
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Bian menatap bayi berusia satu tahun setengah itu dengan pandangan aneh nya, terlalu ceroboh dan terus menerus jatuh, membuatnya kesal apalagi tangan bayi perempuan itu terus memegang baju nya.
Tangan bayi itu kini ingin menggapai wajahnya, membuat Bian risih, berbeda dengan kedua Nanny nya yang nampak terkekeh geli melihat ekspresi yang di perlihatkan Bian.
"Bian sayang ajak main Ade bayinya nya, Mama Papa mau nemenin tamu Opa di ruang tamu."
Begitulah pepatah sang Mama, membuat Bian mau tak mau harus menjadi penjaga sementara dari bayi mungil itu.
"Nanny bayinya meraba wajahku." kesal Bian, sambil mencoba menepis tangan si bayi.
"Tuan muda, tidak boleh kasar pada nona kecil, kasihan kan tuan muda anak baik dan tampan." kata Nana, berucap dengan pelan dan hati-hati.
Bian menghela nafas nya pelan, dia benar-benar risih.
"Bawa bayi nya Nanny, aku tidak suka bayi ini." kata Bian semakin kesal.
Mau tak mau si pengasuh berjalan mendekati anak asuhnya.
"Nona Lisa, ayo sudah waktunya minum susu dulu." si pengasuh ingin menggendong bayi kecil itu, namun malah tangis bayi yang di dengar nya.
Hal itu tentu saja membuat si pengasuh kebingungan, apalagi melihat si bayi yang terus menerus ingin memegang wajah Bian, takutnya Bian marah.
"Sini susu nya, aku tau cara nya untuk nona Lisa bisa minum susunya." kata Nana, mengambil alih dot berisikan susu itu dari tangan patner sesama pengasuhnya.
Nana mendekati sang anak asuh, demi apa dia ingin tertawa melihat ekspresi Bian yang nampak risih di dekati si bayi cantik itu.
"Tuan muda, apa tuan muda mau membantu Nanny?." tanya Nana dengan lembut.
Bian menoleh, "Tentu, katakan saja." sahut Bian, dia memang sangat menyayangi Nana karna pengasuhnya yang satu ini selalu tahan dengan perilaku nya yang kadang menyebalkan.
Nana tersenyum. "Nona Lisa, emm bayi kecil nya sedang kehausan, apa tuan muda mau memberikan dot ini pada bayi kecilnya?." Nana berucap dengan sangat hati-hati.
Di lirik nya dot berisikan susu itu, lalu melihat si bayi kecil yang ada di pangkuan nya, ini benar-benar hari yang menyebalkan untuk bocah Lima tahun itu.
Huhh.
Akhirnya Bian memilih mengangguk, "Ya, hanya memberikan susu nya kan?." Kata Bian, di angguki cepat oleh Nana.
__ADS_1
Dengan gerakan yang terpaksa Bian memberikan dot itu ke bibir mungil si bayi, membuat bayi itu tersenyum dan langsung menyedot cepat.
"Hey jangan menaruh kepala di pahaku." oceh Bian.
"Jangan meraba bajuku."
"Astaga, hentikan tangan kecilmu bayi kecil, aku tidak suka tangan nakal mu."
Nana dan di pengasuh bayi cantik itu hanya bisa tertawa geli menyaksikan bagaimana Bian yang risih di dekati si bayi, seolah bayi itu sudah tau jika bocah yang pahanya di jadikan tempat tiduran nya itu adalah bocah yang tampan.
"Aku yakin jika tuan muda kecil sudah besar pasti akan menikah dengan nona Lisa." kata si pengasuh bayi cantik itu.
Nana tersenyum menanggapi nya. "Iya, tapi apapun yang akan terjadi di masa depan aku harap tuan muda bisa mendapatkan kebahagian nya." seru Nana bijak.
Dia ingat akan cerita Bian, dimana bocah Lima tahun itu selalu mengatakan jika menyukai gadis tiga tahun yang bernama Rere, si gadis kecil yang memiliki rambut sebahu.
"Nanny kau tau aku sedang menyukai Rere, dia manis dan sangat cantik, dia dan aku sama-sama menyukai flm horor, dan kami berjanji akan menonton bersama jika bertemu lagi."
Tapi melihat bagaimana kedekatan dua anak kecil yang belum pernah bertemu itu membuat hati Nana sedikit terkesan, apalagi melihat bayi cantik bernama Alisya Aura Kharisma itu nampak senang di dekat Bian.
Sedangkan di ruang tamu Arka dan Alena nampak sedang berbincang kecil dengan tamunya.
"Untuk masalah itu sepertinya jangan di bicarakan dulu ya mba, soalnya kasihan mereka masih kecil takutnya membuat mereka tidak nyaman." kata Alena bijak.
Wanita berambut panjang di depan nya mengangguk setuju. "Iya, bener banget apa yang di katakan mbak Alena, kita harus menunggu mereka dewasa untuk memutuskan perjodohan yang di rencanakan orang tua kita." Dini mengiyakan ucapan calon besan nya.
Aneh memang, anaknya baru satu setengah tahun tapi orang tua mereka sudah lebih dulu menjodohkan anaknya, tapi meski begitu kedua belah pihak hanya bisa setuju, karna semua itu adalah keinginan para orang tua mereka.
"Kita akan membicarakan nya setelah mereka lulus kuliah saya setuju dengan usul istri kita, bagaimana dengan mu Har?." Arka melirik teman nya.
Pria berwajah blasteran itu mengangguk setuju. "Aku sih ngikut aja, apapun itu yang penting anak kita bisa menikmati masa mudanya tanpa tekanan yang membuat mereka merasa tidak bebas." kata Hari, teman sekaligus calon besan yang di pilih sang Daddy.
Selain keluarga terpandang keluarga Sanjaya juga memiliki banyak perusahaan yang memiliki jalinan kerja sama dengan perusahan R.N.Grups, peruashaan yang di pegang oleh Kiano dan Anaira sekarang.
"Lihat mbak, Lisa seperti nyaman saat dekat dengan Bian ya." kata Dini sambil tersenyum melihat anak kecil yang akan menjadi mantunya di masa mendatang nampak sedang memberikan pahanya sebagai bantal untuk putri nya.
Alena mengangguk, dia pun sama ikut tersenyum melihat putranya yang nampak menjaga bayi bernama Lisa itu, lebih tepatnya menuruti perintahnya tadi untuk menjaga Lisa.
"Iya mbak, mereka nampak serasi, semoga saja mereka selalu dekat seperti ini ya." sahut Alena sambil tersenyum.
Setelah itu keduanya berjalan ke arah dapur, akan menyiapkan makan siang.
__ADS_1
sedangkan para lelaki nampak sedang berbincang-bincang di ruang tamu membicarakan masalah bisnis nya tentunya.
Andrian berjalan mendekati Bian, dia membawa mainan yang di pesan oleh anak teman nya itu.
"Warna nya tidak sesuai dengan yang aku mau Om." kata Bian, matanya masih melihat mainan yang tidak masuk kedalam bayangan nya itu.
"Yang ada hanya itu." kata Andrian, dia duduk di karpet bulu tempat dimana Bian sedang duduk dengan Bayi kecil yang sedang tertidur.
Bian menarik nafasnya, meski tidak sesuai dengan apa yang di inginkan nya tapi dia mencoba untuk tidak marah, dia ingat apa kata Mama nya.
"Hargai sesuatu yang orang berikan, karna untuk bisa mendapatkan semua itu mereka butuh perjuangan."
"Terimakasih Om." kata Bian. "Nanny pegal, bawa bayinya aku mau main." lanjut Bian.
Si pengasuh langsung mengambil bayi cantik yang sudah terlelap itu, saking enaknya mereka berbincang membuat mereka melupakan jika bayi cantik nya sudah tidur di pangkuan Bian.
"Terimakasih tuan muda, nona Lisa jadi bisa tidur nyenyak." kata si pengasuh bayi cantik itu, dia senang karna anak asuhnya kini bisa tertidur pulas lagi, mengingat beberapa hari ini bayi cantik itu tidak bisa tidur nyenyak.
Bukan nya menjawab Bian malah cuek, dan malah memainkan mainan yang di belikan teman Papa nya itu.
Berbeda dengan Andrian yang terus menatap bayi kecil itu, dia kembali teringat akan sosok putrinya, jika masih ada mungkin bayinya akan seusia bayi cantik itu.
Nana yang diam-diam melihat ke arah Andrian nampak melihatkan raut wajah kasihan, cukup banyak dia tau tentang Asisten majikan nya itu yang ternyata sudah di tinggalkan oleh anak istrinya.
"Tuan apa anda butuh tisue?." tanya Nana, duduk di karpet dengan tangan yang mengulurkan tisue.
Andrian menoleh dengan sinis. "Tidak, dan jaga batasan mu, siapa yang menyuruhmu untuk duduk di sampingku." kata Andrian ketus.
Bian melihat pemandangan itu dengan wajah anehnya. "Om dan Nanny kenapa? apa kalian sedang pacaran seperti flm kesukaan Mama?." Bian berkata dengan santainya, membuat Nana dan Andrian saling melirik.
"Tidak akan." kata keduanya bersamaan.
"Tuhkan barengan, pacaran ya."
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa mampir di cerita Lisa dan Bian ya, udah sampai Epsd 45 loh, 🥰
Jangan lupa jejak♥️
__ADS_1