
H A P P Y R E A D I N G..
🌹🌹🌹🌹🌹
Seminggu sudah setelah kejadian dimalam hari itu Hany tidak bernafsu untuk mengikuti kegiatan tur ke gunung atau kegiatan lainya bersama teman-teman satu geng motor nya, setiap di ajak jawaban Hany pasti selalu sama.
"Maaf guys, bokap ngelarang gue kumpul bareng kalian lagi." menjual nama ayahnya meski pada kenyataan nya memang Hany selalu di marahi ayahnya kalau dia bergaul dengan teman-teman geng motor nya.
Rey yang sedang berjalan dengan memakai pakaian santainya di rumah yaitu celana pendek dan kaos yang sudah melar nampak mengerutkan dahinya melihat adiknya yang nampak seperti kurang semangat hidup.
"Kamu kenapa Han? sakit?." tanya Rey sambil memegang dahi Hany, " tapi ngak panas, kamu kenapa sih cerita sama kakak." sambung Rey lagi sambil duduk di samping adiknya.
Hany melirik kakak nya, lalu membenarkan posisinya menjadi duduk." Aku lagi patah hati kak." ucap Hany sambil bersandar di dada sang kakak.
Rey mengusap rambut adik kesayangan nya penuh kasih sayang semenjak ibunya meninggal beberapa tahun lalu Rey memang menjadi ibu sekaligus kakak untuk adiknya, hubungan keduanya sangat dekat bahkan tak jarang jika orang asing melihat kedekatan mereka sudah di pastikan banyak isu buruk tentang kebiasaan Hany yang suka tidur di pelukan kakaknya.
"Memang nya adik kakak jatuh cinta sama siapa sih? ko ngak kasih tau kakak." Rey mulai membuat adiknya nyaman, dia tahu fesikis adiknya yang tidak bisa di kerasin, dan semakin keras sikap nya maka akan semakin keras juga sikap yang di perlihatkan adiknya.
"Yang jelas sama cwo lah kak." sahut Hany sambil mengerucutkan bibirnya, kata-kata yang di ucapkan kakak nya seolah menyindir status nya.
"Tapi dia suka sama teman aku." sambung Hany lagi dengan menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
di balik jiwa tomboynya yang menolak menjadi perempuan karna di sebutnya dengan kata lemah ternyata Hany juga merasakan apa yang di sebut lemah itu, dia merasakan hal itu rasa yang susah di jelaskan dengan logika.
Rey tidak menyangka jika nasib cintanya dan adiknya sama persis, sama hal nya dengan Hany sekarang pun Rey sedang mencari perhatian seorang gadis yang tak lain Dian, tapi nihil setiap usahanya pasti akan berkesan sama di mata Dian.
"Maaf tuan, tapi saya tidak mencintai anda, dan masih banyak wanita lain yang bisa anda dekati tapi tidak dengan saya."
kata-kata dari Dian masih terngiang di kepalanya, bahkan sampai tidurnya pun tak nyenyak.
"Sudahlah Hany, kakak yakin akan ada pria yang jauh lebih baik dari pria itu, kamu cantik pria manapun pasti akan menyukaimu, terkecuali." ucap Rey menggantung.
"Aku tau aku cantik kak, tapi tadi kakak bilang terkecuali? terkecuali apa?." tanya Hany penasaran.
Rey tersneyum lalu mendekatkan bibirnya ke telinga adiknya."Terkecuali pria yang mengantarkan mu minggu lalu." ucap Rey di barengi dengan suara tawa nya.
"Iya..iya ngak, kakak bercanda, tapi kalo iya juga ngak papa kalian cocok ko, yang satu induk singa yang satu beruang kutub." ucap Rey lagi dengan gelagak tawanya.
"Kakakkkkkkkk !!." suara lebih kencang berhasil membuat Rey diam.
"Iya maaf, ayo makan kakak udah masakin makanan buat kamu." ucap Rey mengajak Hany kemeja makan.
"Wah mantul nih, kakakkk emang is the best deh," ucap Hany sambil tersenyum senang karna melihat makanan kesukaan nya yanng tak lain adalah sambel kentang ati sapi.
__ADS_1
Di balik seorang Rey yang sangat kejam jika sudah bersangkutan dengan musuh dan si cantik Alena, banyak sisi lain dari pria itu, ya setiap orang pasti memiliki masa lalu dan begitupun dengan Zex biarlah cerita si Hiu cantik dan dirinya menjadi rahasia alam, karna meski dia memiliki sifat sikofet sekalipun Rey tidak akan pernah menyakiti orang yang benar, dia hanya melakukan nya pada musuh nya seperti nasib Ben Alira dan Dessy yang menjadi santapan Alena hidup-hidup.
Rey tidak membenarkan apa yang di lakukan nya, tapi terlepas dari semua itu semuanya sudah terjadi, Rahasia Alena dirinya dan Rafa akan terkubur dalam-dalam di tempat mereka memelihara Alena, semua kejahatan yang pernah mereka lakukan dulu perlahan mereka coba lupakan, Rey sadar jika dia harus berubah mengikuti jejak si tuan muda yang kini sudah menjadi memiliki keluarga kecil.
Tapi sepertinya impian nya untuk menikah cepat di usianya yang hampir kepala tiga itu harus iya urungkan, mengingat sangat sulit mencari gadis yang bisa menerima nya lebih tepatnya gadis yang bisa mengetarkan hatinya.
Disisi lain tepatnya di sebuah Apertemen terlihat seorang pria yang sedang bersantai di sofa di temani segelas kopi tentunya, dia terluhat sedang pokus menonton tv sambil sesekali melenguk kopi panas miliknya.
Sudah terbiasa hidup sendiri, bahkan untuk membuat kopi pun Zex membuatnya sendiri, hanya saja jika masalah rumah dia akan memanggil tukang bersih-bersih satu minggu sekali, mengingat dia hanya tinggal sendiri.
Haciww...
Haciww.. (Anggap aja bersin) ehe.
Zex mengerutkan dahinya tak mengerti, cuaca hari ini nampak panas, bahkan sudah 4 hari tidak ada hujan tapi kenapa tanpa ada angin ada hujan tiba-tiba saja dia bersin terus-terusan.
Tanda-tanda pilek? panas? itu tidak masuk akal, Zex tidak hujan-hujanan tidak panas-panasan juga. "Aneh sepertinya ada yang sedang membicarakan ku." ucap Zex sambil mengesekan tangan nya hidungnya.
"Tapi jika iya, apa yang di bicarakan orang itu, hiss.. menyebalkan sekali." sambung Zex lagi mengerutu.
___________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹