
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Arka membuka matanya saat merasakan sebuah tendangan di wajah nya, ya jangan di tanya siapa pelakunya, sudah pasti si gembul yang melakukan nya, saat tidur Bian tidak bisa diam dan hal itu sering kali di keluhkan oleh Arka yang selalu terkena tendang atau tertumpuk tubuh putra nya.
Bian memang tidak tidur sendiri, bocah gembul yang sudah menginjak empat tahun itu memang selalu tidur di kamar nya, apalagi hari ini adalah hari Senin yang mana malam nya berarti minggu dan mereka selalu menghabiskan Minggu malam nya dengan acara bersantai di kamar seperti menonton flm cartun bersama atau menonton film-film kesukaan Bian.
Mata Arka menoleh ke samping, dia tidak menemukan istrinya, yang menandakan jika istrinya sudah bangun dan mungkin sedang memasak di dapur.
Hari ini adalah hari Senin jadi Arka harus membagi tugas nya sebelum pergi bekerja dia harus membantu putranya mandi dan memakai kan seragam sekolah, sedangkan Alena bertugas untuk membuatkan sarapan untuk mereka.
"Bian, ayo bangun..ini hari senin." ucap Arka sambil menggoyangkan hidung putra nya.
Dan ya cara itu berhasil membuat pemilik perut besar itu bangun, dan langsung mengedipkan matanya, "Jorok Papa." ucap Bian menatap kesal pada papa nya yang selalu membangunkan nya dengan cara menggoyangkan hidung nya, dan Bian tidak suka hal itu.
Arka menggeleng, jika di tanyakan alasan nya apa putranya tidak suka di goyangkan hidung nya pasti Bian akan menjawab begini.
"Aku tampan, ngak ada kotoran kecil di hidung."
Begitulah jawaban si gembul yang selalu memuji sendiri, bahkan Arka sudah merasakan aura beda dari putranya, Bian tampak seperti dia saat kecil, pemarah, dan tidak suka hal spele.
"Ayo mandi, Mama sudah menunggu kita di bawah." ucap Arka sambil merentangkan kedua tangan nya, bersiap akan menggendong putra nya.
Bian menggelengkan kepala nya. "Papa aku bukan anak kecil lagi." ucap Bian cuek, lalu dengan gaya santai nya Bian turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi tanpa menghiraukan Arka yang masih termenung melihat tingkah putra nya yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Astaga, dia benar-benar dingin." gumam Arka lalu berjalan menyusul putra nya ke kamar mandi.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit keduanya keluar dari kamar mandi.
Arka menuntun sang putra agar putranya tidak jatuh, sedangkan yang di tuntun nampak memperlihatkan wajah biasa saja.
Arka membantu memakaian pakaian untuk sang putra, dan Bian masih memperlihatkan ekspresi wajah biasa saja.
__ADS_1
"Nanti akan Papa ganti yang jauh lebih kuat dan bagus." ucap Arka seraya memakaikan celana sang putra.
Bian mengangguk setuju. "Ya itu harus karna robot ku rusak karna Papa." ucap Bian seraya mengangkat dagunya karna Arka sedang memasangkan kancing di bagian kerah nya.
Melihat putra nya yang dingin membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka si gembul yang sering berulah dengan tingkah gemas nya kini berubah drastis menjadi cuek.
Setelah selesai memakaikan pakaian sang putra Akra yang masih memakai handuk itu bergegas untuk memakai pakaian kantor nya.
Keduanya berjalan beriringan menuruni satu persatu anak tangga, membuat Alena yang tengah menuangkan susu ke gelas kecil tersenyum melihat kedua laki-laki yang dia sayangi nampak sudah tampan dengan stelan masing-masing.
"Pagi sayang nya Mama." Alena mendekat namun baru juga dia akan memeluk putra nya Bian sudah menatap sang mama dengan wajah aneh nya.
"Tidak ada pelukan mam, aku sudah besar." ucap Bian lalu naik ke kursi dan mendudukkan bokong nya dengan santai.
Alena menggelengkan kepalanya, putra nya benar-benar dingin, bahkan tidak ada lagi rengekan dari putra nya meminta makanan atau mainan, yang ada hanya kecuekan sang putra yang lebih asyik membaca buku.
Setelah beres makan Alena mengantarkan Bian dan Arka ke depan rumah nya, seperti biasanya dia hanya akan menjemput sang putra dan pengasuh nya di siang hari nanti mengingat Bian tidak mau di temani, adapun pengasuh hanya bertugas untuk jaga-jaga jika Bian mau pipis atau pop.
Alena mengangguk. "Iya, aku tidak akan lupa, semangat kerja nya." jawab Alena sambil mencium punggung tangan suaminya dan berakhir mengecup pipi sang suami.
Berbeda dengan Bian yang nampak sedang duduk di jok belakang mobil dengan buku yang di pegang nya, "Astaga anak itu, dia benar-benar tidak memiliki gen ku." ucap Alena melihat putranya yang tengah asyik membaca buku.
Arka mengangguki ucapan sang istri, "Ya, dia benar-benar tidak sama dengan kita, dia terlalu dingin dan cuek." ucap Arka dan pandangan nya tak luput dari putranya yang tengah membaca buku.
"Pap cepat, om Andrian sudah kesal menunggu." teriak Bian di dalam mobil.
Dan sontak hal itu membuat Andrian yang sudah mulai aktif bekerja lagi nampak menatap putranya bos nya itu dengan tatapan sebal, seperti biasa dia selalu di kambing hitamkan oleh si tuan muda kecil itu.
Ingin dia berkata tapi sekalinya berkata Andrian akan menyesali ucapan nya, apalagi setelah mendengar jawaban dari si tuan muda kecil itu yang bisa membuat nya bugkam.
"Jangan berisik, nanti ada lalat masuk Om."
Arka masuk dan duduk di samping putranya, sedangkan Andrian nampak duduk di jok depan menjadi supir di temani pengasuh Bian yang duduk di samping nya.
__ADS_1
"Jangan membaca terus Bian, nanti kebiasaan." nasihat Arka yang kesekian kalinya, membuat Bian menutup bukunya seketika.
"Why?." jawab nya bertanya, butuh jawaban.
"Sebelum pergi ke sekolah kamu harus mencium Mama dulu, berpamitan pada Mama mu, kamu tau mama mu pasti sedih melihat tingkah mu." ucap Arka, dan ini bukan pertama kalinya Bian mendengarkan ceramahan.ini.
"Tapi Pa, aku bukan anak kecil lagi, aku sudah besar." jawab Bian, dia merasa hanya anak kecil lah yang berpamitan dengan mencium pipi ibunya.
Jawaban itu sering Arka dengar dari Bibir putranya, dan alasan nya masih sama yaitu aku bukan anak kecil lagi.
"Jika bukan anak kecil lalu kenapa masih minta bantuan Nanny cebok? harusnya kamj bisa melakukan nya sendiri kan? Albiansya?.," Sedikit menekan nama putranya.
Dan saat itulah si pemilik perut besar tidak bisa menjawab nya, dia bungkam seribu bahasa membuat Arka tersenyum, nyatanya putranya tidak bisa cebok dan mandi sendiri, tapi gaya nya seolah dia tidak butuh orang lain.
"Jangan melakukan nya lagi, mengerti?." kata Arka lagi.
Bian mengangguk. "Maaf Pa, aku akan mencoba nya." jawab Bian seraya tertunduk.
Semua itu di dengar oleh telinga Andrian, dia melihat dari kaca depan yang memperlihatkan Bian sedang memeluk Arka, hatinya terasa sakit, dia teringat akan putrinya yang sudah meninggal, mungkin jika masih ada putrinya sudah memiliki gigi kecil, sudah bisa berguling-guling dan juga merangkap kemana-mana.
"Ansela sayang, sekarang kamu pasti sudah bisa merangkak, papa yakin mama nu menjaga mu sepenuh hati sayang, Papa merindukan mu nak." batin Andrian sambil tersenyum melihat Bian yang masih meminta maaf pada Arka.
"Anda butuh tisue tuan?." tanya pengasuh yang usianya masih 20 tahun itu.
Andrian menoleh, "Tidak, jangan mengajak bicara aku, atau aku bisa menabrak." jawab Andrian sinis lalu kembali fokus ke jalanan di depan lagi.
_____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Cerita Bian dan Lisa udah Upp sampai 24 epsd ya😊 yang penasaran di tunggu di ^^Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2^^ ♥️
Jangan lupa Like coment and vote ♥️
__ADS_1