Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Kondisi Alena.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Bian dan Boy nampak sedang bermain bola di halaman belakang bersama Rafasya yang menjadi kiper, mereka nampak senang melakukan olaraga itu.


Ririn Alena dan Arka nampak duduk di kursi sambil melihat betapa sengitnya pertarungan Bian dan Boy yang saling berebut untuk memasukan bola ke dalam gawang.


"Mereka tumbuh dengan cepat, Mommy merasa sudah tua." ucap Ririn sambil menatap ke arah cucunya yang nampak sedang berlari menggiring bola, dengan Boy yang terus mencoba mengambil bola yang sedang di giring Bian.


"Iya, Bian tumbuh menjadi anak yang pandai, tapi sifatnya itu sangat menurun pada Arka." sahut Alena.


Sebenarnya sifat Bian itu menurun pada kedua orang tuanya, Alena yang keras kepala dan selalu bertingkah sesukanya, di tambah Arka yang sombong, kejam, dingin, dan arogan, paket kumplit yang menyatu menjadi satu dan terbuatlah Bian yang autis dan tidak suka hal spele.


Arka melirik tak suka di salahkan oleh istrinya, "Bian itu autis, dan aku aktif." ucap Arka, membela diri.


Ririn mengangguki ucapan putra nya. "Ya aktif dan nakal, mommy masih ingat saat kamu membuat ulah di pernikahan Zex dan Hanny, dimana banyak anak kecil yang menamgis histeris." kata Ririn, teringat akan kenakalan putra nya.


Mendengar ucapan mertuanya membuat Alena penasaran seperti apa suaminya saat kecil. "Apa dulu Arka lebih nakal dari Bian?." tanya Alena.


Ririn kembali mengangguk. "Sangat, Arka dulu sangat nakal, bahkan Mommy sampai tidak bisa bernafas dengan benar jika mengingat kenakalan suami mu." kata Ririn, kembali teringat dengan semua kenakalan putra nya.


"Stop Mom!, berhenti menceritakan kenakalan ku , aku dulu hanya khilaf." ucap Arka malu mengakui semua kenakalan yang di perbuat nya, menurutnya itu semua adalah aib, dan image nya yang tinggi akan turun jika aib masa kecil nya di umbar sang Mommy.


Tiba-tiba datanglah Bian dengan bola yang di tangan nya, "Mama kenapa? apa Mama sakit?." tanya Bian, melihat wajah sang Mama yang sedikit berbeda dari biasanya.


Alena tersenyum melihat perhatian putra nya. "Mama tidak apa hanya kelelahan saja." sahut Alena sambil mengusap keringat putra nya.


Bian menatap selidik pada sang Papa membuat


Arka yang sedang minum itu menjadi tersedak karna tatapan tajam dari sang putra.


"Jangan menatap papa seperti itu, itu tidak sopan." kata Arka, menasehati.

__ADS_1


"Papa, mengajukan aku tau papa kan yang buat Mama sakit." tuduh Bian sambil menatap gerak gerik sang Papa.


Arka yang ketahuan dan merasa tersudutkan langsung melirik istrinya, memberi kode untuk mengalihkan pembicaraan.


"Bian ayo minum dulu, ini minuman nya Oma yang buat loh." ucap Alena memberikan segelas minuman pada sang putra.


Bian sangat menyayangi sang Mama, dan ini bukan kali pertama Bian melihat sang Mama pucat, sebelumnya Bian juga pernah memergoki Mama nya yang muntah-muntah.


"Mama harus di periksa, Mama sakit." ucap Bian, menolak minum.


Alena tersenyum. "Iya nanti di periksa, sekarang Bian mandi dulu gih sama Papa, Mama mau bantu Oma masak dulu." ucap Alena.


Ririn dan Rafa yang melihat itu tersenyum, meski autis dan dingin tapi Bian sangat perhatian pada Alena terbukti sekarang Bian nampak mengkhawatirkan kondisi Alena.


"Aku akan menelpon dokter untuk memeriksa mu, kamu istirahat saja." ucap Arka beranjak berdiri. "Ayo Son kita mandi." ucap Arka merentangkan tangan nya.


Seperti biasa nya Bian langsung menatap aneh pada sang Papa, "Aku sudah besar pa, aku bukan anak kecil lagi." kata Bian, lalu melangkah berjalan sendiri.


Arka menggelengkan kepalanya melihat putra nya yang selalu tidak mau di gendong, dan alasan nya selalu sama, yaitu Sudah besar bukan anak kecil lagi.


Alena beranjak berdiri, "Mom ayo kita memasak." ajak Alena.


Ririn mengaangguk, "Ayo, tapi jika kamu tidak kuat jangan paksakan, Mommy akan menyuruh pelayan untuk membantu Mommy biar kamu bisa istirahat." kata Ririn.


"Tidak apa Mom, Aku masih kuat, ayo." sahut Alena lagi, sebenarnya tubuhnya memang masih lemas tapi Alena tidak tega jika mertuanya memasak sendiri, apalagi nanti malam akan ada acara makan malam keluarga besar Rafasya.


Setelah kepergian Ririn dan Alena kini tinggallah Boy dan Rafasya yang masih betah duduk, keduanya saling melirik.


"Opa aku haus, mau minum." ucap Boy sambil tersenyum.


Rafa menghela nafasnya lalu memberikan minuman yang di buatkan istrinya tadi pada bocah bule di depan nya, seharusnya Boy memanggilnya dengan sebutan Om, tapi berhubung Boy tidak memiliki Oma dan Opa Rafasya membiarkan Boy memanggilnya dengan sebutan Opa.


Lagi pula Boy juga bukan cucu Daddy nya, mengingat ibu tirinya dulu telah berkhianat pada Daddy nya, dan lahirnya Kelle bukanlah darah daging dari Renan Ammar Raid, melainkan anak dari pria lain.

__ADS_1


"Minumlah, setelah ini kamu mandi bersama pengasuh." kata Rafa.


"Mandi dengan pengasuh? Kenapa bukan Opa saja yang memandikan ku?." ucap Boy, lalu kembali meleguk air minuman yang ada di tangan nya.


"Aku bukan pengasuh mu, cepat berdiri dan minta pengasuh untuk memandikan mu." kata Rafa lagi, dia paling malas jika di hadapkan dengan bocah bule narsis yang terkenal akan kesombongan nya itu.


Boy melihat pria paruh baya di depan nya itu dengan pandangan yang penuh arti, dan hal itu membuat Rafa mendengkus kesal dan mau tak mau harus memandikan bocah bule itu.


"Ya sudah ayo." ucap Rafa akhirnya mau memandikan Boy.


Bocah bule itu tersenyum. "Gendong Opa, aku malas berjalan, kaki ku yang manis sedang mager." ucap Boy tak tau diri, dan membuat Rafa melotot.


"Opa sakit pinggang, jalan sediiri." kata Rafa tegas.


"Aku tau Opa sudah tua dan pasti tukang Opa sudah rapuh, tidak apa Opa aku tau faktor usia membuat Opa lemah." kata Boy dengan nada mengejek.


Hal itu tentu saja membuat Rafa melotot, meski usianya sudah masuk enam puluh tahun tapi Rafa masih merasa muda, dan tubuhnya juga masih terlihat sehat dan segar.


"Enak saja, biar Opa lihatkan tubuh yang kamu bilang tua ini, Opa masih kuat menggendong berat yang lebih dari tubuh mu tau." kata Rafa, lalu menggendong Boy di punggung nya.


"Lihat Opa masih kuat bukan?." tanya Rafa.


Boy tersenyum menyeringai, Opa nya telah masuk kedalam jebakan nya, "Iya Opa, uuh Opa sangat tampan dan kuat, Boy besar mau seperti Opa." kata Boy sambil tersenyum merasa menang banyak.


Sedangkan di dapur Ririn tidak jadi memasak, dia memilih untuk memesan makanan di restoran yang ada di hotel nya, kondisi Alena semakin lemah membuat Ririn menjadi khawatir.


"Mommy akan memanggilkan Arka, kondisi kamu sangat lemah Alena." ucap Ririn sambil memberikan segelas teh hangat.


Alena meminum nya, "Tidak apa Mom, aku hanya butuh istirahat sebentar, maaf ya Mom aku merepotkan." Alena merasa tidak enak, karena acara memasak nya menjadi kacau karna kondisi nya yang kurang vit.


___________


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa jejak, ♥️


__ADS_2