
Pagi setelah pernikahan nya, Mala dan Padil yang seakan semuanya berjalan dengan lancar seiring berjalannya waktu Mala dan Padil menjalankan rumah tangga nya dengan bahagia dan damai.
Dimulai lah dari kehamilan Mala yang menjadi awal dari masalah yang ada.
"Sayang" teriak Mala dengan rasa bahagia, ingin memberitahukan kabar bahagia kepada suami nya.
Mala pun segera bergegas keluar kamar mandi berjalan dengan wajah bahagia nya menghampiri Padil sang suami yang sedang asik memainkan ponsel nya.
"Iya kenapa?." tanya suami yang tidak ada respon berlebihan hanya datar dan masa bodo.
"Aku punya kabar gembira lohh!! Apa kamu mau tau?."
"Ada apa sihh ko kamu ribet amat?" kata Padil lagi.
"Lihat ini" sembari melihatkan alat tes kehamilan yang di pegang nya ke Padil.
"Haahh" Padil pun kaget tampa ada raut wajah kebahagian di muka nya itu.
"Kenapa Tuhan harus sekarang, aku belum siap" kata hati nya sambil memandangi alat tes kehamilan itu.
Bukan tidak mau menerima atas rijky yang di berikan tuhan, namun ada hal yang membuat dirinya belum siap menerima kehamilan istri nya.
Padil yang telah di berhentikan dari pekerjaan nya itu, alasan pertama yang membuat dirinya enggan memberi tahu istri nya.
"Sayang" sambil memeggang tangan suami nya Mala pun membuat padil tersadar.
"Sayang kamu kenapa?" dengan raut muka sedih Mala menanyai Padil.
"Apa kamu tidak bahagia dengan kehamilan ku ini?" Mala pun menegaskan nada bicara nya, sambil menghadap ke Padil yang sedang dalam keadan mematung.
"Tidak sayang, bukan begitu tapiii__"
Padil menjawab meski tidak bisa meneruskan kata-kata nya itu.
__ADS_1
"Aku bingung sekali ya Tuhan harus dari mana aku memulai semua ini" kata hatinya mulai kalut.
"Sayang, Padil! jelasin, ada apa ini?" dengan perasan takaruan Mala menegaskan nada bicara nya lagi untuk meminta penjelasan kepada Padil.
"Maafkan aku Mal, bukan nya aku nggak nerima kehamilan mu itu" dengan keringat dingin Padil berusah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sekarang sudah tidak punya pekerjaan lagi dan aku sudah di pecat dari pekerjaan ku" lanjut Padil menjelaskan semua kebenaran yang sempat dia sembunyikan dari sang istri.
Mendengar ucapan Padil Mala langsung syok, dia tidak menyangka bahkan untuk membayangkan nya pun tidak pernah.
"Sekarang bagai mana, apa yang akan terjadi pada nasib ku dan anak ku, kanapa harus terjadi di saat datang nya kebahagian ini" Mala berkata dengan suara yang melemah karena masih syok dengan kabar pemecatan suaminya.
Beranjak beberapa bulan kehamilan Mala, masih dengan situasi yang sama Padil belum juga mendapatkan pekerjaan baru nya.
Sampai-sampai Mala yang sedang hamil harus rela menjadi buruh serabutan, hingga akhirnya sampai mendekati waktu melahirkan Padil masih belum juga mendapatkan pekerjaan baru nya.
Masalah demi masalah mulai bermunculan, hanya karna hal sepele Padil sudah mengingkari janji suci pernikahan itu.
"Sayang?" panggil Mala dengan nada lembut nya.
"Emang nya kenapa, kalau aku belum punya pekerjaan." jawab Padil dengn nada kesal, dan terdengar tidak ada kedewasaan nya.
Padahal dia juga tau kalau biaya hidup sehari-hari itu uang nya dari mana, tapi lagak Padil benar-benar seperti Bos besar yang tidak tau apa-apa dan ingin di layani saja.
"Apakah kamu suadah tidak mau hidup bersama pria penganguran ini". suara itu terdengar seperti menuduh.
"Tidak seperti itu, aku hanya_" ucap Mala terhenti karena Padil menyela ucapan nya.
"Sudahlah aku pusing, lebih baik kamu buatkan aku kopi dari pada terus menganggu aku yang sedang sibuk." kata Padil dengan nada yang seolah mengusir.
Mala menghembuskan nafas nya pelan, dada nya sesak melihat tingkah suaminya yang tidak kunjung mau berubah, apalagi saat Padil mengatakan jika dia sibuk, dan yang di katakan sibuk itu adalah sibuk bermain ponsel.
Tiba lah waktu untuk Mala melahirkan, Padil menjadi panik karena melihat istrinya sedang merinti kesakitan.
__ADS_1
"Hikss" Mala mulai merasakan sakit nya saat kontraksi hingga air mata nya pun tak bisa di tahan lagi.
"Ya tuhan! aku harus apa aku bingung"
"Mal, Mala kamu yang tenang yah sayang, tarik napass dalam-dalam keluarkan pelan-pelan" Padil yang berusaha menenagkan istri nya.
"Kita sekarang ke bidan yah" lanjut Padil.
Meskipun Padil sering sekali membuat Mala sakit hati tapii disaat itu Padil berusaha menjadi suami yang siap siaga.
"Awwwwsss hikss" Mala menjerit kesakitan
Padil yang melihat darah yang keluar terlihat lemas, apalagi saat melihat Mala yang merintih kesakitan yang membuat dia menjadi ngeri dan tidak bisa membayangkan seberapa besar rasa sakit yang istrinya rasakan sekarang.
Ia haya bisa duduk di luar sebari menunggu dan ber do'a berharap istri dan anaknya akan selamat.
"Ya tuhan selamatkan lah anak dan istri ku" ucap Padil terus mengulang doa nya yang sama.
"Oekkk oekkk" suara tangisan bayi mulai terdengarr di ruangan yang berisi Mala, membuat Padil yang mendengar nya menjadi menangis haru.
"Syukur lahh bayi nya sudah lahir" gumam Padil.
Meskipun sudah melahirkan tidak merubah kemungkinan apa yang sudah terjadi.
hingga mertuanya pun mengetahui kabar tentang kelahiran cucu nya dan masalah dalam keluarga anak nya.
Yang tidak lain ia adalah lelaki berumur 50 tahun ayah dari istri nya, awal nya ia mendukung dan suka kepada Padil, tapi sekarang malah sebalik nya karena ia mengetahui tentang semua keadaan dalam rumah tangga anak nya itu, terutama tentang perlakuan Padil kepada Mala putri kesayangan nya yang kurang baik, rasa simpatik Om Rianto perlahan menghilang.
Om Rinto !Sapa akarab nya,Om Rinto dari awal ia sudah mengira akan terjadi semua ini, dan dari yang awal nya mendukung sekarang ia malah memojokan anak nya agar meninggalkan Padil.
🌹🌹🌹
Yuk mampir, di akun @Sulastri Hana, cerita nya seru loh dan ini juga kisah nyata teman aku😍
__ADS_1