
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Bagaimana? apa yang terjadi dengan istriku? sakit apa dia?." tanya Arka bertubi-tubi membuat si Dokter yang masih memeriksa Alena itu hanya bisa menghela nafasnya.
"Sabar Arka, dokter sedang mengecek kondisi istrimu." kata Ririn lembut.
Nyatanya Arka tidak bisa tenang, melihat istrinya yang lemah tak berdaya membuat Arka cemas, dia tidak mau hal yang terjadi pada Andrian menimpa dirinya, dimana dia kehilangan istrinya.
Segera Arka menepis pikiran buruk itu, mencoba tenang agar tidak menimbulkan keributan.
"Nona Alena tidak sakit tuan ______" ucap sang dokter terpotong karna Arka mengatakan kata-kata nya lagi.
"Kau bilang istri tidak sakit hah!!, apa maksud mu kau mau mati hah!." teriak Arka dengan sorot mata tajam membuat si dokter wanita yang usianya empat puluh tahunan itu menunduk takut.
"Sabar Arka, jangan marah-marah." Ririn mengelengkan kepalanya melihat putranya yang tidak bisa mengontrol emosi, sedangkan Alena hanya bisa menghela nafas nya melihat suaminya yang marah-marah pada sang dokter.
"Maaf dokter suami saya emosi." kata Alena merasa malu pada dokter wanita itu.
"Cepat katakan, sakit apa istriku?." tanya Arka lagi tidak sabaran.
"Nona Alena memang tidak sakit tuan muda, nona Alena lemah karna sedang mengandung tuan muda." ucap si dokter menjelaskan.
"Hamil?." sahut Arka kaget.
Si dokter mengangguk. "Iya tuan, nona Alena sedang mengandung, di perkirakan usia kandungan sudah memasuki minggu ke dua, dan saya harap tuan bisa mengerti dengan kondisi nona sekarang, tuan harus bisa membatasi aktivitas di ranjang karna itu bisa membahayakan janin yang ada di rahim nona Alena." tutur si dokter panjang kali lebar.
Arka terdiam, kini bukan marah lagi yang mendominasi nya, melainkan rasa malu karna tadi siang dia melakukan aktivitas yang bisa saja membuat istri dan calon anak keduanya terluka.
"Sayang maafkan aku." ucap Arka mendekati Alena dan menghujani wajah Alena dengan ciuman.
Alena tersenyum mendengar kabar kehamilan keduanya, tangan nya mengusap pelan ke perutnya yang masih rata.
"Bian akan punya adik." ucap nya kembali memberikan elusan kecil di perutnya.
"Terimakasih untuk anak kedua kita, aku mencintaimu." ucap Arka kembali mencium pipi istrinya.
Alena melirik Arka, "Dengar kata dokter, jangan melakukan itu selama satu bulan, jadi kamu harus puasa ya suami tampan ku." ucap Alena dengan nada mengejek, membuat Arka menelan ludahnya, dia harus menahan nya selama sebulan, mana tahan dia tidak melakukan aktivitas ranjang selama itu, dan berlebih lagi Arka selalu mendapatkan gangguan dari putra nya, bukan kah menyebalkan?.
Ririn terharu melihat anak dan menantunya yang bahagia, dia juga bahagia karna akan mendapatkan cucu lagi dari putra sulung nya.
"Arka jaga dulu istrimu, Mommy akan kebawah untuk menyiapkan makan malam nya." ucap Ririn.
__ADS_1
Arka mengangguk, "Baik mom." jawab Arka cepat.
Ririn dan dokter itu keluar secara bersamaan, keduanya beriringan menuruni satu persatu anak tangga, dan setelah itu mengucapkan terimakasih pada dokter yang mau meluangkan waktu nya untuk mengecek kondisi menantu nya.
"Alena sakit apa?." tanya Rafa tiba-tiba.
"Astaga sayang, kamu ngagetin aku aja." ucap Ririn pelan, sambil mengusap dadanya.
"Maaf, aku hanya ingin tau apa yang membuat menantu kita lemas sampai pingsan." ucap Rafa penasaran.
Ririn memasang senyuman nya. "Sebentar lagi kita akan punya cucu baru, Alena sedang mengandung cucu kedua kita sayang." kata Ririn antusias.
Mendengar kabar dari sang istri membuat Rafa tersenyum senang, "Kita akan mendapatkan cucu lagi." ucapnya terharu.
Mata Ririn melihat ke semua arah, "Bian dan Boy mana?." tanya Ririn aneh, tak melihat cucu nya.
"Mereka sedang ada di kamar, aku menyuruh mereka untuk belajar di temani pengasuh mereka." sahut Rafa.
Jam berganti tidak lama setelah kabar kehamilan Alena datanglah rombongan keluarga besar Rafasya, Anaira dan Kiano, Kelle dan Rico.
Mereka sedang berkumpul di meja makan, tanpa Arka tentunya, karna Ririn menyuruh Arka untuk menjaga Alena yang kondisi nya masih lemah.
"Kak Alena hamil?." Anaira kaget sekaligus bahagia mendapatkan kabar bahagia dari kakak iparnya itu.
Kelle dan Rico hanya diam menyimak, sama hal nya dengan Kiano dan Rafasya yang hanya diam mendengarkan obrolan anak dan ibu itu.
"Kak Alena benar-benar hebat, tokcer terus." ucap Anaira sambil memasukan memakan ke mulut nya.
Ririn hanya tersenyum. "Kamu juga bentar lagi bakalan nyusul, doa Mommy menyertai mu." kata Ririn, dia tidak akan mengatakan pertanyaan kapan putri bungsu nya hamil, dia seorang ibu tidak akan membiarkan putri nya terluka dengan pertanyaan yang di ajukan nya.
Anaira tersenyum mendengar ucapan sang Mommy, Mommy nya memang sangat pengertian, dan Anaira bahagia memiliki mommy sebaik Ririn dan Hanny yang selalu mengerti posisi nya.
Sebenarnya Anaira memang belum melakukan program, dia masih sibuk dengan pekerjaan nya, dan yang lebih penting Anaira belum bisa meyakinkan suaminya untuk bisa menerima posisi CEO.
"Makasih doa nya Mom, Anaira dan kak Kiano akan berusaha, iya kan kak." ucap Anaira melirik suaminya.
Hal itu membuat Kiano kikuk dan hanya bisa mendehem, membuat Rafa yang melihatnya ingin tertawa, Kiano dan Zex sebelas dua belas, keduanya sama-sama memiliki sifat malu.
"Kak." Anaira menatap suaminya.
Kiano menghela nafasnya, seperti itulah istrinya yang selalu mau segala keinginan nya di turuti, "Iya sayang, kita akan berusaha lebih keras lagi." kata Kiano.
Rafa kembali menahan tawanya, dia melihat Kiano yang sangat menyayangi putri nya, terbukti dari Kiano yang bisa menyanggupi setiap keinginan sang putri, dan itu membuat Rafa merasa lega karna sudah menikahkan putri bungsu nya pada pria yang baik dan bertanggung jawab.
__ADS_1
"Tenang saja jika kalian butuh taktik untuk mencetak bibit unggul aku siap menjadi guru kalian." ucap Rico yang tiba-tiba menimpali.
Hal itu membuat semua mata melihat ke arah si bule narsis itu, dan yang di lihat hanya makan dengan wajah yang masih terlihat santai.
Kelle hanya menghela nafasnya, dia sudah biasa di hadapkan oleh tingkah suami bule nya, hal seperti ini sering terjadi dimana si bule kembali mengatakan kelihaian nya, tentang hal ranjang.
Akhirnya acara makan itu menjadi panas, apalagi Rico terus mengatakan kata-kata intens membuat yang lain nya mendengarkan dengan sebal, bisa-bisa nya pria bule itu menyombongkan kemahiran nya dalam hal panas.
Di tempat lain Bian dan Boy nampak sedang sibuk dengan aktivitas berbeda, dimana Bian yang sedang membaca buku nampak duduk dengan kaki yang di tumpangkan sebelah, sedangkan Boy bocah itu nampak tidak mendengarkan pengasuh untuk belajar, dan malah bermain mobil-mobilan.
"Ahaha.. ayolah Bian untuk apa belajar, ayo mending kita main." ucap Boy yang kesekian kalinya.
Bian hanya melirik sekilas pada sepupu nya, lalu menggelengkan kepalanya melihat Boy yang menghabiskan waktunya untuk bermain dan bermain.
Tak mendekatkan jawaban dari sepupu nya membuat Boy gemas, lalu terbesit di pikiran nya untuk menjahili sepupu nya.
Dengan sengaja Boy menabrakkan mobil-mobilan nya ke depan Bian, tak lupa dia juga menyetelkan flm kesukaan Bian, membuat Bian Manahan kesal.
"Matikan TV nya, dan berhenti mengangguku." ucap Bian dingin.
"Ayolah Bian, ini asyik..ayo bermain." kata Boy.
Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak, jika kamu main pergi saja keluar paling kamu di marahi nenek." kata Bian, lalu kembali membaca buku.
Boy yang kesal kembali menganggu Bian, dia kembali memainkan mobil-mobilan nya dengan romot kontrol, membuat Bian di sana nampak tidak menahan kesal nya lagi.
Pletuk...
Huaaaa..
"Mommy Daddy... huaa.." tariak Boy sambil menangasih histeris karna mendapatkan tembakan peluru mainan tepat di kening nya.
Bian menaruh pistol-pistolan nya di samping nya, lalu menutup kedua telinga nya. "Berisik." ucapnya kesal, lalu menyuruh pengasuh untuk mendekat.
"Tolong pegangan buku nya, tanganku sedang sibuk menutup telingaku." ucap Bian.
Nana mengangguk, dia menegangkan buku nya dengan sabar dan Bian kembali membaca buku nya, melupakan suara Boy yang terus berteriak memanggil Mommy Daddy nya.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1
Maaf Update nya lama, Author nya lagi kurang sehat🤧