isakan Dinar.
"Tuan, hiks.. jangan apakan saya, saya sedang hamil tuan, saya mohon jangan sakiti saya, saya hanya ingin menyelamtkan sepupu saya." ucap Dinar berkata apa adanya sambil menahan takut karna pistol itu masih ada di depan matanya.
Andrian menarik lagi pistolnya, dia masih punya hati, dan kelemahan Andrian adalah karna dia tidak bisa menyakiti wanita, karna bagaimana pun bunda nya juga wanita, jika dia menyakiti wanita sama saja dengan dia menyakiti bunda nya.
"Baiklah, aku tidak akan membunuh mu, tapi bantu aku untuk membawa Alena ke mobil ku." ucap Andrian, diangguki cepat oleh Dinarm
Andrian memangku tubuh Alena yang masih tertidur, memindahkan Alena ke mobilnya, saat akan kembali untuk membantu Arka yang masih sibuk dengan acara baku hantam itu Andrian di kejutkan dengan beberapa anak buah Zeo Ton yang menyiramkan minyak tanah ke mobil Arkasya.
"Mobil mewah yang malang." guman nya merasa sayang saat melihat mobil itu akan menjadi alat untuk mengecoh musuh.
beruntung anak buah Zeo Ton tidak melihat isi yang ada di dalam mobil.
Andrian kembali ke dalam mobil karna para bapak-bapak yang memiliki masalah di masa lalu itu sudah tiba, setidaknya dia tidak perlu membuang energi nya untuk melakukan' kejahatan lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau menolong nya? bukan kah kamu tidak menyukai Alena." tanya Andrian.
Dinar menoleh, "Entahlah, mungkin aku masih memiliki perasaan, saat mereka membuangku aku bisa merasakan apa yang Alena rasakan, keluarganya hancur atas ulah keluargaku, dan kemarin aku hampir membunuh bayi nya." jawab Dinar. "Aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, karma buruk datang padaku karna semua kesalahan ku, aku menuai semua yang aku tanam." sambung Dinar sambil mengelus perut nya.
Andrian mendehem agar tidak ikut terbawa suasana pilu itu, ya..dia memang kejam dan memiliki jiwa gila seperti ayah nya, tapi jauh dari itu Andrian adalah pria yang tidak tegaan, dia tidak bisa melihat seorang wanita menangis.
Eughh..
Suara itu menghentikan isak Dinar, dan langsung menoleh ke sosok yang sedang mengucek matanya.
"Kalian kenapa?." tanya Alena heran di tatap oleh Andrian dan Dinar.
"Tidak ada." jawab keduanya bersamaan, membuat Alena heran.
🌹
Arka memeluk tubuh istrinya dengan erat, menghujani ciuman di wajah cantik Alena bertubi-tubi.
rasanya Arka seperti sedang bermimpi saat melihat istri nya yang masih dalam keadaan baik-baik saja, tanpa luka sedikit pun.
Terima kasih tuhan..terimakasih..
Dimana mereka melihat Arkasya yang tadi mengamuk kesetanan, sekarang berubah menjadi panda yang sangat menggemaskan, berlindung di pelukan seorang wanita cantik berambut panjang.
"Dia benar-benar.. gen ku." batin Rafa.
Huh..Rafa jadi merindukan istrinya, begitupun dengan Zex yang merindukan istrinya.
sedangkan Rey dan yang lain nya? mereka sudah pulang dengan mobil berbeda, mereka selamat tidak melihat seorang Arkasya yang kejam tengah menangis di pelukan seorang gadis.
"Arka sudah, aku masih marah padamu." ucap Alena mencoba melepaskan pelukan Arka, bahkan air mata yang Arka keluarkan berhasil membuat baju yang di kenakan Alena sedikit basah.
"Tuhkan basah, aku bilang jangan nangis lagi." sambung nya sambil mengerucutkan bibirnya.
Arka melepaskan pelukan nya, keduanya duduk di kursi belakang, yang membuat keduanya leluasa tanpa memikirkan dua pria tua yang ada di kursi depan.
"Aku takut kehilangan mu sayang." ucap Arka tak mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari sosok istri nya.
__ADS_1
"Aku tau, tapi aku masih marah padamu." seru Alena.
Arka memegang tangan Alena lalu mencium nya, sepertinya Alena masih kesal karna perdebatan nya pas pulang dari pasar malam tadi.
"Hanya kamu yang aku cinta." ucap Arka sambil menatap netra istrinya.
"Tidak jangan katakan itu, aku tau kamu masih____" ucap Alena terhenti karna serangan mendadak dari Arka.
Arka membungkam mulut Alena dengan sebuah ciuman, bukan tanpa sebab Arka memberikan ciuman itu, dia melakukan itu karna Arka tidak mau Alena mengatakan nama Kikan Ria, dia tidak mau membuat Om Zex marah besar karna nama putri bungsu nya masih di sangkut pautkan dalam kehidupan Arka yang sekarang.
"Zex pokuskan pandangan mu, jangan melihat kebelakang." ucap Rafa.
"Aku memang melihat kedepan, memang menurut mu harus kemana aku melihat." sahut zex cepat.
Rafa gelagapan, putrnaya benar-benar membuat jiwa muda nya merasa tersisihkan, apalagi apa yang di lakukan Arka itu seolah mereka berdua sedang di tempat sepi saja, tidak memikirkan perasaan para bapak-bapak yang sudah lama tidak melakukan hal-hal berbau panas itu.
"Mobilnya panas Zex, naikan satu lagi suhu nya." perintah Rafa.
Zex menambahkan lagi suhunya, bukan satu melainkan dua, yang membuat Rafa seketika mengigil, apalagi jam sudah menunjukan pukul 02:00 yang membuat cuaca nya serasa dingin.
"Kecilkan lagi, dan cepat sampai, aku merindukan kehangatan kasur ku." ucap Rafa lagi.
Untuk kali ini Zex melirik dengan sorot mata tajam nya, "Aku pun sama, kasurku sekarang pasti sudah merindukan ku." sahut Zex di angguki Rafa, dan maksud dari kasur itu jelas hanya kedua pria matang itu saja yang tau.
Hemphh..
Alena menarik nafasnya dalam-dalam, Arka memang gila, bisa-bisa nya pria itu mencium nya di depan mertua nya.
gila memang gila.
"Kamu gila Arka." ucap Alena sambil menepis tangan Arka.
Arka tersenyum. "Ya aku gila, aku gila karna mu." jawab Arka sambil menaruh kepalanya di pangkuan Alena, membuat Alena menghela nafasnya.
"Terserah !."
__________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak !!